
Rania bergegas turun setelah mobil Arsha sudah terparkir persis di halaman kecil rumahnya. Arsha sudah lebih dulu turun dengan tetap kekeh menggendong Andra meski Andra tadi sempat menolak nya. Sementara pak Joko sudah mengeluarkan koper dari bagasi mobil, kemudian diletakkan didepan pintu rumah.
"Assalamu'alaikum... Bude... ! Andra pulang... !", suara cempreng Andra langsung bergema begitu sampai didepan pintu rumah.
"Waalaikumsalam... ", sahut bik Inah dari dalam rumah.
"Alhamdulillah... mas Andra sudah pulang. ", ucap bik Inah saat melihat Andra, kemudian melirik kearah Arsha yang sedang menggendong Andra.
"Ayo silahkan masuk... Biar saya yang gendong Andra pak. ".
"Tidak papa Bu, biar saya saja. ", tolak Arsha saat bik Inah akan mengambil Andra dari dekapannya.
"Pak Joko, ayo masuk dulu. ".
"Nda usah mbak, saya nunggu disini saja. ", ucap pak Joko saat Rania mengajaknya masuk kedalam. Kemudian duduk di kursi teras depan.
"Bude, tolong bikinin minum buat pak Joko ya. ",
Rania langsung masuk kedalam rumah menyusul Andra dan Arsha yang sudah masuk duluan.
"Mau minum apa Pak?", tanya bik inah pada pak Joko.
"Kopi item aja kalo ada, mbak. ".
"Oya ada Pak, ditunggu sebentar ya.".
Arsha mengedarkan pandangan matanya melihat rumah Rania yang sangat kecil baginya tapi terasa nyaman dan terlihat luas karena tidak terlalu banyak perabotan didalamnya.
"Om, Andra mau duduk di sana. ".
"Oh iya. ", Arsha menurunkan Andra, lalu mendudukkan nya disofa depan layar televisi. Matanya masih sibuk menelisik sampai sudut ruangan, sampai pandangannya terkunci pada lemari kecil disudut ruangan yang memajang lego kecil-kecil dengan berbagai bentuk, yang sebagian besar bentuknya dinosaurus.
"Itu lego Andra?", tunjuk Arsha pada lemari itu.
"Iya Om, itu lego Andra. Kalo yang baru belum jadi, Andra belum selesai masang nya.".
"Oh yang tyrannosaurus ya? Coba mana Om Arsha bantu pasang.".
"Om Arsha mau susun lego nya? Tapi Andra nggak bisa main lego Om, tangan Andra yang ini masih sakit. ", tunjuk Andra pada tangannya yang sudah terpasang gips.
"Nanti Om yang pasang, Andra yang arahin Om aja biar lego cepet selesai, oke. ".
Andra mengangguk senang, "Sebentar Om, Andra ambil lego nya dulu. ".
Andra langsung berlari masuk kedalam kamar.
"Jangan lari-lari dulu Andra. ", ucap Arsha yang khawatir melihat Andra sudah berlarian dengan tangan terpasang gips seperti itu.
"Ngga papa Pak, Andra sudah biasa lari-lari seperti itu didalam rumah. ", sahut Rania dari arah dapur.
Arsha menatap Rania yang sedang membawa nampan kecil berisi secangkir teh dan segelas susu putih diatasnya, kemudian meletakkannya diatas meja samping sofa.
"Pak Arsha, terimakasih sudah mengantarkan Andra pulang. Untuk biaya... ".
"Sabtu besok aku boleh ajak Andra pergi?", potong Arsha dengan cepat.
Rania terdiam, kemudian menghela nafas panjang mengusir rasa kesalnya, kenapa kalau mau bicara soal biaya rumah sakit selalu saja dipotong?.
"Andra mau diajak kemana Pak?".
"Aku sudah janji mau beli lego dinosaurus untuk Andra. ".
"Pak Arsha sudah memberi hadiah lego mobil untuk Andra, saya kira itu sudah sangat cukup untuk Andra.".
"Tapi yang tadi bukan lego dinosaurus.", sanggah Arsha cepat, membuat Rania langsung terdiam. Susah sekali bicara santai dengan Bos nya, selama ini dia berusaha membuka komunikasi yang santai tapi selalu saja dibalas dengan kata yang singkat, padat dan jelas.
"Boleh kan?", tanya Arsha singkat dengan nada penekanan.
