
Arsha melirik jam dimeja kerjanya, jarum jam sudah beranjak dari angka 12, sudah waktunya istirahat makan siang. Arsha bergegas memakai kembali jas kerjanya yang dia letakan di sandaran kursi, lalu melangkah keluar dari ruangannya.
"Bos, mau kemana?", tanya Dani yang baru saja keluar dari ruangannya untuk pergi makan siang dikantin kantor.
"Bukan urusan mu!", ucap Arsha ketus karena masih marah dengan Dani.
Sebenarnya Arsha juga merasa aneh pada dirinya sendiri, kenapa rasanya sangat jengkel saat tau Dani menyimpan Rahasia Rania selama ini. Padahal sebelumnya dia orang yang sangat tidak peduli dengan urusan orang lain.
"Bos, jangan lupa nanti ada meeting dengan Pak Gunawan. ".
Arsha menghentikan langkahnya yang hampir masuk kedalam lift.
"Kamu saja yang pergi, bilang aku ada urusan lain yang harus diurus.".
"Tapi Bos... ", kalimat Dani menggantung saat pintu lift menutup dan membawa Arsha turun kebawah.
'Mau kemana pak Bos?', tanya Dani dalam hati, penasaran dengan Arsha yang pergi begitu saja. Biasanya kalau waktu makan siang Arsha selalu memberitahu kemana dia akan pergi. Dan Arsha tidak pernah melewatkan pertemuan dengan koleganya selama ini.
*
"Bunda, kamarnya bagus ya, kayak kamar hotel. ", Rania menoleh menatap Andra yang sedang mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar. Rania sendiri sedang sibuk memasukkan baju ganti yang kotor ke dalam plastik besar, kemudian disimpan dalam koper kecil miliknya.
"Iya sayang, kamarnya bagus dan luas, tapi bunda lebih suka tidur dirumah. ".
'Sangat bagus dan sangat mahal tentunya', Rania mendesah lemas, mengingat kejadian tadi diruang administrasi saat menanyakan total biaya perawatan Andra. Rania sudah menduganya dari awal, sebuah harga kamar VVIP rumah sakit swasta di jakarta dan juga tindakan medis dengan penanganan cepat pasti akan fantastis jumlah biayanya. Kini dirinya harus memikirkan cara untuk mengembalikan uang pada Bos nya yang sudah melunasi administrasi perawatan Andra.
"Kenapa lebih nyaman dirumah Bunda?".
Rania berjalan mendekat ke sofa yang sedang diduduki Andra, setelah selesai memasukkan baju kotor terakhirnya.
"Karena, sebagus-bagusnya kamar rumah sakit, lebih nyaman kamar rumah sendiri yang bisa ditinggali dengan tubuh yang sehat. Rumah sakit itu kan tempat untuk orang yang sedang sakit. ",
Andra terlihat manggut-manggut mendengar penjelasan Rania.
"Iya Bunda, Andra nggak mau sakit lagi. Andra takut disuntik sama pak dokter. ".
Rania tersenyum menatap Andra yang masih ketakutan dan trauma dengan kejadian kemarin saat diinfus dan masuk kamar operasi.
"Andra, pak dokter dan perawat melakukan itu kan tujuan nya menolong orang yang sakit, jadi itu sudah tugasnya. Alhamdulillah, berkat mereka Andra sekarang sudah sembuh kan? Andra harus berterimakasih pada mereka dan jangan lupa, Andra juga harus bersyukur pada Allah, karena Allah lah yang menyembuhkan Andra. ".
"Iya Bunda, terimakasih ya Alloh...".
"Sebelum pulang, Bunda sholat Dzuhur dulu ya. ".
"Iya Bunda. ".
Andra kembali menatap layar televisi didepannya, melihat serial upin ipin sikembar yang pintar dan lincah.
