
' Rania stop!! ', Arsha terjaga dari mimpinya. Matanya terbuka lebar dan nafasnya terasa panas memburu. Dengan tarikan nafas dalam Arsha mulai mencoba mengatur nafasnya yang masih tersengal karena baru saja terbangun dari mimpi liarnya. Mimpi apa itu?, kenapa rasanya benar-benar seperti nyata. Tangan kanannya reflek langsung meraba bagian bawah perutnya, kemudian menghembuskan nafas lega setelah mendapati celananya masih kering. Sungguh memalukan, ini rasanya sama seperti saat dia masih remaja puber yang baru mengalami mimpi basahnya. Sudah sangat lama dia tidak pernah mengalami mimpi liar seperti ini, apa semua ini karena Rania? . Yah, harus diakuinya sepertinya memang Rania lah penyebabnya, fantasi liarnya benar-benar kembali dengan hadirnya Rania saat ini. Lima tahun sudah gairah liarnya lenyap setelah kejadian menakutkan itu, sekarang dia kembali bisa merasakan bagaimana rasanya mendambakan seorang wanita yang bisa ditaklukkan oleh kegagahannya. Dan semua ini bisa kembali karena Rania, seorang wanita yang sangat jauh dari bayangannya selama ini.
Arsha melirik Rania yang masih tertidur lelap disampingnya, meskipun terhalang bed cover tapi dia masih bisa melihat wajah Rania yang putih bersih yang kini sedang tertidur miring menghadap kepadanya. Dengan pelan Arsha memiringkan tubuhnya dan mensejajarkan wajahnya dengan wajah Rania. Handuk kecil diatas kepalanya sudah terlepas jadi dia bisa memandang wajah tenang didepannya dengan leluasa.
' Cantik', sudah berapa kali dia mengagumi kecantikan Rania yang sekarang sudah resmi menjadi istrinya sendiri. Rania memang cantik, walaupun selama ini tubuhnya selalu tertutup rapat oleh pakaian longgarnya, dia harus mengakui bahwa Rania memang wanita yang sangat cantik. Pantas saja Dani begitu tergila-gila dengan Rania, bahkan nekat mengancam Bos nya sendiri seperti orang gila seperti itu.
Yah, hadirnya Rania memang sedikit membuatnya berubah dalam menilai seorang wanita, entah kenapa jika disandingkan dengan Rania, wanita-wanita cantik dan seksi yang biasa dia temui jadi turun jauh nilainya. Mungkin ada semacam faktor X yang membuat Rania jauh lebih unggul dari mereka. Berdekatan dengannya jauh terasa lebih nyaman, dan ada ketenangan tersendiri yang tidak bisa dirasakan saat berhubungan dengan wanita lain. Mungkin itulah alasannya kenapa dia sering memimpikan Rania, dan akhirnya memutuskan untuk sedikit memberi jarak karena status yang dia tau saat itu Rania masih bersuami. Tapi nyatanya takdir seolah sedang berpihak padanya, begitu melihat Andra dirinya seperti otomatis tertarik sendiri kearah Rania berada. Semua benar-benar diluar pikirannya sendiri, kejadian yang begitu cepat dan menyeretnya kedalam takdir indah saat harus menikah dengan Rania.
Hhmm... Sekarang harus bagaimana lagi agar Rania bisa cepat menerima pernikahan ini?. Setelah usahanya kemarin malam yang malah membuat Rania semakin menjaga jarak dengannya, kini dia harus mulai atur strategi lagi supaya Rania bisa menghilangkan pikiran untuk berpisah dengannya setelah satu tahun pernikahan. Enak saja mau berpisah setelah satu tahun begitu saja, padahal sudah jelas kalau hatinya kini kacau balau hanya karena menginginkan Rania menerimanya sebagai suami seutuhnya. Tapi mau sampai kapan harus menunggu Rania bisa membuka diri menerimanya dengan tangan terbuka?. Bisa bersabarkah dirinya, sedangkan godaan yang sangat besar dan tampak nyata ada didekatnya saat ini.
Arsha menghembuskan nafasnya pelan, tatapannya terpaku pada wajah mungil didepannya. Seandainya saja Rania sudah mau menerimanya pasti sudah habis bibir mungil itu dilahapnya. Dengan pelan Arsha beringsut mendekati tubuhnya, menggeser bed cover yang menghalanginya kemudian perlahan memeluk tubuh Rania yang masih tertidur lelap. Kini dia bisa merasakan hembusan nafas hangat Rania yang menerpa wajahnya. Lalu... Cup'...
