Tak Cinta Tapi Menikah

Tak Cinta Tapi Menikah
Andra atau Rania?


__ADS_3

Pintu kamar tidur Rania terbuka lebar oleh sentakan tangan mungil yang menariknya kedalam.


"Daddy Arsha... ", panggil Andra dengan suara serak khas baru bangun tidur.


Semua mata kini beralih ke arah Andra yang sudah berdiri diambang pintu.


'Daddy..?!', seru Rania dalam hati, sejak kapan panggilan om berganti jadi daddy?.


"Andra... !", seru Ibu yang langsung bergegas menghampiri Andra.


"Yang Uti?!", Andra menatap Ibu dengan ekspresi kaget, kemudian beralih ke Bapak yang kini sedang berjalan menghampirinya.


"Assalamu'alaikum...", sapa Ibu dengan wajah penuh senyum saat sudah berjongkok mensejajarkan tinggi nya dengan Andra.


"Waalaikumsalam... Yang Uti, Yang Kung... !", seru Andra bahagia, dan langsung masuk kedalam pelukan Ibu.


"Alhamdulillah... Andra sehat, Yang Uti kangen banget sama Andra."


"Iya tuh, Yang Uti kemarin sampai nangis minta ke Jakarta karena kangen sama Andra.", ucap Bapak dengan suara yang lembut, sambil mengusap kepala Andra.


"Tangan Andra gimana? Udah sembuh belum?", tanya Ibu sambil mengamati tangan kiri Andra yang masih terbalut gips putih dan sudah dicorat coret dengan spidol hitam.


"Udah nggak sakit. Kata pak dokter, sembuh nya masih tiga minggu lagi. Iya kan Bunda?".


"Iya sayang.", jawab Rania pelan, 'Alhamdulilah... ', untung saja Andra bangun, setidaknya Andra jadi peredam disaat Bapak masih marah dengannya. Rania menghela nafas lega, tersenyum menatap ketiga orang kesayangannya yang sedang berkumpul didepan pintu kamarnya.


"Daddy Arsha, Andra mau pipis, temenin Andra Daddy.", ucap Andra dengan polosnya yang berhasil membuat semua orang diruang tengah terdiam seketika. Rania bergegas menghampiri Andra.


"Sama Bunda aja ya.", Rania ikut berjongkok didepan Andra yang disambut gelengan kepala oleh Andra.


"Nggak mau, Andra malu sama Bunda. Kata daddy Arsha, itu urusan laki-laki, iya kan daddy?".


Arsha melirik kearah semua orang yang kini gantian menatapnya. 'Aduh... kenapa Andra polos sekali ngomongnya', ternyata candaan pangggilan daddy semalam diterima mentah-mentah sama Andra. Arsha melempar senyum canggung pada semua orang yang kini menatap nya penuh dengan pertanyaan.


"Eehh iya, ayo sama Om. ", Arsha berjalan sambil membungkukkan badannya saat melewati tiga orang yang masih berjongkok didepan Andra.


"Maaf, saya permisi lewat.", ucapnya canggung yang hanya dijawab dengan tatapan terheran-heran dari ketiga orang didepannya.


*


"Kamu bilang hanya sekedar rekan kerja dikantor. Kenapa bisa segitu dekatnya dengan Andra, dan apa tadi itu? Daddy? Kenapa Andra bisa memanggilnya daddy, Ra?", Bapak kembali memasang muka serius saat Arsha dan Andra masuk ke dalam kamar.


Rania terdiam, orang lain pasti juga akan salah paham seperti Bapak Ibu saat melihat kedekatan Andra dan Bos nya itu. Kenapa juga panggilannya jadi daddy? Kepala Rania semakin berdenyut frustasi memikirkan Bosnya yang dengan seenaknya saja mencuci otak Andra.


"Bapak, Rania berani bersumpah atas nama Allah, kalau Rania dan pak Arsha hanya sekedar atasan dan bawahan saja dikantor, Pak. "


"Jangan bawa-bawa nama Allah, Ra!!", bentak Bapak kembali menaikan suaranya.


"Tapi memang benar seperti itu adanya, Rania benar-benar tidak ada hubungan apapun dengan pak Arsha. "


"Lalu, kenapa bisa sedekat itu dengan Andra?!".


"Itu karena... ", Rania berhenti sejenak, "Karena pak Arsha sangat menyukai anak kecil seperti Andra. Rania juga tidak tau kenapa pak Arsha bisa begitu menyukai Andra. "


Bapak menghela nafasnya yang berat, "Apa cuma karena alasan suka sama anak kecil terus jadi diijinkan bebas keluar masuk kedalam rumah seorang wanita?!".


