Tak Cinta Tapi Menikah

Tak Cinta Tapi Menikah
Jadilah Ibu dari Anakku


__ADS_3

Dani dengan ragu mendekati Rania yang terlihat masih sibuk dengan laporannya. Ada sesuatu yang membuat nya gelisah dan ingin segera menyampaikannya pada Bos nya setelah memastikan informasi kebenarannya.


" Rania apa kamu tau kemana pak Bos pergi?. ", tanya Dani saat sudah berada didepan Rania.


" Tadi dia pamit mau ketemu sama temannya diluar, tapi aku nggak tau dimana tempatnya. ".


" Oohh... Nanti tolong kabarin aku kalau pak Bos sudah kembali ke kantor. ".


" Iya mas, nanti aku kabari. ".


" Rania, apa kamu sudah baik-baik saja sekarang?", tanya Dani hati-hati, takut kalau saat ini Rania masih belum bisa menerima fakta tentang masa lalu Arsha.


" Alhamdulillah, aku sudah lebih tenang sekarang. Makasih ya mas, sudah mau menjawab rasa penasaran ku. ", jawab Rania dengan senyuman tenang.


" Alhamdulillah, aku ikut lega mendengarnya. Apa kamu sudah membicarakan masalah kemarin dengan pak Bos. ".


Rania menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, " Nggak mas, sudah tidak perlu lagi membahas masa lalu. Yang terpenting sekarang adalah masa depan. Iya kan mas?. ".


" Aku selalu kagum dengan ketegaran mu dalam menghadapi masalah Rania. Kamu benar-benar seorang wanita yang hebat, bisa melalui semua masalah dengan cara yang bijaksana. ".


" Mas Dani terlalu banyak memuji, aku hanya orang biasa mas, masih bisa nangis saat nggak tau harus berbuat apa. Contohnya saja kemarin, kalo diingat kembali aku malah yang jadi malu sendiri karena sudah nangis seperti itu didepan mas Dani. "


Ting!


Spontan Dani dan Rania menoleh kearah lift yang sedang terbuka pintunya, terlihat Arsha keluar dari dalam lift dengan langkah lebar dan langsung menghampiri Rania dan Dani.


" Bos, bisa bicara sebentar. ", ucap Dani cepat saat Arsha sudah ada di depannya.


" Nggak bisa!. ", tolak Arsha tanpa basa basi, "Rania, ikut ke ruangan ku sekarang. ", ucap Arsha dengan cepat tanpa ekspresi.

__ADS_1


" Tapi Bos... ".


" Ada yang lebih penting yang harus aku bicarakan dengan Rania Dan!. ", potong Arsha cepat.


Dani dan Rania saling bertatapan mata tak mengerti. Sepertinya ada sesuatu yang membuat mood Arsha sedang tidak baik-baik saja setelah kembali dari luar kantor. Dani mendesah pelan, padahal ada hal yang harus segera dia sampaikan pada Bos nya sebelum terlambat dan akan menghancurkan semuanya.


" Iya mas. ", Rania langsung mengikuti Arsha yang sudah berjalan mendahuluinya didepannya, sesampainya didalam ruangan, Arsha dengan kasar langsung menarik Rania dan mendudukkan nya di sofa kantornya.


" Mas... ", ucap Rania kaget dengan perlakuan kasar suaminya.


Arsha langsung melempar strip obat yang dari tadi dibawanya keatas pangkuan Rania. " Obat apa itu Rania?!. ", ucap Arsha dengan wajah emosi.


" Mas... Dari mana mas... ".


" Jawab saja pertanyaan ku Rania!. ", bentak Arsha dengan suara tertahan.


" I.ini pil KB mas. ", jawab Rania dengan suara lirih. Tangannya bergetar hebat saat memegang obat yang tadi dilemparkan Arsha kepangkuan nya.


Rania tertunduk dalam, " Aaku... ", Rania tergagap, bingung harus dari mana mau menjelaskan nya. Dalam hati menyesal kenapa tidak membuangnya saja dari dulu.


" Apakah kamu begitu sulit menerima aku sebagai suami mu Rania?. Apa kamu benar-benar tidak ingin mengandung anak-anakku?. Apa aku seburuk itu di mata mu Rania?. ".


" Mas, aku... ", Rania mendongak menatap Arsha yang terlihat sangat marah dan kecewa. Wajahnya tampak begitu merah karena emosi yang memuncak.