Arsha tersenyum geli sendiri dengan perbuatannya yang kembali mencuri ciuman di bibir Rania. Kemudian langsung terpaku saat melihat bibir Rania malah membuka setelah dicium olehnya.
" Kamu sedang menggoda ku kan Rania... ", dengusnya kesal karena merasakan kini gairahnya langsung naik ke ubun-ubun. Dengan pelan langsung mencium bibir yang seolah sedang menggodanya itu. Manis, lembut dan memabukkan... Arsha semakin memperdalam ciumannya sambil memeluk tubuh Rania hingga menempel padanya.
" Rania... ", panggilnya dengan suara lirih hampir berbisik. Rasanya hampir putus asa karena lagi-lagi harus menelan gairahnya sendiri. Sabar, pelan dan smooth, Arsha kembali mengingatkan dirinya sendiri, lalu dengan perasaan kecewa menjauhkan wajahnya sebelum dia terlewat batasan. Kemudian mengeratkan pelukannya, menarik tubuh Rania hingga benar-benar menempel didadanya, meneruskan tidurnya yang terputus karena mimpi liar yang membuatnya semakin resah.
*
__ADS_1
" Astaghfirullah...! ".
" Ada apa Rania? ", tanya Arsha yang langsung terbangun kaget mendengar pekikan Rania.
" I ini pak... Tolong lepaskan saya pak... ", ucap Rania yang masih kebingungan mendapati dirinya tidur dalam pelukan Arsha.
" Oohhh... Maaf... ", Arsha menggaruk kepalanya yang tidak gatal setelah melepaskan pelukannya.
" Kamu nyari apa? ", tanya Arsha saat melihat wajah kebingungan Rania seperti sedang mencari sesuatu yang hilang.
" Tadi malam bukannya ada bed cover disini... Kenapa sekarang hilang? ".
Arsha langsung terduduk pura-pura ikut mencari bed cover yang semalam dia lemparkan kesamping tempat tidur disebelah Rania.
" Kok bisa dibawah?. Siapa yang mindahin kebawah?".
" Mana aku tau... Mungkin kamu yang nggak sadar mindahin bed covernya. ".
" Saya?. Mana mungkin saya yang mindahin. ", sangkal Rania tak percaya.
__ADS_1
" Buktinya kamu tidurnya juga dibagian ku. Berarti kamu yang mindahin lah. ".
" Kok bisa...?! ", ucap Rania masih tak mengerti kenapa dia bisa tidur disebelah Arsha.
Arsha menggedikan bahunya, " Mungkin kamu mimpi tidur sama Andra kali, sampe kenceng banget meluknya. ".
" Maaf... Saya benar-benar tidak sadar. ", wajah Rania langsung bersemu merah karena malu, tapi seingatnya dia sama sekali tidak memimpikan Andra dalam tidurnya.
" Nggak papa Rania, aku sama sekali nggak keberatan kok. Lagian nggak dosa juga kan meluk suamimu sendiri?. ", ledek Arsha yang langsung berhasil membuat Rania semakin tertunduk malu.
Rania langsung meraih handuk kecil di sela bantal yang sudah terlepas dari kepalanya. " Kenapa masih pake itu? ", tunjuk Arsha pada handuk kecil yang dipakai Rania.
" Maaf Pak, saya masih belum terbiasa. "
" Oke, aku akan menunggu mu sampai kamu mulai terbiasa dengan ku, begitupun sebaliknya aku akan terbiasa dengan mu. Kita akan jalani semua ini dengan santai dan pelan-pelan saja. Sampai kita bisa berdamai dengan keadaan seperti ini. Iya kan Rania? ".
" Maaf... ", hanya kata itu yang bisa terucap dari bibir Rania. Kata maaf karena belum bisa menjadi istri yang baik untuk suaminya sendiri.
" Nggak papa Rania, aku mengerti dengan keadaan kita berdua. Makanya kita harus mulai membiasakan diri dengan keadaan ini. " .
__ADS_1
Rania mengangguk diam, setuju dengan pemikiran Arsha. Mau bagaimanapun juga mereka memang sudah sah menjadi sepasang suami-istri, pertanggungjawaban nya bukan lagi pada dua orang yang terlibat, tapi lebih ke Sang Pencipta dan semua keluarganya. Saatnya berdamai dengan keadaan ini dan mulai menerima dengan ikhlas akan semua takdir yang harus dijalaninya.
*