
'Duk.. !'
"Auww... Kenapa menendang kaki ku Bos?", Dani mengerang kesakitan sambil memegang tulang kering kaki kanannya yang baru saja ditendang Arsha yang masih memakai sepatu kerjanya.
"Ada yang mau kamu katakan sekarang?!", ucap Arsha sambil menatap tajam penuh amarah pada Dani.
"Bos, kenapa suka sekali menyiksa orang sih.. Apa lagi yang harus dikatakan? Aku kan tadi sudah melaporkan semua pekerjaan dikantor, semua laporan juga sudah aku kirim. ", ucap Dani yang masih meringis kesakitan.
"Aku tidak menanyakan masalah pekerjaan di kantor!".
"Terus masalah apa lagi, Bos?", Dani berdiri lagi dengan menengadahkan kepalanya, menatap penuh tanda tanya pada Arsha.
"Rania.", ucap Arsha singkat.
Dani terdiam sejenak, mencoba berpikir tentang hal yang berkaitan dengan Rania hari ini.
"Rania?? Kenapa dengan Rania? Bukankah dari pagi sampai sore Rania bersama pak Bos disini.".
"Ada yang kamu rahasiakan, Dan?!", tanya Arsha memaksa Dani untuk jujur padanya.
"Apa maksudnya sih, Bos?. Aku sama sekali tidak mengerti?", ucap Dani tak mengerti dengan maksud ucapan Arsha.
'duk.. !'
"Auww... ", kini tulang kering kaki kirinya yang gantian ditendang oleh Arsha. Dani meringis kesakitan, memegangi kaki kirinya.
"Bos! Ada apa sih?!", ucap Dani kesal.
"Sejak kapan kamu tau tentang suami Rania?".
"Su-suami Rania? Suami Rania...kan ada di Salatiga, Bos.", Dani terkejut mendengar pertanyaan dari Bos nya, kenapa tiba-tiba menanyakan suami Rania, Jangan-jangan dia sudah tau tentang suami Rania.
"Terus.. ?", Arsha memiringkan kepalanya, menyelidik ke wajah Dani yang sudah terlihat pucat.
"Yaa.. mana aku tau tentang suami Rania.", ucapnya asal.
"Sejak kapan kamu tau?".
"Tau tentang apa sih, Bos?".
__ADS_1
"Suami Rania.", tegas Arsha.
Dani menatap Arsha yang berdiri didepannya, sepertinya Bos nya memang sudah tau rahasia Rania.
"Apa Bos sudah tau??", Dani balik bertanya pada Arsha karena penasaran.
Arsha hanya diam saja dan masih memasang muka penuh amarah, matanya menatap tajam tanpa berkedip pada Dani.
"Darimana Bos tau?".
"Tidak penting dari mana aku tau, yang aku tanyakan sejak kapan kamu tau?".
"Bos, Rania sendiri yang meminta untuk merahasiakan hal ini.".
"Berarti kamu sudah tau kan?! Aku tanya, sejak kapan kamu tau?".
"Sejak.... empat bulan yang lalu.", ucap Dani dengan suara pelan, menatap takut pada Arsha.
Arsha mendengus kesal, 'Dani brengsek! ternyata sudah lama dia tau', batinnya jengkel. Tapi kenapa Rania merahasiakan masalah suaminya?.
"Bos, jangan hukum Rania, dia tidak salah, kita saja yang tidak pernah menanyakannya. Kalau mau menghukum, hukum saja aku, Bos. Aku siap!", Dani menepuk dadanya sendiri, seolah sedang memasang badan untuk melindungi Rania.
"Biarkan saja dianggap sok pahlawan, kalau yang aku perjuangkan itu orang seperti Rania, aku siap di beri julukan sok pahlawan. ".
'Bugh.. '
"Auww... Bos.. !", kepalan tangan Arsha kembali mendarat didada Dani. Dani spontan langsung memegang dadanya dengan kedua tangannya.
"Rania tidak mungkin mau sama orang bermuka dua seperti mu!".
"Siapa bilang tidak mungkin, Rania sendiri yang bilang tidak ada yang tidak mungkin, Allah Maha membolak-balikan hati manusia. Dan aku sudah bertekad untuk mengejar Rania, sampai dia mau jadi istriku!".
"Mimpi kamu!".
"Iya betul, Bos. Mimpi ku adalah bersanding dengan Rania untuk selamanya.", Dani tersenyum membayangkan Rania mau menerimanya.
Arsha menoyor kepala Dani kebelakang.
"Bos!".
__ADS_1
"Selesaikan administrasi rumah sakit, Andra besok siang sudah boleh pulang. ".
"Kenapa Bos yang membayarnya? Rania kan punya asuransi perusahaan.".
"Berisik kamu, cepat urus!".
