
Tangan Rania memegang erat pinggiran wastafel tempat mencuci piring, menahan getaran tangannya sendiri yang mulai terasa dingin dan kaku setelah mendengar perkataan Arsha yang masih memelukya erat dibelakangnya.
'Ya Allah, aku harus bagaimana sekarang... ?', dia sadar ini adalah kewajibannya sebagai seorang istri, tapi haruskah secepat ini? Dia benar-benar belum siap melayani Arsha, dan sama sekali tak mengira kalau Arsha akan meminta nya secepat ini. Bahkan sempat terlintas dipikirannya kalau pernikahan ini hanyalah status semata, tanpa ada hubungan lebih jauh dari keduanya dan tanpa ada hubungan fisik seperti layaknya sepasang suami-istri sungguhan.
Rania memejamkan matanya erat, saat Arsha mulai mencium tengkuknya yang terbuka karena tadi rambut nya dikuncir keatas saat akan memasak. Menahan rasa geli bercampur gelenyar aneh yang merambat keseluruh tubuhnya, dengan cepat Rania langsung membalikan tubuhnya menghadap ke wajah Arsha. Tubuhnya masih terkunci dikedua lengan Arsha yang memeluknya.
"Pak Arsha, bisakah... ditunda dulu...?", ucap Rania dengan ragu-ragu dan sangat hati-hati.
"Kenapa?", Arsha membungkuk, mendekatkan wajahnya persis didepan wajah Rania, hingga nafasnya yang panas menerpa wajah Rania yang kini sudah merona merah.
"I.itu pak, saya lupa bawa sesuatu.. ".
Arsha menatap Rania bingung dengan maksud istrinya itu, "Kamu lupa bawa apa memangnya?"
"Anu Pak, itu... "
"Apa Rania??", tanya Arsha yang sudah tidak sabar menunggu Rania bicara.
"Saya lupa bawa pil nya... ", jawab Rania dengan suara yang sangat pelan.
"Pil??... pil apa?", Arsha mengerutkan alisnya, tambah bingung dengan jawaban Rania.
"I.itu... pil kontrasepsi.", jawab Rania dengan terbata-bata.
Arsha terdiam menatap tajam pada Rania, mencoba menahan amarah yang tiba-tiba muncul dari dalam dadanya. "Pil kontrasepsi?? Kenapa harus pakai pil kontrasepsi?!".
Rania mulai merasa ciut dengan tatapan Arsha yang tadinya lembut tapi sekarang berubah menjadi penuh amarah. "Karena..., kita kan sudah sepakat untuk berpisah satu tahun lagi."
Arsha dengan kasar langsung melepas pelukannya pada Rania, membuat Rania terkejut dan semakin merasa ketakutan.
"Terus kenapa?! Kenapa harus pakai pil kontrasepsi?!"
__ADS_1
Rania menundukkan kepalanya, semakin takut menatap wajah Arsha yang sudah memerah karena amarah. "Karena... kalau saya hamil nanti akan lebih sulit lagi untuk mengatakan alasannya pada orang tua kita."
Arsha menghembuskan nafasnya dengan kasar, hilang sudah gairah nya malam ini, digantikan dengan amarah yang mendidih setelah mendengar perkataan Rania.
"Jadi hal itu yang selalu kamu pikirkan, Rania?!"
"Maafkan saya Pak, daripada nantinya akan bertambah banyak hati yang terluka, jadi kita harus benar-benar memikirkan tentang hal itu.", suara Rania sudah mulai terdengar parau seperti mau menangis. Dia tau hal ini adalah dosa besar karena sudah mencoba menentang kodratnya sebagai seorang wanita muslimah yang sudah menikah.
Arsha mengepalkan kedua tangannya dengan sangat kuat, hingga kedua otot tangannya mengeras.
"Memang kenapa kalau kamu hamil?! Apa kamu tidak mau mengandung anakku?!".
