
Mendung mulai bergelayut dilangit yang sudah mulai menggelap karena akan berganti petang.
Rania dan Arsha masih berada di hotel Princess setelah tadi baru saja selesai mengadakan dua pertemuan berturut-turut dengan pimpinan dari perusahaan yang berbeda.
Dani tidak jadi menyusul ke hotel karena tadi Arsha memberikan tugas untuk menyelesaikan masalah proyek apartement, mengejar target tahun ini, yang pembangunannya sudah harus dimulai sesegera mungkin.
Arsha melangkah menuju Lobby hotel, Rania mengikuti dibelakangnya dengan mempercepat langkahnya supaya tidak tertinggal jauh dari Arsha. Postur badannya yang tinggi dengan kaki panjangnya tidak sebanding dengan Rania yang hanya mempunyai tinggi badan 155 cm. Jadi setiap satu langkah bagi Arsha, itu sama saja tiga atau dua kali lipat Rania melangkah.
Arsha menghentikan langkahnya begitu sampai dimobil yang sudah terparkir di depan lobby hotel.
"Selamat sore Pak Arsha.", sapa Pak Joko yang sudah setia menunggu di lobby sebelum tuannya keluar dari hotel.
"Sore Pak Joko. Pak Joko sudah makan?".
"Sudah tadi pak, di warung depan sana.".
Arsha menatap Rania yang masih berjalan kearahnya dengan langkah tergesa-gesa. Kemudian tertawa kecil melihat Rania yang seperti sedang mengatur nafas nya yang memburu.
"Kamu kenapa Rania?", tanya Arsha menatap lucu pada Rania yang terengah-engah nafasnya.
Rania masih mencoba mengatur nafasnya sebelum menjawab pertanyaan dari Arsha, "Nggak papa, Pak", ucap Rania malu sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Arsha langsung masuk kedalam mobil, lewat pintu yang sedari tadi sudah dibuka oleh pak Joko.
"Ayo mbak Rania, silahkan masuk.", ajak pak Joko pada Rania.
"Makasih pak Joko, aku pulang nya naik taksi saja.".
Arsha menurunkan kaca mobilnya, "Masuklah, nanti biar sekalian diantar pak Joko.".
"Nggak papa, Pak. Saya pesan taksi saja.", bantah Rania tak enak hati.
"Ayo Rania. Mobil dibelakang sudah menunggu."
Rania menoleh ke mobil yang berada tepat dibelakang mobil Arsha, yang sedang menunggu giliran untuk masuk kedepan lobby hotel.
Akhirnya Rania terpaksa masuk mobil Arsha, tidak enak juga dengan orang yang sedang menunggu dimobil itu. Rania duduk disebelah kursi kemudi pak Joko dan mulai merapikan bajunya yang sedikit berantakan.
"Rumah mbak Rania dimana?", tanya pak Joko saat sudah mulai melajukan mobil.
"Di perumahan permata indah, Pak.", jawab Rania ramah.
"Ohh, perumahan yang dekat sama kantor itu ya mbak?".
"Iya betul, Pak Joko. ".
Arsha yang duduk dijok belakang hanya mendengarkan sambil memainkan ponsel nya.
"Mbak Rania, kalo berangkat kerja naik apa?".
"Naik motor, Pak".
Arsha menatap punggung Rania dari belakang
'Naik motor? dengan pakaian seperti itu?', batin Arsha keheranan, karena yang dia tau Rania sehari-harinya selalu memakai rok panjang atau celana kulot yang lebar, apa tidak susah kalo naik motor dengan pakaian seperti itu?.
"Kalo naik motor memang lebih cepat ya mbak, dulu saya pernah tinggal didekat perumahan itu, mbak Rania. Saya ngontrak disitu mbak, hampir sepuluh tahun. Makanya saya hapal betul jalan-jalan didaerah situ mbak.".
__ADS_1
"Pak Joko, dulu didaerah mana tinggal nya?".
"Itu lho mbak, belakang perumahan kan ada masjid, nah kontrakan saya ada dibelakang masjid itu.", jawab pak Joko dengan semangat.
"Oh iyaa, anak saya juga sekolah disebelah masjid itu, Pak.".
"Oiya betul mbak, yang sekolahan Islam itu kan mbak. Bagus itu mbak sekolahnya, banyak pelajaran ngajinya, muridnya juga pinter-pinter disana.".
"Iya Pak, Alhamdulillah... ", Rania tersenyum senang.
"Sudah kelas berapa anaknya mbak?".
"Baru playgroup Pak, tahun besok sudah naik ke TK. Rencana nya juga mau disitu lagi TK nya.".
"Cowo apa cewe mbak, anaknya?".
"Alhamdulillah, cowo, Pak".
"Umur berapa sekarang putranya, mbak?".
"Alhamdulillah sudah hampir lima tahun, Pak.".
"Wah, kalo anak umur segitu pasti lagi aktif-aktifnya itu ya mbak.".
"Iya pak, anaknya sangat aktif, lagi seneng-seneng main.", ucap Rania dengan bahagia, senyumannya merekah lebar membayangkan Andra anaknya.
