
Hari berlalu begitu cepat, tanpa terasa hari ini genap lima bulan Rania bekerja sebagai sekretaris. Rania sudah mulai terbiasa dengan rutinitas dan tugasnya sebagai sekretaris Arsha. Dia berhasil menyelesaikan setiap tugasnya dengan baik dan cepat.
Arsha juga terlihat puas dengan kinerjanya selama ini. Meskipun sikap Arsha masih kaku dan dingin pada Rania, tapi Rania sudah tidak menjadikan hal itu sebagai beban pikirannya, selagi dia melakukan pekerjaan nya dengan benar.
Sementara Dani masih pantang menyerah mendekati Rania yang seolah masih belum mau membuka hatinya dan memikirkan tentang pasangan hidup.
Dan tepat satu bulan lagi, Andra akan genap berusia lima tahun. Rania bersyukur, Allah selalu mempermudah jalannya untuk bertahan sampai sekarang ini.
*
Hari ini Rania dan Dani mendampingi Arsha yang sedang menghadiri undangan dari salah satu koleganya di sebuah hotel berbintang. Pada pertengahan acara, Dani berpamitan untuk kembali kekantor, karena ada tamu dari kantor cabang yang datang ke kantor.
Ponsel Rania bergetar tanpa suara menandakan panggilan masuk di ponsel nya yang tersimpan di dalam tas. Rania mengacuhkannya supaya tidak mengganggu Arsha dan koleganya yang sedang membicarakan tentang perkembangan properti akhir-akhir ini.
Panggilan kedua Rania masih saja mengacuhkannya. Sampai panggilan ketiga, rasa penasaran Rania semakin besar, ada hal penting apa sampai menghubunginya tiga kali.
Rania merogoh tasnya, mengeluarkan ponselnya sedikit supaya bisa mengintip siapa sebenarnya yang menghubungi. Tertera nama 'Bude Inah' dilayar ponselnya. Kedua alis Rania berkerut penasaran, ada apa Bik Inah menelponnya?.
Arsha menyadari keresahan Rania, kemudian memberi kode saat Rania menoleh kepadanya supaya Rania menerima panggilannya.
Rania beranjak menjauh dari meja diskusi itu.
"Assalamu'alaikum, Bude, ada apa telpon Rania?".
"Walaikumsalam... mbak, mbak Rania bisa datang kesini sekarang?", Terdengar suara bik Inah yang bergetar seperti ketakutan.
"Rania lagi ada pertemuan diluar kantor, Bude".
"Mbak Rania kesini sebentar ya, bisa kan mbak?".
"Rania belum bisa, Bude. Pertemuan nya belum selesai. ".
"Tapi mbak...", bik Inah terdengar menghela nafasnya yang terdengar memburu.
"Ada apa Bude?", tanya Rania penasaran.
"Andra mbak...", suara bik Inah semakin bergetar dan terdengar hampir menangis.
Rania tercekat, perasaannya sudah tidak enak mendengar suara bik Inah yang hampir menangis.
"Andra kenapa, bude?".
"Andra kecelakaan, mbak".
Tangan Rania bergetar hebat membuat ponsel yang sedang dipegangnya jatuh ke lantai yang tertutup karpet tebal. Tangannya masih menggantung disebelah pipinya, seperti sedang memegang ponsel.
Rania terdiam, tubuhnya tiba-tiba terasa lemas tak bertenaga. Pandangan matanya kosong menatap tanpa arah ke depan. Trauma lima tahun yang lalu seolah datang kembali, membayang di otaknya.
"Mbak... Mbak Rania....", terdengar suara bik Inah memanggilnya dari ponselnya yang terjatuh.
Arsha yang sedari tadi mengamati Rania langsung menghampiri Rania.
"Ada apa Rania?", Arsha menatap Rania yang sudah terlihat pucat pasi dan tatapan matanya yang kosong.
"Halo mbak... Mbak Rania...".
Arsha meraih ponsel yang masih terhubung dan tergeletak dilantai.
"Halo...", sahut Arsha penasaran dengan apa yang terjadi.
