Tak Cinta Tapi Menikah

Tak Cinta Tapi Menikah
Siska Cerewet


__ADS_3

" Daddy banguuun...!!. ", teriak Andra keras saat melihat Arsha ikut tidur dikamarnya dan sedang memeluk Rania dengan erat.


" Astaghfirullah... Andra, kenapa teriak gitu?. ", Rania terbangun kaget sambil mengucek matanya.


" Itu daddy kenapa ikutan tidur disini?. ", tunjuk Andra pada Arsha yang sedang menguap malas dan tetap memeluk Rania dari belakang.


" Mas, lepasin dulu... ", Rania menggeliat supaya terbebas dari pelukan Arsha.


" Daddy masih ngantuk Andra... ", sahut Arsha dengan suara malas.


" Tapi sekarang udah waktu nya sholat Subuh, alarm nya udah bunyi dari tadi, daddy nggak boleh tidur terus. ", sungut Andra.


" Sebentar lagi ya Ndra, daddy masih kangen sama Bunda mu... ".


" Mas... ", Rania mencengkram tangan Arsha yang malah semakin mengeratkan pelukannya.


" Iiihhh... Daddy nggak boleh gitu, sekarang waktu nya sholat dulu, daddy harus bangun sekarang... ", Andra dengan paksa menarik tangan Arsha yang membelit tubuh Bunda nya membuat Arsha terkekeh gemas.


" Iya jagoan... Nih daddy langsung bangun sekarang. ", Arsha langsung duduk dan menatap Andra yang seolah sedang mengintimidasi.


" Kenapa daddy ikutan tidur dikamar Andra?. ".


" Daddy kesepian tidur sendirian dikamar, jadi daddy ikut tidur disini, ternyata asyik juga tidur bertiga. Daddy jadi bisa pules tidurnya. ".


" Harusnya daddy tidurnya disebelah Andra, bukan disebelah Bunda. ", protes Andra sedikit iri karena daddy nya memilih tidur memeluk Bunda nya.


" Oh iya, maaf daddy lupa... ", ucap Arsha menyeringai sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


" Udah... Sekarang ayo sholat dulu, nanti malah telat lho shubuhan nya... ", Rania segera beranjak dari tempat tidur dan langsung menuju ke kamar mandi karena rasa mual tiba-tiba datang lagi menyerangnya. Kembali merasakan morning sickness seperti saat dulu hamil Andra, tapi kali ini tidak separah dulu karena dia masih bisa makan dan minum setelah menuntaskan rasa mualnya. Selesai dengan morning sickness nya pagi ini, Rania segera bergabung dengan Arsha, Andra dan mama Hanum di ruangan bersekat kayu jati yang dijadikan mushola oleh mama Hanum. Menjalankan ibadah wajibnya secara berjamaah dengan imam suaminya sendiri sebelum matahari muncul dan malaikat yang terlanjur pergi tanpa hasil catatan baik di raportnya nanti.


" Maaf Rania... ", ucap Arsha penuh sesal saat Rania sedang memasangkan dasi untuknya.


" Kenapa kemarin nggak bilang padaku kalau kamu lagi sakit?. ", sambungnya lagi.


" Aku hanya pusing aja mas... ", ucap Rania singkat.


" Pusing?. Hanya pusing kok sampe pingsan gitu sih Ra?. Terus kamu udah periksa ke dokter?. ", tanya Arsha khawatir.


" Udah mas, kemarin Siska langsung membawa ku ke rumah sakit, dokter bilang katanya aku hipotensi, tekanan darah ku terlalu rendah. ", Rania sedang tidak berbohong, nyatanya dia memang hipotensi. Dia hanya ingin menutupi masalah kehamilannya dulu dari suaminya sendiri.


" Apa sekarang kamu masih pusing?. ", tanya Arsha lagi yang masih merasa bersalah karena kemarin tidak bisa mendampingi Rania.


" Alhamdulillah, pusingnya udah berkurang. ".


" Harusnya kamu bilang kamu dirawat dirumah sakit mana biar aku bisa menyusul mu. ".


