Tak Cinta Tapi Menikah

Tak Cinta Tapi Menikah
Tragedi air susu


__ADS_3

Suara kumandang adzan Isya terdengar dari balik jendela mobil yang sedang menempuh perjalanan menuju kerumah Rania. Setelah tadi ada sedikit drama lagi antara dia dan si Bos kulkasnya, yang ngotot mampir ke toko baju anak dengan dalih mau membelikan baju untuk kado Andra yang sebentar lagi ulang tahun, akhirnya Rania hanya pasrah saat Andra sudah terkena sihir rayuan maut dari Bos nya itu. Setelah puas memilih baju Rania memaksa untuk pulang karena Andra sudah terlihat kelelahan, walaupun si Bos masih saja belum puas untuk menghabiskan uang nya, dan masih meminta waktu lagi ingin membelikan Andra sepatu baru.


Padahal ulang tahun Andra juga masih sekitar dua mingguan lebih, tapi si Bos kulkas tetap memaksa untuk membeli semuanya hari ini juga. Bahkan bagasi mobil Arsha sekarang sudah penuh sesak dengan mainan dan baju yang sudah dibeli Arsha untuk Andra.


Tepat jam 19.40 mobil Arsha sudah memasuki garasi kecil rumah Rania. Rania langsung bergegas turun kemudian membuka pintu depan tepat disebelah kursi yang diduduki Andra.


"Ayo Andra, kita turun. "


"Iya Bunda. ", sahut Andra dengan ekspresi wajah yang sudah kelelahan.


"Assalamu'alaikum... ", Rania menggandeng Andra, dan mengacuhkan Arsha yang kini sibuk dengan barang-barang di bagasi mobilnya.


"Waalaikumsalam... ", sahut bik Inah dari dalam rumah.


Rania segera masuk rumah dengan tetap menggandeng tangan Andra begitu pintu terbuka.


"Bude, tolong bikinin teh hangat ya."


"Iya mba, mas Andra capek ya habis jalan-jalan seharian?".


"Iya Bude, Andra capek. Tapi seneng.", sahut Andra dengan wajah penuh senyum.


"Ayo Andra, mandi dulu.", Rania menarik tangan Andra pelan, menuju ke kamarnya.


Sementara itu Arsha tampak kerepotan dengan begitu banyak barang yang dibawa dengan kedua tangannya.


"Sini Pak, saya bantu bawa barangnya.", bik Inah menghampiri Arsha yang sedang sibuk dengan barang bawaannya.


"Iya Bu, terimakasih. Itu di bagasi mobil masih banyak, tolong dibawa masuk ya Bu. "


"Iya Pak. "


Setelah selesai mandi dan sholat, Andra keluar kamar dan langsung menghampiri Arsha yang sedang duduk santai disofa ruang tengah.


"Waaahhhh, banyak sekali Om, rumah Andra jadi penuh sama mainan. ", seru Andra melihat begitu banyak papper bag yang berjejer di bawah lemari televisi.


"Andra mau main yang mana dulu? Ayok main bareng Om. "


"Andra mau yang lego dino tadi Om, yang tyrannosaurus. "


"Oh yang itu, sebentar Om cari dulu. "


Andra ikut sibuk membuka papper bag yang ada didepannya.


"Banyak banget mainannya mas Andra. ", bik Inah berjalan dengan hati-hati saat melewati hamparan papper bag yang ada dilantai, kemudian meletakkan cangkir berisi teh diatas meja dekat sofa.


"Iya Bude, Om Arsha yang beliin semuanya buat Andra. "


"Waahh, baik banget Om Arsha yaa. Silahkan diminum teh nya Pak. "


"Iya Bu, makasih. ", sahut Arsha yang masih sibuk mencari lego tyrannosaurus.


"Iya bude, Om Arsha baik kayak Gemma."

__ADS_1


"Gemma.. Siapa Gemma?", tanya Arsha penasaran.


"Gemma itu grandma cantik dan baik, mama nya Om Arsha. ", Arsha langsung beralih menatap Andra dengan ekspresi kagetnya.


"Gemma? Mama Om?".


"Iya Om, Gemma kemarin datang kesini, bawa kue banyaaak banget, sama kasih scooter listrik buat Andra. Gemma juga cerita banyak dongeng buat Andra, ceritanya bagus-bagus, Andra suka.".