__ADS_1
"Halo, dimana mbak Rania Pak? minta tolong sampaikan ke Mbak Rania, Andra, putra mbak Rania kecelakaan. Sekarang ada di IGD RS Permata Hati".
Terdengar suara anak kecil menangis dari ponsel, lalu sambungan telpon langsung terputus begitu saja.
Arsha menatap Rania yang masih membeku ditempatnya. "Rania.. Rania!", panggil Arsha sedikit mengeraskan suaranya supaya Rania tersadar dari kebisuannya.
Rania beralih menatap Arsha dengan mata yang berkaca-kaca.
"Pak Arsha, saya minta maaf, saya harus pergi sekarang. ", ucap Rania yang akan segera berlalu dari hadapan Arsha.
"Tunggu Rania, biar aku antar ke Rumah sakit. ".
"Tidak usah Pak, saya bisa berangkat sendiri, terimakasih. ".
"Aku akan tetap mengantarkan mu, tunggulah sebentar disini!", sahut Arsha dengan nada perintah.
Rania mengangguk patuh, Arsha segera menghampiri koleganya dan meminta maaf karena harus mengakhiri pertemuannya. Kemudian terlihat Arsha menghubungi seseorang melalui ponselnya.
"Ayo Rania, pak Joko sudah menunggu didepan.".
Rania berjalan dengan langkah yang cepat, otaknya seperti tidak bisa berpikir saat ini.
"Mba Rania, Pak Arsha selamat siang.", sapa Pak Joko yang sudah menunggu di sebelah mobil Arsha. Rania langsung masuk kedalam mobil tanpa melihat Pak Joko.
"Ayo Pak, langsung ke rumah sakit permata hati.".
"Baik Pak. ", sahut pak Joko yang sepertinya paham dengan suasana panik yang terlihat dari wajah Rania.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, karena situasi jalanan lumayan ramai siang ini. Rania meremas tangannya, menatap kosong ke jalanan didepannya. Bayang-bayang kejadian lima tahun lalu terus menerus berkelebat di ingatannya.
"Pak Joko, bisakah lebih cepat sedikit.", ucapnya dengan suara bergetar.
Pak Joko masih tetap fokus dengan kemudinya, sesekali melirik ke Rania yang terlihat pucat pasi disampingnya.
Sesampainya dirumah sakit, Rania langsung berlari menuju ruang IGD, matanya mengedar kemana-mana mencari anaknya.
"Tenanglah Rania. ", ucap Arsha yang sudah menyusul di belakangnya.
"Maaf Pak, dimana anak kecil korban kecelakaan yang bernama Andra?", tanya Arsha saat melihat petugas medis yang sedang berjalan keluar dari ruangan yang tersekat gorden berwarna biru.
"Oh, anak Andra ada di ruang nomor sebelas, Pak. Disebelah sana.", tunjuk petugas medis itu pada ruang didepannya yang sudah tertutup gordennya.
Rania langsung berjalan tergesa-gesa meninggalkan Arsha, kemudian membuka gorden yang tertutup rapat didepannya.
"Bunda... !!", tangisan Andra menyambut Rania yang baru datang.
"Andra... " Rania menghampiri anaknya yang sekarang terbaring di tempat tidur rumah sakit dengan luka memar di dahi kirinya, dan balutan panjang di tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya sudah terpasang infus.
"Astaghfirullahalazim... ", Rania langsung memeluk Andra.
"Auuww!! sakit Bunda... ", erang Andra di sela tangisannya saat Rania tanpa sengaja menyenggol tangan kiri Andra.
"Oh maaf sayang, dimana yang sakit?".
"Tangan Andra sakit Bunda... ", Andra mengadu sambil menangis.
Rania menatap anaknya dengan tatapan yang sudah kabur oleh air mata yang keluar terus menerus dari matanya. Kemudian beralih menatap tangan kiri Andra yang sudah terbalut elastik perban berwarna coklat dan di ganjal dengan semacam balok didalamnya. Rania bersyukur bayangan trauma dan ketakutannya tidak terjadi pada Andra.
"Bude, kenapa bisa begini?".
