
Sudah hampir setengah jam Rania berdiri terpaku menatap tiga baju spesial pemberian dari mama mertua tersayang didepannya. Masih bingung mau memilih warna mana yang kira-kira pas dipakainya malam ini. Tiba-tiba tubuhnya spontan bergidik geli membayangkan dirinya sendiri memakai baju yang kurang bahan itu. Yah, tiga baju lingerie pemberian mama Hanum yang belum pernah dia pakai sama sekali, karena hanya dengan melihatnya saja dia sudah malu membayangkan tubuhnya hanya tertutup kain tipis dengan warna yang menggoda itu.
' Hhhh... Apa iya harus pakai ini biar dimaafin... ", batin Rania galau. Sudah hampir tiga hari Arsha memilih mendiamkan nya karena persyaratan permintaan maaf yang katanya belum benar dari Rania. Lalu harus dengan cara apalagi supaya Arsha mau memaafkannya?. Rania sudah berulang kali mencoba meminta maaf tapi masih saja belum benar juga caranya, dari memijat, memasak untuk Arsha, bahkan memberikan hadiah kecil untuk suaminya itu. Apa iya harus merayu dulu baru dimaafkan?. Sedangkan dia sama sekali tidak berpengalaman dalam hal menggoda laki-laki walaupun harus dilakukan pada suaminya sendiri.
Rania mendesah pasrah, dengan ragu memilih lingerie berwarna hitam yang terlihat masih layak untuk dipakainya saat ini. Dengan mata terpejam langsung memakainya tanpa melihat bayangannya sendiri dikaca karena merasa malu. Lalu secepatnya berlari turun ke lantai bawah dimana Arsha berada sebelum berubah pikiran lagi. Melancarkan misi penting yang mungkin bisa meluluskan permintaan maafnya atau mungkin malah membuatnya malu seumur hidup.
*
Arsha yang masih sibuk dengan laptopnya langsung mengalihkan perhatiannya saat mendengar derap kaki yang berlarian menuruni anak tangga.
Glek!!
Matanya langsung melotot dan mulutnya spontan menganga lebar menatap pemandangan yang sangat langka didepannya. Hampir tak percaya kalau yang sedang berlari mendekati nya adalah sosok yang sudah hampir satu bulan ini resmi menjadi istrinya.
" Rania... ?. Wooww... ", ucapnya dengan suara serak sambil merasakan detak jantungnya sendiri yang hampir mencelos keluar. Mata nakalnya terus menyusuri tubuh mungil yang sudah berdiri tepat didepannya dan hanya memakai baju hitam tipis dan sangat minim itu.
" Mas... Apa sekarang sudah bisa diterima maafnya?. ", Rania melirik malu saat melihat Arsha hanya diam saja didepannya.
" Belum. ", jawab Arsha singkat. Kemudian berjalan memutar mengelilingi Rania seperti sedang menilai penampilan Rania yang tampak seksi malam ini.
Rania langsung tertunduk lemas mendengar jawaban Arsha, " Terus aku harus bagaimana lagi supaya maa Arsha mau memaafkan aku?. ", ucapnya putus asa.
" Tergantung bagaimana nanti kamu melakukannya. ".
" Maksudnya melakukan apa?. ", tanya Rania tak mengerti.
" Bukankah kamu sekarang sedang menggodaku?. Lakukan yang benar dong... ".
" Aku nggak tau caranya menggoda. ".
" Oohhh... Oke. Sekarang aku kasih tau caranya biar kamu makin pintar. ".
" Aakhhh... Mas turunin aku...!! ", pekik Rania kaget saat Arsha tiba-tiba membopong tubuhnya seperti memanggul sebuah karung beras.
" Aku harap nanti kamu jangan menyesal karena sudah menggodaku seperti ini Rania! ", dengan langkah lebar Arsha membawa Rania kembali ke kamar. Menuntaskan hal yang sudah ditunggunya sejak lama karena tamu bulanan Rania yang datang.
__ADS_1
*
Arsha menyibak rambut panjang Rania yang menutupi pipinya, lalu dengan lembut mengusap pelan puncak kepala istrinya yang masih tertidur lelap setelah menyelesaikan misi permintaan maaf padanya. Tampak sekali wajah kelelahan setelah semalaman dipaksa untuk melayani rasa lapar yang sudah ditahan Arsha selama hampir satu minggu ini.
" Rania... ", panggil Arsha dengan suara yang lembut. " Bangun sayang, nanti terlambat sholat subuh nya. ".
Mata ngantuk Rania langsung mengerjap pelan menatap Arsha yang sudah rapi dengan baju koko dan sarungnya. " Mas Arsha udah sholat?. ".
" Udah barusan. Ayo bangun dulu, nanti setelah sholat baru tidur lagi. ".
" Kok nggak bangunin aku dari tadi?. Kan jadinya telat sholat subuhnya... ", Rania langsung menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya dan beranjak meninggalkan Arsha yang masih menatapnya dengan gemas.
" Iya maaf, aku nggak tega bangunin kamu tadi. Kamu keliatan pules banget tidurnya. ".
" Besok lagi mas Arsha harus tetap bangunin biar nggak telat sholat nya, Malaikat nanti keburu pulang nggak mau nyatet ibadah sholat nya. ", Rania bergegas masuk kedalam kamar mandi untuk melaksanakan mandi wajibnya.
