
Celine kembali menyakiti dirinya sendiri setelah terbangun dari tidurnya. Pisau yang sedang dipakai untuk mengupas buah oleh Bobby direbut paksa dan dia kembali menggores tangan kirinya yang belum kering lukanya. Celine semakin histeris terus berteriak memanggil Arsha dan meminta Arsha segera datang, mengamuk dan menghancurkan barang yang ada di dekatnya, selalu mencabut selang infus yang terpasang di tangan kanannya. Dokter sudah memberikan obat penenang dan menaikan dosisnya karena Celine terus saja memberontak. Kondisinya begitu memprihatinkan, kembali tertidur karena obat penenang dengan kedua tangan dan kakinya terikat erat ditempat tidur yang sekarang ditempatinya.
Arsha terpaksa harus kembali lagi ke rumah sakit setelah mendapatkan panggilan dari Edo tadi sore yang mengabarkan kondisi Celine yang semakin tak terkendali. Sebenarnya dia sudah malas bertemu dengan Celine, tapi satu sisi hatinya sedikit terketuk karena rasa bersalah sudah membuat Celine menjadi menyedihkan seperti itu.
" Sha, kamu harus menenangkan Celine. Hanya kamu yang bisa menenangkan nya, karena saat ini obat juga tak banyak membantu kondisinya. Aku takut lama-lama dia akan terganggu kejiwaannya kalau terus menerus seperti ini. ".
Arsha terdiam, haruskah dia yang harus mempertanggungjawabkan semua ini?. Apakah ini semua akibat kesalahannya yang telah memutuskan secara sepihak hubungannya dengan Celine?. Dia sama sekali tidak bermaksud untuk menghancurkan kehidupan orang yang pernah mengisi hari-harinya dengan kisah kasih saat bersamanya dulu. Justru sebaliknya, Celine lah yang sudah menghancurkan hidupnya selama hampir lima tahun ini karena sudah memupus semua mimpinya. Tapi kenapa semua menjadi seperti ini?. Seolah sekarang semua kesalahan malah berbalik menyerangnya. Melihat kondisi Celine yang ternyata jauh lebih parah darinya membuat hatinya diserang rasa bersalah karena dengan tidak sengaja dia juga ikut berperan dengan keterpurukan CelineCeline saat ini.
" Aku akan mencoba mengajaknya bicara setelah dia bangun. Aku juga ingin segera menyelesaikan masalah ini dengan benar. ".
Edo menepuk bahu Arsha mencoba menguatkan niat baik Arsha, " Sebaiknya memang seperti itu. Bicaralah dengan pelan padanya dan untuk saat ini aku minta sama kamu jangan dulu membicarakan hal-hal yang bisa memancing emosional Celine. ".
Arsha mengangguk lemah, " Apa yang harus aku lakukan sekarang Do?. ".
" Buat dia nyaman dulu Sha, alihkan perhatian nya biar dia tenang dulu dan nggak mikirin masalah kalian. Bicarakan hal-hal yang ringan dan bisa membuat nya tenang saat ini. ".
Arsha tertunduk lemas, " Terus gimana caranya biar masalah ini cepat selesai kalau aku nggak boleh ngomong hal itu sama dia?. ", ucapnya putus asa.
" Terserah kamu mau pake cara apa, yang terpenting sekarang bagaimana caranya kamu buat dia tenang dulu. Oke Sha, aku tinggal dulu karena aku harus kembali ke ruang jaga. ", Edo kembali menepuk bahu Arsha dengan keras sebelum pergi meninggalkan ruang rawat Celine.