Arsha terdiam, mengalihkan pandangannya keluar jendela, menatap lalu lalang kendaraan disamping mobilnya. Ingatan masa lalunya tiba-tiba kembali datang, peristiwa yang sangat menyedihkan untuk nya. Seandainya Celine tidak melakukan perbuatan itu, pasti anaknya juga sudah sebesar anak Rania. Arsha menghembuskan nafasnya yang terasa berat dan sesak. Memejamkan kedua matanya dengan erat, merasakan sedih, marah dan kecewa yang masih tertinggal selama lima tahun ini.
Tanpa terasa mobil sudah memasuki area perumahan tempat tinggal Rania.
Arsha terbangun dari lamunannya saat mendengar suara Rania. Matanya mengamati perumahan sederhana disekelilingnya.
"Nggak papa, mbak. Saya hapal jalan di sini kok. Rumah mbak Rania di blok berapa?".
"Blok lima Pak, masih 2 blok lagi didepan, terus nanti baru belok kanan.".
Pak Joko menurunkan kecepatan laju mobil, badannya maju kedepan menempel pada stir mobil sambil melihat awas papan tulisan blok perumahan.
Saat sudah sampai di blok lima, mobil berbelok memasuki blok perumahan Rania tinggal.
"Pak Joko, itu rumah saya yang didepan sebelah kiri.", Rania menunjukkan tangannya ke rumah dengan warna cat putih terang.
Arsha mengikuti arah jari telunjuk Rania, rumah sederhana dengan cat berwarna putih. Lebar hanya kurang lebih 7 meter, bahkan dibandingkan dengan kamarnya masih jauh lebih lebar kamar tidur nya.
"Alhamdulillah, sudah sampai. Terimakasih pak Arsha, Terimakasih pak Joko", ucap Rania sebelum turun dari mobil.
Arsha hanya menganggukkan kepalanya.
"Iya mbak, selamat istirahat ya mbak.", ucap pak Joko dengan ramah.
"Iya Pak, hati-hati dijalan ya Pak".
Rania menatap mobil Arsha yang sudah menjauh, lalu berjalan masuk kedalam rumahnya.
*
"Bunda, om Dani kapan main ke sini lagi?".
__ADS_1
Rania mengambil lego berwarna hitam, lalu memasangnya dengan hati-hati. Saat ini dia sedang menemani Andra bermain lego.
"Om Dani kan orang yang sibuk, Andra harus bersabar.".
"Andra sudah nda sabar, pengin punya pistol kayu kayak punya om Dani".
Rania tersenyum mendengar rengekan Andra, "Om Dani pasti menepati janjinya, tapi tidak tau kapan, karena om Dani sekarang masih sibuk.".
Andra terlihat sedikit kecewa mendengar jawaban Bunda nya.
"Andra sudah sampai mana ngajinya?", tanya Rania mencoba mengalihkan perhatian Andra.
"Sudah sampai surat An Naba, Bunda".
"Waahhhh, MasyaAllah hebat sekali anak Bunda, sudah mau khatam juz 30 nya.", Rania memeluk Andra, kemudian mencium pipinya bergantian kanan dan kiri. Rania menatap Andra dengan perasaan haru, bangga dan bahagia.
"Kita telpon eyang yuk..", ajak Rania pada putranya.
Andra langsung mengangguk antusias. Rania langsung meraih ponsel nya dan melakukan panggilan video pada orang tuanya.
"Halooo... Assalamu'alaikum... ", terlihat wajah Ibu yang muncul dilayar ponsel nya.
"Wa'alaikumussalam... Bapak Ibu, apa kabarnya?".
"Halooo yang uti... ", sahut Andra tak mau kalah menyapa Ibu dilayar ponsel.
"Halooo Andra, yang uti kangen banget. Alhamdulillah Ibu Bapak sehat semua. Kamu, Andra dan bik Inah sehat juga kan?".
"Alhamdulillah sehat semua, Bu. Bapak dimana, bu?".
"Yang Kung dimana, Yang Uti? ", Andra ikutan bertanya pada Ibu.
"Yang kung, sebentar yaaa... Yang Kuuungg... ini Andra telpon!!", teriak Ibu dengan keras.
Sepertinya bapak sedang ada di teras depan rumah, kebiasaan bapak kalau malam hari selalu duduk santai diteras sambil menikmati jahe hangat buatan Ibu.
"Assalamu'alaikum, Andra...", sapa Bapak saat sudah muncul wajahnya dilayar ponsel Rania.
"Wa'alaikumussalam... Yang Kung...", teriak Andra bersemangat.
"MashaAllah... Andra sudah tambah besar, tambah gagah kaya tentara pelindung Bunda".
"Iya, Yang Kung nggak usah khawatir, Andra yang jadi tentara pelindung bunda disini", ucap Andra sambil menepuk dadanya sendiri.
Rania tertawa melihat tingkah lucu anaknya.
"Eyang Kung sama Yang Uti, Andra ngaji hafalan nya sekarang sudah sampai surat An Naba lho. ", ucap Rania sambil tersenyum bahagia.
"MasyaAllah... Hebat sekali cucu Eyang... ".
"Iya, Yang. Andra sebentar lagi mau Khatam juz 30 nya. Iya kan Bunda?", Rania mengangguk bahagia.
Hati Rania menghangat, melihat kebahagiaan keluarganya. Bapak Ibu yang sehat, anak yang pintar, nikmat mana lagi yang kau dustakan.
Airmata kebahagiaan menggenang dipelupuk mata Rania.
'Alhamdulillah... Mas Andre, MasyaAllah anakmu pintar sekali... '.
__ADS_1