
Rania mendesah pelan, mood nya kembali hancur saat ini. Hari minggu yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk beristirahat dari keruwetan pekerjaan dan rutinitas lainnya malah jadi hari yang sangat menguras energi dan pikiran nya.
Biasanya hari minggu seperti ini selalu diisi dengan family time bersama anaknya, menemani Andra bermain seharian atau sekedar jalan-jalan mencari jajanan atau makanan kesukaan Andra.
Tapi hari minggu ini, rumah kecilnya sedikit lebih ramai dengan kedatangan Bapak Ibu, mama Hanum dan juga Dani. Tak lupa dengan Arsha yang dari kemarin sampai pagi ini sudah menambah daftar rentetan penyebab moodnya langsung anjlok.
Arsha dan mama Hanum terlihat duduk diam disofa ruang tamu, Bapak duduk di kursi bundar tepat didepan Arsha. Sementara Dani juga ikut duduk disebelah Arsha setelah mengambil kursi teras didepan rumah. Tadi pagi mama Hanum menghubunginya dan meminta nya untuk ikut ke rumah Rania, dan sama sekali tidak mengerti apa permasalahannya sampai ada pertemuan seperti ini.
Rania, Ibu dan Andra duduk diruang tengah supaya bisa mendengar pembicaraan Bapak dan mama Hanum. Rania tertunduk dalam, pikirannya sama sekali tidak bisa dikendalikan sekarang, entah kemana dan bagaimana dia akan keluar dari masalah salah paham ini.
"Sebelumnya saya mau memperkenalkan diri terlebih dulu pada Ibu, saya Bapak nya Rania, dan yang duduk didalam itu Ibu nya Rania.", ucap Bapak membuka pembicaraan dengan mama Hanum diruang tamu.
"Oh ya, saya mama nya Arsha, Pak.", sahut mama Hanum dengan ramah. Wajahnya tampak bahagia saat ini, entah kenapa saat tadi pagi menerima panggilan dari Arsha yang memintanya untuk segera datang ke rumah Rania karena orang tua Rania ingin bertemu dengannya, perasaannya jadi sangat bahagia seperti saat mendengar kabar tentang kehamilan Cantika.
"Begini Bu, mungkin saya termasuk orang tua yang kuno dan kolot dalam mendidik anak saya. Saya hanya taat pada aturan agama Islam yang selalu membatasi pergaulan antara laki-laki dan perempuan agar terhindar dari fitnah dan juga dosa besar yang akan merugikan anak saya dan juga anak Ibu.", Bapak menarik nafasnya dalam-dalam sebelum kembali berbicara.
"Sebelumnya saya sudah membicarakan hal ini dengan nak Arsha, dan nak Arsha juga sudah menyetujui untuk menikahi Rania."
Mama Hanum menutup bibirnya dengan kedua tangannya yang spontan langsung terbuka karena saking kagetnya. Matanya terus mengerjap menatap Arsha yang kini duduk tertunduk disampingnya. Sementara Dani mencoba menahan nafasnya yang tiba-tiba memburu karena marah, melirik Bos nya dengan tatapan tajam dan marah.
"Jadi saya ingin menanyakan langsung pada Ibu, apakah Ibu setuju dengan keputusan yang telah saya buat ini?".
"Saya setuju, Pak. Saya setuju Arsha menikah dengan Rania.", sahut mama Hanum dengan cepat. Arsha menatap mama Hanum heran, 'kenapa bisa langsung setuju begitu saja?', bahkan sama sekali tidak menanyakan alasan kenapa harus menikah dengan Rania secepat ini?.
"Baiklah, saya tidak ingin menunda hal ini terlalu lama, karena saya juga harus segera kembali ke Jogja untuk kembali bertugas. ".
"Secepatnya saja lebih baik, Pak. ", ucap mama Hanum yang membuat semua orang kembali menatapnya.
"Baik, kalau begitu kita laksanakan secepatnya. Mungkin dengan menikah secara agama terlebih dulu. ", ucap Bapak kemudian.
"Maaf, Pak. Kalau bisa kita sahkan sekalian saja secara negara. Nanti untuk surat-surat dan lain-lain serahkan saja sama saya, dua hari lagi pasti semuanya beres."
"Maksudnya bagaimana ya, Bu?", tanya Bapak tak mengerti.
"Maksudnya, Rania dan Arsha bisa menikah secara resmi sekitar dua hari lagi, hari selasa sore sudah dipastikan semuanya akan siap. Bapak dan ibu tinggal menunggu saja sampai hari selasa nanti. ".
Bapak menatap mama Hanum kebingungan, sepertinya sekarang yang sangat bersemangat menikahkan anaknya malah mama Hanum.
Rania tertunduk dalam mendengar pembicaraan itu dari ruang tengah, matanya sudah menghangat dan digenangi air mata. Ibu mengusap punggungnya pelan, mencoba memberi kekuatan pada anak semata wayangnya itu Sementara itu Arsha hanya bisa terdiam pasrah mendengarkan kedua orang tua didepannya yang sedang memutuskan pernikahan dadakannya.
"Kalau begitu baiklah, kita nikahkan hari selasa sore."
__ADS_1
"Iya, Pak. Untuk semua persiapannya biar saya saja yang mengatur, Bapak dan Ibu nanti tinggal menunggu saja dirumah.", ucap mama Hanum dengan semangat, wajahnya penuh dengan senyum kebahagiaan. 'Ya Tuhan, inikah jawaban Mu?', batinnya senang sambil melirik Arsha yang masih tertunduk dalam.
