
Arsha tercekat melihat Celine dengan wajah pucatnya sedang memegang pisau yang diarahkan pas ke dada kirinya sendiri. Bobby, dua dokter jaga dan tiga perawat sudah berdiri siaga berkeliling agak jauh dari tempat Celine berada.
" Hahaha... Arsha, akhirnya kamu datang juga... ", ucap Celine sambil terkekeh.
" Celine, please tenang lah.. Aku udah disini sekarang. Berikan pisau itu padaku yah... ", bujuk Arsha pelan sambil terus mendekati Celine yang sudah terpojok.
" Aku menunggu mu dari tadi Sha... Kenapa kamu nggak kesini dari tadi pagi. Apa kamu udah nggak peduli lagi padaku Sha?. ", Celine terisak sedih menatap Arsha yang sudah ada didepan nya.
" Maafkan aku Celine, hari ini aku benar-benar sibuk. Yang jelas sekarang aku udah datang lagi kesini kan... Kemarilah Celine, aku ada didepan mu sekarang. ", Arsha membuka kedua tangannya berusaha membujuk Celine supaya masuk kedalam pelukannya dan bisa secepatnya mengambil pisau dari tangan Celine.
" Kamu pasti sedang berbohong lagi padaku Sha!. Aku tau kamu sangat membenci ku!. Bahkan kamu udah nggak peduli padaku lagi sejak lima tahun yang lalu. Iya kan Sha?!. ", Celine semakin menekan pisau itu ke dadanya yang tertutup baju kimono tidur rumah sakit.
" Enggak Celine, aku sangat peduli sama kamu. Percayalah padaku Celine... Kalo aku nggak peduli lagi, mana mungkin aku disini sekarang. ", Arsha langsung meraih tangan Celine yang memegang pisau, menarik pelan tubuh Celine hingga masuk kedalam pelukannya.
" Kamu sungguh masih peduli dengan ku Sha?!. ", Celine menangis tersedu sambil memeluk erat tubuh Arsha yang sudah sangat lama dirindukannya. Kesempatan ini langsung digunakan Arsha untuk mengambil pisau ditangan Celine.
" Iya Celine, aku sangat peduli dengan mu. ", Arsha mengusap rambut Celine dengan lembut, entah kenapa hatinya ikut hancur melihat Celine begitu terpuruk saat ini.
" Please Sha, bawa aku pergi dari sini... Aku nggak mau disini lagi. Aku bukan orang gila Sha... Aku nggak mau disini!. ", teriak Celine histeris didalam pelukan Arsha.
" Tenanglah Celine... Kamu harus dirawat dulu disini. Tubuhmu masih terlalu lemah. ".
" Berarti kamu juga sama seperti mereka Sha!!. ", bentak Celine sambil mendorong dada Arsha keras, " Kamu juga menganggap ku gila kan Sha?!. Hahaha... Hanya aku yang gila disini kan Sha, dan kamu masih bisa hidup dengan tenang tanpa memikirkan aku selama ini!. ", Celine terbahak keras.
__ADS_1
" Bukan seperti itu Celine... Please tenang dulu yah... ", Arsha melirik semua tim medis memberi isyarat untuk meninggalkan ruangan.
" Bob, tunggu diluar dulu, aku mau bicara berdua dengan Celine. ", Bobby ikut keluar dengan tim medis dengan perasaan sedih.
" Ayo kita duduk dulu sambil bicara dengan tenang, Oke. ", bujuk Arsha langsung menggandeng tangan Celine dan mendudukannya disofa.
" Minumlah...", Arsha menyodorkan segelas air putih kedepan wajah Celine dan langsung di tenggak habis oleh Celine. " Sekarang kamu lebih tenang kan?. ", tanya Arsha yang ikut duduk disebelah Celine.
Celine mengangguk diam lalu menatap Arsha dengan sendu, " Maafkan aku Sha... ", tangisnya kembali pecah, " Aku rasa berjuta-juta kali aku meminta maaf masih belum cukup untuk membuat mu memaafkan aku. ", ujarnya sambil menangkup wajahnya dengan kedua tangannya.
" Celine, dengarkan aku. Liat aku sekarang... ", Arsha mendongakkan dagu Celine supaya menatapnya. " Aku benar-benar udah memaafkan kamu. Aku udah melupakan kejadian itu, dan aku sama sekali tidak membencimu, Celine... ".
" Benarkah...??. ", tanya Celine berusaha mencari kejujuran dimata Arsha.
Celine langsung menghambur memeluk Arsha dengan erat, " Makasih Sha... ".
Arsha mengusap pelan punggung Celine, "Sekarang kamu harus istirahat dulu yah, kamu harus cepat pulih biar kamu bisa keluar secepatnya dari sini. ".
