Tak Cinta Tapi Menikah

Tak Cinta Tapi Menikah
Percaya dan Kejujuran


__ADS_3

Tepat pukul delapan malam, Arsha tiba dirumah dengan raut muka yang masih merengut serius. Tanpa menyapa mama Hanum yang sedang duduk santai di ruang keluarga, langsung melangkahkan kakinya dengan lebar menaiki anak tangga menuju ke kamarnya. Dengan kesal melempar tas kerjanya ke atas ranjang yang kosong, kemudian ikut membanting dirinya sendiri di atas ranjang itu. Kecewa karena Rania masih saja menghindarinya malam ini.


Ingatannya kembali berputar dengan perdebatan tadi pagi dikamar ini. Rasa kesal, kecewa dan juga marah dengan perkataan Rania yang masih saja pesimis dengan pernikahan mereka, membuatnya benar-benar dalam kondisi yang sangat tidak stabil emosinya. Arsha mendengus kesal, mencoba berpikir disaat otaknya dipenuhi banyak persoalan yang membuatnya tidak mood hari ini. Urusan kantor yang masih blunder dengan mega proyek di Bandung, Celine yang masih saja memintanya terus menerus datang ke apartemennya meskipun dia akhirnya bisa menolaknya dengan alasan masih banyak pekerjaan dikantor, ditambah dengan Rania yang sekarang menjadi sangat pendiam dan seolah sangat mengacuhkannya. Belum lagi harus menghadapi kemarahan mama Hanum yang menuntutnya untuk segera menyelesaikan masalah itu.


Arsha memejamkan matanya dengan dahi yang berkerut, saat ini hidupnya sedang tidak baik-baik saja. Rasa khawatir yang sangat besar menderanya jika suatu saat Rania benar-benar akan menyerah dengan keadaan ini. Sungguh rasanya ingin sekali membuat Rania tidak bisa beralasan lagi dan berkata pergi dari hidupnya. Arsha langsung membuka matanya menatap langit kamarnya, hanya ada satu cara yang bisa membuat Rania tidak bisa pergi, dia harus secepatnya membuat Rania hamil. Dengan cepat Arsha langsung beranjak kekamar mandi, menyiapkan diri untuk tugas penting demi memasung Rania di rumah ini.


Setelah selesai membersihkan diri, Arsha langsung melangkah ke kamar Andra, lalu masuk tanpa mengetuk pintu dan membuat dua orang diatas ranjang langsung menoleh kearahnya.


" Daddy...! ", seru Andra senang menyambut Arsha yang sedang berjalan mendekat.


" Halo jagoan, belum tidur jam segini?. ", tanya nya sambil melirik ke arah Rania yang langsung membuang muka pura-pura sibuk dengan lego di pangkuannya.


" Kan belum jam sembilan, besok daddy jadikan ke sekolah Andra?. ", tanya Andra penuh harap.


" Jadi dong, daddy pasti datang tepat waktu liat Andra tampil pake seragam tentara. Makanya sekarang Andra harus tidur, biar besok bisa tampil keren di sekolah. Oke. ", bujuk Arsha meyakinkan.


" Oke daddy, bunda Andra mau tidur sekarang, main lego nya besok lagi. ", Andra langsung merebut lego yang dipegang Rania dan dengan cepat menaruhnya diatas nakas.


" Iya sayang...Mau di bacain dongeng dulu apa nggak?. ", Rania ikut membenahi tempat tidur dan bersiap ikut membaringkan diri disebelah Andra.


" Ngga usah, Andra mau langsung tidur aja. ", tolak Andra sambil membaringkan diri diatas ranjang.


" Malam ini Andra tidur sendiri dulu ya, bunda mau ada urusan penting sama daddy. ", Rania langsung melirik kearah suaminya sebal, " Mas, jangan ngomong kaya gitu sama Andra. ", protesnya langsung, bagaimanapun juga ingatan anak seumuran Andra pasti akan kuat terbawa sampai dia dewasa, walaupun saat ini Andra jelas belum mengerti maksud dari perkataan Arsha.


" Maksudnya, daddy mau minta di pijitin sama bunda, soalnya badan daddy ada yang pegel sekarang. ", ledek Arsha sambil melirik Rania yang menatapnya tajam.


