
Rintik gerimis mengiringi hari yang semakin sore. Rania duduk terdiam di kursi bundar kecil yang berada diruang tamunya.
Dani masih lekat menatap Rania yang tertunduk dalam sambil meremas kedua tangannya. Perasaannya seperti tercampur aduk tidak menentu, begitu heran dengan Rania yang bisa tegar menghadapi cobaan nya. Ditinggal pergi untuk selamanya oleh suami yang baru menikahinya satu bulanan, dan dalam kondisi hamil muda.
'Wanita yang sangat luar biasa kamu Rania', batin Dani, sangat kagum dengan ketegaran Rania.
"Apa orang kantor ada yang sudah tau tentang suamimu?".
Rania mendongak menatap Dani dengan tatapan memohon, "Belum, mas. Aku mohon mas Dani jangan dulu bilang ke siapapun dikantor.".
Dani menghela nafas panjang, "Kenapa dirahasiakan?".
"Aku.. ", Rania terdiam, mencari kata yang tepat untuk melanjutkan kalimatnya.
"Aku tidak bermaksud menyembunyikan nya, Mas.Mas Dani, bu Sarah, bu Winda dan... pak Arsha tidak pernah menanyakan hal itu padaku. Jadi... aku hanya menjawab pertanyaan yang diajukan saja."
Dani kembali menghela nafas panjangnya, tapi memang benar yang dikatakan Rania, saat dirinya bertanyapun tidak sampai terpikirkan menanyakan tentang status suami Rania masih hidup atau tidak.
"Aku mohon, mas Dani mau menyimpan rahasia ini. Aku masih belum siap, Mas.".
"Kenapa belum siap, belum siap apa memang?".
"Karena, aku takut nantinya orang kantor akan memandang ku dengan tatapan iba dan kasihan. Aku tidak mau seperti itu, Mas.".
Dani menghela nafasnya pelan, "Rania, aku berjanji tidak akan bilang pada siapapun juga. Kamu tenang saja.".
Rania tersenyum menatap Dani dihadapannya, "Makasih, mas. Mas Dani sudah banyak sekali membantu ku selama ini. Aku sampai bingung harus membalasnya dengan apa.".
Dani tiba-tiba tersenyum misterius, "Nanti pasti aku akan minta balasannya, tunggu saja Rania.".
"Maksudnya... ", Rania kebingungan dengan kata-kata Dani.
"Oke, sudah mau maghrib. Aku pamit pulang dulu, salam buat Andra ya. sampai ketemu besok di kantor. Assalamu'alaikum.. ", Dani segera bangkit dari sofa ruang tamu Rania meninggalkan Rania yang masih penasaran dengan perkataan Dani.
"Sekali lagi makasih banyak, mas Dani. Wa'alaikumussalam... ", Rania terdiam menatap kepergian Dani, akhirnya ada satu orang kantor yang tau tentang suaminya yang sudah pergi untuk selamanya. Selama ini memang dia lebih merasakan tenang dengan status nya yang dikenal sudah menikah, dengan begitu orang lain tidak akan menanyakan hal pribadi nya lebih detail. Berbeda jika mengatakan statusnya sudah menjanda karena suami sudah meninggal, pasti akan ada banyak pertanyaan lanjutannya. Itu yang sebenarnya Rania hindari selama ini.
*
Rania melangkah masuk ke ruang kerja Arsha, setelah dipersilahkan masuk oleh penguasanya.
"Selamat pagi, pak Arsha.".
__ADS_1
"Pagi Rania.", balas Arsha sambil menatap Rania yang sudah berdiri didepannya.
Rania segera membuka catatan kegiatan harian yang ada di iPadnya.
"Saya akan bacakan agenda hari ini. Hari ini ada pertemuan dengan tim desain interior dari Pesona group di ruang diskusi pada jam 10, selanjutnya ada pertemuan dengan pimpinan Angkasa group jam 13, dihotel Princess. ", terang Rania pada Arsha.
Arsha menatap Rania, mengamati gaya bicara Rania yang lembut dan terdengar nyaman ditelinga. Wajah putih bersih yang hanya terlihat muka depannya saja, karena sebagian kepala nya tertutup kerudung. Cantik dan anggun, itulah yang tampak jelas ketika bertemu dengan Rania.
Penampilan yang sopan dengan bajunya yang selalu tertutup, yang tanpa disadari membuat Arsha mulai terbiasa dan merasa nyaman dan tenang jika didekatnya.
Disamping itu cara kerja Rania yang begitu rapi dan teratur dalam membuat laporan, menyusun agendanya setiap hari, membuat nya semakin senang dan puas dengan kinerja Rania.
Harusnya dia berterimakasih pada Sarah yang memilih Rania untuk menjadi sekretaris nya. Arsha sangat tau alasan Sarah memilih Rania untuk menjadi sekretaris nya. Rania bukanlah wanita tipe penggoda seperti sekretaris nya yang sebelumnya, dilihat dari penampilan nya saja pasti sudah sangat jelas, kalo Rania bukanlah tipe sekretaris gatal yang selama ini pernah bekerja dengan nya.
Rania menyudahi laporan kegiatan Arsha hari ini, lalu mengalihkan pandangannya pada Arsha yang ternyata sedang menatapnya dengan tatapan yang sulit dimengerti.
