
Rania berdiri mematung sambil bersandar di pintu kamar mandi yang masih terkunci dari dalam. Mama Hanum kembali berhasil memaksa dirinya dan Arsha untuk menginap di apartement ini, ada saja alasan yang membuat mereka berdua akhirnya terpaksa menuruti kemauan mama Hanum. Tadi setelah mengantarkan Bapak dan Ibu pulang ke Jogja, mama Hanum mengajak makan malam di restoran langganan mama Hanum yang terkenal dengan menu kambingnya yang sangat enak. Selesai makan malam mama Hanum meminta sopir mengantarkan Rania dan Arsha ke apartement, tadi Rania sempat menolak dengan alasan ingin bersama Andra karena sudah kangen ingin tidur dengan Andra, tapi tak disangka malah Andra sendiri yang menolaknya dan malah meminta Rania untuk menginap di apartement dengan daddy nya.
" Daddy sama Bunda tidurnya nggak boleh bareng Andra dulu, kata gemma biar Andra cepet punya adek, daddy sama Bunda harus tidur di rumah daddy dulu. Karena Andra kepengen punya adek bayi secepatnya... ", itulah ucapan Andra yang membuat Rania langsung bungkam. Sepertinya mama Hanum benar-benar sudah berhasil mencuci otak Andra.
Sekarang harus gimana lagi, kejadian yang seperti dejavu baginya dan kembali terulang sama persis seperti tadi malam. Parahnya lagi tadi siang saat Dani mengantarkan baju ganti ternyata mama Hanum hanya menyiapkan mukena dan satu baju ganti saja, masa iya harus tidur memakai baju semi formal seperti itu. Pilihan terbaik adalah dengan terpaksa memakai kaos oversize milik Arsha lagi seperti kemarin malam, daripada harus memakai kembali baju yang tadi dipakainya dan sudah tercampur dengan aroma kambing dari asap pembakaran.
Rania membuka pintu kamar mandi dengan pelan, kemudian mengintip dari celah pintu memastikan tidak ada Arsha didalam kamar. Setelah dirasa aman dia langsung bergegas masuk ke ruang walk in closet dan langsung mengambil kaos oversize berwarna biru langit dan celana panjang milik Arsha. Sekarang tinggal memikirkan bagaimana dan dimana dia akan tidur malam ini?. Masa iya harus tidur di kamar sendirian dan membiarkan Arsha kembali tidur di sofa. Bagaimana kalo sampai asam lambung nya kumat lagi?. Solusi paling tepat hanya bertukar tempat tidur saja, malam ini dia yang akan mengalah tidur di sofa dan Arsha yang akan tidur dikamar.
Rania bergegas keluar kamar untuk mencari keberadaan Arsha, dan benar saja Arsha terlihat sedang memainkan ponselnya sambil duduk santai di sofa keluarga. Tatapannya langsung beralih saat mendengar langkah Rania yang mendekat.
" Kenapa belum tidur? ", tanya Arsha saat Rania sudah berada tepat didepannya. Pandangan nya beralih ke baju yang dipakai Rania, ternyata penampilannya masih sama seperti kemarin malam hanya berbeda warna kaosnya saja, dan jangan lupa dengan handuk kecil diatas kepalanya. Arsha menelan ludahnya sendiri untuk membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba terasa kering.
" Belum ngantuk pak, Mmmm... Maaf saya pinjam bajunya lagi. ", ucap Rania pelan saat melihat Arsha sedang mengamati baju yang dipakainya.
" Ah ya, nggak papa. Pakai aja. ", ucap Arsha yang tiba-tiba jadi salah tingkah sendiri karena ketahuan sedang mengamati penampilan Rania.
" Malam ini... Biar saya saja yang tidur di sofa. ".
Arsha kembali mendongakkan kepalanya menatap Rania yang masih berdiri tepat didepannya, " No!! Kamu harus tidur di kamar, aku yang tidur disini. ", tolak Arsha langsung sambil menjatuhkan punggungnya seolah ingin menguasai sofa yang didudukinya.
" Tapi nanti gimana kalo asam lambungnya kumat lagi...? ".
" Ya nggak papa, besok tinggal minum obat terus langsung sembuh, selesai kan?!. ".
" Minum obat terus menerus juga tidak baik buat kesehatan, lebih baik mencegah dari pada minum obat. Jadi biar saya saja yang tidur disini. ".