Kini hanya tinggal Celine dan Arsha didalam ruangan itu, Arsha terduduk lemas disofa menatap sedih wajah pucat yang masih tertidur lelap ditempat tidur pasien. Sungguh tak pernah terbayangkan sebelumnya kalau Celine benar-benar hancur karena peristiwa itu. Rasa bersalah terus menerus menyerangnya saat menatap kondisi Celine yang sangat memprihatinkan saat ini. Tapi harus bagaimana dia menjelaskan pada Celine kalau dia memang benar-benar sudah tidak ada rasa lagi padanya?. Arsha saat ini sudah memantapkan hatinya untuk seseorang yang sangat dia harapkan bisa menjadi teman hidupnya dimasa mendatang. Seseorang yang tiba-tiba hadir dihidupnya dan bisa menyiram kehidupannya yang sudah layu sejak lima tahun yang lalu. Terbit senyuman ditengah kegelisahan nya saat terbayang wajah Rania yang sedang tersenyum lembut padanya.
'Rania...', Arsha terlonjak kaget, dengan tergesa-gesa mengambil HP nya dan melihat pesan yang tadi dikirimnya untuk Rania. Tubuhnya langsung lemas saat melihat pesannya sama sekali belum dibaca oleh Rania. Kemudian mencoba menelpon Rania berharap mendapat sambutan baik dengan mendengar suara istrinya yang sangat dikhawatirkan nya sejak tadi siang. Ternyata dia harus kembali menelan kekecewaan saat panggilan telepon nya juga belum diangkat oleh Rania. ' Maafkan aku Rania, tolong bersabarlah sebentar, aku pasti akan menjelaskan semuanya nanti. ', batinnya gundah. Dia kembali mengetik pesan pada Rania, mengabarkan kalau saat ini belum bisa pulang karena ada masalah yang harus diselesaikan segera.
" Arsha... ", panggilan lirih menyadarkan Arsha dari lamunannya. Celine kini tengah menatap nya dengan tatapan sedih dari tempat tidurnya. Arsha beranjak mendekati tempat tidur Celine, " Kamu udah bangun Celine... ".
" Sha, tolong lepasin aku Sha... Aku nggak mau diiket kaya gini, aku nggak gila Sha... ", isak Celine saat menyadari kalau sekarang kedua tangan dan kakinya terikat ditempat tidur.
Muncul rasa khawatir pada diri Arsha, takut kalau Celine akan memberontak lagi seperti tadi. " Aku akan melepaskan talinya, tapi kamu harus janji dulu padaku tidak akan marah lagi, oke. ".
Celine mengangguk patuh sambil tersenyum haru menatap Arsha yang kini jauh lebih lembut padanya. Dengan pelan Arsha mulai membuka tali-tali itu dan kemudian duduk disamping tempat tidur.
" Sha, apa benar ini kamu?. Aku nggak lagi mimpi kan Sha?. ".
" Iya Celine, ini aku. ", sahut Arsha singkat. Ternyata benar yang dikatakan Edo, kini Celine jauh lebih tenang saat dia bisa sedikit menekan emosinya.
__ADS_1
" Maafkan aku Sha... Aku mengaku salah, aku nyesel udah melakukan itu Sha, aku udah bikin kamu kecewa sama aku... ", Celine kembali tertunduk terisak pilu.
" Udahlah Celine, aku udah melupakan hal itu sejak lama. ", ucapnya hati-hati mencoba menenangkan Celine.
" Benarkah?. ".
Arsha hanya mengangguk pelan, " Makasih Sha..".
Akhirnya Arsha mengalah memberikan waktunya untuk menemani Celine dan sedikit melupakan masalah mereka sampai Celine betul-betul bisa tenang. Mencoba berdamai dengan masa lalu yang sebenarnya sangat ingin sekali dia hindari selama ini. Setidaknya ini sebagai penebus rasa bersalahnya karena sudah membuat Celine jadi seperti ini akibat kemarahannya dulu.
*
" Bunda, apa daddy belum pulang?. ", tanya Andra begitu Rania selesai membacakan cerita dongeng sebelum tidur.
" Belum sayang, daddy hari ini banyak acara. ", jawab Rania singkat, " Andra, bunda malam ini boleh nggak tidur disini sama Andra?. Bunda kesepian kalo harus nunggu daddy pulang, takut kalo daddy pulang nya larut malam. ".
