
...' Perbanyaklah istighfar jika hatimu sedang merasa kan kegelisahan dan keraguan. Berdo'a, ikhlas dan tetap berusahalah hingga masalah hidupmu teratasi dengan ijin dan bantuan dari Allah SWT. Niscaya kamu akan menjadi orang yang selalu merasa bersyukur dengan nikmat yang telah kamu terima walaupun hanya sebesar satu biji beras. ' (White Rose)...
Setiap manusia akan mengalami permasalahan hidupnya masing-masing, baik itu berat, sedang ataupun ringan. Tergantung dari cara orang tersebut menerima takdir nya masing-masing, karena setiap orang mempunyai timbangan dan ukuran yang berbeda dalam menakar permasalahan yang sedang dihadapinya. Tinggal bagaimana caranya orang itu mengatasinya.
Kini Rania sedang berusaha untuk berdamai dengan hatinya yang sudah hampir seminggu ini dilanda kegelisahan. Entahlah, akhir-akhir ini dia merasakan beban dan pikiran yang selalu terasa berat di benaknya. Mungkin karena hormon seorang wanita yang mempengaruhi perasaannya hingga dia saat ini lebih sensitif dalam menanggapi setiap masalah. Dari dulu dia selalu bisa bijak dalam setiap mengatasi permasalahan yang sedang dihadapinya, tapi kali ini terasa sangat berbeda.
" Bunda, yang itu bukan disitu masangnya. ", protes Andra saat Rania salah memasang lego pesawat tempur yang baru dibelikan oleh daddy.
" Astaghfirullah... Iya yah, harusnya kan ini buat ekor pesawat nya. Aduh maaf Andra, Bunda salah lagi masangnya. ".
" Bunda dari tadi ngelamun terus siih... Jadinya salah masang lego nya. ", Andra langsung mengerucutkan bibirnya, kesal dengan Bunda nya yang dari tadi hanya diam saja saat memasang lego.
" Iya maaf, Bunda lagi kurang konsentrasi. Gimana kalo sekarang kita tiduran aja sambil dengerin Bunda cerita. ", usul Rania yang mulai merasakan pegal pada pinggang nya karena duduk terlalu lama.
" Ayo Bunda, tapi Andra belum ngantuk Bunda. ", Rania melirik jam digital diatas rak pajangan, ternyata masih jam delapan malam, pantas saja Andra belum mengantuk karena Andra terbiasa tidur sekitar jam sembilan malam.
" Nggak papa, nanti Andra dengerin Bunda cerita aja ya, pinggang Bunda sakit kalo duduk terus. ".
Andra mengangguk patuh lalu segera naik keatas tempat tidur, Rania menyusul dan langsung berbaring miring memeluk Andra.
" Kok Bunda malah meluk Andra si, kan katanya mau cerita. ", protes Andra pada Rania yang malah memeluk tubuh kecilnya dan membenamkan wajahnya didada Andra.
Rasa nyaman saat mencium wangi tubuh Andra membawa ketenangan tersendiri untuk Rania yang sedang merasakan kegelisahan pada hatinya. Andra seperti obat yang bisa menyembuhkan semua luka dan sakit yang sekarang sedang dirasakan olehnya.
" Andra, Bunda ijin meluk Andra dulu sebentar ya, Bunda kangen sama bau ketek Andra. ".
" Emang Andra sekarang keteknya bau Bunda?. ", Andra langsung mendekatkan hidungnya sendiri kearah ketiaknya. " Enggak kok Bunda, ketek Andra nggak bau. ", protes Andra kemudian.
" Hehe... Ketek Andra sekarang bau wangi. Enak buat dicium. ", Rania terus mendusel diarea dada dan ketiak Andra.
" Tapi geli Bunda... Hahaha... ", Andra terbahak karena rasa geli karena Bunda nya terus saja menciumi tubuhnya.
Sementara itu seseorang dibalik pintu kamar Andra terlihat sedang berdiri diam sambil menguping suara tawa Andra dan Rania yang terdengar dari dalam kamar.
" Biarkan Rania tidur sama Andra malam ini Sha, karena cuma Andra yang bisa membuat Rania lebih tenang saat ini. ".