Rania mengangguk pasrah, seperti tidak ada kekuatan untuk menolak permintaan Arsha.
" Untuk masalah biaya... ".
"Om... ! ini lego nya. ", Andra berlari menghampiri Arsha sambil membawa wadah kotak plastik yang biasa disiapkan Rania untuk menaruh lego yang belum tersusun. Arsha langsung menerima nya dan membimbing Andra untuk duduk di pangkuannya di karpet bulu dibawah sofa. Tentu saja mengacuhkan Rania yang masih berdiri didepannya.
__ADS_1
"Ayo sini duduk, kita pasang lego nya, Oke. ".
"Oke Om!", seru Andra dengan semangat.
Rania berdiri terpaku menatap keakraban mereka, Andra memang anak yang gampang sekali akrab dengan orang lain. Tapi Bos nya? Dia sama sekali tak menyangka kalau Arsha ternyata suka sekali dengan anak kecil, padahal yang dia tau Bos nya orang yang sangat dingin dan kaku. 'Kenapa sikapnya tiba-tiba berubah?'.
*
Rania duduk diatas sajadah, dia masih enggan beranjak setelah selesai sholat ashar, karena bingung harus bagaimana. Diluar kamarnya, tepatnya di ruang tengah Arsha dan Andra masih asyik bersendau gurau dengan diiringi tawa yang pecah dari keduanya saat Arsha melemparkan jokes lucunya pada Andra.
"Andra tau ngga kenapa anak anjing dan anak kucing suka berantem?".
"Karena mereka nggak cocok Om. ".
"Salah... ".
"Terus kenapa dong om?".
"Karena mereka sama-sama anak-anak. ".
"Kok anak-anak Om?".
"Ya kan anak anjing sama anak kucing. ".
"Oh iya yaaa.... hahaha... ", Andra kembali tertawa terbahak-bahak, Rania tersenyum mendengar tawa Andra, rasanya begitu bahagia mendengar Andra bisa bercanda tawa seperti ini. Seandainya suaminya masih ada, mungkin Andra juga akan lebih bahagia lagi. " Astaghfirullah... ", Rania mengusap wajahnya dengan kasar, tidak boleh berandai-andai Rania.
"Assalamu'alaikum... ".
Terdengar suara salam dari luar rumah.
"Waalaikumsalam... ", jawab Andra dan bik Inah berbarengan dari tempat yang berbeda.
Bik Inah segera bergegas dari arah dapur menuju pintu depan rumah.
"Oh mas Dani, mari masuk mas. ".
"Bude, Andra udah pulang ya? Aku tadi ke rumah sakit ternyata sudah tidak ada diruangan nya. ".
Dani terkejut menatap bik Inah, 'pak Bos??'.
"Tuh masih main sama mas Andra didalam. ".
Dani langsung masuk kedalam rumah dengan langkah lebarnya. Dan matanya hampir lepas ketika melihat adegan dua orang, dewasa dan anak yang sedang tiduran santai di karpet bulu. Andra tidur disamping Arsha dengan berbantal lengan Arsha, dan Bos nya, 'Akh!!.. pemandangan macam apa ini? Apa dia benar-benar si Bos Kepala batu itu?!'.
Posisi Arsha yang sedang rebahan santai, dengan hanya memakai kemeja yang sudah terlepas dari celana panjang nya, dan kaki menumpu menjuntai melewati karpet, karena tubuh nya yang terlalu tinggi.
"Bos?!".
"Om Dani!", seru Andra saat melihat Dani sudah berdiri diatasnya.
" Hai Andra. ", sapa Dani.
Arsha hanya menatap Dani dengan santai.
"Bos, sedang ngapain disini?", tanyanya tak senang melihat Bos nya sudah terlihat dekat dengan Andra.
Arsha tersenyum miring melihat Dani yang begitu kaget melihat nya.
"Om Dani, Om Arsha pintar susun lego nya. Lego Tyrannosaurus yang kemarin udah jadi sama om Arsha. Andra juga dikasih lego mobil balap yang bagus banget. Tuh, lego mobilnya ada disana. ", tunjuk Andra pada lemari tempat dia menyimpan koleksi lego nya.
Dani mengikuti arah jari telunjuk Andra, lalu beralih lagi ke arah Bos nya yang masih santai tiduran dengan tangan kanan menopang kepala belakangnya.