*
Dani menarik tangan Arsha dengan kasar, sedikit menyeret tubuh tinggi Arsha keluar dari rumah setelah pembicaraan tentang pernikahan dadakan selesai.
"Bos!! Tega sekali kamu!!", sentaknya keras saat sudah diluar rumah.
Arsha terdiam menatap Dani dengan datar. Dani menggeram menahan dirinya yang sedang diselimuti amarah, dadanya naik turun saking marahnya pada Bos nya.
"Jadi ini caranya, main tikung dengan cara yang kotor!".
"Siapa yang menikung?", ucap Arsha dengan santai, masalah pagi ini sudah sangat menguras energi dan pikirannya, jadi dia sudah tidak ambil pusing lagi saat menghadapi Dani.
"Terus apa maksudnya tiba-tiba menikah dengan Rania?! Itu namanya menikung, Bos!!".
Arsha menoyor kepala Dani dengan pelan.
"Pikir sendiri kenapa?", ucapnya dengan malas. Dani langsung menepis kasar tangan Arsha.
"Kenapa tidak menolaknya? Aku yakin Rania juga pasti tidak akan setuju dengan pernikahan ini!".
"Coba saja kamu tanya sendiri sama Rania. Kenapa dia juga tidak bisa menolaknya, jangan tanya padaku?!".
Dani semakin marah melihat Arsha yang seperti tak serius menanggapi masalah pernikahannya dengan Rania.
"Aku peringatkan ya, Bos! Jangan main-main dengan Rania!! Jangan pernah menyakiti Rania!!", ucap Dani sambil menunjuk dada Arsha.
"Siapa yang mau main-main dengan Rania??".
"Aku tau kamu pasti tidak serius dengan Rania kan?!", ucap Dani keras.
"Mau serius atau tidak itu terserah aku, kamu bisa apa memang?".
"Bos!! Sekali lagi aku peringatkan, jangan sakiti Rania!!".
"Hehh drona! Siapa yang mau menyakiti Rania?",
Arsha tertawa pelan menatap Dani yang sedang marah padanya. Wajahnya tampak merah padam dan nafasnya berhembus dengan begitu keras.
"Ini bukan lelucon, Bos!!".
__ADS_1
"Terserah kamu lah, Dan. Aku benar-benar lelah, aku mau pulang dulu.", ucapnya malas, kemudian berbalik menuju mobilnya.
"Hey, Bos!! Aku belum selesai bicara!", tahan Dani saat Arsha mau masuk kedalam mobilnya.
"Mau bicara apa lagi sih Dan?", tanya Arsha dengan tatapan malas.
"Sekarang juga, minta batalkan saja pernikahannya dengan Rania!".
"Caranya?!", tanya Arsha singkat.
"Bilang saja tidak cinta sama Rania."
"Coba saja kamu yang bilang sendiri sama mama dan Bapaknya Rania. Aku sudah capek. "
"Kenapa tidak bilang sendiri saja?!"
"Kenapa harus aku yang bilang, kan kamu yang mau??"
"Kan kamu yang mau menikah? Kenapa harus aku yang menanyakannya?!", ucap Dani semakin jengkel.
"Ya udah, ngapain juga kamu repot-repot ngurusin perasaan Rania, aku saja nggak masalah. "
"Bos!!", bentak Dani keras.
"Udah ahh, sana pergi! Urus suratnya sampai beres. Ingat! Kamu juga harus ikut jadi saksi nya!", ucap Arsha sambil mendorong tubuh Dani kesamping supaya tidak menghalanginya yang akan masuk kedalam mobil.
Dani menahan pintu mobil yang akan ditutup Arsha.
"Bos!! Aku yang akan membatalkan pernikahan ini!!"
Arsha menatap Dani dengan tersenyum miring.
"Oke! Aku tunggu kabarnya. Selamat berjuang dan semoga sukses. Aku pergi dulu, bye. "
Dani menggertakkan giginya kuat, menatap penuh amarah pada Bos nya yang kini sudah duduk dibalik kemudi dan dengan sengaja melambaikan tangannya sambil tersenyum meledek padanya.
Tatapan matanya berubah sedih saat mobil Arsha sudah pergi meninggalkan rumah Rania, kini rasanya hidupnya seperti sudah tak bersemangat dan tak berdaya. 'Apa ini yang dinamakan patah hati?', batinnya sedih.
Selama empat bulan ini dia sudah berusaha keras mendekati Rania, dan sudah beberapa kali juga dia melamar Rania, yang berakhir dengan kata penolakan dari Rania dengan halus. Apa ini akhir dari penantiannya pada Rania, kenapa harus si Bos kepala batu itu yang akhirnya mendapatkan seorang wanita pujaan hatinya?. Harus bagaimana caranya untuk bisa membatalkan rencana pernikahan Rania dan Bos gedeg nya itu?. Dani mendesah pelan, mengusap wajahnya dengan telapak tangannya.
Tubuhnya bertambah lemas dan tak bertenaga, mengingat kembali tugas mama Hanum yang menyuruhnya mengurus semua syarat pernikahan Rania dan Bos kepala batu nya. Sudah patah hati, tertimpa tugas mengurus syarat pernikahan wanita pujaan hatinya dengan orang lain, huuhh... pupus sudah harapan yang selama ini dia tanam dalam hati, sedih sekali Dani.
__ADS_1