Arsha masih terdiam menatap Andra, bagaimana mamanya bisa kesini? Apa hal ini juga sudah masuk dalam laporan Dani pada mamanya? 'Ahh Dani brengsek memang!', batinnya geram dengan ulah asisten drona nya itu.


"Ini Om, ketemu lego nya!", Andra mengangkat sebuah papper bag dengan tangan kanannya keatas.


"Oh iya, ayo kita pasang."


Rania keluar dari kamarnya, menatap hamparan papper bag yang berserakan dilantai, lalu menghela nafasnya pelan. Kemudian mulai menata dan memisahkan mainan dan baju yang tadi diborong Bos nya.


"Andra, mau minum susu sekarang?".


"Iya Bunda. ", sahut Andra yang kini sudah duduk dipangkuan Arsha dan mulai sibuk memasang lego barunya.


Rania menatap dua orang yang sekarang sedang duduk berpangkuan di karpet bulu, 'benar-benar sudah nempel seperti... '.


'Astaghfirullahalazim.. ', Rania langsung menggelengkan kepalanya keras, kenapa tiba-tiba jadi kepikiran seperti itu, lalu bergegas menuju kedapur untuk membuat susu.


"Woowww... Besar sekali Om!", Andra melotot bahagia menatap lego yang baru saja dipasang oleh Arsha.


"Bagus kan? Andra suka nggak?".


"Suka banget Om, terimakasih om. ", seru Andra saking bahagianya dan langsung memeluk Arsha dengan erat.


Rania datang membawa segelas susu ditangannya, menatap dua orang yang sedang berpelukan erat didepannya. 'Yah, memang sudah tidak bisa dipisahkan kalo sedang berdua', batin Rania pasrah melihat anaknya sangat bahagia bisa bermain dengan Arsha. Kalau Rania egois ingin membatasi Arsha main dengan Andra, tentu itu akan membuat anaknya sedih. Rania sadar, Andra memang merindukan sosok ayah yang sudah tiada dan bahkan belum pernah bertemu sejak dia lahir. Andra sering sekali bercerita tentang teman laki-lakinya yang bermain dengan ayahnya, bermain sebagai anak laki-laki, dan dengan seputar dunia laki-lakinya. Dulu saat di jogja, Bapak lah yang mendampingi Andra dan bisa menggantikan sosok ayah buat Andra.


"Andra, ini susunya diminum dulu selagi masih hangat ya. "


"Iya Bunda. ", Andra langsung melepas pelukannya, kemudian mencoba meraih gelas ditangan Bunda nya.


"Sini biar Om ambil kan. "


'Byuurr... ', tangan Andra yang sudah hampir meraih gelas tersundul tangan Arsha yang mencoba membantunya, dan alhasil segelas susu hangat langsung tumpah membasahi leher dan kaos Arsha.


"Astaghfirullah...!", seru Rania kaget.


"Yah, tumpah Bunda!", ucap Andra tak kalah kagetnya.


"Maaf Pak. "


"Iya nggak papa. ", Arsha mengusap lehernya yang mulai terasa lengket karena susu.


"Andra, ayo bangun terus ganti baju dulu ya. ", Rania langsung menarik tangan Andra supaya bangun dari pangkuan Arsha, kemudian melihat baju tidur Andra yang juga terciprat air susu. Rania meraih tisu diatas meja, lalu memberikannya pada Arsha yang masih sibuk mengelap lehernya.


Kaos Arsha sudah mulai menempel dibadan, basah dan lengket karena air susu.


"Ini Pak. "

__ADS_1


"Iya, terimakasih. "


"Pak Arsha, kalau mau, bilas dulu badannya dikamar mandi, biar tidak lengket badannya, biar nanti kaosnya dicuci dulu sama bude Inah."


Arsha menatap Rania bingung, kaosnya dicuci, terus dia mau pakai baju siapa?.


"Terus nanti aku nggak pake baju maksudnya? Kamu nggak papa?", Rania langsung terdiam, wajahnya bersemu merah karena malu, iya juga, kalau Bos nya tidak pakai baju, terus dia bagaimana? Arsha tersenyum miring melihat Rania yang langsung tertunduk malu.