" Tolong bawa aku pergi dari sini Sha, aku sama sekali nggak bisa tidur disini. Aku ingin pulang Sha... ", Celine kembali menangis sambil memeluk Arsha semakin erat.
" Kamu mau pulang kemana?. Jadwal Penerbangan ke Inggris semalam ini pasti tidak ada. ".
" Aku nggak mau pulang ke Inggris Sha, aku mau pulang ke rumah kita Sha... ".
__ADS_1
Arsha terdiam membisu, apa yang harus dia lakukan sekarang?. Apa harus menuruti dulu keinginan Celine?. Sampai kapan dia harus mengalah dengan keadaan yang merepotkan ini?.
" Sha... Aku ingin pulang ke apartement mu, hanya disana aku bisa tenang Sha... ".
Arsha masih terdiam, mungkin kali ini dia memang harus kembali mengalah, dan berharap setelah Celine bisa tenang disana, dia akan lebih mudah mengajaknya bicara tentang kebenaran status mereka berdua.
" Arsha... ", panggil Celine menyadarkan Arsha.
" Baiklah... ", sahut Arsha singkat.
" Makasih Arsha... Aku sangat bahagia Sha... ", Celine kembali memeluk Arsha dengan sangat erat. Sementara itu Arsha hanya terdiam, dan berharap semoga keputusannya kali ini benar-benar akan menjadi jalan terang untuk masalah ini.
*
Rania terjaga dari tidurnya dengan nafas tersengal setelah bermimpi buruk tentang sesuatu yang sangat menyedihkan di mimpinya.
" Astaghfirullah... ", Rania memegang dadanya yang masih berdebar kencang tak beraturan, kemudian melirik jam digital diatas nakas, ternyata masih jam tiga pagi. Dan kemudian tersadar kalau dia ternyata tidur sendirian semalaman, sepertinya Arsha belum pulang setelah menerima panggilan dari orang yang bernama Bobby tadi malam. Rania mendesah pelan, entah apa yang terjadi dan sedang dilakukan suaminya sampai tidak bisa pulang ke rumah. Rania menggelengkan kepalanya berusaha mengusir pikiran negatifnya dan segera beranjak dari tempat tidur menuju ke kamar mandi. Ingin menghapus bayangan mimpi tadi dan juga prasangka jeleknya dengan air wudhu dan sekalian menunaikan sholat tahajud.
Setelah selesai sholat tahajjud, Rania kembali merebahkan tubuhnya ditempat tidur, rasa kantuknya seolah hilang saat ini. Rania meraih ponselnya diatas nakas, mencoba membuka HP nya barangkali suaminya mengirim kabar padanya. Rania harus kecewa setelah melihat ponselnya, ternyata tidak ada notifikasi sama sekali dari Arsha, baik itu panggilan ataupun pesan. Yang tertera di ponselnya hanya pesan gambar yang dikirimkan Sarah sekitar dua jam yang lalu, berarti sekitar jam satu dini hari Sarah mengirim pesan itu padanya.
Rania mengerutkan dahinya, bertanya-tanya ada apa Sarah sampai mengirim pesan foto padanya di jam-jam istirahat tidur. Sebenarnya Rania malas untuk melihat pesan itu, dia takut pesan itu akan membuatnya kecewa dan sedih seperti waktu itu. Tapi rasa penasarannya jauh lebih besar sekarang mengalahkan ketakutannya, pasti foto ini ada hubungannya dengan Arsha suaminya sendiri. Dengan ragu Rania menerima pesan itu, dan spontan matanya langsung membulat menatap foto dari tangkapan layar postingan IG bernama @Lilysha. Pandangan matanya seketika kabur oleh kabut airmata yang siap meluncur berjatuhan ke pipinya, menatap kosong foto sebuah ruangan kamar tidur yang sangat dia hapal, dengan caption dibawahnya bertuliskan ' Finally, I'm home with you... 🤍'.
Rania terisak perih, sepertinya masa lalu Arsha akan terus menjadi bayangan dalam pernikahan ini. Sekuat apapun dia menahan rasa sakitnya, toh tidak bisa lagi menahan rasa cemburu saat melihat suaminya sendiri sekarang sedang berhubungan lagi dengan masa lalunya. Sanggupkah dia menjalani ikatan pernikahan yang tanpa rasa cinta ini?. Bukankah pernikahan ini memang hanya sebuah keterpaksaan semata, tapi kenapa sekarang terasa begitu sakit melihat kenyataan bahwa suaminya sedang bersama wanita lain. Apakah benar dia cemburu?. Dan... apakah artinya sudah ada cinta dihatinya lagi saat ini?.
__ADS_1
*