Rania hanya diam saja, tetap sibuk menyimpulkan dasi dileher Arsha.


" Rania... ".


" Maaf mas, kemarin aku cuma sebentar di rumah sakit itu kok. " .


" Terus kamu sama Siska kemarin pergi kemana?. Aku telpon nggak diangkat, Siska pun sama. Dani juga balik lagi ke kantor kamu nggak ada. ".


" Aku ngajak Siska makan di luar. ", jawab Rania singkat.


Arsha menatap Rania yang seperti tidak ingin menatapnya, " Maafkan aku Rania... ".

__ADS_1


Rania hanya tersenyum tipis tanpa menjawab permintaan maaf suaminya, dia bingung harus bicara apa lagi saat ini. Rasanya sudah ingin mengakhiri pembahasan yang akan mengingatkan nya pada wanita itu.


" Rania, kenapa diam aja... Please marahin aku aja kalo kamu memang marah, jangan mendiamkan ku seperti ini lagi yang malah membuat ku frustasi. ".


" Iya mas...". Rania menarik simpul bawah kemudian merapikan kerah baju hem putih suaminya, " Maaf mas, mulai hari ini aku nggak berangkat lagi ke kantor. Semua tugas udah aku limpahkan ke Siska. Aku juga udah mengurus semua berkas pengunduran diri secara resmi ke bu Winda. ", Rania berbalik setelah selesai memasang dasi dan menyibukkan diri merapikan tas kerja suaminya.


Arsha langsung memeluk erat tubuh Rania dari belakang, " Maafkan aku Rania, saat ini aku belum bisa mengatakan semuanya padamu, aku akan menjelaskan semuanya padamu setelah semua masalah ini selesai. Aku benar-benar ingin menyelesaikan semuanya secepatnya Rania, aku ingin hidup tenang hanya sama kamu dan Andra, tidak ada hal lain lagi yang aku inginkan selain membuat mu bahagia. ", Arsha menyandarkan kepalanya dibahu Rania, seolah sedang memberitahu betapa berat masalah yang sedang dia hadapi saat ini dan dia hanya membutuhkan pengertian dari Rania dengan situasi yang rumit ini.


Rania berbalik menghadap Arsha yang terlihat sangat frustasi, " Aku percaya mas... Aku akan menunggu masalah mas selesai. Tapi aku hanya ingin berpesan padamu mas, tolong jaga diri baik-baik dan selalu ingat batasan nya. ".


Arsha tersenyum lega, " Makasih Rania, tolong percayalah padaku. Aku benar-benar butuh kamu sebagai penyemangat ku Rania, aku minta kamu mengerti dengan keadaan ku ini. ", lega rasanya bisa melihat Rania yang begitu besar hatinya mau bersabar dan mengerti akan kegelisahannya.


*


Siska masih setia berdiri didepan meja kerja Arsha, menunggu instruktsi selanjutnya setelah tadi dia baru saja selesai membacakan agenda harian untuk Bos nya itu.


" Pak... ", tegur Siska saat melihat Bos nya malah diam saja menatap kosong ke tumpukan kertas diatas mejanya.


Arsha tersentak, tersadar dari lamunannya, " Oh iya... ", ujarnya salah tingkah.


" Apa ada hal lain lagi yang harus saya kerjakan?.", tanya Siska.


" Enggak ada, itu cukup. ", sahut Arsha singkat.


" Baik, kalau begitu saya permisi dulu Pak. ", Siska membalikkan badan bersiap untuk meninggalkan ruangan Arsha.


" Tunggu. ", cegah Arsha cepat, " Sebentar Siska, ada yang mau aku tanyakan sama kamu. ".


Siska langsung berbalik menghadap Arsha yang kini tampak sedang gelisah, " Iya Pak, ada yang bisa saya bantu?. ".


" Eemmm... Soal kemarin terimakasih sudah mau menolong Rania dan membawanya ke rumah sakit. ".


Arsha melirik sebal kearah Siska, jelas sekali itu adalah kata-kata sindiran untuknya. Arsha menghela nafas panjang, " Terus apa kata dokter yang kemarin memeriksa Rania?. ".


