Tak Cinta Tapi Menikah

Tak Cinta Tapi Menikah
Perkenalan


__ADS_3

Rania berdiri mematung didepan pintu kamar, terdiam dan tampak ragu-ragu memasuki kamar didepannya. Ditangan kirinya terdapat nampan kecil yang sudah tersedia teh hangat dan kue kering buatannya sendiri yang akan diberikannya pada Arsha yang kini sedang berada di dalam kamar. Tadi dia sedikit memaksa supaya Arsha mau pindah ke kamar karena takut sakit perutnya akan semakin parah, setelah dipikir-pikir mungkin juga Arsha masuk angin karena semalaman terpaksa tidur di sofa ruang keluarga. Kalau mengingat kejadian semalam dan juga tragedi sarapan pagi tadi Rania jadi semakin merasa malu dan sangat bersalah karena baru saja semalam menjadi istri malah sudah membuat menderita suaminya sendiri.


' Suami... ', tangan kanan Rania memegang dadanya yang tiba-tiba berdegup semakin kencang. Tanpa bisa dihindari lagi kini dia memang harus menerima kenyataan kalau dirinya sudah resmi dan sah sepenuhnya menjadi milik suaminya. Sudah menjadi kewajiban seorang istri kalau dia harus siap melayani suaminya sendiri. Walaupun masih ada rasa yang teramat berat untuk bisa menerima pernikahan yang hampir tak pernah terpikirkan sebelumnya dalam benaknya.


Rania menarik nafasnya dalam-dalam, mencoba mengumpulkan kekuatan kembali sebelum memutar handle pintu kamar itu. Dengan pelan Rania memutar handle pintu karena takut mengganggu kalau ternyata Arsha sedang tidur didalam kamar.


Ternyata dugaan Rania salah, Arsha kini sedang duduk manis bersandar dikepala tempat tidur sambil memainkan ponselnya. Mata elangnya beralih dari layar ponsel ditangannya ke wajah Rania yang kini sedang berjalan pelan mendekati tempat tidur. Penampilan nya masih sama seperti tadi malam, memakai kaos oversize miliknya dan celana kedodoran yang benar-benar menenggelamkan kaki kecilnya, tidak ketinggalan kepalanya masih ditutupi handuk kecil menutupi rambutnya.


" Pak Arsha, ini ada teh hangat dan kue kering. ", ucap Rania begitu sampai disamping tempat tidur.


" Kamu yang membuat nya sendiri? ", tanya Arsha penasaran melihat kue kering berwarna krem pekat diatas piring yang masih agak mengebul asap diatasnya.


" Iya, saya yang membuat sendiri. Maaf kalau rasa nya tidak enak.".


Arsha tersenyum menatap Rania yang kini tertunduk antara takut dan malu padanya. " Sepertinya enak, itu kue apa namanya? ", tanya Arsha berusaha memecah kecanggungan yang tiba-tiba tercipta diantara mereka berdua.


" Ini almond cheesy cookies, camilan kesukaan Andra kalau sedang santai dirumah. Maaf saya hanya bisa membuat makanan yang Andra sukai. "


" Oke, nggak masalah, aku juga suka kue kering seperti itu."


" Apa perutnya masih sakit? ", tanya Rania ragu, sepertinya kalau melihat ekspresi wajah tenang Arsha seharusnya sakit perutnya sudah hilang.


" Ohh... perutku sekarang sudah enakan, kamu nggak usah khawatir, aku memang sering mengalami hal seperti itu. ".


Dibalik tubuh kekar dan sikap angkuhnya dikantor ternyata Arsha orang yang punya masalah serius dengan lambungnya sampai stok obat lambung di almari sangat lengkap dari dosis kecil sedang sampai berat. Apa mungkin karena pola makan nya selama ini yang tidak teratur, atau memang sudah riwayat sakit lambung dari sejak lama?. Entahlah, Rania saja baru mengenal sosok Arsha beberapa bulan yang lalu, itupun sebatas hubungan kerja saja, untuk masalah pribadi Rania sama sekali tak tau dan tak mau tau, mengingat sikap dingin Arsha saat dikantor padanya.


" Saya letakan disini saja ya pak. "


" Tunggu!! Jangan letakan disitu. "


Rania menegakkan tubuhnya yang sudah terlanjur membungkuk saat akan meletakkan nampan diatas nakas sebelah tempat tidur. Kemudian menatap Arsha dengan ekspresi bingung.


" Emm.. Rania apa kamu mau menemani ku makan kue itu? ", tanya Arsha ragu-ragu.


Rania hanya terdiam bingung tak mengerti maksud perkataan Arsha.