Arsha menatap Rania yang tampak khawatir, kemudian melipat bibirnya menahan senyum saat melihat wajah Rania yang tampak gelisah karena masih merasa bersalah dengan kejadian tadi pagi. Sebenarnya asam lambung nya kumat juga bukan karena masalah tidur di sofa, tapi lebih tepatnya karena belum terbiasa sarapan nasi seperti tadi pagi saja.
" Kamu tetap harus tidur di kamar Rania...! ", ucap Arsha agak memaksa, sekarang saatnya sedikit bermain cantik dengan istrinya ini.
Rania terlihat semakin kebingungan, bagaimana ini?. Masa iya dia tega membiarkan Arsha kumat lagi asam lambungnya gara-gara tidur di sofa. "Saya mohon, malam ini tidurlah dikamar saja, saya nggak papa kok tidur disini. ".
" Oke, kalo kamu tetap memaksa! Aku akan tidur dikamar. ".
Rania langsung tersenyum bahagia mendengar perkataan Arsha yang sudah mau berubah pikiran dan mau bertukar posisi tidur malam ini.
" Alhamdulillah, saya ijin ambil selimut dan bantal dulu dikamar kalau begitu. ".
" Eeiitts... Tunggu dulu Rania. ", cegah Arsha yang langsung berdiri menghadang Rania sebelum berlalu dari hadapannya.
" Ada apa lagi? ", tanya Rania yang masih kaget karena tiba-tiba Arsha sudah berdiri didepannya.
" Aku mau tidur dikamar asaaaal... ".
__ADS_1
" Asal apa Pak? ", tanya Rania penasaran.
" Asal kamu juga tidur dikamar. ", ucap Arsha sambil menatap wajah Rania yang kini langsung berubah pias. Wkwkwk... Ingin tertawa rasanya melihat ekspresi wajahnya yang langsung pucat pasi seperti ini. ' Maaf Rania, hanya dengan cara inilah pendekatan yang bisa kulakukan. ', sedikit paksaan supaya bisa lebih cepat berhasil menyelesaikan misi.
" Em maksudnya bagaimana ya pak? ", tanya Rania seolah masih tak percaya dengan yang barusan dia dengar.
" Ya kita tidur bareng dikamar. Gimana? Kamu setuju?. Kalo kamu nggak setuju juga nggak papa siih, aku tidur disini saja. ", Arsha langsung membuang muka mencoba menahan tawanya yang hampir lolos karena melihat ekspresi wajah Rania yang sangat lucu didepannya.
" Baiklah... ", ucap Rania pelan.
" Apa...?! ", Arsha menatap Rania kaget dengan jawaban itu, kini dia sendiri malah yang shock mendengar jawaban Rania. Segampang itukah?.
" Kita tidur dikamar, nanti saya akan tidur di sofa kamar, pak Arsha bisa tidur diranjang. ".
' Sofa kamar dekat jendela, ahh sialan... ', rutuk Arsha dalam hati. Ternyata barang tak berguna itu bisa jadi alasan untuk Rania. Sofa itu selama ini memang sangat jarang dipakai, hanya seperti pajangan pemanis saja dikamarnya.
" Apa bedanya dengan tidur di sofa ini kalo begitu. No!! Kalo memang begitu keinginan mu, maka aku akan tetap tidur disini. ", besok sepertinya harus membuang jauh-jauh sofa sialan itu.
" Sofa dikamar jauh lebih lebar, jadi seperti tempat tidur single, saya bisa kok tidur di sofa itu. Saya biasa tidur ditempat tidur yang sempit. ".
" Ini bukan masalah sempit dan tidaknya sofa, tapi masa iya aku tega membiarkan kamu tidur di sofa seperti itu. ", Arsha mencoba berargumen supaya Rania sedikit membuka kesempatan untuknya.
" Terus maksudnya nanti kita tidur di ranjang bareng gitu...??".
" Yaahhh... Kalo kamu nggak mau juga nggak papa, aku bisa kok tidur disini saja. ", sekarang mau beralasan apa lagi untuk menolak tidur bareng. Arsha melirik Rania yang seperti sedang berpikir keras memutuskan persoalan tidur bersama. Lagian nggak ada salah dan dosanya kan tidur bareng istri sendiri. Sebenarnya bisa juga dia meminta haknya sebagai suami, tapi tadi siang dia dan Rania sudah membuat kesepakatan untuk memulai dengan perkenalan yang baik dan benar layaknya seorang teman, yah sebuah permulaan supaya Rania bisa membuka diri menerima Arsha yang mungkin sangat jauh dari kata sempurna sebagai seorang muslimin tentunya.