" Dokter hanya mengatakan kalau Rania hanya hipotensi saja, tekanan darah nya terlalu rendah. Mungkin dia kurang piknik kali ya Pak?. Soalnya setau saya, orang yang jarang berlibur maka akan mengalami yang namanya kejenuhan yang mengakibatkan orang itu jadi malas dan tidak bersemangat. Dulu Rania saat masih di Jogja selalu saya ajak jalan-jalan, walaupun hanya ke pantai parang tritis, nonton di mall atau sekedar makan di angkringan, tapi terbukti hal itu bisa membuat hidupnya lebih bersemangat. ".


Arsha mendengus kesal, " Bisa tidak menjawab seperlunya saja!. ", sungut Arsha kesal mendengar kecerewetan Siska.


" Maaf, itu sudah jadi passion saya Pak. Dan saya sedang menjawab semua pertanyaan Pak Bos dengan sejelas-jelasnya. ", Siska menyeringai geli.


" Apa Rania bilang sesuatu ke kamu?. Maksudnya... Apa Rania mengatakan hal yang lainnya lagi padamu?. ".


" Hhmmm... Tidak ada sama sekali. ", Siska menghela nafasnya, saatnya memberi pelajaran tambahan untuk Bos nya ini yang sudah tega membuat Rania sedih, " Sebagai seorang sahabat sejati untuk Rania, saya hanya bisa prihatin dengan kondisinya saat ini. Dia memang sama sekali tidak mengatakan apapun, tapi saya sangat tau kalau Rania menyimpan luka yang teramat sakit dalam hatinya. Rania memang orang yang tidak suka berbagi kesedihan dengan orang lain, maka dari itu dia akan menutup rapat-rapat mulutnya dan tidak akan menceritakan kesedihannya pada siapapun itu. Apa Anda tau Pak, kenapa Rania bisa sesedih itu?. ", tanya Siska mencoba memancing Arsha.


Arsha tersentak kaget dengan pertanyaan Siska, "Kalo aku tau aku tidak akan tanya sama kamu!. ".


" Ohh... Jadi anda tidak tau, pantas saja... ".


" Pantas apa maksud mu?. ".


" Ya pantas saja Rania jadi sesedih itu, suaminya saja tidak peduli dengan nya... ", sahut Siska dengan polosnya.


Arsha mengeratkan kepalan tangannya, " Kalo aku tidak peduli terus kenapa aku repot-repot tanya sama kamu?!. ", geram Arsha.


" Ohh... Jadi pedulinya cuma tanya sama orang lain, bukan malah menebus kesalahan yang sudah membuat istrinya sendiri jadi sedih seperti itu. Kalau saya jadi Rania sudah pasti saya akan marah dan pergi jauh dari orang yang sama sekali tidak peduli dengan nya. ", Siska terus.menyerang Arsha tanpa ampun.


" Apa Dani yang mengajarimu cara berbicara seperti itu dengan Bos mu sendiri?. Kamu baru dua hari kerja disini tapi gaya bicaramu udah mirip dengan asisten durhaka itu. ", sungut Arsha mulai tak sabar.

__ADS_1


" Tenang Pak, Pak Dani itu tidak mungkin mempengaruhi gaya saya yang memang sudah paten sejak dulu seperti ini. ", Siska tersenyum geli melihat wajah Arsha yang sudah ditekuk kesal.


" Sudah sana, pergi dari ruangan ku!", usir Arsha kesal, bukannya dapat informasi tentang Rania malah menambah daftar pikiran berat baginya.


" Baik Bapak Bos Arsha yang terhormat, saya mohon undur diri dulu. ".


Arsha memijat pangkal kedua alisnya karena kepalanya tiba-tiba terasa berat, memikirkan Dani yang durhaka saja sudah membuatnya pusing, sekarang malah ditambah dengan Siska sekretaris pilihan Rania yang bicara nya melebihi kecepatan kereta api patas.


*


" Kenapa senyum-senyum sendiri?. ".