Rania memejamkan matanya yang sudah digenangi air mata, 'Astaghfirullah... ampuni hamba ya Allah... '.
"Bu.bukan seperti itu pak... ", Rania menunduk dalam, tak berani lagi menatap mata Arsha didepannya. Buliran airmata sudah mulai berjatuhan membasahi pipinya.
"Baiklah, sepertinya kita memang harus saling bicara tentang hubungan ini."
Rania hanya mengangguk patuh mendengar saran dari Arsha, memang benar mereka harus membicarakan tentang hubungan mendadak ini supaya tidak ada lagi kesalahpahaman nantinya.
*
" Sekarang katakan padaku apa yang sebenarnya kamu inginkan dari hubungan ini? Aku tau semua ini serba mendadak. Dan aku juga tau kita sama-sama tidak mempunyai perasaan satu sama lainnya. Aku tau kamu pasti belum siap dengan semua ini. Sekarang katakan padaku apa mau mu untuk hubungan kita kedepannya?", Arsha menatap Rania yang sedang duduk diam di depannya, kepalanya masih menunduk tak berani menatapnya.
" Maafkan saya, karena memang ini benar-benar diluar pemikiran saya selama ini. Saat ini saya sebenarnya hanya ingin fokus dengan Andra. Dan sama sekali belum memikirkan tentang pernikahan lagi. Saya masih belum siap untuk menjalani pernikahan lagi. ", Rania melirik Arsha yang sedang menatapnya dengan lekat.
" Dan saya masih tidak mengerti kenapa pak Arsha menerima permintaan bapak? Seandainya pak Arsha berani menolak saat itu, pasti semua ini tidak akan terjadi. "
Arsha terdiam, memang benar yang dikatakan Rania, seandainya dia menolak permintaan bapak pasti semua ini tidak akan terjadi. Kehidupannya akan berlangsung seperti biasanya, begitu juga hubungannya dengan Rania masih sebatas Bos dan sekretaris saja. Tapi dia sungguh tidak akan rela kalau harus menjauhkan diri dari Andra. Itulah alasan terberat kenapa akhirnya dia menyetujui pernikahan ini saat Bapak mengancamnya untuk menjauhi Andra jika tidak menikahi Rania.
" Saya sama sekali tak mengerti kenapa pak Arsha bisa menerima keputusan bapak?! ".
__ADS_1
" Karena... aku menginginkan Andra. ", ucap Arsha cepat.
" Apa?!", Rania balik menatap Arsha tak percaya.
" Aku sangat menyayangi Andra, itu alasan yang sebenarnya kenapa aku tidak bisa menolak permintaan bapak. "
Arsha menatap mata Rania yang seolah masih dipenuhi tanda tanya besar untuknya.
" Aku juga tidak tau kenapa aku begitu sangat menyayangi Andra. Aku sangat tidak rela kalau harus dijauhkan dari anakmu. Maafkan aku karena aku sudah menyeretmu ke posisi yang pastinya sangat sulit diterima. Aku tau ini mungkin hal yang aneh buatmu, tapi itulah alasan yang sebenarnya."
Rania terdiam seperti masih tidak mengerti dengan alasan Arsha. " Tapi kenapa...? Kenapa harus Andra? ".
Arsha menatap mata Rania dengan tatapan sendu, tak mungkin dia mengatakan kalau Andra seperti jelmaan anaknya. Pasti akan lebih banyak lagi cerita masa lalunya yang akan terbongkar.
" Itulah alasan yang sebenarnya, aku tidak mau dipisahkan dari Andra.", ucapnya lirih.
*
Rania menatap kosong lampu tidur yang masih dibiarkan menyala disebelah ranjang besar kamar tidur apartement suaminya. Rasa kantuk nya benar-benar telah hilang karena pikiran nya masih sibuk memikirkan kata-kata Arsha tadi saat diruang keluarga. Mengetahui bahwa ternyata anaknya lah alasan Arsha menerima pernikahan ini. Dia sama sekali tidak habis pikir dengan jalan pikiran Bos nya itu, bagaimana mungkin begitu cepat merasa terikat dengan anaknya? Padahal mereka juga baru bertemu hanya beberapa kali saja.