__ADS_1
"Maaf Mbak, tadi waktu pulang sekolah, Andra minta lihat ayam warna warni diseberang jalan, terus tiba-tiba Andra langsung lari, bude belum sempat menggandeng Andra. Tiba-tiba Andra langsung menyeberang jalan dan keserempet motor yang sedang lewat.".
"Maaf-fin An-dra bun-nda... ", ucap Andra di sela isak tangisnya.
Rania mencium kening Andra dengan pelan.
"Auuww disitu juga sakit Bunda... ".
"Astaghfirullah... maafin Bunda sayang... Bunda ngga sengaja.", Rania mengusap kepala Andra pelan.
"Bunda, Andra mau minum... ".
"Iya sayang, Bunda bantu duduk ya.".
Rania mendudukkan Andra dengan hati-hati, kemudian memberikan botol minum pada Andra.
Arsha hanya terpaku ditempatnya sesaat setelah ikut masuk kedalam ruangan itu. Matanya masih lekat menatap adegan didepannya, desiran halus mengalir dalam dadanya melihat Rania dan anaknya yang begitu saling menyayangi. Tiba-tiba hatinya terasa menghangat melihat Rania dan anaknya.
Dan saat Andra duduk, Arsha bisa melihat dengan jelas wajah Andra yang terlihat pucat dengan mata sembab karena menangis. Arsha terpana melihat wajah Andra, wajah putih bersih dengan poni lurus yang sedikit acak-acakan karena basah oleh keringat dan luka lebam didahi kirinya. Saat Andra membalas menatapnya, senyuman hangat langsung merekah dari bibirnya. Arsha mengunci tatapannya pada mata Andra yang terlihat berkilauan.
"Siapa Om itu Bunda?".
Rania menoleh kesamping dimana Arsha sedang berdiri. "Oh, dia Pak Arsha, pimpinan Bunda dikantor. ".
"Apa itu pimpinan Bunda? Kata Bunda, Bunda kerjanya sama Pak direktur. ".
"Iya, maksud Bunda dia Pak direktur dikantor Bunda. ".
"Oohhh...", ucap Andra seolah mengerti maksud bundanya.
"Haloo, Andra. ".
"Kalo berkenalan harus nya salim dulu, Om. ".
Arsha berjalan mendekat ketempat tidur, kemudian menyodorkan tangan kanannya ke depan Andra.
"Halo Andra. Perkenalkan, aku Om Arsha, teman kerja Bundamu dikantor. ", ucap Arsha mengulang sapaannya kembali.
Andra menyambut tangan Arsha, kemudian mencium tangannya. Desiran halus didada Arsha kembali terasa saat tangannya bertautan dengan tangan Andra.
"Mbak, tadi dokter nya bilang ingin bicara sama mbak Rania. Katanya harus ketemu orang tua Andra.", ucap bik Inah yang dari tadi duduk di kursi sebelah tempat tidur Andra.
"Andra, Bunda ketemu sama Pak dokter dulu ya. Andra sama bude dulu disini. ".
Andra mengangguk patuh, "Bunda jangan lama-lama perginya. ", rengek Andra yang masih terlihat ketakutan.
"Iya sayang, kalo sudah selesai Bunda nanti langsung kesini lagu ya..".
"Aku ikut dengan mu. ", ucap Arsha pada Rania, Rania hanya menganggukkan kepalanya setuju.
*
Setelah mendengar penjelasan dokter yang menangani Andra, Rania segera menandatangani surat persetujuan pemeriksaan pada Andra. Kini tinggal menunggu hasil pemeriksaan laboratorium dan ronsen tangan kiri Andra.
Satu jam kemudian Rania kembali mendapat panggilan dari dokter untuk membicarakan hasil pemeriksaan yang sudah keluar.
"Dari hasil ronsen, ada patah tulang di bagian lengan kiri anak Andra. Saya menyarankan untuk berkonsultasi dengan ahli bedah orthopaedi agar segera dilakukan tindakan operasi.".
Rania terkejut mendengar penjelasan dokter yang ada dihadapannya.
__ADS_1
"Operasi??".