" Aku ingin kita ngobrol santai saja di situ. ", tunjuk Arsha pada ruangan kecil diluar jendela kaca besar dekat tempat tidur. Ruangan yang didesain minimalis tapi tetap terkesan mewah dan elegan yang sepertinya biasa digunakan oleh pemiliknya untuk bersantai sambil menatap suasana kota dari lantai atas.


" Rania... ".


Rania langsung tersadar mendengar panggilan dari Arsha yang kini sedang menatap nya seperti menunggu jawaban darinya. " Ahh.. iya baik, saya letakkan ini di sana ya Pak. ", ucapnya langsung berlalu meninggalkan Arsha yang masih duduk di ranjang.

__ADS_1


*


Rania langsung meletakkan nampan kecil diatas meja berbentuk oval kemudian mengedarkan matanya melihat suasana ruangan kecil yang sepertinya sangat lekat dengan nuansa seorang wanita. Sofa soft pink diatas karpet bulu yang sangat halus berwarna krem tua, lukisan bunga lily berukuran lumayan besar berwarna pink menempel cantik didinding sebelah kiri. Di sudut sebelah kanan terdapat rak buku dan majalah yang terjejer rapi isinya. Benar-benar seperti ruangan untuk seorang perempuan yang ingin melepaskan lelahnya sambil menikmati suasana keindahan kota. Ini sama sekali bukan gaya Bos nya dikantor yang sangat manly.


" Duduklah Rania. "


Rania tersentak kaget menyadari kehadiran Arsha yang kini sudah ada disamping nya. Kemudian langsung duduk disofa yang ditunjuk oleh Arsha. Rasanya ada sesuatu yang menggelitik dipikirannya saat ini, tapi entah apa yang membuat nya tiba-tiba merasakan tak nyaman saat memasuki ruangan ini.


" Apa Cantika sering main ke sini? ", tanya Rania penasaran sambil terus mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.


Arsha terdiam, pasti Rania merasa aneh dengan ruangan ini yang memang seperti dikhususkan untuk seorang wanita. Orang lainpun bisa menebaknya hanya dengan melihat semua isi dari ruangan ini. " Mama yang sering main kesini. ", jawabnya singkat sambil membuang muka ke luar jendela.


" Oohh... ", kepala Rania mengangguk berkali-kali seolah mengerti. Matanya kembali mengedar keseluruh sudut ruangan itu, sepertinya sama sekali bukan selera mama Hanum?. Ruangan ini terasa lebih feminim dan terkesan mewah dengan segala isinya. Benar-benar seperti cerminan jiwa wanita muda yang punya selera tinggi. Ahh sudahlah, buat apa juga memikirkan siapa yang membuat atau mengatur ruangan ini, Rania sama sekali tak ingin ikut campur dan tak ingin tau apapun yang bukan urusannya.


" Silahkan diminum teh nya Pak, selagi masih hangat. ", tawar Rania saat mendapati Arsha seperti sedang melamun menatap kosong jendela kaca didepannya.


" Ahh iya, kamu sendiri kenapa nggak ikut minum?", tanya Arsha tersadar ternyata Rania membawa teh hanya untuknya saja.


" Saya sudah minum tadi dibawah. "


" Rasanya canggung kalau cuma aku yang menikmati teh dan kue ini. "


" Nggak papa Pak, dari tadi saya sudah makan banyak kue kering ini karena harus memastikan rasanya pas atau belum. Maaf kalau rasanya agak aneh. "


Rania tersipu malu mendengar pujian dari Arsha, syukurlah kalau suka. Kata Andra kue kering buatannya memang enak, bahkan Andra bisa menghabiskan sendiri satu piring penuh kue kering buatannya.


" Sepertinya bakatmu bukan cuma dikantor, tapi kamu juga berbakat didapur. Kamu belajar memasak dari mana?", tanya Arsha mencoba memancing supaya Rania lebih santai dan leluasa saat mengobrol dengannya.


Rania tersipu malu, " Saya hanya mempelajari resep dari internet saja pak, karena punya anak kecil jadi harus belajar banyak soal resep makanan kesukaan Andra. ".


Rania tersenyum canggung menunggu reaksi Arsha yang hanya diam menatapnya saja, berusaha menutupi rasa malu walaupun wajahnya sekarang sudah tidak bisa mencegah semburat rona merah yang tiba-tiba muncul di pipinya.


" Rania, bisakah kita mengulang perkenalan kita lagi dengan benar? ", tanya Arsha masih lekat menatap Rania.


" Ma.maksudnya bagaimana ya pak? ", Rania balik menatap Arsha tak mengerti.


" Aku ingin kita berkenalan sebagai seorang laki-laki dan perempuan pada umumnya, bukan lagi atasan dan bawahan. Apalagi kita sekarang ehheemm... sudah menikah. Aku ingin kamu tidak lagi memanggilku dengan sebutan Pak, apalagi didepan Andra dan semua keluarga kita. Dan aku ingin kita bisa bersikap lebih santai layaknya teman tanpa ada rasa malu dan canggung. Bisakah Rania? ".


