Tak Cinta Tapi Menikah

Tak Cinta Tapi Menikah
Brontosaurus dan kawan-kawan


__ADS_3

Ramai riuh suasana salah satu mall terbesar di ibukota Jakarta, mengumpulkan banyak orang dengan kebutuhan nya masing-masing yang tersedia di mall itu. Ada yang datang untuk belanja kebutuhan mereka dan ada juga yang hanya sekedar berjalan-jalan mencari kesenangan semata.


Andra terlihat begitu senang, tangan kecilnya sibuk menarik-narik baju Bunda nya. Rania dua hari yang lalu sudah berjanji pada Andra untuk menebus janji bermain lego yang terlewati karena harus lembur kerja, dia berjanji akan menuruti satu permintaan Andra.


"Ayo Bunda, nanti kita terlambat... ", Rengek Andra sambil terus menarik baju Bunda nya.


"Iya sayang... Masih sepuluh menit lagi waktunya. InsyaAllah tidak akan terlambat.".


Rania dan Andra masuk ke dalam lift yang sudah dipenuhi pengunjung lainnya. Rania menggenggam erat tangan kanan anaknya saat lift perlahan mulai naik keatas. Lift berhenti dilantai enam, Rania dan Andra bergegas turun, menuju ke area bioskop dilantai itu. Inilah permintaan Andra, nonton film Dinosaurus di bioskop.


Andra memang sangat suka dengan dinosaurus, apalagi temannya juga banyak yang bercerita kalau sudah menonton film dinosaurus di bioskop dengan orang tua mereka.


Rania memesan tiket untuk dua orang, dan juga membeli popcorn dan minuman untuk menemani menonton filmnya. Begitu selesai, Rania dan Andra langsung memasuki studio, penonton hari ini lumayan banyak, hampir separuh kursi sudah terisi. Rania duduk di kursi sesuai dengan nomor yang ada di tiketnya, tepat di bagian tengah urutan ke sembilan dari bawah.


Lampu studio sudah dimatikan, Andra langsung mencengkeram tangan Rania dengan erat karena kaget tiba-tiba lampunya mati.


"Bunda, kok gelap Bunda!", teriak Andra keras.


"Ssttt... Andra tidak boleh berteriak, bicaranya yang pelan yaa. Lampunya memang harus dimatikan, supaya kita bisa melihat filmnya dengan jelas.".


"Tapi kata Bunda, kalo kita nonton atau membaca harus terang lampunya?", tanya Andra, kali ini suaranya sudah terdengar lebih rendah. Ini memang pengalaman pertama kali bagi Andra menonton film dibioskop.


"Karena supaya kita lebih fokus dan konsentrasi menontonnya, terus layar besar itu kan terbuat dari kain, kalau terang nanti gambarnya jadi tidak jelas.".


"ohhh.... ", Andra mulai memfokuskan matanya ke layar lebar, punggungnya bersandar santai ditempat duduknya.


"Bunda, dinosaurus nya besar, Bundaa!!", teriak Andra saat muncul Brontosaurus dilayar lebar didepannya. Sontak semua penonton tertawa mendengar teriakan Andra yang sangat cempreng.


'waduuhhh.... ', Rania langsung mendekati telinga Andra.


"Iya sayang, itu Brontosaurus, si leher panjang. Bicara nya yang pelan ya sayang, nanti penonton yang lain terganggu dengan suara Andra.", bisik Rania pelan tepat didekat telinga Andra.


"Oiya, Andra lupa Bunda.", ucapnya sambil menutup bibirnya sendiri.


Tapi yang namanya anak-anak, tetap saja tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagia, takjub dan kagetnya. Sepanjang film berlangsung, Andra dengan polosnya masih terus bertanya, berceloteh dan berteriak antusias.


"Bunda, dinosaurusnya makan orang.".


"Kenapa Tyrannosaurus suka makan orang, Bunda? Kan itu jahat.. ".


"Itu namanya Triceratops, punya tanduk seperti banteng.".


"Dinosaurus nya punya anak, Bunda! Anaknya kecil, lucu.. "


"Kenapa orangnya jahat sama dinosaurus nya, Bunda? Kan dinosaurus nya mau hidup dihutan sama temennya.".


"Kenapa dinosaurus nya dipenjara, Bunda?".


Dan masih banyak lagi celotehan Andra yang berhasil membuat suasana tegang menjadi seketika riuh dengan suara tertawa penonton lainnya. Rania cuma bisa menoleh ke kanan, ke kiri dan ke belakang, sambil menangkup kedua telapak tangannya, meminta maaf dengan perasaan tak enak hati.


'Aduh anak Bunda, sekalinya nonton di bioskop, bikin heboh satu studio... ', batin Rania malu dan hanya bisa menghela nafasnya pasrah. Namanya juga anak-anak.


*


Setelah selesai menonton film dengan di sertai drama kehebohan Andra sepanjang film berlangsung, Rania mengajak Andra ke restoran cepat saji di mall itu.

__ADS_1


"Andra mau makan apa?", tanya Rania begitu duduk di kursi pengunjung restoran.


"Yang ini Bunda.", tunjuk Andra pada gambar es krim tiga warna dengan toping coco chip diatasnya.


"Andra kan belum makan siang, Andra makan dulu ya. Bunda pilihkan makan nya ya, nanti baru boleh makan es krim ini.".


