
Hari sudah berganti malam, gemerlap cahaya lampu menyala terang di taman, semakin memperindah suasana taman belakang rumah mama Hanum yang masih sedikit ramai karena beberapa keluarga dekat masih berkumpul sambil menikmati pesta barbeque. Termasuk Bapak Ibu, Andra dan beberapa keluarga yang datang dari Jogja juga masih ikut bercengkerama dengan keluarga mama Hanum.
Kini sudah lepas waktu Isya, dan Rania sudah mengganti pakaiannya dengan gamis yang dibelikan mama Hanum waktu itu. Gamis panjang berbahan sutra yang sangat halus, berwarna krem terang dan berhias manik-manik batu swarovski dilingkaran pinggangnya. Baju yang memang dipilihnya sendiri saat itu karena mama Hanum yang memintanya untuk memilih baju yang katanya akan diberikan pada anak perempuannya, tapi ternyata baju ini di berikan sebagai hadiah padanya, karena Rania sudah mau menemani mama Hanum hari itu.
Rania mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar yang sekarang dipakainya untuk sholat Isya dan berganti pakaian, ini kamar Arsha, suaminya sendiri. Kamar dengan nuansa warna abu khas laki-laki, dengan luas yang hampir sama dengan luas rumahnya. Terdapat tempat tidur berukuran king size ditengah kamar, dan persis disebelah jendela kaca yang sangat lebar terdapat sofa yang ukurannya bisa untuk tidur orang dewasa. Kamar mandinya pun super besar, yang terhubung langsung dengan walk in closet yang berisi baju, sepatu dan segala aksesoris milik Arsha.
Tadi mama Hanum sendiri yang meminta Rania untuk memakai kamar Arsha karena sudah resmi menjadi istrinya. Sebenarnya Rania masih canggung, tapi mama Hanum tetap memaksa dengan alasan kamar yang tadi dipakai Rania untuk make up sudah dipakai oleh keluarga yang datang dari Bandung.
Rania mendesah pelan menatap bayangan dirinya sendiri dicermin yang ada di depannya. Melihat semua kemewahan rumah Arsha, Rania tiba-tiba merasa seperti kurcaci yang sedang bermain di istana kerajaan yang megah. 'Seperti istana', Rania teringat ucapan polos Andra saat tadi sore baru sampai dirumah ini, begitupun keluarganya, mereka terus berdecak kagum dan tak mengira kalau rumah Arsha sebesar ini.
'Semangat Rania, Bismillah...', batin Rania berusaha menyemangati diri sendiri.
*
"Nah..., ini dia pengantin nya!", sambut mama Hanum saat melihat Rania memasuki area taman. Rania tersenyum ramah, mengedarkan pandangannya ke semua keluarga yang masih berkumpul. Pandangannya berhenti pada Arsha dan Andra yang sedang sibuk memanggang daging dipojok taman, 'Asik sekali mereka', Andra terlihat begitu bersemangat memegang capitan daging walaupun takut mendekati pan pemanggang didepannya.
"Sini sayang."
"Iya, Ma. ", Rania berjalan mendekati mama Hanum yang sedang duduk disamping Cantika dan suaminya.
"Kak, kok mau sih sama bujang tua itu?", tunjuk Cantika pada Arsha.
"Ish... nih anak! Udah Rania, mereka memang kalo ketemu selalu saja berantem, mama sampe pusing ngeliatnya. ", mama Hanum menepis jari Cantika.
"Ihhh mommy, kan bener kak Arsha itu bujang tua."
"Sekarang kakakmu sudah menikah, sudah bukan bujang lagi. "
"Kak Rania, emang nggak takut sama kak Arsha?".
Rania menatap Cantika tak mengerti, 'takut.. ?'.
"Cantika... !"
"Auuww... mommy, sakit... ", Cantika memegang kuping nya yang barusan dijewer oleh mama Hanum.
Rania tersenyum melihat kedekatan mama Hanum dan anaknya.
"Rania, jangan didengerin omongannya Cantika. "
"Bunda... !", Rania menoleh kearah suara cempreng yang berteriak keras memanggilnya, siapa lagi kalau bukan Andra.
"Hati-hati, Andra... Jangan lari. ", ucap Rania bersiap menangkap Andra yang sedang berlari kecil menghampiri dirinya, disusul Arsha yang mengikutinya dari belakang sambil membawa piring berisi daging yang masih mengebul asapnya.
