Tak Cinta Tapi Menikah

Tak Cinta Tapi Menikah
Duel Maut


__ADS_3

Dani tersenyum miring menatap Bos nya yang tampak tak berdaya didepannya.


" Aku do'akan Bos nggak akan menemukan Rania lagi selamanya!. ", sahut Dani kesal.


" Bantu aku Dan... Pleasee... Bantu aku nyari Rania sekarang. Dia pasti belum jauh perginya dari sini. Dia pasti cuma sembunyi kan Dan...?. ", Arsha mengguncang keras bahu Dani.


" Aku nggak akan lagi berurusan dengan masalah pribadi Bos yang menyedihkan seperti dulu lagi. Aku sudah nggak mau lagi mengurusi hidupmu dan pada akhirnya malah membuat Rania lebih tersakiti lagi oleh laki-laki seperti dirimu ini!!. ".


Arsha langsung luruh berlutut diatas lantai sambil memegangi tangan Dani, " Dan, pukul aku sekarang Dan!!. Pukul aku sepuasmu!. Aku memang brengsek udah menyakiti Rania, jadi aku harus menerima kesakitan ku juga sekarang, biar aku sama sakitnya dengan Rania. Ayo Dan, pukul aku sekuat mu!!. ", Arsha dengan paksa menarik tangan Dani dan memukul-mukul wajahnya sendiri dengan tangan Dani.


" Baiklah, kalo itu yang Bos minta. Ini untuk Rania, ini balasan untuk laki-laki yang udah menyakiti wanita se baik Rania!!. ", seru Dani sambil mengayunkan kepalan tangannya dan memukul keras pipi kiri Arsha.


Bugh!


Arsha terkekeh pelan, " Cuma itu kekuatan mu Dan??!!. ", ejek Arsha pada Dani.


Dani semakin geram melihat senyuman Arsha, dan langsung meninju lagi pipi Arsha dengan pukulan yang lebih keras, " Dasar brengsek!!!. ", serunya geram. Dendam yang selama ini dia simpan pada Bos nya yang sudah menikungnya saat dia berjuang untuk mendapatkan Rania, dan sekarang malah menyia-nyiakan wanita yang begitu dia dambakan untuk menjadi pendamping hidupnya.


Arsha langsung beranjak berdiri menatap Dani didepannya, " Kamu juga sama brengseknya Dan!!. Mana ada asisten didunia ini yang berani memukul Bos nya sendiri?!!!. ", bentak Arsha tak kalah keras.


" Hhh... Bukannya tadi Bos yang memintanya sendiri?!!. ", ejek Dani dengan senyuman miring.


" Yah, kamu benar. Aku memang yang memintanya. Dan sekarang giliran ku menghajar asisten durhaka yang sejak dulu selalu bermain dibelakang ku!!. ".


Bugh!


Arsha memukul pipi kanan Dani dengan keras, keduanya kini saling berpandangan dengan tatapan tajam penuh emosi. Sesaat kemudian terjadilah baku hantam dari kedua laki-laki itu dengan pukulan yang sama-sama kerasnya. Tukang kunci itu bergegas berlari meminta bantuan, dan sesaat kemudian sudah kembali lagi dengan dua orang security perumahan dan dua orang laki-laki lainnya bersamanya yang sedang berlarian ke rumah Rania.


" Hei!! Hei...!!! Stop!!! Kalian berdua hentikan!!!. ", teriak salah satu security dan langsung berlari menarik tubuh Arsha yang sekarang sudah berada diatas tubuh Dani, sedang bersiap dengan bogeman keras yang sudah berada tepat diatas wajah Dani.


Baik Arsha maupun Dani sama-sama memberontak ingin terlepas dari dua orang laki-laki yang sedang menahan tubuh mereka berdua. " Lepas!!!. Biar ku hajar asisten durhaka ini!!.. ", geram Arsha berusaha lepas dari dua orang laki-laki yang sedang memegang kedua lengannya dengan erat.