*
Hari yang ditunggu akhirnya tiba juga, Rania menatap lorong sekolah yang tampak masih kosong karena muridnya masih ada dikelas masing-masing.
" Assalamu'alaikum... ", sapa Rania menyambut pelukan Andra.
" Waalaikumsalam Bunda, daddy nggak ikut jemput Andra ya?. ", mata Andra langsung mencari sosok daddy nya yang tidak terlihat disamping Bunda nya.
" Daddy tadi ada tamu, jadi daddy minta maaf sama Andra nggak jadi ikut jemput Andra. ".
" Oohhh... daddy sibuk ya Bunda. Daddy sekarang jarang jemput Andra disekolah, terus kalau pulang juga seringnya malam sama Bunda. ".
" Iya maaf sayang, daddy lagi banyak kerjaan dikantor. Yang penting kan sekarang Bunda udah bisa jemput Andra. ", ucap Rania mencoba menenangkan Andra yang seolah sedang protes karena kesibukan orang tuanya.
" Ayo kita berangkat, Andra udah ditunggu sama pak dokter. ", Rania menggandeng tangan Andra menuju tempat parkir mobil dimana pak Joko sedang menunggu kedatangan mereka. Hari ini rencananya gips Andra sudah boleh dilepas, itu yang dikatakan oleh dokter dua minggu yang lalu saat Andra kontrol rutin. Andra harus menjalani serangkaian pemeriksaan dulu untuk memastikan posisi tulang nya sudah benar-benar optimal atau belum.
" Yeeyy... Sebentar lagi tangan kiri Andra bisa dipakai!. ", sorak Andra begitu bahagia.
Sesampainya dirumah sakit Andra yang tak mau diam terus saja bergerak kesana kemari sembari menunggu gilirannya dipanggil untuk masuk ke ruang pemeriksaan. Rania hanya bisa mengamati dari jarak dekat anaknya yang super aktif itu yang seolah sedang mewawancarai beberapa pasien yang lainnya yang sama sedang menunggu giliran.
__ADS_1
" Rania... ", panggil suara dari arah belakang yang mengagetkan Rania. Rania langsung menoleh untuk mencari siapa yang telah memanggilnya tadi.
" Hai... ", sapa seorang laki-laki berjas putih bersih dengan senyum ramahnya.
" Kamu pasti kaget kan, perkenalkan aku Edo, teman Arsha. "
Rania langsung berdiri menghadap orang yang bernama Edo. " Oh iya maaf, saya Rania. ", sapa Rania ramah.
" Nggak usah terlalu formal gitu dong Rania, anggap saja aku seperti temenmu juga. ".
" Iya maaf, saya cuma belum terbiasa saja. Tadi mas Arsha telpon, katanya dokter Edo juga sedang jaga hari ini. ".
" Iya, aku juga ditelpon sama si Bos besar itu. ".
" Mana Andra?. ".
" Itu sedang ngobrol sama pasien lainnya. ", tunjuk Rania pada Andra yang sedang asyik mengobrol dengan pasien patah tulang di kakinya.
" Wahhh... ternyata benar yang dikatakan Arsha, anakmu memang anak yang pemberani seperti papanya. ", Edo tersenyum kagum melihat Andra.
" Kamu sendiri apa mau sekalian periksa juga?. ", tanya Edo pada Rania.
" Saya??. Saya sedang tidak sakit apa-apa hari ini.".
" Bukan periksa sakit maksud ku Rania. Maksudnya apa kamu mau periksa sekalian ke poli kandungan. ".
" Sekarang saya juga belum hamil. ", ucap Rania bertambah bingung, belum hamil masa periksa kandungan.
" Periksa kandungan bukan cuma untuk orang hamil saja Rania. Mempersiapkan kehamilan yang sehat juga sama pentingnya supaya nanti lebih siap untuk kesehatan bayi dan juga ibunya. Tadi Arsha yang meminta ku untuk sekalian memeriksa kesehatan kandungan mu, katanya untuk persiapan kehamilan mu nantinya. ".
Rania langsung mengerti dengan perkataan Edo, ternyata suaminya yang meminta dokter Edo agar dia sekalian melakukan pemeriksaan kesehatan kandungan nya. Rania mendesah pelan untuk mengurangi sedikit rasa kecewanya, sepertinya hanya sekedar bicara dengan Arsha saja terasa begitu sulit saat ini. Entah karena kesibukan atau karena ada hal lain yang sedang dipikirkan oleh suaminya itu, sehingga sering sekali tidak membicarakan terlebih dahulu tentang rencananya pada Rania. Masalah pemeriksaan sebelum kehamilan menurut Rania adalah hal sensitif yang seharusnya dibicarakan dengan pasangannya secara baik-baik, bukan hanya sekedar meminta dokter untuk langsung melakukan pemeriksaan saja, tapi lebih pada kesiapan pasangan itu sendiri.
" Bagaimana Rania, apa kamu mau periksa sekalian saja?. Aku bisa membantu mempercepat proses pemeriksaannya nanti. " .
" Maaf, saya sepertinya belum bisa periksa kandungan hari ini. ", jawab Rania dengan pasti. Sebuah keputusan yang mungkin akan membuat Arsha kecewa padanya, tapi dia juga tidak ingin memaksakan hal yang sama sekali tidak diinginkan sama sekali oleh nya. 'Maaf, kali ini aku sedikit egois', batin Rania sedih.
__ADS_1