Arsha menghembuskan nafasnya yang terasa berat, niatnya malam ini dia ingin mengajak Rania untuk berbicara lagi supaya masalah yang sedang terjadi cepat selesai. Tapi sepertinya istrinya saat ini lebih memilih untuk melupakan masalah sejenak dengan tidur bersama Andra.
" Iya mom... ", ujarnya pasrah. Kemudian berjalan pelan menuju kamarnya dilantai dua dengan langkah tak bersemangat. Sebenarnya apa yang membuat Rania jadi bersikap seperti ini. Arsha benar-benar tidak tahu kalau Rania tidak mengatakan apapun padanya. ' Apa aku sudah membuat nya sakit hati hanya gara-gara masalah sekretaris?. ', batin Arsha terus penasaran. Masa hanya masalah seperti itu Rania bisa jadi sesedih itu. Pasti ada sesuatu yang lain, yang membuat Rania sedih dan diam seperti itu.
*
__ADS_1
Pagi hari ini Arsha disuguhkan dengan pemandangan yang sudah dirindukannya sejak sekitar seminggu yang lalu. Rania saat ini sedang tersenyum tulus sambil memasang dasi di lehernya dan menyiapkan semua barang yang akan dibawa ke kantor seperti hari-hari sebelumnya.
" Sudah selesai mas, ayo sarapan dulu. ", ucap Rania dengan suara lembut.
" Rania... ", Arsha dengan ragu meraih tangan Rania yang akan pergi dari hadapannya.
" Ya mas... Ada apa?. ", tanya Rania langsung menghadap menatap Arsha lagi.
" Apa kamu sudah tidak marah lagi?. ", tanya Arsha ragu.
Rania tersenyum kemudian langsung memeluk Arsha dengan lembut, " Rania nggak pernah marah sama mas Arsha. Maaf kalau Rania sudah membuat mas Arsha bingung sama sikap Rania. Rania sekarang sudah baik-baik saja. ".
Arsha mengeratkan pelukannya, pada Rania rasanya lega sekali mendengar Rania berkata seperti itu. " Tolong bilang saja kalau aku berbuat salah atau menyakitimu Rania. Jangan diam saja dan membuat ku semakin tersiksa dan bingung harus bagaimana. Aku tidak tau harus bagaimana kalau kamu hanya diam seperti itu. Kamu bisa marah, memaki ataupun memukul ku kalau aku salah. Aku lebih suka kamu memperlakukan aku seperti itu daripada harus melihat mu selalu diam dan tak berkata apapun padaku. ".
Rania membenamkan wajahnya didada Arsha, menyesal sudah membuat suaminya sendiri tersiksa karena ulahnya. " Maaf mas... ", ucapnya singkat.
Arsha mengecup puncak kepala Rania dengan lama, merasakan ketenangan saat istrinya sekarang sudah tidak diam lagi seperti kemarin. Perasaan lega bercampur bahagia saat Rania sudah kembali padanya. Sebuah perasaan yang sangat sulit untuk diartikan oleh dirinya sendiri. Yang jelas sekarang dia sangat menyayangi wanita yang sedang ada di pelukannya saat ini.
*
" Rania, dimana kamu menyimpan charger HP mu?. Aku mau pinjam, baterai HP ku lowbat. ", bisik Arsha pelan.
" Ada di tas ku mas, diruang belakang. Mas ambil aja sendiri ya, aku masih harus ngetik laporan ini dulu sebentar. ", jawab Rania sambil terus sibuk mengetik laporan hasil rapat yang baru saja selesai.
" Sebentar aja kok mas, ini udah mau selesai. Nggak enak udah ditungguin sama tim nya bu Sarah laporan keuangannya. ".
" Ya udah aku tinggal dulu ya... ".
" Iya mas. ", jawab Rania singkat tanpa menengok ke suaminya.
Arsha berjalan masuk ke ruangan belakang tempat Rania bekerja setiap harinya, mencari tas Rania yang biasanya ditinggal di loker. Tanpa mengeluarkan tas dari loker Arsha langsung merogoh isi tas itu, tangannya langsung terhenti saat meraba sesuatu yang aneh didalam tas itu. Dengan penasaran mengeluarkan benda aneh itu dan menatap nya penasaran.