Entah apa yang harus dilakukannya setelah tau alasan yang sebenarnya, semua masih tidak bisa diterima oleh akal sehatnya. Benar-benar tak mengerti harus bagaimana lagi. Harus bagaimana menjalani hari-hari kedepannya dengan Bos nya sekaligus suaminya itu. Melihat sikapnya yang berubah drastis setelah menikah membuat hati Rania sedikit meragu akan bisa menjalani pernikahan ini dengan hati yang damai dan tenang. Sepertinya akan lebih sulit lagi menghadapi hari esok, entah sampai kapan dia akan bertahan.
Rania menghela nafas panjang, menelentangkan tubuhnya yang lelah menghadap lampu kristal yang tergantung manis di tengah langit kamar tidur itu. Sudah hampir jam dua pagi tapi dia masih belum bisa memejamkan matanya. Suhu pendingin ruangan yang semakin terasa dingin menambah kesenyapan kamar tidur yang berukuran layaknya lapangan bola voli. Sebenarnya Rania enggan tidur dikamar Arsha, tapi akhirnya dia dengan terpaksa menuruti perintah Arsha setelah mendapat ancaman akan memaksa menggendong Rania ke kamar dan tidur bersamanya kalau Rania masih tetap bersikukuh tidur disofa.
Rania kembali menghela nafasnya yang terasa berat, kini gelisah memikirkan Bos nya yang sekarang terpaksa harus tidur disofa ruang keluarga. Pastinya sangat tidak nyaman bagi seorang Bos besar seperti Arsha yang biasa tidur diranjang empuk dan mahal tapi sekarang harus tidur di sofa yang sempit seperti itu. Apa tidak terlalu egois membiarkan pemilik rumah malah tidur disofa, sedangkan dirinya bisa leluasa tidur diranjangnya dengan nyamannya. Bagaimana kalau dia sampai kedinginan? Sama sekali tak ada selimut atau kain apapun untuk menutupi tubuh lelaki itu.
Rania beranjak bangun dari tempat tidur, berjalan menuju walk in closet mencari selimut dilemari penyimpanan. Daripada terus menerus gelisah hati tak tenang memikirkan Arsha, akhirnya dia memutuskan untuk mencari selimut dan bantal untuk Bos nya itu.
Lampu ruang tengah sudah tampak temaram, terlihat Arsha sedang tidur meringkuk menghadap sandaran sofa di tengah-tengah ruangan keluarga. Rania menghela nafas pelan, ternyata benar dugaan nya, Arsha pasti kedinginan tidur di ruangan seluas ini. Dengan perlahan berjalan mengendap-endap mendekati sofa, kedua tangannya memeluk erat bantal dan selimut yang menempel didadanya.
Rania menatap laki-laki yang kini tampak tertidur pulas diatas sofa. Kepalanya hanya berbantal tangan kanannya yang ditekuk keatas, sedangkan tangan kirinya berada di sela-sela kedua lututnya yang meringkuk seperti orang kedinginan. Dengan pelan Rania membentangkan selimut diatas tubuh Arsha, kemudian membenahi sampai menutupi bahu atasnya. Perasaan tak enak dan bersalah kembali menyerangnya melihat Arsha yang terpaksa tidur disofa karena dirinya masih belum siap untuk berbagi ranjang dengan suaminya sendiri.
__ADS_1
" Maaf...", ucapnya lirih seolah sedang berbisik pada Arsha. Dengan langkah perlahan Rania berjalan meninggalkan ruang keluarga menuju ke kamar, dia harus menyiapkan fisik dan pikiran nya untuk menghadapi hari esok yang lebih menantang dalam kehidupan ruang tangganya.
*