Siska langsung menghentikan kegiatan nya yang sedang mengirim pesan pada Rania, melaporkan kalau suaminya baru saja menginterogasi dirinya dan dia sudah memberikan jawaban sesuai perintah dari Rania.


" Selamat pagi Pak Dani. ", sapanya sambil tersenyum canggung.


" Jangan terlalu asyik dengan duniamu sendiri. Kantor ini bukan untuk orang yang suka main-main, gunakan waktu untuk bekerja sesuai tugasmu. ".


Siska mengerucut kan bibirnya, " Saya sudah menyelesaikan semua tugas saya dengan baik dan benar. Tidak ada salahnya sedikit menghibur diri sendiri disela pekerjaan, toh hal itu sama sekali tidak mengganggu pekerjaan saya. Jadi Pak Dani tidak perlu khawatir dengan apa yang saya lakukan. ".


Dani terdiam, ternyata pintar bicara juga Siska ini, " Apa kamu sudah bertemu Rania lagi?. ", tanya Dani berusaha mengalihkan pembicaraan.


" Belum. ", jawab Siska singkat.


" Belum? ".


" Iya Pak, belum. ".


" Kemarin apa yang terjadi pada Rania?. ", tanya Dani penasaran.


" Hhmmm... Sebenarnya saya malas mengulangi nya lagi, saya barusan menjawab pertanyaan yang sama dari Pak Bos, haruskah saya mengulangi jawaban saya lagi. Atau gini aja Pak, silahkan Pak Dani diskusi saja dengan Pak Bos tentang pertanyaan Pak Dani barusan, jadi saya tidak perlu capek menjawab lagi. ".


Dani menatap geram, " Tinggal dijawab aja apa susahnya sih... ".


" Nah... Itu juga tadi perkataan yang sama dari Pak Bos. Saya kira memang Pak Bos dan Pak Dani punya chemistry yang sangat kuat jadi bisa sama gitu cara bicara nya. ", Siska tersenyum palsu.


" Kamu beneran temannya Rania kan??. ", tanya Dani heran.


" Saya adalah teman terbaik untuk Rania. Emang kenapa Pak?. ", Siska tersenyum bangga pada dirinya sendiri.


" Rania kok mau punya temen kayak kamu gini. Beda jauh dengan Rania yang lemah lembut, sopan dan selalu menyenangkan kalo diajak bicara. ".


" Dengan kata lain saya sebaliknya dengan Rania, gitu maksudnya?. ", tanya Siska tak terima.


" Ya sesuai dengan kesimpulan mu sendiri... ".


" Pak Dani yang terhormat, sekali lagi saya katakan bahwa saya adalah orang yang sangat sopan pada semua lawan bicara saya. Saya hanya menyampaikan apa yang saya tahu dan sesuai dengan kenyataan yang ada. Jadi tolong Bapak Dani jangan menyimpulkan sesuatu yang buruk pada saya. ".


" Oke, mungkin aku salah. Kamu memang teman baik Rania, tapi kamu sangat jauh berbeda dengan Rania yang saya kenal. Rania benar-benar seorang wanita yang sudah dewasa dari berbagai aspeknya. Tidak terlalu banyak bicara dan terlihat lebih tenang. ".


" Pak Dani jangan membanding-bandingkan saya dengan Rania dong, jelas sekali kalo kita memang sangat berbeda karakter nya. Saya heran dengan orang-orang disini yang selalu mengatakan kalo saya ini banyak bicara. ".


" Ya memang itu kenyataan nya. Buktikan dong kalo kamu juga bisa seperti Rania, hanya menjawab pertanyaan dengan jawaban yang benar dan seperlunya saja. ".


" Heiii... Kenapa diam saja?!. ", ledek Dani saat melihat Siska diam saja sambil menekuk kepalanya.


Siska mendelik sebal, jarinya menunjuk pada bibirnya sendiri seolah sedang menutup dan mengunci rapat supaya tidak bicara lagi. Kemudian duduk mengacuhkan Dani yang masih berdiri didepannya.

__ADS_1


*


__ADS_2