' Yess!! ', sorak Arsha dalam hati. Tenang Arsha, harus pelan-pelan dan smooth supaya Rania luluh dengan sendirinya. " Oke, kalo gitu aku mau mandi dan ganti baju dulu di atas. Oh ya Rania, apa aku boleh minta tolong? ".
" Minta tolong apa? ".
" Tolong bawakan minyak gosok ke kamar, perutku agak nggak enak karena kebanyakan makan daging kambing. ", ' step by step Arsha, semangat kamu pasti bisa. '. Modus sedikit bolehkan.
" Iya, nanti saya bawakan ke kamar. Apa perlu saya bawakan obatnya juga? ".
" Tidak usah, minyak gosok saja cukup. Oke, aku ke atas dulu ya... ".
Rania termangu ditempat menatap kepergian Arsha, apa yang barusan dia sepakati sebenarnya?. Kenapa mendadak amnesia begini?. ' Ibuuuu.... Kenapa malah jadi setuju tidur bareng sama dia... '.
*
' Hahaha... Yang benar saja... ', Arsha menatap tak percaya ranjang kamar tidurnya yang seolah sudah terbelah menjadi dua. Apa itu? Sebuah bed cover tebal berada di tengah-tengah ranjang dilengkapi dua selimut tebal yang sudah tertata rapi di sebelah kanan dan kirinya. Sungguh diluar prediksi cara Rania membelah ranjang ini.
" Apa yang kamu lakukan Rania? ", tanya Arsha masih tak percaya dengan pemandangan ranjang didepannya.
__ADS_1
" Maaf, sepertinya begini lebih nyaman. ".
" Oke... ", ucapnya pasrah pada akhirnya. Benar-benar membuat benteng kokoh supaya tidak bisa di jebol ternyata. Arsha dengan pelan naik ke atas ranjang, kemudian menatap Rania yang masih berdiri disisi ranjang lainnya. " Kenapa kamu masih berdiri disitu?. ".
" Ah iya... ", ucap Rania dengan gugup, kemudian langsung ikut naik dan langsung menarik selimut untuk menutupi kaki bawahnya.
" Oya Rania, dimana minyak gosok nya? ".
" Itu diatas meja sebelah tempat tidur. ", tunjuk Rania pada meja kecil disebelah Arsha.
Lanjut misi kedua, ingat Arsha pelan dan smooth...
" Apa aku boleh minta tolong lagi Rania? ".
" Apa yang bisa saya bantu? ".
" Mmmm... Bisa minta tolong pijat perut ku seperti tadi pagi? Rasanya sakit perut ku tadi pagi langsung enakan setelah dipijat sama kamu. ", modus mode on, usir gengsi demi prestasi. Yang penting saat ini bukanlah harga diri lagi, asal Rania mau bersentuhan saja sudah jadi pencapaian besar baginya.
Rania terdiam, ' Apa lagi ini ya Allah... ', tapi kalau urusan kesehatan mau tidak mau dia memang harus membantunya. Istri macam apa dimintai tolong saat suami sendiri sakit malah menolaknya.
" Iya, biar saya oleskan minyaknya... ", jawabnya lirih dan pasrah menuruti permintaan Arsha.
Arsha meraih botol minyak gosok disampingnya dan langsung memberikannya pada Rania. Kemudian tidur berbaring telentang di ranjang dan langsung menarik kaosnya keatas, menunggu Rania yang terlihat masih kebingungan. " Rania.. ", panggil Arsha menyadarkan Rania yang masih saja termangu.
" Ahn iya, maaf... ", ucapnya malu saat menatap perut Arsha yang sudah terbuka lebar didepannya. Dengan pelan tangan kanannya yang sudah gemetaran terulur dan mulai membalurkan minyak ke atas perut Arsha yang terasa keras dan sedikit membuncit dibagian atas karena kekenyangan. Memutar pelan ke arah pusat sambil menekankan jari-jari tangannya yang kecil seperti sedang membuat gerakan pusaran air.