Rania langsung mencubit lengan Arsha dengan keras, " Auuww... ", pekik Arsha kesakitan.


" Bunda, Andra tidur sendiri aja, kasian daddy lagi sakit harus di pijitin sama Bunda. Udah sana bunda tidur sama daddy aja. ", usir Andra yang membuat Arsha langsung tersenyum menang. Akhirnya Rania mengalah, dengan langkah yang malas masuk kedalam kamar yang disambut dengan senyuman penuh arti dari suaminya. Walaupun sedikit enggan, Rania dengan ikhlas melayani suaminya malam ini. Menerima perlakuan lembut yang akhirnya membuatnya ikut larut dalam kenikmatan duniawi yang hanya didapatkan dari suaminya sendiri dan bisa membuatnya lupa sejenak dengan permasalahan yang tengah terjadi dalam pernikahan mereka. Arsha benar-benar bisa membuat Rania seolah menjadi seorang ratu dan diperlakukan seperti layaknya sesuatu yang dijaga dengan sangat hati-hati. Keduanya benar-benar larut dalam permainan lembut yang memabukkan hingga lenguhan akhirnya lepas dari keduanya dipenghujung pertempuran.


" Makasih Rania... ", ucap Arsha sambil mengecup lembut kening Rania, kemudian berbaring miring memeluk tubuh polos istrinya yang masih mencoba mengatur nafasnya. Arsha tersenyum bahagia, ada kebanggaan tersendiri bisa membuat Rania akhirnya bisa lepas saat dia berhasil membuai nya dalam kenikmatan. Rania hanya terdiam, kemudian berbaring miring membelakangi Arsha karena sangat malu. Arsha terkekeh pelan, kemudian menarik selimut dibawah kakinya untuk menutupi tubuh Rania dan dirinya sendiri dalam satu selimut.

__ADS_1


" Masih marah sama aku hhmm...?. ", bisik Arsha persis ditelinga Rania sambil mengeratkan pelukannya.


Rania hanya menggeleng pelan, " Kok diam aja Rania?. ", Arsha membelai lembut perut Rania yang rata, dalam hati berharap semoga saja segera tumbuh bibit calon penerusnya diperut istrinya ini. " Apa kamu udah telat kedatangan tamu bulanan mu Rania?. ". Rania lagi-lagi hanya menggelengkan kepalanya saja tanpa menjawab pertanyaan suaminya.


" Aku sangat berharap kamu segera mengandung anakku Rania, supaya Andra nggak kesepian lagi, iya kan Ra?. ". Rania terdiam, tangannya semakin erat memegang selimut yang menutupi tubuhnya.


" Maafkan aku Rania kalau aku udah membuat mu kecewa. Tapi percayalah, saat ini hanya kamu yang selalu ada di pikiran ku. Tidak ada yang lebih penting daripada kamu Rania. ", bisik Arsha lagi seolah mengerti dengan keterdiaman istrinya.


" Apa sekarang kamu siap mendengar cerita ku?. Aku benar-benar ingin kamu tau semuanya supaya kamu nggak salah paham lagi padaku. ".


Arsha menarik nafasnya dalam-dalam, kembali mengeratkan pelukannya pada Rania yang masih tetap bertahan dengan diamnya.


" Aku dan Celine memang pernah mempunyai hubungan dimasa lalu, hingga akhirnya kita berpisah dalam keadaan yang rumit yang membuat kita berdua sama-sama dibayangi perasaan bersalah yang sangat besar. Selama hampir lima tahun harus berjuang melupakan peristiwa yang membuat ku ketakutan sepanjang hidupku, dan pada akhirnya membuat ku jatuh terpuruk dengan kondisi yang menyedihkan. Aku beruntung memiliki begitu banyak orang di sekeliling ku yang dengan sabar menuntun ku untuk kembali menjadi manusia lagi. Dan keberuntunganku semakin besar begitu aku bertemu denganmu enam bulan yang lalu. Tanpa sadar aku seperti terbawa dalam suasana damai yang selama lima tahun ini aku impikan. Aku sendiri juga sama sekali nggak menyangka, kenapa harus kamu?. Kenapa hanya kamu yang berhasil mengusik keresahan ku selama ini?. Tapi aku sangat yakin bahwa memang kamu lah wanita yang sangat tepat untuk mengobati luka ku dimasa lalu. ".