"Pak... Pak Arsha", panggil Rania pelan.
Arsha tersadar dari lamunannya, lalu dengan cepat menundukkan kepalanya untuk menutupi rasa salah tingkahnya.
"Ya sudah... ", ucapnya cepat, berharap Rania segera berlalu dari hadapannya. Malu dan gengsi karena tertangkap basah dari tadi sibuk menatap Rania.
"Maaf Pak, tadi saya tanya tentang undangan rapat dengan direksi sore ini, Pak".
Nah, malu sendiri kan Arsha, dari tadi sibuk menilai penampilan Rania sampai tidak fokus dengan apa yang disampaikan oleh Rania. Arsha pura-pura sibuk dengan kertas yang ada diatas mejanya. Harga dirinya sebagai seorang CEO sekarang hampir jatuh dihadapan Rania.
"Kamu atur saja jam nya.", ucapnya tanpa menatap Rania.
"Baik, Pak. Kemudian untuk... ".
"Pokoknya kamu atur saja semuanya.", Arsha langsung memotong ucapan Rania. Rania terdiam, sepertinya pak Bos sedang tidak mood hari ini.
'Apa aku salah bicara? Kenapa pak Bos seperti tidak berkenan... ?', batin Rania bingung kenapa bos nya jadi ketus begitu.
"Baik, Pak. Saya ijin permisi dulu, Pak.".
"Ya, pergilah".
Rania membalikkan badannya dan segera berlalu dari hadapan Arsha, dengan berbagai pertanyaan dibenak nya.
Arsha menatap punggung Rania yang sudah menjauh pergi, 'Bodoh... bodoh... bodoh...' gerutu Arsha sambil memukul kepalanya sendiri dengan telapak tangannya, kemudian menyandarkan bahunya ke kursi kebesaran nya. Tanpa disadari, Rania sudah membuat perubahan besar tentang cara pandang nya pada seorang wanita.
__ADS_1
*
Hari ini sudah bisa dipastikan akan menjadi hari yang sangat sibuk. Dari pagi sampai sore agenda Arsha full, dan Rania harus selalu mendampingi semua kegiatannya dari siang sampai sore nanti.
"Rania, nanti makan siangnya sekalian di hotel princess bareng pak Bos. Aku nanti nyusul kesana kalau urusan dengan tim desain interior sudah selesai.".
Rania langsung menghentikan kegiatannya yang sedang merapikan semua dokumen penting proyek pembangunan apartement baru, "Lho, mas Dani nggak sekalian ikut makan disana?", Rania sudah mulai gelisah membayangkan nanti harus makan satu meja hanya dengan Arsha.
Rania melirik jam dinding didepannya, memang sepertinya tidak akan cukup waktunya buat Dani, urusan kontrak dengan tim desain interior masih on proses, dan tidak bisa ditinggalkan,
Arsha sendiri yang mengutus Dani untuk meneruskan diskusinya dengan tim itu.
"Kenapa Rania? Kamu pasti nggak mau jauh dari aku kan?", ledek Dani dengan senyuman genit.
Rania melotot menatap Dani yang tersenyum meledek, "Ihh, mas Dani, lama-lama ngeselin kayak kang gombal... ", Rania menggedikan pundaknya geli melihat tingkah Dani yang sekarang lebih agresif dari sebelumnya.
"Nggak papa jadi kang gombal, asal cewe nya kaya kamu. Aku bahkan siap jadi kain pel buatmu, yang bisa mengepel semua kotoran dan debu yang menempel dihatimu... ".
"Hiiiihhh... udah ah, mas Dani. Lama-lama geli dengerin nya... ", Rania berlalu meninggalkan Dani yang masih duduk diruang diskusi bersama tim desain interior. Sudah jam 11.40, sebaiknya sholat Dhuhur dulu, sebelum berangkat ke hotel Princess bersama Arsha.
*
"Permisi, ini pesanannya.", Seorang pelayan pria membawa pesanan yang tadi diminta Rania.
"Terimakasih, Mas.", ucap Rania dengan ramah pada pelayan tadi.
"Silahkan pak Arsha, kopi cappucino nya.".
Arsha yang sedang asik memainkan ponsel nya langsung mengalihkan pandangannya ke atas meja.
"Aku kan cuma pesan cappucino.", Arsha menatap Rania heran karena Rania memesan kue untuk nya.
"Minum kopi sebaiknya didampingi dengan kue atau makanan kecil lainnya, Pak, untuk menjaga kesehatan lambung. Karena kadar kafein kopi bisa meningkatkan asam lambung."
Arsha menatap lekat pada Rania, merasa kagum pada wanita didepannya. 'Benar-benar wanita yang baik... '.
"Ohh... Baiklah"
Rania meraih jeruk hangat diatas meja, "Bismillahirrahmanirrahim... ", kemudian menyesapnya sedikit. Tadi dia hanya memesan soup cream untuk makan siangnya, karena sebenarnya Rania masih kenyang dan belum ingin makan, apalagi harus makan besar didepan Bos nya itu.
Arsha melirik sesekali memperhatikan Rania yang begitu tenang menikmati makan siangnya. Seulas senyuman kecil mengembang dibibir Arsha. Ternyata setenang ini berdekatan dengan Rania, pantas saja Dani terus saja menempel pada Rania meski tau kalau Rania sudah menikah.
__ADS_1