
Serangkaian acara tujuh bulanan kehamilan Cantika telah selesai digelar hari ini. Sejumlah tamu undangan yang masih keluarga dan kerabat dekat keluarga Wiguna satu persatu juga sudah mulai meninggalkan rumah mama Hanum. Hanya tinggal beberapa tamu saja yang masih terlihat sedang mengobrol dengan Arsha dan mama Hanum. Beberapa orang dari EO yang disewa oleh mama Hanum juga masih terlihat sibuk merapikan semua peralatan di taman belakang yang tadi digunakan.
Rania yang dari tadi pagi sudah menemani Cantika saat prosesi bergegas naik ke kamar karena merasa sudah tak tahan dengan kebaya yang sedang dipakainya. Rasa lengket akibat keringat yang dari tadi keluar membuatnya risih dan ingin segera mengguyur seluruh tubuhnya supaya lebih segar. Entah kenapa, dari tadi pagi keringat nya terus mengalir walaupun sejumlah pendingin yang ada di taman sebenarnya sudah mampu membuat taman belakang menjadi sejuk.
" Sha, sebenarnya kamu dan Rania sedang ada masalah apa?.", tanya mama Hanum sepeninggal tamu terakhir yang hadir diacara hari ini.
" Ada masalah apa emang mom?. Kami baik-baik saja mom, nggak ada masalah apapun. ", Arsha mencoba menutupi kegelisahan hatinya.
" Mama nggak bisa dibohongi Sha, mama sangat tahu kalau Rania seperti sedang menyimpan sesuatu yang membuat nya sedih. Walaupun dia pandai menyembunyikan perasaannya dan seolah tidak terjadi apapun, tapi mama bisa melihatnya dari mata yang tak bercahaya itu. Kamu juga sama saja, mama tau kamu sedang bingung sendiri kan?. ".
Arsha menghembuskan nafasnya yang berat, "Arsha memang sedang bingung mom, Arsha benar-benar nggak tau kenapa Rania sekarang jadi sering diam seperti itu. ", keluh Arsha putus asa.
" Coba tanya baik-baik Sha, ajak bicara dengan hati yang lapang. Mama benar-benar nggak tega melihat mata sedihnya Sha. ".
" Iya mom... ", ujarnya singkat mencoba meyakinkan mama Hanum, dia tak ingin membuat mama Hanum semakin khawatir dengan pernikahannya.
Yah, sudah dua hari sejak kepulangan mereka dari apartement, Rania selalu saja menghindari nya saat dia ingin mengajaknya bicara. Bahkan saat dikantor pun Arsha selalu kesulitan mengajak Rania untuk bisa duduk berdua dan saling bicara. Entah apa yang membuat Rania berubah, saat ditanya selalu saja menjawab tidak ada apa-apa dan beralasan sedang tak ingin bicara saja dengannya. Dia juga sudah mencoba memaksa Rania untuk bicara, tapi bukannya kalimat yang keluar dari bibirnya, malah air mata nya yang keluar berjatuhan dan membuatnya tak tega lagi untuk bertanya. Apa yang harus dilakukan kalau sudah seperti ini, apalagi ditambah banyaknya pekerjaan dikantor yang membuat nya semakin sulit untuk mendekati Rania.
*
Rania berjalan ragu menuju ruangan Dani saat memastikan Arsha sudah benar-benar keluar dari kantornya karena ada pertemuan dengan salah satu kolega di sebuah hotel. Tadi Arsha mengajaknya untuk ikut dengannya, tapi Rania menolak dengan alasan ingin menjemput Andra ke sekolah hari ini.
Rania mengetuk pelan pintu yang masih tertutup itu, kemudian melangkah masuk setelah dipersilahkan masuk oleh pemiliknya.
" Rania... Maksud ku bu Rania... ", Dani langsung berdiri menghampiri Rania saat baru muncul dari balik pintu.
" Tolong jangan panggil aku seperti itu, aku lebih nyaman dipanggil Rania seperti biasa aja. ".
__ADS_1
Dani tersenyum kikuk, sebenarnya dia juga merasa belum nyaman kalau harus memanggilnya dengan sebutan ibu, tapi karena situasi dikantor yang sudah tahu kalau Rania sekarang adalah istri dari Direktur Utama perusahaan ini seolah menuntutnya untuk lebih sopan saat memanggil istri Bosnya ini.
" Silahkan duduk. ", Dani menarik kursi mempersilahkan tamunya untuk duduk. " Apa ada sesuatu yang bisa aku bantu Rania...?. ", tanya Dani saat melihat keraguan di mata Rania.