"Dirumah kan ada bude Inah dan Andra, Rania kan tidak sendirian dirumah ini, Pak. "


"Terus kalau ada Andra dan Inah, kamu jadi bebas mengijinkan laki-laki masuk ke rumah, bahkan tidur dikamar mu, begitu maksudmu?!".


Rania menatap Bapak, memegang tangan kanan Bapak dengan erat.


"Apa kamu tidak takut fitnah, kalau orang lain tau ada laki-laki masuk kedalam rumah bahkan tidur dikamar mu, Ra?".


Rania menggelengkan kepalanya pelan, matanya sudah dipenuhi genangan air mata yang sudah siap tumpah ke pipi nya. Ya, ini memang sudah terlanjur salah, mau bagaimanapun juga alasannya memang dia lah yang sudah salah karena ada laki-laki bukan muhrimnya masuk kerumah bahkan menginap dikamarnya sendiri. Siapa juga yang tidak salah paham melihat hal seperti ini.


"Maafkan Rania, Pak. Rania bersalah sama Bapak Ibu, mohon maafkan Rania. Rania janji tidak akan melakukan hal ini lagi. "

__ADS_1


Rania tertunduk dalam, air matanya berjatuhan dipangkuan Bapak, Ibu ikut menangis, kemudian memeluk Rania dengan erat. Bapak terlihat menghela nafasnya panjang sambil memejamkan matanya erat, alisnya berkerut, terlihat sekali Bapak sedang memikirkan hal yang serius.


"Biar Bapak yang menyelesaikan nya, kamu harus mau dan menurut dengan semua keputusan Bapak!".


"Tapi, Pak... "


"Bapak sudah memutuskan, Ra! Tidak ada yang bisa mengubah keputusan Bapak!".


*


Rania berjalan kekamar mandi didekat dapur untuk membilas wajahnya yang sudah sembab karena air mata, tak mau terlihat sedih didepan anaknya yang baru saja keluar dari kamar dengan Arsha.


Sementara Bapak Ibu kembali duduk diatas sofa, sambil memandang cucunya yang sedang keluar menggandeng tangan Arsha.


"Daddy Arsha, ayok main lego lagi. ", Andra mengajak Arsha duduk diatas karpet ruang tengah.


"Andra mau main lego yang mana dulu?", tanya Arsha dengan suara pelan.


"Yang tadi malem di susun, yang ada mobil pemburu nya. "


"Ohh yang tadi malam ya, Om ambil dulu dikamar ya. Oya, Andra panggil nya om aja ya, jangan daddy. ", bisik Arsha di telinga Andra.


" Emang kenapa nggak boleh panggil daddy lagi?", tanya Andra bingung, semalam padahal Arsha sendiri yang meminta Andra untuk memanggilnya daddy.


Arsha terdiam sebentar, entah kenapa tadi malam dia ingin sekali dipanggil daddy sama Andra, dan sekarang dia menyesali kebodohannya itu. "Karena ada eyang Andra disini, jadi panggilnya om saja dulu ya, oke. Om ambil lego nya dulu dikamar ya. ", Arsha bergegas kembali melangkah menuju kamar Rania.


"Andra suka main sama... daddy Arsha?", tanya Ibu sambil mengusap rambut Andra.


"Iya Yang Uti, daddy Arsha itu orangnya baik kayak Gemma, Gemma juga baik sama Andra. "


"Gemma? Siapa Gemma?", tanya Bapak penasaran.


"Gemma itu, mamanya daddy Arsha. ", ucap Andra polos. Bapak Ibu saling berpandangan dengan ekspresi kaget.


"Mama daddy Arsha?!"


"Mamanya daddy Arsha juga pernah main kesini?", Bapak mencondongkan kepalanya supaya lebih dekat dengan Andra.


"Iya Yang, Gemma bawa kue banyak banget, sama Andra juga dikasih scooter listrik, tapi Andra belum bisa naik scooter nya, tangan Andra kan masih sakit. "


"Kalo itu, siapa yang beliin?", tunjuk Ibu pada deretan Papperbag yang masih tergeletak dilantai.


"Itu semua daddy Arsha yang beliin buat Andra. "


"Semuanya??", tanya Ibu semakin penasaran.


"Iya Yang, semuanya. Katanya buat kado ulang tahun Andra besok. "


Bapak Ibu langsung menegakkan tubuhnya kembali saat melihat Arsha keluar dari kamar dan langsung ikut duduk di karpet bersama Andra.


"Ini lego nya. "


Andra langsung duduk dipangkuan Arsha


"Ayok daddy, kita susun legonya lagi. ", seru Andra bersemangat.


Bapak Ibu saling berpandangan lagi melihat adegan didepannya.


"Apa kamu benar-benar menyayangi Andra?".