"Iya Bunda..", Andra mengangguk patuh pada perkataan bunda nya.


"Bunda pesan makanannya dulu ya, Andra duduk yang manis disini. Ingat tidak boleh kemana-mana sebelum Bunda datang kesini ya.".


"Iyaa Bundaaaaa.... ".


Rania tersenyum senang, "Anak sholeh nya Bunda... " ucapnya sambil mengusap kepala Andra dengan pelan.


Rania melangkah menuju kasir untuk memesan makanan, matanya masih tetap awas menjaga pandangannya dari Andra yang sebenarnya tak begitu jauh dari tempat kasir berada.


"Rania?!"


Rania menoleh ke belakang, mencari orang yang barusan memanggilnya. "Lho mas Dani?!", ucapnya kaget.


"Sempit banget ternyata Jakarta yaa... ", ucap Dani sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Iya yah... kok bisa ketemu lagi disini.", Rania tertawa pelan menatap Dani keheranan.


"Kamu lagi ngapain disini?".


"Baru nonton sama anakku.".


Dani memutar pandangannya, mencari anak Rania. "Dimana anakmu?".


"Itu anakmu?!", Dani menatap lekat pada Andra yang sedang duduk manis, seorang anak laki-laki yang sangat manis dan lucu menggemaskan sedang menatap nya juga dari kejauhan.


"Iya, itu Andra anakku. Ayo mas, aku kenalin sama anakku."


"Kamu sudah pesan makanan?".


"Sudah mas, ini tinggal bayar.".


"Udah kamu temani dulu anakmu. Jangan terlalu lama ditinggal sendirian, anakmu terlalu lucu, kamu nggak takut ada yang pengin nyulik?!".


"Astaghfirullah, mas Dani. Jangan ngomong gitu ih... ".


"Makanya cepetan kesana dulu, nanti aku nyusul.".


"Sebentar mas, aku bayar dulu.".


"Udah sana, ini mba pakai kartu ini saja. Tambah pesan cappucino panas satu.", Dani langsung menyodorkan kartu debitnya ke kasir.


"Aku jadi nggak enak sama mas Dani, makasih ya, Mas. Lain kali gantian aku yang traktir makannya.".


"Iya, aku tunggu janji traktiran nya, ayo kasian anakmu sendirian.".


Rania dan Dani berjalan menghampiri Andra yang sedari tadi sudah mengawasi Dani dari kejauhan.


"Siapa om ini, Bunda?", tanya Andra menyelidik menatap Dani.

__ADS_1


"Ini teman kerja Bunda dikantor. Namanya om Dani".


"Halo jagoan... ", sapa Dani pada Andra.


"Namaku Andra, bukan jagoan, Om.".


"Oiya, halo Andra..".


"Kalo berkenalan harusnya salim dulu, Om.", Dani melongo menatap Rania, Rania hanya bisa mengulum senyumnya.


"Maaf, Om lupa lagi.. ", Dani langsung menyodorkan tangan kanannya kedepan Andra. Andra menyambut tangan Dani, lalu mencium tangan Dani.


"Andra, Om Dani boleh ikut duduk disini?", Andra menatap Bunda nya seolah meminta jawaban dari Bunda nya, yang dijawab dengan anggukan dari Rania.


"Boleh, Om.".


"Terimakasih Andra.".


"Sama-sama, Om".


Dani menatap Andra yang begitu menggemaskan.


"Om Dani, kenapa liatin Andra terus?", tanya Andra yang mulai risih dengan tatapan Dani.


"Karena Om Dani terpesona dengan kegantengan Andra.".


"Tapi kata Bunda, Andra bukan ganteng. Andra itu gagah seperti tentara pelindung Bunda.".


'waahhh... ', Dani semakin dibuat kagum oleh Andra.


"Maaf mas, anakku memang sedikit suka bicara.", bisik Rania pada Dani.


"Anakmu pintar banget, Rania. Aku bener-bener kagum sama anakmu.".


"Kenapa Bunda bisik-bisik sama om Dani?", selidik Andra curiga.


"Maaf sayang, tadi Bunda bilang sama om Dani, kalo Andra itu anak yang pintar.".


"Permisi.. "


"Nah, makanannya sudah datang", ucap Rania berusaha mengalihkan perhatian Andra pada Dani.


Seorang pelayan restoran datang membawa pesanan, Andra langsung bersorak kegirangan melihat semangkok kecil es krim tiga warna yang tadi dipilihnya.


"Wahhh, es krim.... ! Terimakasih Bunda... ", sorak Andra kegirangan.


"Tapi sebelum makan es krim, Andra harus makan ini dulu ya", Rania menyodorkan piring berisi steak ayam dan kentang goreng ke depan Andra.


"Baik, Bunda", angguk Andra patuh.


"Jangan lupa berdoa dulu sebelum makan", Rania mengingatkan Andra yang sudah hampir memakan makanannya.


"Oiya, maaf Bunda, Andra lupa.", Andra menepuk jidatnya sendiri. Dani yang melihatnya tertawa geli dengan tingkah lucu Andra yang sangat menggemaskan.


"Rania, anakmu nggemesin banget. Suamimu pasti orang yang hebat seperti Andra".

__ADS_1


Rania tersenyum menatap Dani, lalu beralih menatap Andra dengan tatapan haru, "Iya, mas Dani benar. Ayah Andra adalah suami yang sangat hebat.".


__ADS_2