"Bunda, Om Arsha mandi dikamar aja sama Andra terus baju Om Arsha dicuci dulu biar nggak lengket. Bolehkan Bunda?".


Rania terlihat kebingungan, bagaimana mungkin mengijinkan Arsha masuk ke kamarnya? Tapi mau bagaimana lagi, kamar mandi satunya ada didekat dapur, kalau pakai kamar mandi itu terus nanti Arsha mau menunggu di mana setelah melepas bajunya?.


"Iya, silahkan pak Arsha pakai kamar mandi dikamar saja bareng Andra. Nanti kaosnya dicuci dulu biar tidak lengket."


"Ayok Om. ", Andra menarik tangan Arsha.


"Iya sebentar, Om Arsha lepas dulu kaosnya. "


"Pak!", seru Rania dengan suara keras, menghentikan aksi Arsha yang akan melepas kaosnya didepannya.


"Lepas kaosnya dikamar saja, terus nanti ditaruh saja didepan pintu. ", ucap Rania cepat.


"Ayok Om, ganti baju dikamar bareng Andra. "


Andra menarik Arsha yang masih kaget dengan teriakan Rania barusan, kemudian masuk kedalam kamar, dan Rania langsung bergegas menuju dapur, entah kenapa tiba-tiba saja tenggorokannya terasa kering dan haus.


"Ada apa mbak?".


"Itu bude, susunya Andra tumpah, baju pak Arsha basah kena susu. Nanti minta tolong bude cuci sebentar ya, langsung dikeringin pake mesin cuci. Terus bude tolong kasih handuk buat Pak Arsha dikamar. "


"Iya mbak, nanti biar dicuci sama bude, terus digantung biar cepet kering."


"Iya bude, makasih. "


"Pak Arsha baik banget sama Andra ya mbak, mas Andra juga keliatan seneng banget main sama pak Arsha. Pak Arsha kan belum menikah ya mbak? Tapi kok bisa sebaik itu sama anak-anak?".


"Iya bude, aku juga nggak tau kenapa pak Arsha baik banget sama Andra?".


"Coba mas Andra punya ayah kaya pak Arsha ya? Andra pasti bahagia banget ya mbak", ucap bik Inah tanpa sadar.


Rania menundukkan kepalanya sedih, 'seandainya mas Andre masih hidup, pasti Andra akan lebih bahagia.'


"Astaghfirullah, maaf mbak, bude malah ngomongnya ngelantur jadinya. "


"Nggak papa bude. ", sahut Rania pelan, 'Astaghfirullahalazim, tidak seharusnya berandai-andai seperti itu, ampuni hamba ya Allah... '.


Rania duduk gelisah diatas tempat tidur kamar satunya yang sering dipakai Bapak Ibu saat datang ke rumah. Kamar yang hanya berukuran 3x3m, berisi tempat tidur, satu lemari berukuran sedang dan dilengkapi satu buah kipas angin portabel kecil supaya kamar tidak pengap karena ventilasi udara yang sangat minim.


Sekarang sudah jam sebelas malam, Arsha masih ada di dalam kamarnya bersama Andra, dan sepertinya sudah tertidur karena tadi saat dia lewat didepan kamar sudah tidak ada suara yang terdengar dari dalam kamar. Andra tadi setelah selesai ganti baju, membawa beberapa mainan kedalam kamar, melanjutkan menyusun lego dikamar bersama Arsha.


Rania menyerah pasrah, mau bagaimana lagi, tidak mungkin membangunkan Arsha, terus menyuruhnya pulang malam-malam begini. Yang terpenting dia tidak menyalahi aturan agama dan sangat tau batasan yang tidak boleh dilanggar karena ada Arsha dirumahnya yang bukan mahramnya. Toh dirumah ini dia tidak tinggal sendirian, ada bik Inah dan juga Andra, jadi tidak ada pelanggaran selagi dia menjaga auratnya dan perilakunya. Pikir Rania mencoba mencari pembelaan.


Rania menghela nafasnya pelan, kemudian membaringkan tubuhnya yang terasa sudah sangat lelah karena begitu banyak tragedi hari ini.

__ADS_1


"Bismillahirrahmanirrahim... ", Rania mulai mencoba memejamkan matanya, dan berdoa semoga besok akan lebih baik dari hari ini tanpa ada drama dan tragedi lagi.


__ADS_2