Rania mencari kesungguhan perkataan Arsha dari matanya, sepertinya Bos nya kini sedang tidak berbohong. Ada harapan besar yang terpancar dari tatapannya.


" Aku tidak akan memaksa mu lagi Rania, semuanya akan aku serahkan padamu. Aku mengerti ini akan sulit bagi kita, tapi apa salahnya kita bangun hubungan ini dengan lebih damai dan santai tanpa ada rasa kecanggungan. Kita tidak mungkin seperti ini didepan Andra dan semua keluarga.".

__ADS_1


Rania seketika tertunduk, semua yang dikatakan Arsha memang benar adanya, tidak mungkin dia akan menjalani kehidupan rumahtangga dengan rasa kecanggungan yang teramat besar seperti ini. Dia sudah memikirkan nya tadi malam, dan sudah memutuskan untuk mulai menerima walaupun masih terasa berat. " Maaf..., ", ucapnya lirih.


" Kamu nggak mau Rania? ", Arsha tampak kecewa mendengar Rania hanya mengucapkan kata maaf saja. Apa itu sebuah kata penolakan?.


" Bu.bukan seperti itu Pak... ", kata Rania buru-buru mendongakkan kepalanya menatap Arsha. " Saya bersedia menerima saran Bapak. "


Arsha tersenyum senang, kemudian mengulurkan tangan kanannya didepan Rania. " Ayo kita mulai berkenalan dengan benar. ", ucapnya sambil terus menatap Rania yang tampak ragu-ragu menyambut tangannya.


Rania meraih tangan Arsha dengan pelan, tampak ragu saat akan menangkup tangan besar milik Arsha.


" Perkenalkan aku Arsha Wiguna, 35 tahun, status sudah menikah dan punya seorang anak jagoan. ", ucap Arsha tegas sambil melempar senyum nakalnya. " Siapa namamu? ".


Rania terdiam, masih kaget dengan perkenalan konyol yang dilakukan oleh Bos nya ini. Sepertinya ada yang aneh, tapi yang dikatakan Bos nya itu memang benar adanya. Rania tertunduk dalam, apa yang harus dia katakan sekarang?.


" Heeii... kenapa malah diam saja. Siapa namamu? ", tanya Arsha sambil mengguncang tangan kecil Rania yang masih di dalam genggaman nya.


" Nama saya Rania... ", ucapnya lirih.


Arsha menghembuskan nafas dengan kasar, kecewa mendengar Rania hanya menyebutkan namanya saja. " Umur? Status?... Yang lengkap dong Rania... ".


" U.umur 28 tahun, status... menikah anak satu laki-laki. ", jawab Rania dengan pelan.


Arsha tersenyum geli, " Oke, karena kita udah saling kenal, sekarang kita bisa lebih akrab lagi dalam melakukan semua hal. ".


" Maksudnya...? ", Rania langsung mendongak menatap Arsha curiga.


" Maksudnya, kita nggak usah canggung lagi, anggap aja kita sudah berteman sekarang. ".


" Oohhh... " , ucap Rania sambil menganggukkan kepalanya berulang kali.


" Apa kamu berharap lebih dari teman Rania? ", ledek Arsha saat melihat kelegaan di mata Rania.


" Bu.bukan begitu maksudnya pak... ".


" Nah... dan satu lagi, jangan panggil aku pak! Apalagi didepan mama, Andra, Bapak Ibu dan keluarga yang lain. Apa kata mereka nanti kalo kamu masih memanggilku pak. ".


" Terus saya harus panggil apa...? ", tanya Rania bingung.


" Emmm... terserah kamu saja, yang penting jangan panggil aku pak mulai sekarang, oke! ".


" Tolong kasih saya waktu, saya mungkin harus membiasakan diri dengan situasi seperti ini. Maaf karena saya masih belum terbiasa. ".

__ADS_1


" Oke, yang penting jangan panggil aku pak di depan mama, Andra dan Bapak Ibu. ".


Rania termangu, harus memanggilnya dengan sebutan apa? Rasanya benar-benar masih sangat canggung mengingat panggilan itu sudah melekat padanya. Arsha tersenyum geli melihat Rania yang kebingungan, yah inilah tahapan awal untuk membuat Rania mulai terbiasa dengannya, tanpa harus memaksa dan membebaninya dengan status baru sebagai istrinya. Semua harus dijalani dengan perlahan dan penuh kesabaran, berharap secepatnya Rania bisa menerima pernikahan ini dengan kemauannya sendiri.


__ADS_2