"Bunda, Andra masakin Bunda daging yang enaaak sekali."
"Alhamdulillah, terimakasih sayang.", Rania membenarkan posisi Andra yang sudah berada diatas pangkuannya.
"Kok Gemma nggak dikasih?", protes mama Hanum pada Andra.
__ADS_1
"Andra masaknya banyak, buat Gemma juga ada."
"Buat Tantik mana?", Cantika memanyunkan bibir nya didepan Andra. Tantik adalah panggilan Andra khusus untuk Cantika, singkatan dari 'Tante Cantik'.
"Daddy, Tantik boleh makan juga?"
"Nih, buat Tantik!"
"Hhmmpp... !!", Cantika melotot saat Arsha memasukkan daging dengan potongan besar langsung dengan capitan daging yang masih dipegangnya.
"Arsha... ! Ya ampuuun... ", mama Hanum langsung memukul lengan Arsha dengan keras.
"Mommy...", Cantika merengek dengan mulut penuh daging didalamnya.
"Tantik lucu... hahaha... ", Rania langsung membekap mulut Andra dengan tangan kanannya.
"Huaaaa... Andra ngetawain Tantik...", Cantika pura-pura menangis sambil memeluk mama Hanum.
"Udah ahh! Mama pusing liat kalian berdua. Ayo Rania dimakan dulu daging barbeque buatan Andra."
"Ayo Bunda, makan daging nya."
Rania meraih garpu diatas piring, mengambil satu potongan kecil daging kemudian memakannya
"Mmm... enak sekali.", Andra tersenyum senang.
"Oohh, Andra masakin khusus buat Bunda yaaa?." sahut mama Hanum sambil tersenyum senang.
"Iya, Gemma. Kata daddy, Bunda itu pelit kalo makan, jadi harus banyak makan daging biar nggak kurus dan.. hepp.", Rania langsung membekap mulut Andra lagi, kemudian melirik tajam ke arah Arsha yang sedang berpura-pura mengalihkan pandangannya. Cantika langsung tertawa terbahak-bahak mendengar celotehan Andra yang sangat polos.
"Kak Rania, hati-hati lho, nanti Andra ketularan playing victim plus body shaming kaya kak Arsha."
"Astaghfirullah... jangan dong Cantika... ", ucap Rania cepat.
'Pletak!'
"Auuww... kak Arsha sakit.", Cantika memegang dahinya yang dipukul Arsha dengan capitan daging.
"Makanya kalo ngomong jangan sembarangan!."
"Iihhh... ini anak berdua, ayo Rania Andra, kita tinggalin aja daddy sama Tantik, biar berantem terus sampai puas. Kita ke Eyang aja yuk di sana.", mama Hanum langsung menarik pelan tangan Andra yang masih berada dipangkuan Rania.
"Eehhh kok pergi sih, Andra jangan ninggalin Tantik dong..."
"Kamu sih... ", bentak Arsha pada Cantika.
Cantika menjulurkan lidahnya pada Arsha dengan mimik muka meledek.
*
__ADS_1
Rania terdiam didalam kamar mandi yang masih di kuncinya dari dalam, hampir satu jam dia berada di dalam kamar mandi dengan perasaan tak menentu dan jantung yang berdebar kencang. Entah apa yang harus dilakukan Rania sekarang, bingung bercampur takut jika dia keluar dari kamar mandi apartement Arsha.
Flashback On
"Arsha, ajak Rania ke apartement mu sekarang, kamar mu mau dipakai mama buat tidur pakde, kasihan kalo harus nginep di hotel."
"Mom... "
"Sstttt... udah sana. Mama udah siapin baju ganti buat Rania di mobil. Dan mama juga udah isi kulkas sama peralatan mandi buat Rania, pokoknya semua udah beres, kalian tinggal pakai saja."
Arsha menatap mama Hanum curiga, pasti ada rencana yang mama Hanum sembunyikan darinya.
"Terus Andra gimana, mom?", tanya Arsha khawatir kalau Andra nanti akan mencari Rania.