Andra mengangguk setuju, " Boleh bunda, Andra juga sebenarnya kangen diusap-usap sama bunda. ", bisik Andra malu-malu.
Rania tersenyum bahagia, " Bunda juga kangen sama aroma keteknya Andra. ", ledek Rania yang langsung membuat Andra manyun.
" Hehehe... Iya sayang... Bunda bercanda... Ayo tidur, udah hampir jam sembilan tuh, waktunya Andra tidur sekarang. ", bujuk Rania lembut.
Setelah sukses menidurkan Andra, Rania meraih ponsel nya yang dari tadi siang tak tersentuh karena memang dia tidak sedang ingin diganggu dengan banyak pertanyaan tentang kondisinya setelah tadi jatuh pingsan dikantor. Matanya terbuka lebar melihat begitu banyak notifikasi dari panggilan dan pesan yang masuk di HP nya. Ternyata ada puluhan panggilan dan juga pesan yang sudah menunggu untuk dibaca satu persatu olehnya. Rania mencoba membalas satu persatu pesan yang masuk, sampai akhirnya dia membuka pesan dari Arsha yang sudah menumpuk hampir dua puluh chat dan puluhan panggilan tak terjawab.
Pesan yang penuh kata-kata kekhawatiran menanyakan kondisi dan keberadaan Rania, hingga pesan terakhir yang mengabarkan kalau saat ini belum bisa pulang ke rumah karena harus menyelesaikan masalahnya. 'Pasti masalah Celine kan. ', batin Rania sedih. Rania membalas pesan itu dengan singkat, hanya kata ' iya' yang dia tulis untuk membalas pesan dari suaminya. Rasanya masih belum sanggup menghadapi suaminya sendiri setelah melihat langsung kejadian tadi siang dikantor.
Rania mengusap pelan perut ratanya, "Sehat-sehat kalian diperut Bunda ya sayang... Bunda janji nggak akan sedih lagi biar kalian bahagia terus diperut Bunda... ", Rania tersenyum bahagia. Tekadnya kini sudah benar-benar bulat untuk tidak terlalu memikirkan masalah suaminya dengan masa lalu yang belum usai itu. Kini dia hanya akan fokus menjaga diri demi Andra dan juga anak yang masih dikandungnya. Tidak ada gunanya menangisi masa lalu karena dia juga tidak akan bisa merubah masa lalu itu.
Terdengar bunyi notifikasi pesan baru yang masuk saat Rania akan meletakkan ponselnya diatas nakas. Rania penasaran apakah Arsha yang mengirim pesan lagi padanya?. Namun ternyata Sarah yang mengirim pesan gambar untuknya, dengan ragu Rania menerima pesan itu. Spontan jantungnya langsung berdetak keras saat menatap sebuah gambar tangkapan layar dari sebuah postingan IG milik seseorang. Sebuah tangkapan layar postingan IG milik orang bernama @Lilysha yang berisi foto sebuah tangan dengan selang infus dan siluet seorang laki-laki sedang duduk disofa seperti sedang menunggu orang sakit itu, dengan caption 'Thank you for staying with me...'. Rania memegang dadanya yang tiba-tiba terasa sesak, menyesal karena sudah membuka pesan dari Sarah dan membuat hatinya kini semakin sakit. Rania langsung mematikan ponsel nya dan membaringkan tubuhnya yang tiba-tiba terasa lemas. Ternyata sangat tidak enak rasanya harus tidur dengan menahan tangisan seperti ini.
*
" Dari mana kamu jam segini baru pulang Sha?. ", Arsha langsung terhenti ditempat mendengar teguran mama Hanum saat dia baru saja masuk ke dalam rumah.
" Astaghfirullah... Mommy... ", Arsha memegang dadanya yang masih berdetak kencang karena kaget.
__ADS_1
" Jawab pertanyaan mama Sha!. Dari mana kamu jam segini baru pulang?. ", ulang mama Hanum geram.
