Tak Cinta Tapi Menikah

Tak Cinta Tapi Menikah
Pencurian


__ADS_3

Rania duduk dengan wajah cemas disofa panjang yang ada didalam ruang walk in closet milik Arsha. Tadi dia mendengar suara langkah masuk kedalam kamar mandi, sepertinya Arsha sekarang sedang mandi, karena samar terdengar suara gemericik air shower dari kamar mandi.


Rania menatap baju lingerie yang masih tergeletak dilantai, lalu tiba-tiba tubuhnya bergidik geli membayangkan dirinya memakai baju itu. 'Aku harus bagaimana sekarang... ', Arsha sebentar lagi pasti akan masuk kedalam ruangan ini untuk mengambil baju ganti. Menyesali kebodohannya karena langsung meletakkan baju dan pakaian dalam yang tadi dipakainya di keranjang baju kotor di kamar mandi.


Rania mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan, 'aahh... itu dia!', Rania langsung bergegas mendekati lemari disebelah kanan yang berisi baju dan kaos milik Arsha, tangannya sibuk mengangkat ujung baju yang sudah terlipat rapi, sepertinya modelnya hampir sama semua. Kemudian menarik kaos berwarna hitam berukuran oversize milik Arsha, kenapa warna hitam? Karena sekarang Rania sama sekali tidak tau bagaimana caranya menutupi tubuhnya yang sama sekali tidak memakai baju dalaman, dan dengan baju berwarna hitam mungkin akan lebih tersamarkan. Rania langsung memakai kaos hitam itu, 'Alhamdulillah... ternyata bajunya jadi panjang seperti daster', Rania menarik ujung bajunya kebawah, lalu tersenyum senang karena bajunya bisa menutup sampai paha bawahnya. Matanya kembali menelisik kedalam lemari yang berisi celana panjang, lalu segera menarik celana panjang berbahan kaos berwarna coklat susu. Rania segera meraih lingerie yang tergeletak dilantai, kemudian memasukkannya kembali kedalam paper bag, mengambil satu celana d**** renda yang sangat tipis dan langsung memakainya, 'daripada tidak memakai sama sekali', pikirnya cepat, lalu memakai celana panjang yang tadi diambilnya. 'Astaghfirullah... panjang banget... ', celananya benar-benar sangat kepanjangan dikaki Rania. Tidak habis akal, Rania segera menggulung ujung bawah celananya dengan lipatan-lipatan kecil, 'Haahh... sudah selesai... ', Rania menghela nafas lega, sekarang sudah aman, tinggal memikirkan bagaimana caranya menutupi rambutnya, rasanya masih canggung dan malu jika harus bertemu Arsha tanpa memakai kerudung, walaupun sekarang statusnya sudah muhrimnya. Rania meraih handuk kecil yang tadi dipakainya untuk mengeringkan rambutnya setelah keramas, hanya handuk ini yang bisa dipakainya untuk menutupi rambutnya.


'Tok tok tok'


"Rania, kamu masih didalam?", Rania terlonjak kaget mendengar suara ketukan pintu dari luar ruangan itu.


"I.iya."


"Apa sudah selesai, aku mau ambil baju."


Rania langsung menutupi rambutnya dengan handuk kecil.


"Rania."


"I.iya sebentar.", Rania bergegas menuju pintu dan memutar kuncinya, kemudian membukanya dengan pelan.


*


Arsha menatap Rania yang sudah muncul dari balik pintu ruang walk in closet miliknya. Bibirnya spontan terbuka melihat penampilan wanita yang kini sudah resmi menjadi istrinya. Memakai kaos oversize yang sangat kedodoran, kedua tangannya sibuk menjepit handuk kecil dibawah dagunya, dan celananya...


"uhhuukk.. !", Arsha tiba-tiba tersedak oleh nafasnya sendiri.


" Kenapa pakai baju seperti itu? ", tanyanya masih menatap Rania keheranan.

__ADS_1


"Ma.maaf, saya pinjam bajunya tanpa ijin lebih dulu.", ucap Rania dengan hati-hati.


"Kenapa pakai bajuku? Mama bukannya tadi menyiapkan baju untuk mu.", Arsha melirik paper bag yang tergeletak diatas meja kaca.


