Tak Cinta Tapi Menikah

Tak Cinta Tapi Menikah
Hukuman 100%


__ADS_3

Rania kembali membuka halaman pertama laporan perusahaan yang baru saja diterimanya dari bagian administrasi dan harus diserahkan ke Direktur Utama. Dari tadi konsentrasinya benar-benar hilang setelah mendapatkan serangan dadakan dari Arsha. Menyesali kelalaiannya yang malah ikut terbuai dengan ciuman itu. Rania menggelengkan kepalanya berusaha mengusir bayangan Arsha saat sedang menciumnya tadi. Tubuhnya kembali berdesir saat kembali terbayang bagaimana dia malah ikut menikmatinya.


" Astaghfirullah... ", ucap Rania berusaha keras untuk lebih berkonsentrasi dengan laporan yang sedang dibacanya.


' Ting '


Rania melirik kearah lift yang sedang membuka pelan pintunya, ternyata Arsha dan Dani yang barusan sampai dilantai 11 ini.


" Assalamu'alaikum, Rania... ", sapa Dani begitu sampai didepan meja Rania.


" Waalaikumsalam, sudah selesai sholat jum'at nya mas? ", sahut Rania sambil melirik takut pada suaminya yang sekarang berdiri tepat dibelakang Dani.


" Iya Rania, jum'at ini terasa panas ya Rania, nggak tau kenapa. Rasanya ada hawa panas yang deketin aku. ".


" Cuaca hari ini memang lagi panas-panasnya mas, banyak minum air putih saja biar nggak dehidrasi. ".


" Berendam pake air es aja dikolam Dan, biar kamu beku sekalian. ", ucap Arsha sarkas. Rasanya tak terima saat Rania secara terang-terangan memberikan perhatiannya untuk Dani. Dan panggilan itu, telinganya benar-benar semakin sakit saat Rania mengucapkan kata 'mas' ke Dani durhaka.


" Air es juga nggak bakalan cukup Bos, hatiku terlanjur mendidih rasanya. ".


" Wahh, bahaya tuh Dan, sana periksa ke dokter penyakit dalam. Siapa tau hati mu sekarang sudah gosong karena terlalu lama mendidih. ", ledek Arsha tak mau kalah.


" Sepertinya Bos yang harus periksa ke dokter mulut, soalnya omongannya semakin kesini semakin kejam. ".


Rania hanya terdiam mendengar obrolan yang sama sekali tak berfaedah dan hanya saling menghujat satu sama lain itu, benar-benar seperti musuh dalam selimut, saling cakar tak ada akhirnya.


" Hei...!!! ", Arsha langsung menghentikan omongannya saat melihat Rania pergi begitu saja ke arah belakang ruangannya.


" Bos liat sendiri kan, Rania saja nggak tahan dengan omongan keji seperti itu. ", seringai Dani puas karena Rania pergi menjauh dari mereka berdua.


" Pergi saja sana, dasar asisten durhaka! ", hardik Arsha sambil berlalu melewati Dani dan mengikuti Rania masuk ke ruangan belakang.


" Rania... ".

__ADS_1


" Astaghfirullah...!", Rania terlonjak kaget mendapati Arsha sudah berada dibelakangnya.


" Kenapa kaget gitu? ", ucap Arsha yang ikut kaget karena tak mengira kalau Rania sampai terlonjak seperti itu.


" Maaf... ", Rania memegang dadanya yang masih berdetak kencang. Bagaimana tidak kaget, sepertinya selama dia bekerja disini, baru kali ini Arsha masuk keruangan belakang milik sekretaris pribadinya.


" Ayo makan siang. ".


" Makan siang dimana pak? ", tanya Rania ragu.


" Kita makan siang diluar saja, Kamu pengen makan siang pake apa?. ".


Sebenarnya kalau boleh memilih, Rania ingin sekali pesan makanan dari kantin kantor saja, dan makan dengan tenang diruangan ini sendirian seperti hari biasanya. Dia masih belum siap berhadapan lagi dengan suaminya sendiri siang ini. " Bolehkah saya makan dikantor saja pak?. Ada laporan yang masih harus saya selesaikan hari ini pak. ", ucap Rania ragu-ragu. Dosa tidak ya menolak ajakan suami sendiri, walaupun hanya ajakan makan siang.


" Mana laporannya?. Biar Dani saja yang selesaikan. ".


" Tidak usah pak, saya tidak ingin merepotkan mas Dani lagi. Dari kemarin mas Dani sudah membantu tugas saya, saya tidak enak sama mas Dani. ".


Arsha memejamkan matanya erat, aliran darahnya yang tiba-tiba terasa panas sekarang benar-benar mengalir deras dari hati sampai keatas kepalanya saat mendengar panggilan Rania untuk Dani.


Rania mendongak menatap Arsha yang sekarang terlihat kesal karena ucapannya, " Maksudnya siapa ya pak? ", tanya Rania bingung.