"Andra sudah sembuh tangannya?".
"Belum Om, masih sakit sedikit. ".
"Om bawa kue muffin coklat kesukaan Andra. ".
"Waahhh, terimakasih Om. ".
"Ini siapa yang gambar?", tanya Dani melihat gips putih ditangan Andra yang sudah tercorat coret spidol hitam.
"Om Arsha, ini gambar dinosaurus. Gambar Om Arsha bagus, Andra suka. ".
__ADS_1
Dani melirik Arsha yang sedang tersenyum puas penuh kemenangan. Dani mendengus kesal melihat Bos nya yang seperti sengaja menabuh genderang perang dengannya.
"Assalamu'alaikum, mas Dani. ", sapa Rania saat keluar dari kamarnya dengan wajah penuh senyuman. Dani langsung berdiri, menyerahkan kantong plastik berisi dus muffin coklat. Arsha memutar bola matanya melihat keduanya.
"Waalaikumsalam, ini aku bawa kue kesukaan Andra. ".
"Alhamdulilah, terimakasih mas. Andra bilang apa sama Om Dani?".
"Tadi Andra udah bilang makasih, Bunda...".
"Siip, anak pintar. ".
"Mas Dani duduk dulu mas. Aku buatin minum dulu sebentar ya. ".
"Bunda.. ! Andra mau minum susu juga. ", seru Andra yang langsung bangkit dan berlari mengikuti Rania ke arah dapur.
"Pak Bos ngapain disini?", tanya Dani dengan suara berbisik, takut terdengar oleh Rania karena luas rumah yang terbatas.
"Suka-suka aku mau dimana saja.".
"Jadi tadi pak Bos yang jemput Andra dari rumah sakit?".
Arsha hanya menggedikan bahunya dan mengangkat kedua alisnya.
"Bos! Apa maksud nya melakukan ini semua?", tegas Dani tak suka.
"Maksud yang bagaimana maksudmu?".
"Kenapa Bos yang jemput Rania?".
"Aku jemput Andra!".
"Terus Rania?".
"Ya ikutlah, masa ditinggal dirumah sakit sendirian!", jawab Arsha asal.
Dani menghela nafasnya dengan keras. "Aku peringatan kan ya Bos, jangan sekali-kali mendekati Rania!", ucap Dani dengan suara penuh penekanan.
Arsha langsung duduk, kemudian menoyor kepala Dani kebelakang.
" Bos!", Dani menampik tangan Arsha.
"Bodoh! Siapa yang mau mendekati Rania! Aku sedang mendekati anaknya. ".
"Itu sama saja!".
"Kamu takut kalah bersaing dengan ku?".
Dani langsung melotot menatap Arsha penuh emosi. "Bos! Aku yang lebih dulu mendekati Rania!!", Dani mendekatkan wajahnya tepat didepan wajah Arsha.
"Otak mu sebenarnya ada dikepala apa didengkul Dan?", jari telunjuk Arsha menunjuk-nunjuk dahi Dani. Dani langsung menepis nya dengan kasar.
"Aku siap perang dengan mu, Bos!".
"Emang apa senjata mu mau perang dengan ku?".
"Senjata ku... ", Dani nampak berpikir keras, 'apa senjata ku?', Jelas-jelas dia kalah dalam segala hal jika harus bertarung dengan Bos nya.
Arsha terkekeh menatap Dani yang seperti mati kutu. Senang sekali bisa meledek Dani seperti ini.
"Senjata ku adalah perasaan tulus dan penuh cinta untuk Rania dan Andra!".
"Makan tuh cinta!", Arsha terkekeh melihat Dani yang sedang dilanda cemburu.
Andra terlihat berlari menghampiri dua orang laki-laki dewasa yang sedang saling berbisik dengan suara penuh penekanan.
"Andra, jangan lari-lari didalam rumah. ", ucap Arsha yang khawatir melihat Andra berlari.
"Hehehe. ... ", Andra hanya tertawa, dan langsung duduk dipangkuan Arsha.
Dani semakin cemburu, menatap Arsha dengan wajah tak sukanya. Arsha membalas dengan senyuman meledek, dan berbicara tanpa suara sebagai isyarat pada Dani.
"Satu kosong!!", Dani menggeram melihat tingkah Bos nya yang otaknya sudah membatu itu.
__ADS_1