Arsha terdiam sejenak sebelum melanjutkan bicaranya, " Keadaan ku yang semakin membaik ternyata berbanding terbalik dengan keadaan Celine yang masih harus berjuang melawan rasa bersalahnya. Dan aku baru tau sekarang, setelah kejadian itu ternyata Celine harus bolak-balik menjalani perawatan karena mengalami depresi berat, dia terus menerus mengkonsumsi obat penenang dan pada akhirnya menjadi pecandu narkoba untuk mengatasi gangguan psikologi nya. Kejadian waktu itu membuat ku tersadar, mungkin aku sendiri juga ikut andil dengan kondisi Celine saat ini. Dia mencoba menyakiti dirinya sendiri didepan ku, dan... hal itu membuat ku dihantam rasa bersalah karena udah membuat Celine menjadi seperti itu. Makanya saat itu aku panik dan langsung membawa nya kerumah sakit sebelum terjadi hal yang semakin membuat ku menyesal kemudian. Saat dirawat dirumah sakit, Celine masih aja mencoba melukai dirinya sendiri, mengamuk, memberontak dan menghancurkan semua barang, dan hanya bisa ditenangkan dengan obat penenang dosis tinggi. Aku selalu memberikan pengertian padanya tentang kenyataan bahwa aku udah memiliki seorang istri, tapi hal itu membuat dia justru semakin nggak terkontrol sampai harus diikat karena terus memberontak. Dan itu membuatku semakin dihantui rasa bersalah, melihat Celine yang bagitu hancur dan sangat menyedihkan seperti itu. ".


Rania tercekat mendengar cerita Arsha, entah apa yang dialami Celine saat ini, tapi sebagai seorang wanita dia juga ikut merasakan kesedihan yang begitu besar hingga membuat Celine seperti itu. Rania beringsut berbaring menghadap ke wajah suaminya yang tampak sedih. Tangannya terulur membelai lembut pipi Arsha yang kini tengah tersenyum menatapnya.


" Aku lebih takut menghadapi kemarahan mu Rania. ".


" Lalu gimana kondisinya sekarang mas?. ", tanya Rania.


" Dia akhirnya bisa menerima kenyataan kalo sekarang aku benar-benar udah nggak bisa bersamanya dan aku udah memiliki seseorang yang membuat ku sangat bahagia. ", Arsha mencium sekilas bibir istrinya.


Rania tersenyum bahagia, " Apa sekarang dia udah nggak marah lagi? ".


Arsha menggeleng yakin, " Dia hanya minta waktu supaya bisa menerima kenyataan ini, dan dia berjanji setelah tenang dia akan segera pergi dari sini. ".


" Benarkah?. ", tanya Rania lagi.


" Iya sayang... Dia sekarang udah lebih sedikit tenang. Jadi tolong bersabarlah sebentar lagi, dia pasti akan pergi dari sini. ".

__ADS_1


" Apa mas masih sering bertemu dengannya?. ", tanya Rania ragu, takut membuat suaminya merasa kurang nyaman dengan pertanyaannya. Sebenarnya dia hanya ingin tahu, apakah suaminya akan jujur padanya kalau saat ini wanita itu ada di apartement suaminya sendiri.


" Udah dua hari ini aku nggak ketemu sama dia, aku mencoba memberikan dia waktu untuk berpikir jernih. Apa sekarang kamu udah percaya sama aku Rania?. ".


Rania beringsut menenggelamkan kepalanya didada Arsha, " Aku percaya mas, sebenarnya aku hanya menunggu mas Arsha bicara jujur padaku saat ini. ", yang sebenarnya masih ada kekecewaan didalam hati Rania saat ini, nyatanya Arsha masih belum mengatakan kalau sekarang Celine ada di apartement, hal itulah yang membuat kepercayaannya sedikit berkurang pada suaminya.


" Iya sayang... Udahan ya marahnya... Jangan diam lagi seperti kemarin, dan mulai sekarang lebih percaya lagi sama suamimu ini. ".