" Dani! Kamu bisakan tidak memanggil Dani dengan panggilan seperti itu? ".


" Terus saya harus memanggil mas Dani bagaimana? ", tanya Rania masih tak mengerti.


Arsha langsung melotot menatap Rania, " Kalau kamu ulangi panggilan itu, aku benar-benar akan menciummu lagi disini. ", ucap Arsha tepat didepan wajah Rania.


Rania spontan langsung menutup bibirnya dengan kedua tangannya, kepalanya menggeleng pelan tanpa sadar.


" Segitu takutnya dicium suami sendiri. ", Arsha terkekeh geli menatap mata takut Rania. " Oke, kamu mau pilih yang mana, makan siang diluar denganku atau mukbang bibir lagi seperti tadi disini? ", ledek Arsha yang langsung membuat Rania melotot kaget.


" Kita makan diluar saja pak. ", ucap Rania sambil berjalan keluar melewati Arsha yang kini sedang terkekeh melihat tingkahnya.

__ADS_1


*


Dan terjadi lagi, seperti malam-malam sebelumnya mereka berdua akhirnya kembali terasing di apartement milik Arsha. Kali ini mama Hanum kembali berhasil dengan strategi membujuk Andra supaya mereka tidak bisa pulang lagi kerumah mama Hanum. Rania tertunduk pasrah, kemudian mendongak menatap kamar yang sudah beberapa malam ini dihuninya dengan sang suami. Rasanya ingin kembali saja ke rumah sederhana nya daripada harus menginap di apartement yang terasa dingin dan sunyi ini. Entah kenapa, padahal sudah hampir 3 malam dia menginap disini, tapi rasanya seperti ada yang membuat tidak nyaman dihatinya. Mungkin karena dia belum terbiasa dengan semua fasilitas mewah di apartement ini, atau mungkin memang ini semua bukanlah gaya yang sesuai dengan impiannya selama ini. Rania berjalan lesu keruang walk in closet, mengeluarkan kembali bed cover yang berfungsi membelah ranjang besar itu. Yah, hanya dengan cara ini dia bisa tidur tenang bersebelahan dengan Arsha, meskipun ternyata kemarin malam dia sendiri malah yang membuka bentengnya sendiri dan memilih tidur memeluk Arsha. Malu sekali rasanya kalau ingat kejadian itu, mau tidak percaya tapi itulah kenyataan nya.


Setelah selesai mandi dan berganti pakaian kebesaran milik Arsha, Rania langsung naik ke atas ranjang. Memangku laptopnya dan membuka lagi laporan-laporan kantor yang belum diselesaikan nya tadi siang. Arsha yang baru saja keluar dari ruang walk in closet menatap heran saat Rania tengah sibuk mengetik sesuatu diatas laptopnya.


" Apa yang sedang kamu lakukan Rania? ", tanya Arsha sambil berjalan menghampiri Rania.


" Saya sedang menyelesaikan laporan pak. ", jawab Rania singkat tanpa menoleh kearah Arsha yang kini ikut duduk diranjang.


" Ngapain malam-malam begini malah mengerjakan kerjaan kantor lagi?. Dirumah itu waktunya untuk istirahat Rania. ".


Rania menoleh kearah Arsha yang kini sudah duduk disampingnya dan ikut melongok ke laptop yang sedang dipangkunya. " Nggak papa pak, saya sudah biasa melanjutkan pekerjaan kantor kalau dirumah. ", siapa juga yang mau kerja lagi dirumah, ini sudah jadi kebiasaan sejak pertama kali dia sah menjadi sekretaris pribadi Arsha Wiguna yang selalu perfeksionis dalam hal laporan.


" Besok diselesaikan dikantor saja, sekarang waktunya untuk istirahat. ", ujar Arsha sambil berusaha merebut laptop dari pangkuan Rania.


" Nggak papa pak, saya selesaikan sekarang saja. Hanya sebentar saja kok, biar besok mas Dani bisa langsung mengecek laporan nya sebelum diantar ke meja pak Arsha. ", ucap Rania tanpa sadar sambil menahan laptop yang akan diambil Arsha. Dengan cepat Arsha langsung mengambil laptop dipangkuan Rania dan langsung menindih tubuh Rania sambil memegang erat kedua lengannya.


" Apa yang barusan kamu ucapkan Rania?. Kamu sudah lupa dengan permintaan ku tadi siang. ".


Rania yang masih shock langsung membelalakan matanya, menatap Arsha yang kini posisinya sudah ada diatasnya. " Ma.maaf... Saya lupa... Tolong lepaskan saya pak... ", Rania mencoba menggerakkan kedua lengannya supaya bisa terlepas dari genggaman tangan Arsha.


" Kamu harus menerima hukumanmu karena sudah berani memanggil Dani seperti itu. ", seringai Arsha sambil memajukan kepalanya mendekati Rania yang sudah pucat pasi dibawahnya. Kini saatnya menggunakan alasan kecil itu untuk memuluskan rencananya.