" Hei pak!!! Kalo mau bebas berantem, main diatas ring tinju aja sana!. Disini pemukiman warga, nggak pantas kalian berantem disini!!. ", bentak salah satu security yang memegangi lengan Arsha. " Pak Toni, cepat panggil pak RT sama kepala keamanan, biar mereka berdua aku yang jagain disini. ".


Arsha dan Dani kemudian ditarik paksa memasuki rumah Rania dan didudukan dilantai bawah dengan kedua tangan terikat dibelakang tubuh mereka. Saling melirik tajam dan tersenyum miring dengan wajah penuh lebam akibat pukulan keras dari keduanya.


*


" Kenapa kalian bisa berada dirumah ibu Rania?. Apa yang sedang kalian lakukan disini dan kenapa malah berkelahi disini?. ", seorang laki-laki paruh baya yang disebut pak RT oleh beberapa laki-laki diruang itu mulai menginterogasi mereka berdua.


" Saya Arsha pak, saya suami Rania. Dan ini adalah asisten saya dikantor. ", ucapnya sambil melirik sinis pada Dani.


" Suami bu Rania dan ini asisten anda??. ", tanya pak RT tak percaya, " Berarti kalian masih satu kantor kan?!. Bos dan bawahannya?!. Kalau kalian berdua kerja dikantor yang sama, kenapa malah berantem disini?. ", tanya Pak RT lagi masih dengan nada tak percaya.

__ADS_1


" Maaf Pak, tadi kami hanya sedang emosi saja. Kami memang sudah biasa seperti ini pak, tapi cuma sebentar saja, nanti kami juga akan berbaikan lagi seperti biasanya. Iya kan Dani?. ", alasan Arsha berusaha membujuk pak RT supaya bisa segera terbebas dari masalah ini sambil melirik Dani seolah sedang memberi isyarat.


" Iya Pak, kami memang sudah biasa seperti ini, dan ini bukan masalah yang besar buat kami berdua. ", Dani tersenyum canggung, dia juga sama inginnya untuk bisa segera bebas dari masalah yang memalukan ini.


" Hhhh... Saya nggak habis pikir dengan anda berdua, kalian pasti dikantor kan saling bekerjasama kan?. Kenapa bisa berkelahi sampai seperti ini?. ", ujar pak RT masih belum sepenuhnya percaya dengan kata-kata Arsha dan Dani.


" Percayalah pak, kami memang saking deketnya jadi kalau ada masalah seperti layaknya adik kakak yang bertengkar hebat. Iya kan Dan... Haha... ", alasan Arsha lagi sambil tertawa lebar dan menyenggol bahu Dani disebelahnya seolah seperti seorang teman dekat.


" Iya betul Pak, kami berdua memang sedekat itu sampai mau berbagi apapun... Haha... ", Dani ikut tertawa sambil membalas senggolan Arsha dengan bahunya.


" Yah sudahlah kalau memang seperti itu. Silahkan hubungi keluarga kalian masing-masing, kalau kalian mau cepat selesai masalahnya, biar penjamin kalian yang akan bertanggungjawab pada kalian berdua nantinya. Kalau penjamin tidak bisa datang, terpaksa kami bawa anda berdua ke kantor polisi terdekat. ", ancam Pak RT yang langsung membuat mata keduanya terbelalak kaget.


" Jangan Pak, kami mohon selesaikan segera disini saja. ", ucap Arsha memohon. " Cepat hubungi siapa aja yang bisa datang kesini Dan. ", perintah Arsha pada Dani.


" Maaf Pak, boleh ikatannya dibuka dulu. Saya mau menelpon ibu dari Pak Arsha supaya bisa datang ke sini sekarang. ", Arsha langsung mendelik sambil menyenggol bahu Dani dengan keras, " Jangan panggil mama Dan!. Kamu mau aku mati di geprek sama mama?!. ", bisik Arsha geram.


" Terus siapa Bos?. ", tanya Dani kesal.