'tok tok tok... '
Terdengar suara pintu kamar diketuk dari luar, Andra bergegas turun dari sofa dan berjalan menuju ke pintu. Andra sekarang sudah leluasa melakukan aktivitas nya, setelah tadi pagi seorang perawat perempuan datang melepas infus yang terpasang di tangan kanannya. Andra membuka pintu dengan tangan kanannya.
"Halo Andra. ".
"Om Arsha, kalau datang harusnya salam dulu. ".
Arsha yang masih berdiri diambang pintu terdiam mendengar nasehat Andra.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum... ", ucapnya lirih, hampir tak terdengar oleh Andra, tapi masih bisa dimengerti oleh Andra dari gerak bibir Arsha.
"Wa'alaikumussalam... Ayo masuk Om. ", Andra langsung menarik tangan kiri Arsha masuk kedalam kamar.
"Andra sudah dilepas infus nya? Tangannya sudah nggak sakit?", tanya Arsha yang kini sudah duduk dengan Andra di sofa.
"Sudah Om, tadi kata pak dokter Andra udah boleh pulang. Tangan Andra masih sakit sedikit. ".
Arsha melirik kearah Rania yang sedang sholat disebelah jendela kamar.
"Andra sudah makan apa belum?".
"Sudah Om, tadi Andra makan pake ayam goreng.".
"Oh ya, Om bawa sesuatu buat Andra. ", Arsha meraih Papperbag yang tadi dibawanya.
"Apa itu Om?", tanya Andra penasaran.
"Coba tebak, Om Arsha bawa apa?".
Andra memegang dagunya seperti sedang berpikir keras, lalu menggelengkan kepalanya.
"Andra nggak tau Om, Andra menyerah. ".
Arsha merogoh Papperbag di pangkuannya, lalu mengeluarkan lego besar berbentuk mobil balap kesukaannya. Itu adalah lego favorit Arsha saat masih SD, hadiah dari papa Indra saat dirinya mendapat rangking satu dikelas, dan selama ini selalu disimpan rapi di lemari khusus yang dipakai untuk menyimpan lego koleksinya.
"Tarraaaa.... ".
"Waaahhh, bagus banget Om!", Andra tersenyum lebar, matanya berbinar bahagia melihat lego yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Andra menganggukan kepalanya dengan semangat.
"Besok kita cari lego dinosaurus yang besar ya. ".
Andra tampak kebingungan, kemudian melirik kearah Bunda nya yang kini sedang duduk tahyat akhir. Arsha yang melihat Andra kebingungan, langsung mengerti maksud Andra.
"Nanti Om yang akan minta ijin sama Bunda. ", ucap Arsha setengah berbisik ditelinga Andra. Andra menganggukkan kepalanya lagi, bibirnya terus tersenyum bahagia.
Arsha melirik koper yang sudah tertutup rapi disamping meja makan. Kemudian melirik Rania lagi yang kini sudah selesai sholat dan sedang melipat mukena nya.
"Bunda, ada Om Arsha.. !".
Rania menoleh kearah Andra dan Arsha yang sedang menatapnya, kemudian menganggukkan kepalanya pada Bos nya. Tadi sebenarnya dia sudah mendengar Arsha datang saat dia sholat. Suara Andra yang cempreng khas anak kecil yang tidak bisa berbicara pelan, mengusik Rania dari kekhusyukan sholat nya.
"Bunda liat, Om Arsha bawa lego mobil bagus banget. ".
Rania berjalan menghampiri kedua laki-laki yang sedang duduk disofa itu.
"Wah bagus sekali lego nya", ucap Rania, sambil memasukkan mukena nya kedalam tas.
"Om Arsha mau kasih ini buat Andra, bolehkan Bunda?", Andra menatap Rania dengan tatapan memohon.
Rania mengangguk sambil tersenyum, "Boleh, tapi janji dulu sama Om Arsha, Andra akan menjaga lego nya, dan jangan lupa bilang terimakasih sama Om Arsha?".
Andra beralih menatap Arsha, kemudian meraih tangan kanan Arsha dan menciumnya.