" Sebelumnya maaf kalau aku mengganggu mas Dani. Aku hanya ingin meminta waktunya sebentar saja. Apa nggak papa mas?. ".
Dani menggeleng, " Nggak papa Rania, aku sekarang juga sedang tidak melakukan apapun. ".
Rania merogoh tas yang ada di pangkuannya, kemudian mengeluarkan selembar foto dan diletakkan diatas meja kerja tepat didepan Dani. Dani spontan langsung terkejut melihat foto itu, matanya kemudian beralih menatap Rania yang tertunduk dalam.
" Rania... ".
" Aku hanya ingin tahu saja mas, sebenarnya hanya ingin memastikan saja kebenarannya. ". Rania mendongak dengan mata yang sudah berkaca-kaca membuat Dani tersentak kaget dengan tatapan sedih itu.
" Rania, tenang lah... Itu sudah lama sekali. Dan itu sudah lama berakhir. Pak Bos sudah melupakan semuanya, sekarang dia hanya ingin fokus padamu dan Andra. ".
" Mereka tidak pernah menikah, dan mereka sudah benar-benar berakhir sekarang. Percayalah Rania... ".
" Mereka tidak pernah menikah mas??. Lalu... Apa mereka tinggal berdua di apartement itu?. ".
Dani terdiam, tenggorokannya rasanya tiba-tiba tercekat dan sulit untuk mengucapkan kebenarannya. Rania pasti bisa menebaknya sendiri dengan melihat foto-foto itu. Semua foto kemesraan mereka di hampir setiap sudut apartement milik Arsha.
" Ohhh... Tidak menikah tapi tinggal satu rumah, betul kan mas Dani?. ".
Lagi-lagi Dani hanya terdiam menatap Rania yang sesekali terlihat menyeka airmatanya.
" Dimana anak mereka sekarang mas?. ", tanya Rania dengan suara yang semakin berat.
__ADS_1
" Rania... Please kamu harus tenang dulu, aku akan menceritakan semuanya kalau kamu sudah benar-benar bisa tenang. ".
Rania langsung mengusap kasar airmatanya, kemudian tersenyum paksa menatap Dani didepannya. " Sekarang aku sudah tenang mas... Mas Dani bisa mulai cerita semuanya. ".
Dani menghela nafasnya yang mulai terasa berat, " Apa pak Bos tau kalau kamu sudah liat foto-foto itu?. "
Rania menggelengkan kepalanya sambil menatap Dani, " Tolong jangan kasih tau dia mas, aku hanya ingin memastikan saja supaya hatiku tenang. Aku mohon jangan bicarakan masalah ini pada mas Arsha. ".
" Rania, kejadian itu sudah lama sekali terjadi. Mereka memang dulu menjalin hubungan yang serius dan... mereka memang tinggal bersama di apartement itu. Dan soal anak, mereka belum pernah punya anak, lebih tepatnya hampir punya anak tapi nona Celine sendirilah yang telah menghancurkan semuanya. ".
Dani berhenti sesaat sebelum melanjutkan bicaranya, " Dia telah mengaborsi bayi itu, Rania...".
" Astaghfirullah... ", Rania langsung menutup bibirnya untuk menutupi kekagetanya.
" Pak Bos saat itu langsung jatuh terpuruk dalam waktu yang cukup lama. Dan hubungan mereka akhirnya berakhir dengan kemarahan yang sangat besar dari pak Bos. ".
" Lalu, dimana nona Celine sekarang?. ".
" Nona Celine dijemput oleh orang tuanya dan dibawa pulang ke Inggris. ".
Rania terdiam sambil menatap kosong foto yang masih tergeletak diatas meja itu.
" Rania, percayalah... Pak Bos benar-benar sudah melupakan kejadian lima tahun yang lalu itu. Dia sudah menghilangkan trauma masa lalunya. ".
" Lima tahun yang lalu... ", seperti dejavu yang tiba-tiba kembali terbayang di otaknya. Kejadian menyedihkan lima tahun yang lalu, kenapa bisa sama dengan dirinya yang juga mengalami kejadian tragis lima tahun yang lalu.
Rania tertunduk lemas, apakah dia sudah salah sangka pada suaminya sendiri. Bukankah selama ini dia sendiri yang selalu mengingatkan pada diri sendiri bahwa masa lalu adalah pelajaran yang bisa membuat kita menjadi lebih dewasa. Kenapa sekarang malah dia sulit sekali menerima masa lalu suaminya yang sama tragis nya dengan dirinya.
__ADS_1