
Rania terpaku ditempat menatap wanita didepannya.
"Bu Hanum... ".
Mama Hanum berjalan menghampiri Rania yang masih terdiam ditempat.
"Halo Rania... ", sapa mama Hanum dengan senyum anggun dan cantiknya.
Rania langsung tersadar dan meraih tangan kanan mama Hanum kemudian menciumnya.
"Assalamu'alaikum, bu Hanum. ", sapa Rania kemudian.
"Waalaikumsalam... ".
"Bu Hanum...", kalimat Rania menggantung, menatap mama Hanum tanpa bisa melanjutkan kalimatnya. Mama Hanum menyadari keterkejutan Rania dengan kedatangannya.
"Aku tadi diantar pak Joko, dia yang kasih tau kalau anakmu habis kecelakaan. ".
"Oohhh... pak Joko. ".
"Bunda, tadi Gemma bawa kue banyak banget buat Andra, Andra juga dikasih skuter listrik sama Gemma, skuter nya bagus Bunda, ada lampu sirine nya. ".
'Gemma?', Rania tak mengerti kenapa Andra memanggil mama Hanum dengan sebutan Gemma.
"Waahhh... Alhamdulillah, Andra sudah bilang terimakasih apa belum sama... Gemma?", Rania merasa belum terbiasa dengan sebutan nama Gemma pada mama Hanum karena tidak tau apa maksud panggilan itu.
"Sudah Bunda, iya kan Gemma?".
"Iya sayangnya Gemma... ", sahut mama Hanum sambil mencubit pipi Andra gemas.
"Terimakasih bu Hanum, sudah datang ke rumah dan menengok Andra. ".
"Iya Rania, aku senang ketemu Andra. Pinter banget anakmu, bener-bener anak yang baik. ".
Rania tersenyum bahagia mendengar pujian mama Hanum untuk anaknya.
"Silahkan duduk Bu, maaf rumahnya sempit. ".
"Rumahmu meskipun nggak luas tapi enak dan nyaman ditinggali, rasanya hangat dan tenang, pantesan saja Arsha betah disini. ".
Rania langsung terdiam, 'Pasti bu Hanum juga tau hal ini dari pak Joko', Rania tersenyum kikuk.
"I.iya Bu. ", ucap Rania sambil meremas jarinya.
"Dia nggak ngrepotin kamu kan, Rania?".
"Maksudnya... siapa ya Bu?".
"Arsha", jawab mama Hanum singkat.
"Ohh... Tidak Bu, sama sekali tidak ngrepotin. Pak Arsha malah menemani Andra bermain lego kesukaannya. ".
"Oh ya, Arsha juga dari kecil memang suka sekali main lego, ternyata hobby Andra juga sama kayak Arsha. ".
"Gemma, ayo duduk lagi disana, lanjutin ceritanya yang tadi lagi. ", rengek Andra sambil menarik-narik tangan kiri mama Hanum.
"Oiya... Tadi Gemma kan belum selesai ceritanya. Rania, kamu istirahat saja dulu, biar Andra sama aku, iyakan Andra?".
"Iya Gemma. Bunda, Gemma punya banyak cerita bagus-bagus".
"Oh ya, wahh pasti seru ceritanya. Tapi ingat, Andra tidak boleh nakal ya sama Gemma".
Andra mengangguk patuh.
"Anakmu nggak nakal kok, Rania. Andra anak yang sangat baik. Ayo Andra, kita lanjutkan ceritanya. ".
"Ayo Gemma!", seru Andra semangat.
*
Malam harinya dikamar Rania, Andra sudah berbaring bersiap untuk tidur, Rania menyusul setelah selesai mengirim laporan yang sudah di ketiknya pada Dani.
"Tadi Andra diceritain apa sama Gemma?".
__ADS_1
Andra menggulingkan tubuhnya miring menghadap Rania yang ada disebelahnya.
"Tadi Gemma cerita tentang Buaya yang baik hati, Bunda. "
"Oh ya... Coba seperti apa ceritanya. ".
"Iya bunda, buaya nya kasihan nggak punya teman, karena semuanya pada takut sama buaya. Padahal buaya nya pengin punya teman yang banyak. Terus ada kelinci jatuh ke sungai, buaya yang nolong kelinci itu, jadi nya kelinci mau berteman sama buaya itu. "
"Wah, bagus ceritanya. Jadi maksud cerita itu apa dong?".
"Kata Gemma, maksudnya kita nggak boleh pilih-pilih teman dari..., dari apa ya Bunda?", tanya Andra kebingungan karena lupa.
"Artinya, kita tidak boleh melihat orang hanya dari penampilannya saja. Kita tidak boleh pilih-pilih teman hanya melihat luarnya saja."
"Oh iya, itu tadi yang di bilang Gemma, Andra lupa", ucap Andra sambil menepuk jidatnya.
Rania tersenyum geli menatap Andra.
"Andra kenapa panggil nya Gemma?".
"Katanya Gemma itu Grandma, Grandma itu artinya nenek, Andra disuruh panggilnya Gemma karena artinya nenek. "
"Oohh gitu. ", ternyata itu maksudnya, Rania baru paham sekarang.
"Bunda, Gemma baik kayak Om Arsha ya. Tadi Gemma bilang kapan-kapan mau ajak Andra kerumah Gemma, suruh liat legonya Om Arsha disana, bolehkan Bunda?".
"Boleh sayang, tapi Andra harus janji dulu, tidak boleh nakal sama Gemma ya. "
"Iya Bunda, Andra janji nggak akan nakal. "
"Mereka itu orang yang sangat baik. Waktu itu bunda juga pernah dikasih hadiah sama Gemma. "
"Hadiah apa Bunda?", tanya Andra penasaran.