" Kamu ternyata pintar juga memijat, siapa yang mengajarimu? ", tanya Arsha berusaha memecah kecanggungan yang tercipta dan rasa geli yang terus menjalar keseluruh tubuhnya saat Rania mulai menggerakkan tangannya yang mungil diatas perutnya. Lagi-lagi kena jebakannya sendiri karena ingin mengusili Rania.
" Ibu yang mengajari cara memijat. Kalau Andra sakit ibu selalu memberikan terapi pijatan terlebih dulu sebelum memutuskan memberi obat. Kata Ibu kalau Andra sakit jangan langsung diminumi obat, tapi berikan sentuhan skin to skin melalui pijatan dengan lembut, itu akan mengurangi demam dan sakit ditubuh Andra. ", terang Rania sambil terus mengusap perut Arsha dengan gerakan yang lembut dan pelan seperti yang biasa dia lakukan saat memijat Andra.
Tapi kali ini skin to skin yang dilakukan Rania bukan hanya mengobati rasa sakit diperut Arsha, ini malah benar-benar sudah membuat Arsha kelimpungan sendiri karena berusaha menahan gelenyar aneh di sekujur tubuhnya. Sungguh ide yang sangat bodoh, sesal Arsha dalam hati.
" Rania stop! ", Arsha tiba-tiba langsung menangkap tangan Rania yang sedang memutar lembut di perut bagian bawahnya. Dengan nafas memburu langsung membalikkan tubuhnya berganti dengan posisi tengkurap. ' Sial, hampir saja ketahuan!'.
" Kenapa pak?. Apa tambah sakit perutnya? ", tanya Rania yang masih kebingungan dan shock karena tiba-tiba Arsha menghentikan pijatan tangannya.
' Bukan perutku yang sakit, Rania... Tapi bagian bawah perutku yang ngilu. ', jerit Arsha dalam hati. " Perutku sudah agak mendingan, tolong pijat punggung ku saja. ", ucapnya berusaha menekan suaranya yang sudah serak karena tenggorokannya seketika terasa sangat kering.
Rania mulai membalurkan minyak gosok ke punggung dan pinggang Arsha, kemudian memijat dengan tekanan yang agak kuat. " Kalau terlalu keras dan sakit bilang saja, saya tidak begitu pintar memijat seperti Ibu. "
' Yah, sakit banget, itu ku yang sakit karena harus tengkurap begini. ', gerutu Arsha menyesali ide konyol yang sudah membuatnya tersiksa sendiri. " Pijatan mu juga enak Rania, sepertinya aku bakalan ketagihan seperti Andra. ", Arsha berusaha merilekskan tubuhnya dengan pijatan Rania di atas punggungnya, mulai mengatur nafas untuk mengusir rasa 'laparnya', benar-benar nyaman dan nikmat rasanya. Ternyata begini rasanya punya istri?. Betapa bahagianya membayangkan pulang kerja langsung diberikan pijatan oleh istri sendiri untuk menghilangkan rasa lelah.
Nikmat mana lagi yang kau dustakan wahai Arsha... Begitu terbuai dengan pijatan Rania sampai-sampai tanpa sadar langsung jatuh tertidur dengan senyuman yang masih mengembang karena menerima kenikmatan pijatan Rania dan membayangkan kebahagiaan memiliki Rania sepenuhnya.
__ADS_1
Rania tersenyum lega setelah mendapati Arsha ternyata sudah tertidur lelap dengan wajah penuh senyuman, entah sedang mimpi apa sampai sebahagia itu tidurnya. Tanpa terasa sudah hampir setengah jam dirinya memijat punggung Arsha, pantas saja dari tadi tidak ada suaranya, ternyata sudah tertidur lelap. Dengan pelan Rania menarik kaos untuk menutupi punggung Arsha yang terbuka dan menarik selimut untuk menutupi kaki panjangnya. Kemudian ikut membaringkan tubuhnya yang lelah disebelah Arsha yang sudah dibentengi dengan cover bed tebal ditengahnya. Beberapa kali Rania menguap, lalu mulai mencoba memejamkan matanya yang terasa berat karena kemarin malam dia benar-benar sangat kurang tidur. Malam ini harus tidur dengan tenang, Rania kembali mengerjapkan matanya melirik orang yang sedang tertidur lelap disampingnya. Sepertinya malam ini akan aman-aman saja, kemudian memiringkan tubuhnya memunggungi Arsha dan mulai memejamkan mata lelahnya.
*