" P.pak tol-... ", Arsha langsung mencium bibir Rania dengan cepat. Mengulangi permainan tadi siang yang benar-benar memabukannya. Yah, inilah yang membuat nya tak tenang seharian ini, rasa ingin menguasai Rania seutuhnya kembali membara saat ini. Tadi siang dia sengaja menghentikan permainan panasnya, karena memang kantor bukanlah tempat yang tepat untuk memenangkan Rania seperti rencananya. Inilah rencana besar yang sudah sangat matang dipikirkan olehnya sejak tadi, saatnya membuat Rania menjadi miliknya sepenuhnya, agar dia tidak bisa lagi beralasan ingin pergi menjauh setelah pernikahan ini. Berharap bisa langsung menanamkan benih-benih diperut Rania, sebelum ancaman marabahaya yang sedang mengintai pernikahan mereka berdua datang, dan pasti akan mengacaukan Rania nantinya. Terpaksa dengan memakai cara yang mungkin agak memaksa, dan pastinya Rania benar-benar belum siap menerimanya.


" Pak... ", ucap Rania terengah setelah lepas dari keganasan ciuman Arsha. Dengan cepat Arsha menahan kepala Rania yang bergerak menghindar saat akan memperdalam ciuman panasnya dengan kedua tangannya, sementara tubuhnya kini sudah mengunci kuat tubuh kecil Rania yang bergerak gelisah ingin segera terbebas dari kungkungannya. Rania terlihat frustasi, jelas sekali dia akan kalah jika melawan tenaga Arsha yang sangat kuat mengikatnya. Perlahan mulai pasrah saat Arsha beralih menciumi leher putihnya dan mulai memberikan gigitan gigitan kecil yang meninggalkan bekas merah dikulit putihnya. Seketika gelenyar aneh langsung menyebar ke seluruh tubuhnya. Sekuat tenaga Rania menggigit bibir bawahnya sendiri menahan suara desahanya agar tidak lolos dari bibirnya.


Saat menyadari sudah tidak ada perlawanan dari Rania, Arsha semakin gencar melancarkan aksinya di tubuh Rania. Tangannya kini bisa dengan bebas masuk kedalam kaos oversize yang dipakai Rania dan mulai menyentuh kulit perutnya dengan leluasa. Kulitnya benar-benar seperti kulit bayi yang terasa sangat lembut ditangannya, benar-benar semakin membuatnya penasaran ingin lebih jauh lagi mengeksplor seluruh tubuh istrinya itu.


" Hhhhh... ", suara nakal yang sekuat tenaga ditahan akhirnya lolos juga saat Arsha mulai menyusuri seluruh kulit perutnya. Rania spontan langsung menutup bibirnya dengan tangannya sendiri, membekap kuat supaya suara memalukan itu tidak terdengar lagi oleh Arsha. Arsha tersenyum puas mendengar suara ******* tertahan dari bibir Rania, sambil terus bermain dileher Rania yang membuatnya semakin mabuk kepayang. Setelah puas bermain dileher Rania yang kini sudah penuh dengan tanda hasil perbuatannya, Arsha kembali mengangkat kepalanya menatap Rania yang sedang memejamkan matanya erat sambil membekap bibirnya sendiri. Dengan pelan tangannya mulai menyingkirkan tangan Rania yang menutupi bibirnya.


Seketika mata Rania mengerjap menatap Arsha yang sudah kembali diatas wajahnya. Memohonlah Rania, dia pasti tidak akan tega melakukan hal itu kan?. " Pak Arsha, tolong maafkan saya, saya janji tidak akan mengulangi nya lagi. ", ucap Rania dengan nafas yang masih terengah dan terdengar semakin seksi ditelinga Arsha. " Hukumannya cukup sampai disini saja ya pak... ", Rania kembali memohon pada Arsha, agar Arsha mau melepaskan dirinya secepatnya.

__ADS_1


" Ini baru 5% Rania, masih ada 95% lagi hukuman untuk mu. Jadi bersiaplah, aku tidak akan mengampuni mu malam ini sampai dengan selesai 100%. Ingat Rania, kamu tidak akan bisa lari lagi dari hukuman mu. ", bisik Arsha tepat ditelinga Rania yang berhasil membuat bulu halus ditubuhnya berdiri seketika. Dan benar saja, Arsha kembali melancarkan aksinya dan langsung meruntuhkan tembok pertahanan yang selama ini sudah ditahan oleh Rania. Rania hanya bisa pasrah, jika dia berteriak, melawan dan berontak juga sudah tidak ada gunanya saat ini. Mungkin inilah jalan takdir yang harus dilalui nya, takdir yang mengharuskannya menjadi istri seorang Arsha Wiguna sepenuhnya.


*


__ADS_2