"I.itu... bajunya... saya.. saya pikir lebih nyaman pakai baju ini, Pak.", jawab Rania dengan tergagap.


"Terus, itu kenapa?", Arsha menunjuk kepala Rania yang ditutupi handuk kecil.


"I.ini.. karena rambutnya masih sedikit basah.", jawab Rania asal sambil tersenyum canggung.


"Kalo masih basah seharusnya jangan ditutup rapat seperti itu, nanti malah jadi rusak rambutnya."


"I.iya.. ", Rania segera bergeser mencoba melewati Arsha yang masih berdiri diambang pintu, berjalan merapat ke dinding supaya tidak bersenggolan dengan tubuh Arsha yang berdiri dekat sekali didepannya. Arsha tersenyum geli melihat tingkah Rania yang takut bersentuhan dengannya, lalu...


"Rania, awas cicak!!"


Rania tersadar, lalu mendorong dada Arsha supaya menjauh dan tidak menempel dengan tubuhnya.


"Maaf... ", ucap Rania dengan suara bergetar.


Arsha melepas pelukannya setelah merasakan dorongan tangan Rania didadanya, dan Rania langsung berlalu dengan langkah yang cepat keluar dari kamar. Arsha memegang dadanya yang berdegup kencang, niat mau mengerjai Rania malah dirinya sendiri yang jadi deg-degan. Kemudian segera masuk kedalam walk in closet tanpa menutup pintunya, kebiasaan yang selalu dilakukan nya sejak dulu.


Arsha melirik paper bag diatas meja kaca, penasaran dengan isinya, kenapa Rania tidak mau memakai baju dari mamanya? 'Astaga!', matanya melotot menatap lingerie di tangannya, pantas saja Rania tidak mau memakainya, Arsha menggelengkan kepalanya, mamanya memang selalu penuh dengan kejutan.


*


Rania bergegas turun kebawah, menuju dapur dan langsung meraih gelas kemudian mengisinya dengan air dingin dari kulkas dua pintu yang hampir mirip seperti lemari pakaian karena sangat besar bentuknya. Kemudian duduk dikursi makan dan langsung meminum sampai airnya benar-benar habis tak bersisa.

__ADS_1


Rania memegang dadanya yang masih berdegup kencang tak karuan, 'Astaghfirullahalazim... ', bagaimana ini? Sekarang bingung harus bagaimana dia di apartement ini, hari sudah malam, bahkan hampir tengah malam sekarang, tubuhnya benar-benar sudah sangat lelah, tapi bingung harus bagaimana dan tidur dimana?.


Apartement ini walaupun sangat besar tapi hanya berisi satu kamar utama yang sangat luas, ruang keluarga, ruang tamu dan dapur. Seperti sengaja di desain untuk orang sibuk seperti Arsha yang hanya keluar masuk apartement untuk beristirahat saja. Rasanya canggung sekali jika harus tidur satu ranjang dengan Bos nya yang sekarang sudah resmi menjadi suaminya. Apalagi status pernikahan ini hanyalah kesepakatan saja.


Rania akhirnya memutuskan berjalan kearah sofa besar diruang keluarga, kemudian langsung duduk bersandar, tubuhnya sudah sangat lelah karena seharian sudah sibuk dengan serangkaian acara persiapan dan akad nikah nya dengan Arsha. 'Ya Allah... ', Rania memejamkan matanya, seperti masih tak percaya kalau dirinya benar-benar sudah menikah dengan Arsha, Bos nya sendiri yang sangat dingin dan kaku.


Air matanya mengalir dari sela-sela matanya yang masih tertutup rapat, harus bagaimana menjalani pernikahan ini? Pernikahan yang terkesan seperti paksaan dan atas dasar kesepakatan, 'satu tahun', yah, hanya satu tahun saja waktu yang harus dilalui Rania untuk mengakhiri pernikahan ini. 'Ampuni hamba-Mu ini ya Allah... ', sesungguhnya Rania tidak ingin main-main dengan janji pernikahan yang diikrarkan atas nama Allah dan disahkan oleh Agama. Tapi mengingat Arsha dan dirinya yang tidak mengenal satu sama lain dan benar-benar tidak ada rasa sayang ataupun cinta seperti pasangan yang lainnya, mungkin itulah alasan kuat pernikahan ini harus segera diakhiri.