" Aku nggak pernah marah kok sama mas Arsha... Mas Arsha bebas mau melakukan apa aja diluar sana tanpa harus ijin dulu dariku. Tapi aku hanya ingin berpesan pada mas Arsha, jaga batasan hubungan dengan orang yang bukan muhrimnya, itu aja mas. ".


Arsha memeluk tubuh Rania dengan erat, " Pasti Rania, aku akan melakukan apapun asal bisa membuatmu bahagia. ".


Rania membalas pelukan Arsha, berharap suaminya kali ini benar-benar berkata jujur padanya dan bisa menjaga kehormatannya sendiri diluar sana.


*


Suasana riuh khas anak TK kecil yang sangat antusias menanti giliran mereka tampil diacara pergelaran seni dengan berbagai macam tingkah lucu berlarian menghampiri orang tua masing-masing yang sudah hampir memenuhi aula sekolah. Rania tersenyum bahagia menatap Andra yang terlihat sangat gagah memakai seragam tentara sesuai impiannya selama ini.


" Bunda... ", sapa Andra begitu sampai didepan bunda nya.


" Waahhhh... Ganteng banget anak bunda... ", ucap Rania dengan mata berkaca-kaca.


" Daddy belum sampe Bunda?. ", tanya Andra sambil melongok mencari Arsha yang belum terlihat didalam aula.


" Mungkin masih diperjalanan. ", raut wajah Andra tampak sedikit kecewa mendengar jawaban bundanya, sebentar lagi gilirannya tampil diatas panggung, tapi daddy nya belum juga terlihat didalam aula. Dia sudah sangat bersemangat begitu tahu kalau Arsha akan datang menonton pertunjukannya menjadi seorang tentara.


" Apa daddy lupa Bunda?. Bunda udah telpon daddy kan?. ", ucap Andra gelisah.


" Udah sayang, tadi Bunda udah telpon daddy, Andra tunggu sebentar lagi yah, mungkin daddy kena macet dijalan. ", ucap Rania berusaha menenangkan Andra. Sudah hampir jam sebelas tapi suaminya belum juga sampai di sekolah ini. Tadi dia memang sudah menelpon suaminya, dan katanya akan segera menyusul ke sekolah Andra. Rania meremas kedua tangannya karena tiba-tiba saja hatinya menjadi tidak tenang memikirkan Arsha yang belum juga tiba. Dengan cepat mengirimkan pesan menanyakan posisi suaminya saat ini.


Sampai akhirnya tiba giliran Andra naik ke atas panggung, melakoni drama musikal bertemakan pahlawan perang yang diperankan dengan begitu semangat oleh Andra. Rania tersenyum haru sambil sesekali melirik layar ponsel nya yang terus berkedip karena ada beberapa pesan yang masuk. Dengan cepat Rania menggeser layar HP nya berharap ada pesan yang diterima dari suaminya. Tapi ternyata nihil, ternyata hanya ada pesan gambar dari Sarah dilayar ponselnya. Dahinya langsung berkerut, penasaran dengan foto yang dikirimkan Sarah padanya, ini pasti ada sesuatu yang berkaitan dengan Arsha.

__ADS_1


Kini konsentrasi menonton pertunjukan anaknya jadi buyar karena rasa penasaran, dengan ragu Rania langsung menekan tombol terima dan menatap lekat foto itu. Seketika hatinya seperti dihantam palu besi besar, terasa sangat menyakitkan rasanya saat melihat foto itu. Rania mengalihkan pandangannya kembali menonton pertunjukan Andra yang sedang berlarian diatas panggung seolah sedang menghindari tembakan dari musuh, dengan perasaan yang hancur. Seulas senyum mengembang dibibir Rania, menatap anaknya dengan ber uraian airmata yang tiba-tiba begitu deras berjatuhan begitu saja. Mencoba tegar menghadapi kenyataan yang begitu menyakitkan, kemudian meyakinkan dirinya sendiri akan sesuatu yang terlintas dipikirannya. Sudah saatnya membuat keputusan besar untuk hidupnya dan juga untuk anak-anak nya.


__ADS_2