"Andra tadi udah bilang, mau bobo bareng mama, dia minta di dongengin sama mama. Rania, kamu tidak usah khawatir ya, pokoknya Andra aman sama mama. Kamu ikut saja ke apartement Arsha ya.. "
Rania terdiam, 'ke apartement Arsha?, hanya berdua? 'Ibu... Huuaaa...', rasanya ingin lari pulang ke rumah saat ini juga.
"Udah sana, kalian udah ditunggu pak Joko didepan. Mama mau nemenin Andra dulu dikamar, dia udah capek dan ngantuk."
Mama Hanum mendorong punggung Arsha dan Rania dengan kedua tangannya sampai keduanya keluar dari rumah dan berhenti tepat disamping mobil Arsha.
"Met malem mbak Rania, pak Arsha.. Selamat ya mbak, Pak, atas pernikahannya, semoga langgeng terus dan cepet dapat momongan.", sambut pak Joko ramah yang hanya dijawab dengan tatapan bingung dari sepasang pengantin baru itu.
"Pak Joko, cepet antar mereka ke apartement, udah malem, kasihan Rania udah capek, kepengin istirahat."
"Ma, Rania mau ambil baju dulu sebentar."
"Eehhh... udah nggak usah, mama udah siapin semuanya. Udah kalian berangkat aja sekarang, semuanya udah siap.", mama kembali mendorong Rania masuk kedalam mobil yang pintunya sudah dibuka lebar oleh pak Joko.
"Arsha! Ayo masuk, kok malah bengong gitu sih!", mama memukul lengan Arsha dengan keras saat tau anaknya masih berdiri disamping mobil.
Arsha bergegas masuk kedalam mobil, duduk dengan canggung disebelah Rania. Pak Joko segera menyusul duduk dikursi kemudinya, melirik kedua insan dijok belakang, 'Sekarang duduknya masih berjauhan, besok pasti sudah nempel kayak perangko', batin pak Joko sambil tersenyum geli melihat sepasang pengantin baru yang terlihat sama-sama canggung.
Flashback Off
'Tok tok tok... '
"Rania, apa kamu masih didalam?"
Rania tersadar dari lamunannya, spontan memegang erat kerah 'v' tanpa kancing pada jubah mandi yang sedang dipakainya.
"Rania... "
"I.iya... sebentar lagi."
"Baju gantinya aku taruh di ruang sebelah ya."
"I.iya.", sahut Rania dengan tergagap, lalu telinganya awas menempel pada daun pintu kamar mandi dan terdengar suara langkah Arsha yang sepertinya berjalan keluar dari kamar. Rania membuka pintu kamar mandi dengan pelan, mengintip dari celah pintu yang sudah terbuka sedikit, ternyata benar, Arsha sudah keluar dari kamar. Rania menegakkan tubuhnya kembali, kemudian menghembuskan nafasnya lega sambil memegang dadanya yang masih berdebar kencang. Dengan langkah cepat Rania langsung masuk kedalam ruang sebelah, yaitu ruang walk in closet milik Arsha di apartement ini, dan langsung menguncinya dengan dua kali putaran. Rania melihat paper bag diatas meja kaca yang berisi berbagai macam dasi, sabuk dan jam tangan milik Arsha. 'MasyaAllah... ', Rania berdecak kagum memandang seluruh baju yang tergantung rapi dan berderet di lemari yang mengelilingi ruangan, disebelah kanan ada bagian lemari yang kosong, seperti sengaja dikosongkan atau mungkin memang sudah kosong sejak lama. Disebelah kiri ada cermin besar dan dibalik cermin itu diisi dengan deretan sepatu dan sandal Arsha yang berjejer rapi. Rania segera melangkah meraih paper bag yang tadi sudah disiapkan mama Hanum untuknya, tangannya langsung meraih kain yang ada didalam paper bag. "Astaghfirullah... baju apa ini?!", pekiknya terkejut. Rania melotot menatap baju yang sangat tipis dan sangat pendek ditangannya, kemudian tangannya masuk lagi kedalam paper bag itu. Tangan Rania bergetar memegang baju yang baru saja dikeluarkannya lagi dari dalam paper bag, ternyata semuanya sama. Tiga baju lingerie dengan berbagai model dan berbagai warna lengkap dengan ****** ***** renda senada dengan lingerienya. 'Ibu... Huuaaaa... ', Rania terkulai lemas dilantai sambil memegang ketiga baju yang katanya khusus disiapkan mama Hanum untuknya.
__ADS_1