" Cepat hubungi Siska aja. ", sungut Arsha sebal. Bisa-bisanya mau memanggil mama Hanum kesini, apa jadinya kalau mama Hanum sampai melihat kondisi menyedihkan mereka berdua yang sama-sama babak belur setelah berduel tadi, dasar Dani Drona!.


" Hhmm... Apa memang kalian berdua selalu bertengkar seperti ini?. ", tanya Pak RT saat melihat mereka saling beradu mulut didepannya.


" Hehe... Iya Pak, kami memang sudah biasa seperti ini. ", Arsha terkekeh sambil menyenggol bahu Dani lagi, tapi kali ini lebih pelan.


*


Sesaat kemudian, Siska datang ditengah kerumunan bapak-bapak yang sudah memenuhi ruang tamu kecil rumah sahabatnya itu, dengan tatapan mata tak mengerti.


" Astaghfirullah... Kenapa muka kalian??. Kalian baru nangkep maling disini??. ", tanya Siska yang shock melihat kondisi wajah Arsha dan Dani yang babak belur penuh lebam di kedua pipinya. Arsha dan Dani berbarengan menatap tajam dan memberi isyarat pada Siska untuk diam.


" Maaf Bu, anda siapanya mereka berdua ya?. ", tanya Pak RT pada Siska.


" Saya... Sekretaris nya Pak Arsha dan teman kerjanya pak Dani, Pak. ", jawab Siska sambil terus melirik dua laki-laki yang tengah diapit dua security didepannya.


" Oohh... Jadi kalian bertiga satu kantor?. ", ucap pak RT mengerti.


" Iya pak, kami bertiga satu kantor. ", sahut Siska masih bingung dengan apa yang sudah terjadi dirumah Rania. " Maaf Pak, apa rumah ini habis kemasukan pencuri?. Kok muka mereka berdua babak belur kayak gitu?!. ".


" Bukan Bu, rumah ini aman-aman saja. Malah mereka berdua yang membuat rumah ini jadi nggak aman sekarang. ",


" Maksudnya gimana ya pak...?. ", tanya Siska tak mengerti.


" Mereka berdua berkelahi disini. ", jawab pak RT singkat.

__ADS_1


" Apa??!. Mereka berkelahi disini??. ", Siska mendelik menatap Arsha dan Dani bergantian seolah tak percaya.


" Iya benar, makanya kami memanggil penjamin supaya bisa menjadi penanggung jawab untuk mereka berdua. Karena sekarang bu Siska sudah ada disini, silahkan bu Siska segera tanda tangani surat pernyataan penjamin ini untuk kedua orang tersebut supaya masalahnya jadi cepat selesai, dan mereka bisa segera pulang dari sini. ".


Siska menerima surat yang disodorkan Pak RT didepannya, kemudian melirik dua orang didepannya dengan mulut mencibir sebal dan bergerak tanpa suara seperti orang sedang ngedumel kesal. Dengan cepat Siska membubuhkan tanda tangannya diatas materai dan kemudian menyerahkan kembali pada Pak RT.


" Ini Pak sudah saya tanda tangani. Sebelumnya saya mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Mereka berdua memang seperti anak kecil, apa saja diributkan sampai pusing kepala saya Pak. ", Siska terkekeh pelan, " Jadi sekarang mereka berdua sudah bisa bebas kan Pak?. ".


" Sudah bu Siska. Baiklah, saya rasa masalah ini sudah selesai sekarang. Untuk kedepannya tolong jangan membuat onar lagi disini. ", nasehat pak RT pada Arsha dan Dani.


" Baik Pak RT, terimakasih atas pengertiannya. Besok lagi kalau mereka membuat onar disini, silahkan saja langsung dibawa ke kantor polisi, biar mereka dipenjara dulu dan jadi kapok nggak ngulangin lagi, iya kan pak?. ", Siska mendelik mengancam dua orang yang hanya diam menatapnya takut.