"Bunda dikasih baju yang bagus sekali sama Gemma. ".
Rania teringat saat dia dimintai tolong menemani mama Hanum ke butik muslimah, dan saat selesai memilih baju untuk mama Hanum, dia disuruh memilih baju untuk anaknya, tapi ternyata baju itu malah diberikan ke Rania.
"Nah, sekarang waktunya kita tidur, ayo baca doa dulu sebelum tidur. ".
Andra langsung mengangkat tangan kanannya kedepan mulutnya.
"Bismillahirrahmanirrahim
Bismika alluhumma ahyaa wa bismika aamuut... "
Rania membenahi posisi Andra supaya nyaman, dan menyelimuti sampai sebatas perut, walaupun nanti pasti selimut nya akan pergi entah kemana karena tendangan Andra saat tidur.
"Usap-usap, Bunda. ", rengek Andra dengan suara parau. Sebuah rutinitas yang selalu dilakukan Rania sebelum Andra tidur, sejak Andra masih bayi.
"Iya sayang... ", Rania segera mengangkat baju belakang yang menutupi punggung Andra, kemudian mengusapnya pelan, sampai Andra tertidur pulas.
*
Arsha menatap mama Hanum yang baru saja masuk kedalam rumah, kemudian melirik jam dinding, jam 19.10, lalu berjalan menghampiri mamanya.
"Mommy dari mana jam segini baru pulang?", tanya Arsha saat sudah dekat dengan mama Hanum.
"Mama habis menjemput kebahagiaan. "
"Menjemput kebahagiaan?", Arsha mengikuti mama Hanum yang berjalan ke ruang makan.
"Kebahagiaan apa Mom?", tanya Arsha penasaran.
Mama Hanum langsung berbalik menatap Arsha dengan senyum misterius.
"Ra-ha-si-a!", jawab mama Hanum singkat.
Arsha terkejut dengan jawaban mamanya.
"Pake rahasia-rahasiaan segala si mom. Mommy dari rumah Cantika?", tebak Arsha.
"Bukan dong... ".
__ADS_1
"Terus?", tanya Arsha semakin penasaran.
"Terus apanya?".
"Ya terus mommy dari mana?".
"Kan mama udah bilang rahasia. Kemarin aja kamu bahagia mama nggak dikasih tau, sekarang gantian mama dong yang bahagia nggak kasih tau kamu. "
"Mom... ", Arsha mendesah sebal mendengar perkataan mamanya.
"Udah ah, mama mau mandi, terus langsung tidur. Biar bahagia nya masuk ke dalam mimpi mama. "
Mama Hanum segera berlalu dari hadapan Arsha yang masih melongo menatap penarasan dengan tingkah mamanya yang aneh malam ini.
'Kabahagiaan? Kebahagiaan apa maksudnya?'.
*
Keesokan harinya, dikantor Arsha.
Rania melangkah memasuki ruang kerja Arsha, menatap Bos nya yang sudah duduk di kursi kerjanya.
"Selamat pagi Pak Arsha. ", Rania menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat.
"Pagi.", sahut Arsha dengan cepat dan singkat.
Rania melirik Arsha yang kini sedang sibuk membuka map dimeja kerjanya, mengacuhkan Rania seperti biasa.
'Benar-benar seperti punya dua kepribadian, yang satu dingin dan satunya hangat', batin Rania dalam hati.
Arsha menengadahkan kepalanya menatap Rania yang masih diam, tatapan mereka bertemu, terkunci beberapa detik, sebelum akhirnya Rania mengakhiri karena tersadar dari lamunannya.
Rania tertunduk salah tingkah karena ketahuan sedang menatap Bos nya.
"Apa agendaku hari ini?", tanya Arsha memecah keheningan.
Rania dengan cepat membuka catatan di iPadnya.
"Hari ini ada rapat dengan dewan direksi terkait pembangunan apartemen, Pak".
Rania kembali terdiam, masih menundukkan kepalanya.
"Itu saja?".
"Iya Pak", jawab Rania singkat, masih terus menunduk.
"Besok sabtu aku akan mengajak Andra, sesuai janji ku pada Andra mau membelikan lego. ".
Rania langsung mengangkat wajahnya menatap Arsha.
"Boleh kan?!", tanya Arsha dengan nada sedikit menekan. Rania mengangguk pelan, karena Andra juga selalu menanyakan hal itu padanya, tidak mungkin menolak, takut Andra akan kecewa jika tidak jadi pergi dengan Arsha.
"Pak Arsha, untuk masalah biaya rumah sakit... ".
"Kamu sudah boleh pergi sekarang. "
Rania terdiam setelah kalimatnya terpotong, 'Kenapa selalu saja dipotong saat mau menanyakan biaya rumah sakit?'.
"Pak, saya akan tetap mengembalikan uangnya pada pak Arsha!", ucapnya tegas.
Arsha terkejut mendengar Rania yang sedikit berkata keras padanya.
"Maaf Pak, itu sudah kewajiban saya sebagai orang tua untuk merawat Andra. ".
"Oke.", sahut Arsha singkat.
"Terimakasih Pak, saya permisi dulu. "
Rania segera berlalu dari hadapan Arsha yang masih tetap menatap nya sampai bayangan Rania hilang dibalik pintu. Arsha mendesah pelan, memejamkan matanya erat.
Tadi malam dia kembali bermimpi tentang Rania, tapi agak berbeda dari mimpi sebelumnya. Dalam mimpi tadi malam, Rania menarik tangannya dan kemudian memeluknya erat. Arsha masih tak mengerti arti dari mimpinya itu.
Arsha menggelengkan kepalanya kasar, berusaha menepis bayangan mimpi tadi malam yang seperti nyata.
__ADS_1