" Aku sudah pernah mengatakan padamu, tolong jangan pernah menyerah atas usahaku. Apa kamu benar-benar berpikiran ingin berpisah dengan ku Rania, hingga kamu minum obat itu supaya nanti kita bisa berpisah dengan mudah?. ", Arsha tertunduk lesu, menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan menjatuhkan tubuhnya dengan kasar diatas sofa.


" Mas... ", Rania berjalan mendekati Arsha dan duduk bersimpuh dibawah kaki Arsha yang masih tetap menutup wajahnya. Kemudian dengan ragu meraih tangan Arsha dan menggenggam nya.


" Mas... Tolong dengarkan aku dulu sebentar. Aku akan menjelaskan semuanya padamu. Aku tidak pernah minum pil itu mas. "

__ADS_1


" Jangan membohongi ku Rania, aku tidak bodoh. Jelas-jelas obat itu sudah tidak utuh lagi isinya!. ", sanggah Arsha dengan keras.


" Iya mas, aku tau. Tapi tolong dengarkan aku dulu sebentar saja. ", Arsha terlihat lebih tenang walaupun tetap membuang muka seperti tidak ingin melihat wajah Rania yang saat ini sedang berada tepat dibawahnya. " Aku benar-benar belum pernah meminumnya mas. Obat itu memang sudah ada sejak kita baru menikah, saat itu memang aku sengaja membeli nya dan sempat ingin meminumnya. Tapi setiap aku akan meminumnya timbul rasa bersalah di dalam diriku jika nanti suamiku sendiri tidak ridho karena aku belum ijin padamu. Makanya aku selalu membuang obat itu sebelum aku minum. Aku berani bersumpah atas nama Allah kalau aku belum pernah meminumnya. ".


Arsha dengan tatapan sedih mencari kejujuran dimata Rania, kemudian menangkup wajah mungil istrinya dengan penuh pengharapan.


" Benarkah yang semua kamu katakan Rania...?", tanya Arsha masih tak percaya.


Rania mengangguk yakin, " Iya mas, aku benar-benar berkata jujur padamu. ".


Arsha menghembuskan nafas lega, " Aku sangat berharap kamu segera menjadi ibu dari anak-anak ku Rania. Aku benar-benar ingin menjalani pernikahan ini dengan sepenuh jiwaku. Walaupun kita dipersatukan dalam kondisi terpaksa, tapi aku sangat yakin kamulah wanita yang sangat tepat untuk ku. Aku sungguh-sungguh ingin belajar menjadi suami yang terbaik untukmu. ".


Rania tersenyum haru, airmata kebahagiaan mengalir dengan sendirinya saat menatap penuh arti pada suaminya. " Aku juga ingin menjadi istri yang terbaik untukmu mas. ".


Arsha menarik tubuh Rania dan mendudukkan diatas pangkuannya, " Jadi apa boleh sekarang aku melakukan tugas ku dengan benar?. ", tanya Arsha dengan senyuman nakal.


" Maksudnya tugas apa mas?. ", tanya Rania curiga.


" Tugas khusus supaya kamu bisa cepat mengandung anak-anak ku. ".


" Mas... Jangan ngomong seperti itu disini, ini kantor mas. ", protes Rania saat melihat senyum Arsha yang penuh arti itu.


" Kalo gitu kita ke apartement aja sekarang, kita terusin obrolannya disana. ".


Senyuman Rania seketika langsung menghilang dari wajahnya, apartement yang penuh dengan kenangan kemesraan suaminya dan wanita itu. Apakah bisa dia menghapus bayangan mereka berdua yang penuh kemesraan disetiap sudut apartement itu?. Rasanya Rania belum sanggup jika harus tinggal disana saat ini.


" Kenapa Rania, kok kamu jadi tegang gitu?. ", tanya Arsha melihat perubahan ekspresi wajah Rania yang memucat.


Rania memaksakan senyuman untuk menutupi rasa gelisahnya, " Enggak mas, aku nggak papa. Emm... Gimana kalo kita cari tempat lain aja mas?. ", ajak Rania raguragu dan malu.

__ADS_1


" Oohhh... Aku tau maksudmu. Kamu bosen kan di apartement itu?. Ternyata sekarang kamu sudah semakin pintar menggodaku Rania... Oke, kita cari tempat lain sekarang!. ".


Rania mengangguk dan tersenyum bahagia, tidak apa jika kali ini dia dianggap sedang menggoda suaminya, asal dia bisa terhindar dari apartement itu untuk sementara waktu atau kalau bisa untuk selamanya.


__ADS_2