Rania mengusap air matanya, mencoba menghalau semua kegelisahan dan kesedihan yang dia rasakan saat ini, kembali ke tujuan utama, dia harus kuat demi Andra. Rania tersenyum samar membayangkan Andra, kegelisahannya perlahan menghilang saat membayangkan senyum dan tawa Andra, membuatnya merasakan kedamaian dan ketenangan. Hingga tanpa sadar Rania sudah tertidur dengan posisi duduk bersandar disofa, tangannya yang dari tadi menjepit handuk dibawah dagunya perlahan mulai terlepas, jatuh ke sisi tubuhnya yang sudah lelah. Entahlah, dalam tidurnya Rania merasa tubuhnya menjadi sangat ringan seperti sedang terbang melayang.


*


"Rania... ", panggil Arsha dengan suara yang pelan, takut mengagetkan Rania dari tidurnya. 'Sepertinya sangat kelelahan', Arsha menatap wajah Rania yang kini sedang tertidur pulas disofa. Kedua tangannya terkulai lemas disamping tubuhnya, handuk kecil diatas kepalanya sudah sedikit melorot sehingga Arsha bisa melihat dengan jelas wajah Rania tanpa penutup kepala.


Wajahnya benar-benar mungil, hidungnya, bibirnya dan matanya sepertinya memang dicetak mungil, dan pas dengan postur tubuhnya yang kecil.


'Glek... ', Arsha menelan ludah saat pandangannya mulai turun ke leher Rania, kulitnya benar-benar putih bersih dan sangat menggoda bagi pria seperti Arsha yang sudah lama 'berpuasa'. Arsha langsung menggelengkan kepalanya dengan keras, 'Astaga, apa yang aku pikirkan.. '.


Kemudian segera bangkit dan meraup tubuh Rania, menggendongnya dengan kedua tangannya. Tangan Rania tanpa sadar langsung melingkar dilehernya, mengikis jarak wajah Rania dengan nya. Arsha menatap Rania dari jarak yang sangat dekat, 'sangat cantik', Arsha tersenyum kagum menatap wajah polos tanpa make up tapi tetap menyenangkan untuk dipandang, tiba-tiba pandangannya terpaku pada bibir Rania yang sedikit terbuka. "Ini bukan suatu dosa kan, kamu sudah sah jadi istri ku, anggap saja ini sebagai sebuah perkenalan dariku.", ucap Arsha dengan suara berbisk, kemudian mengecup pelan bibir Rania dengan sangat hati-hati, satu kali, dua kali dan yang ketiga kalinya sedikit menyesapnya sampai suara lenguhan Rania keluar, Arsha buru-buru mengakhirinya sebelum Rania terbangun dari tidurnya. Arsha tersenyum malu dan geli sendiri dengan tingkahnya yang sudah mencuri ciuman dari istrinya sendiri. Pasti akan sulit dilakukan saat Rania terjaga, mengingat sikap Rania yang seolah sama sekali tidak mau menikah dengan nya.


Sesampainya dikamar, Arsha membaringkan tubuh Rania dengan sangat pelan dan hati-hati, tangan Rania masih melingkar erat dilehernya, membuat Arsha semakin salah tingkah karena tergoda ingin sekali melakukan hal yang lebih pada Rania.


"Astaga, Rania... jangan menguji kesabaranku sekarang, atau kamu akan menyesal saat bangun nanti.", bisiknya pelan dengan nafas yang sudah memburu. Arsha kembali mengecup bibir Rania dengan lembut, menyesap bibir manis yang sangat menggodanya, matanya terpejam merasakan gairah yang sudah naik dan ingin sekali terlampiaskan.


"Rania... ", bisiknya pelan, Rania mulai merasa terusik dari tidurnya, tangannya terlepas dari leher Arsha dan segera memiringkan tubuhnya membelakangi Arsha yang nafasnya masih memburu.


Arsha mengusap wajahnya dengan kasar, tidak mungkin dia memanfaatkan Rania yang sedang tidur, lalu kembali melirik Rania yang kini sudah tidur terlelap memunggunginya, 'aku akan menunggu mu', Arsha mengecup puncak kepala Rania, dan segera berlalu kekamar mandi untuk mencuci mukanya supaya pikiran kotor nya hilang malam ini.

__ADS_1


__ADS_2