"Terimakasih Om Arsha, Andra janji akan jaga baik-baik lego mobil balapnya. ".
__ADS_1
Arsha tersenyum melihat kebahagiaan Andra, tangan kanannya terulur mengusap rambut hitam lurus yang lembut milik Andra.
"Pak Arsha, terimakasih sudah menyelesaikan administrasi rumah sakit, besok saya akan... ".
"Andra sudah siap pulang sekarang?", tanya Arsha tiba-tiba, memotong kalimat Rania dan mengacuhkan nya.
"Udah Om, ayo kita pulang Bunda. ",seru Andra bahagia.
"Ah iya, sebentar Bunda pesan taksi online dulu ya", Rania meraih ponselnya di atas meja makan.
"Ayo Andra, Om Arsha antar pulang ke rumah. ".
Andra terlihat kebingungan menatap Bundanya yang masih terdiam menatap Arsha.
"Bunda... ", panggil Andra pelan.
"Om Arsha gendong ya. ", Arsha langsung menggendong Andra dengan tangan kirinya.
"Om, Andra kan udah besar, Andra bisa jalan sendiri. ".
"Tapi rumah sakit ini besar sekali, jalannya jauh. Om Arsha gendong aja ya, biar cepat sampai rumahnya.".
Andra mengangguk pelan sambil menatap Bunda nya yang masih terdiam. Rania segera tersadar setelah melihat Arsha yang berjalan keluar kamar dengan menggendong Andra.
'Pak Bos kenapa? Kenapa jadi dia yang selalu memutuskan semuanya? Kenapa aku yang jadi bingung begini?', Rania masih bingung dengan sikap Bos nya yang berubah drastis, dia ingat beberapa bulan terakhir ini, Bos nya sering mengacuhkannya bahkan sering mendiamkan. Tapi sekarang kenapa sikapnya bisa hangat seperti itu pada Andra?. Wajah dingin dan kaku itu juga sepertinya menghilang saat dia bersama Andra, apa yang terjadi pada Bos nya itu?. Kenapa sekarang jadi Rania sendiri yang merasa menjadi orang asing didepan Andra dan Arsha?.
*
Pak Joko langsung membuka pintu mobil saat Arsha keluar dari lobby rumah sakit. Rania menyusul dibelakangnya sambil menarik koper kecilnya.
"Wah, ini toh putra mbak Rania. Ganteng banget mbak. Putih mirip sama mamahnya. ".
Arsha berhenti didepan pintu mobil, tersenyum bahagia menggendong Andra yang sekarang sedang di pegang pipinya oleh pak Joko.
"Andra, ayo kenalan dulu sama pak Joko. ", ucap Rania yang sudah berdiri disamping pak Joko.
"Oh namanya mas Andra ya. Halo mas Andra. ".
"Iya Pakde, namanya Andra. ", sahut Rania ramah.
Andra langsung menyodorkan tangan kanannya yang disambut langsung oleh pak Joko, kemudian mencium tangan pak Joko.
"Pinter sekali putra nya, mbak. ".
"Alhamdulillah, pak Joko. ".
" Ayo pak Joko. " , ucap Arsha sambil mendudukkan Andra di kursi belakang, kemudian menyusul duduk disampingnya.
"Bunda duduk nya disini aja sama Andra. ".
Rania menghentikan tangannya yang akan membuka pintu depan, menoleh kebingungan harus bagaimana.
"Disini Bunda. ", ucap Andra sambil menggeser tubuhnya ke posisi tengah. Arhsa hanya diam saja, masih sibuk mengatur posisi Andra supaya nyaman duduknya.
"I-iya..", Rania bergegas membuka pintu belakang, duduk mengapit Andra diposisi tengah diantara dia dan Arsha, dan Arsha masih tetap diam dengan sikap dingin dan acuhnya.
'Ya Allah... ', menghela nafasnya pelan, membuang rasa canggung nya yang tiba-tiba membuat nya tidak nyaman.
__ADS_1