Arsha langsung pergi begitu saja meninggalkan Dani yang masih termangu di lorong rumah sakit. Menatap punggung Arsha yang mulai menjauh, masih terheran-heran dengan sikap Bos nya yang berubah menjadi peduli pada orang lain. Dari dulu Arsha paling anti mengurusi urusan orang lain, jangankan menengok karyawannya yang sedang sakit, menanyakannya pun tidak, termasuk pada Dani sendiri.
'Apa si Bos sudah mulai berubah? Syukurlah kalo begitu.. Pasti nyonya Wiguna sangat senang kalo tau hal ini', senyum Dani mengembang dari bibirnya, bahagia karena Bos nya mulai berubah sedikit demi sedikit menjadi sosok yang dia kenal dulu, sosok pimpinan yang baik, berwibawa dan jauh lebih ramah dibandingkan dengan sekarang, sosok yang dia rindukan sebelum kejadian lima tahun yang lalu.
*
Pov Arsha
Entah apa yang mendorong ku untuk bertahan menemani Rania yang sedang menunggu anaknya yang baru saja kecelakaan dan sekarang dirawat dirumah sakit. Mungkin karena magnet Andra yang terlalu kuat menarik ku, hingga aku tak bisa mengacuhkannya.
Ya, setelah melihat pertama kali, Andra sudah membuat ku tertarik dan jatuh hati untuk berdekatan terus dengannya. Desiran dalam dadaku terus saja mengalir menyebarkan rasa hangat dan perasaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Entahlah, mungkin karena aku merasa Andra seperti jelmaan anakku dan Celine yang sudah pergi lima tahun yang lalu. Mungkin anakku kalau masih hidup sekarang sudah sebesar Andra, karena kalau dihitung umurnya sama persis dengan anakku sendiri.
Aku sangat bahagia bisa mengenal Andra yang seolah seperti obat dan penawar rindu, sedih, terluka dan kecewa yang aku rasakan waktu dulu.
Aku juga sangat kagum dengan Andra yang begitu pintar dan patuh pada orang tuanya, Rania.
Ya, Rania. Orang yang tidak pernah aku duga akan selalu berada di sekitar ku saat aku bekerja. Seorang wanita dengan pakaian yang sangat tertutup dan terkesan menjaga dan berhati-hati dalam tingkah laku dan tutur katanya.
Waktu pertama kali melihat nya, ada perasaan aneh dan canggung, sehingga aku tidak banyak bicara padanya. Entahlah, seperti ada tembok besar yang ada di depan Rania, yang siap untuk menghadang ku saat aku berhadapan dengannya. Akhirnya aku sendiri yang memilih untuk membatasi bicara dan berkata kasar. Aku pun heran dengan diriku sendiri, kenapa kalau berhadapan dengan Rania aku seperti tidak bisa berkutik, padahal sebelum nya aku sering sekali meluapkan emosi ku pada sekretaris ku yang dulu dan pada Dani tentunya.
Rania memang jauh lebih cekatan dibandingkan dengan sekretaris ku dulu, semua pekerjaannya selesai dengan cepat dan rapi. Agenda dan kegiatan ku selama lima bulan ini juga berjalan dengan lancar dan teratur. Aku akui, Rania adalah orang yang sangat hebat.
Perasaan nyaman dan tenang jika berdekatan dengan Rania, membuat semua orang juga menyukai nya. Sarah, Dani, Mama dan karyawan yang lainnya, seperti tersihir untuk terus menempel pada Rania. Termasuk aku juga, entah kenapa, ada perasaan nyaman dan tenang saat bersamanya, mungkin karena Rania yang tidak terlalu banyak bicara dan menjaga kelakuannya membuat ku lebih fokus dalam melakukan aktivitas kerjaku.
Mungkin hal itulah yang membuat ku sering memimpikan Rania. Aku juga tak mengira, mimpi itu sering sekali datang membayangi ku, mimpi Rania yang sedang menunggu ku dibawah air terjun. Entah apa maksudnya? Rania selalu datang dimimpiku saat aku mengalami mimpi buruk yang selalu menghantuiku selama lima tahun ini.
Sampai akhirnya aku memutuskan untuk semakin membatasi hubungan ku dengan Rania, aku mencoba mengacuhkannya, dan sepertinya Rania merasakan perubahan sikapku yang dingin padanya. Tapi dia tetap tenang dan terlihat biasa saja, tak pernah menanyakan apapun dan selalu menerima perintah ku dengan patuh.
Aku juga mulai curiga dengan Dani yang terus menempel pada Rania meski tau kalau Rania sudah menikah dan punya anak. Dani terlihat sekali sangat menyukai Rania.
Ah ternyata memang aku saja yang tak tau, suami Rania ternyata sudah meninggal lima tahun yang lalu. Pantas saja Dani begitu gigih mendekati Rania.
__ADS_1
Terserah lah, yang terpenting sekarang aku sudah menemukan kebahagiaan ku sendiri. Andra, anak itu benar-benar membuat seperti kembali menemukan arti hidup dalam diriku. Aku hanya ingin mendekati Andra, mendekati kebahagiaanku.