Setelah menyelesaikan kesepakatan dengan pihak pengurus perumahan, kerumunan dirumah Rania akhirnya bubar dan hanya tinggal menyisakan mereka bertiga yang masih saling diam dengan pikirannya masing-masing. Siska mendengus kesal menatap bergantian dua orang yang masih duduk diam dilantai dan saling memunggungi seperti orang yang sedang marahan.


" Hhhhh... Malu-maluin banget si kalian. Emang nggak ada cara lain selain berantem seperti ini?!. Bikin repot semua orang jadinya kan?!. Coba kalo Rania sampe tau... ".


Spontan keduanya langsung menatap Siska berbarengan, " Dimana Rania Sis??. ", tanya Arsha langsung.


" Ya mana aku tau... ", jawab Siska sambil menggedikkan bahunya, " Aku hari ini sama sekali belum ketemu sama dia. ".


" Coba kamu telpon dia Siska. ", ucap Arsha lagi, mencoba membujuk Siska. Siapa tahu Rania mau mengangkat panggilan sahabatnya itu.


" Udah aku coba tadi. ".


" Terus... ".


" Telpon ku direject sama dia, terus nomor ku juga di blokir dech. Pasti Rania benar-benar nggak mau diganggu sekarang, dia nggak pernah lho sampe kayak gini. Pasti dia sakit banget sampe nekat nge block aku. ", Siska merengut sedih. Kemudian melirik sebal pada Arsha yang tertunduk lesu.


" Pasti semua ini ada kaitannya sama wanita itu kan Bos??. ", sungut Siska kesal.


Arsha tak menyahut pertanyaan Siska, dia kembali mencoba menelpon istrinya berharap ada keajaiban dan Rania akhirnya mau menerima panggilannya.


" Rania nggak bakalan mau nerima telpon dari kamu Bos!. ", sindir Dani dengan senyum mencibir.


" Ck! Diam kamu Dan!!. ", bentak Arsha kesal.


" Kalian mau mulai lagi berantem nya??. Ayo mulai aja, biar aku tonton sampai kalian berdua pingsan ditempat ini. Aku nggak bakalan nolongin kalian berdua lagi nanti!!. ", ucap Siska ikutan kesal dengan tingkah keduanya.


Setelah berhasil membungkam mulut tajam kedua laki-laki pesakitan itu, Siska kembali menatap wajah mereka secara bergantian, pasti sakit sekali lebam dimuka mereka itu.


" Tunggu disini sebentar, dan jangan sekali kali kalian membuat keributan lagi disini. Kalo sampe kalian berantem lagi, Siap-siap aja masuk sel penjara dikantor polisi!!. ", ancam Siska sebelum pergi meninggalkan Arsha dan Dani. Bagaimanapun juga dia masih punya rasa kasihan melihat mereka berdua babak belur seperti itu, dan pasti mereka juga belum makan malam karena sibuk berantem dari tadi. Siska akhirnya memutuskan untuk keluar sebentar membeli salep untuk luka memar mereka dan juga makan malam untuk mereka bertiga.


Sepeninggal Siska, Arsha akhirnya masuk ke dalam kamar meninggalkan Dani yang masih duduk diatas lantai sambil meluruskan kakinya kedepan. Rasa pegal dan lelah sudah mulai terasa setelah tadi puas melampiaskan penatnya memikirkan masalah rumah tangganya.

__ADS_1


Arsha langsung berjalan menuju ke kamar mandi, membasuh tubuhnya yang terasa remuk redam dan bersuci sebelum menunaikan ibadah sholat isya yang belum dilaksanakannya, ingin segera mengadu dan memohon pada Sang Pencipta agar secepatnya bisa menemukan istrinya yang kini tengah menghilang entah dimana. Setelah selesai menunaikan sholatnya, Arsha merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Menatap kosong langit kamar sambil membayangkan wajah penuh kekecewaan dan kebencian Rania tadi siang padanya. Dalam hati menyesali lagi kesalahan yang kembali dia lakukan dan membuat Rania akhirnya memutuskan pergi darinya.


__ADS_2