" Obat apa ini?. ", tanya Arsha tak mengerti sambil terus menatap strip obat yang beberapa butirnya sudah tidak ada di dalamnya. ' Apa Rania sedang sakit?. Tapi sepertinya dia sedang dalam kondisi sehat saat ini. Terus obat apa ini?. ', batin Arsha terus bertanya. Apa Rania menyembunyikan sesuatu darinya?.
*
Arsha cemberut sebal menatap orang yang dari tadi ditunggunya sedang berjalan santai masuk kedalam cafe.
" Bisa nggak sih hargai waktu ku yang mahal ini, seenaknya aja dateng telat masih bisa jalan santai gitu!. ", sungut Arsha menatap orang yang kini sudah ikut duduk diseberang meja tempat duduk nya.
" Lha kamu kayak nggak tau kerjaan ku aja Sha, main panggil aja seenaknya sendiri. Aku tuh masih jaga di rumah sakit, nggak mungkin seenaknya keluar seperti dirimu. ", balas Edo ikut emosi pada sahabatnya yang tidak tahu aturan itu.
__ADS_1
" Ada apa sih pake acara ketemu diluar begini?. Kan bisa lewat telpon aja. ".
Arsha merogoh saku jas hitamnya dan mengeluarkan strip obat yang tadi diambilnya dari tas Rania. " Obat apa itu Do?. ".
Edo langsung mengambil obat yang dilemparkan Arsha keatas meja, " Dari mana kamu dapat obat ini Sha?. ".
" Udah nggak usah banyak tanya dari mana, jawab aja pertanyaan ku apa susahnya sih. ", sungut Arsha kesal.
" Ini namanya obat KB, pil KB. ", jawab nya singkat.
" Maksudnya??. ".
" Ya ini namanya obat KB Sha, obat untuk mencegah kehamilan. ".
" Mencegah kehamilan??. ", Arsha tersentak kaget. Matanya langsung menatap kosong obat yang kini tengah dipegang Edo. " Kenapa harus minum obat itu?. ", tanya Arsha asal karena bingung dengan kenyataan yang baru diketahui nya.
" Ya jelas biar nggak hamil. Emang siapa yang minum obat ini Sha?. ", tanya Edo penasaran saat melihat wajah Arsha berubah menjadi masam dan pucat.
" Rania. ", jawab Arsha singkat. Kenapa Rania meminum obat itu?. Apa dia benar-benar ingin berpisah setelah satu pernikahan ini seperti yang pernah dia katakan waktu itu?.
" Rania!. ", seru Edo kaget, " Kenapa Rania minum obat ini Sha?. Apa kamu yang menyuruhnya?. ".
" Kalo aku nyuruh Rania minum obat itu ngapain waktu itu aku nyuruh kamu untuk cek kesehatan kandungannya?. ".
Edo terdiam, kini dua orang yang sedang duduk dicafe itu saling diam dengan pikiran nya masing-masing.
" Pantas aja dia nggak periksa waktu itu, ternyata dia sedang minum obat ini. Sejak kapan dia minum Sha? ".
" Mana aku tau!!. ", bentak Arsha yang sudah emosi, " Kalo aku tau Rania punya obat jahanam ini sudah aku buang obatnya dari awal!. ".
" Lalu apa resikonya kalo Rania minum obat itu?." , tanya Arsha lagi seperti tidak mengerti dengan penjelasan Edo.
" Sha, tolong dengerin baik-baik, resiko orang meminum pil KB itu nggak hamil!. ", jawab Edo ikut kesal.
" Maksud ku apa Rania tidak bisa hamil sampai seterusnya?. ".
" Kalo dia terus menerus minum obat ini ya nggak akan hamil, tapi kalo dia tidak minum ya kemungkinan akan hamil. Udahlah Sha, kamu harus membicarakan ini berdua dengan Rania. Tidak semua wanita siap untuk hamil, mungkin itu yang ada dipikiran Rania saat ini. ".
" Jadi Rania belum siap hamil anakku?. ".
" Ya itu hanya kemungkinan aja Sha, bisa jadi dia punya alasan lainnya. ".
__ADS_1
Alasan yang lain?. Apakah alasan perpisahan itu yang dimaksud?. Arsha mengusar rambutnya kasar, emosi, sedih bingung dan kecewa bercampur menjadi satu membuatnya ingin berteriak sekeras mungkin.