Arsha mendongakkan kepalanya menatap Bapak yang kini juga sedang menatapnya. "Maksudnya saya, Pak?", tanya Arsha pada Bapak.


"Iya kamu. "


"Oh iya, Pak. Saya sangat menyayangi Andra. "


"Kenapa?".

__ADS_1


Arsha terdiam, tidak mungkin mengatakan kalau Andra seperti jelmaan anaknya dengan Celine.


"Itu karena... eemm, Andra anak yang sangat pintar dan baik, Pak. "


"Itu bukan alasan. Apa kamu punya alasan lain sampai kamu sering datang ke rumah ini?".


Arsha menatap Bapak dengan ekspresi bingung. Alasan apalagi? Memang Andra lah alasan mengapa dia sering main kesini.


"Maksudnya alasan lain apa ya, Pak?".


"Apa kamu sering kesini karena Rania?".


Arsha tersentak kaget dengan kata-kata Bapak, Rania? Sama sekali tidak pernah terpikirkan dalam benak nya tentang alasan ingin menemui Rania.


"Tidak, Pak. " jawabnya cepat.


Bapak menghela nafasnya pelan.


"Andra, main sama Yang Uti dulu yuk di teras depan. Yang Uti kangen main sama Andra. "


"Andra kan lagi main sama daddy Arsha, Yang. "


"Panggil nya om dulu ya... ", bisik Arsha ditelinga Andra.


"Main sama daddy nya nanti lagi ya, sekarang main sama Yang Uti dulu yuk, kan Andra lama nggak ketemu yang uti...", bujuk Ibu yang seolah mengerti dengan keinginan Bapak yang ingin membicarakan hal serius dengan Arsha dan Rania.


"Daddy, Andra main sama Yang Uti dulu ya, main lego nya nanti lagi. Ayok Yang kita main didepan. ", Andra langsung menggandeng tangan Ibu dan menariknya keluar rumah


"Duduklah diatas, saya ingin bicara hal serius dengan mu, ", Arsha bergegas bangun dari karpet, lalu duduk di kursi bundar disebelah sofa.


"Nak Arsha, saya tau mungkin permintaan saya terlalu mendadak dan pasti akan mengagetkan. Tapi ini semua demi kebaikan mu dan Rania, jadi harus segera diputuskan walaupun nantinya akan ada penolakan."


Arsha menatap Bapak yang kini sedang menundukkan kepalanya, 'Permintaan apa? Apa permintaan menikahi Rania?'.


Bapak kembali menatap Arsha dengan tatapan serius, "Menikahlah dengan Rania.", ucap Bapak dengan suara pelan.


Arsha mengerutkan alisnya kedalam, nafasnya tiba-tiba terasa berat saat ini. 'Menikah sama Rania? Bagaimana mungkin?'.


"Ini semua demi kebaikan Rania dan kamu, supaya terhindar dari dosa yang lebih besar nantinya. "


"Tapi, Pak... ".


"Saya ingin bertemu dengan orang tua mu segera. Silahkan panggil orang tuamu untuk datang menemui saya disini. ", potong Bapak dengan suara yang tegas.


Arsha terdiam, mulutnya seolah terkunci, ingin bicara tapi tak mampu untuk membuka mulutnya.


"Kalau kamu sangat menyayangi Andra, saya minta kamu menikah dengan Rania, Ibu dari Andra. ", Bapak kembali menghela nafasnya dalam-dalam.


"Kalau kamu tidak mau menikah dengan Rania, maka jangan lagi datang ke rumah ini untuk menemui Andra atau dengan alasan apapun itu. ".


'Deg!', jantung Arsha serasa dihantam dengan palu besar dan terasa sangat menyakitkan saat mendengar kata-kata Bapak yang melarangnya menemui Andra. Arsha tertunduk dalam, sambil memegang dadanya yang tiba-tiba terasa sakit. Ini jauh lebih menyakitkan dibandingkan saat dia kehilangan anaknya saat bersama Celine.


"Bagaimana, nak Arsha?".


Arsha menatap Bapak dengan wajah sedih.


"Tapi, Pak.... " ,kata-kata Arsha tiba-tiba saja seperti menyangkut ditenggorokan nya.


"Tapi apa?".


"Apa... Rania juga akan setuju kalau... "


"Rania itu anak perempuan saya, dia akan menurut dengan permintaan orang tuanya, meskipun dia tidak setuju. "


Arsha menelan ludahnya, seolah ingin membasahi tenggorokan nya yang tiba-tiba terasa kering.


"Segera panggil orang tua mu, saya ingin bertemu hari ini juga. ", ucap Bapak dengan tegas, kemudian pergi meninggalkan Arsha yang masih duduk terdiam dengan wajah kebingungan.

__ADS_1


__ADS_2