" Arsha baru menemui tamu mom... ".
" Bohong kamu Sha!. ", bentak mama HanumHanum dengan suara tertahan
" Mom... Arsha benar-benar capek sekarang mom... ".
" Kamu baru menemui Celine kan Sha?. ", tanya mama Hanum menuntut kejujuran anaknya. Sebenarnya tadi dia sudah mencari informasi dari Dani, dan dia juga sudah tahu tentang kejadian tadi siang di kantor.
" Dari mana mommy tau?. Aahh... Pasti Dani kan mom?! . ", Arsha mendengus kesal. 'Dasar drona memang', gerutunya dalam hati.
" Kamu seharian ini bersamanya kan Sha?!. Meninggalkan istrimu sendiri yang sedang sakit demi wanita itu, tega kamu Sha!. Hati mama ikut sakit rasanya. ", mama Hanum terduduk disofa sambil menutup wajahnya yang sudah beruraian airmata.
" Mom... Dengarkan Arsha dulu, situasinya sulit untuk dijelaskan mom... Arsha harus menolong Celine karena keadaannya darurat saat itu. ".
" Terus kamu tega membiarkan istri mu sendiri pingsan dan malah ditolong orang lain padahal jelas-jelas suaminya juga ada di situ. Gitu maksud mu!. ".
" Mom... Arsha benar-benar nggak tau kalo saat itu Rania pingsan. Arsha buru-buru ke rumah sakit karena Celine banyak kehilangan darah. ".
" Apa kamu nggak berpikir kalo Rania sakit hati melihat kelakuan mu Sha?!. Hati wanita mana yang akan kuat liat suaminya malah menggendong wanita lain saat dia sendiri sedang sakit. ".
" Mom... Tolong mengertilah, Arsha memang salah, dan Arsha ingin minta maaf sama Rania. Arsha nggak bermaksud menyakiti Rania mom... "
" Oke, sekarang mama mencoba mengerti Sha. Tapi mama nggak janji Rania akan tetap diam saja disini seperti saat ini. Suatu saat pasti dia akan pergi kalo kamu masih saja sibuk dengan masa lalu mu itu. ".
" Mom... Jangan bicara seperti itu... ".
" Mama bicara apa adanya Sha... Rania tidak akan selamanya diam melihat kelakuan mu itu. Jadi segera selesaikan dulu masalah mu itu Sha. Kalau kamu sampai terlambat menyelesaikannya, mama pastikan kamu akan menyesal sendiri nantinya. ".
Arsha termangu menatap mama Hanum yang pergi meninggalkannya. Kemudian berjalan ke kamarnya sendiri berharap menemukan seseorang yang bisa menjadi sumber ketenangan untuk hatinya yang sedang kacau saat ini. Tapi Arsha harus kecewa setelah mendapati kamar yang kosong tanpa penghuninya, pasti Rania malam ini sengaja menghindari nya dan memilih tidur bersama Andra. Arsha mendesah pelan, Rania pasti sangat kecewa dengannya, sama seperti yang dikatakan oleh mama Hanum tadi, dia memang sudah melakukan kesalahan yang fatal pada Rania.
Setelah mandi dan berganti pakaian tidur, Arsha bergegas menuju ke kamar Andra dilantai bawah. Dengan langkah perlahan Arsha masuk kedalam kamar itu karena takut akan membangunkan dua orang yang sudah tertidur pulas diranjang berukuran sedang itu. Arsha tersenyum lega saat menatap wajah Rania yang sudah tertidur pulas sambil memeluk Andra disampingnya. Kemudian duduk disamping Rania dan mengulurkan tangan kanannya mengusap lembut kepala wanita yang sangat dikhawatirkannya sejak tadi siang.
" Maafkan aku Rania... ", ucapnya lirih penuh penyesalan, lalu perlahan ikut membaringkan tubuh lelahnya dibelakang Rania dan memeluk tubuh kecil Rania dengan erat, menyesap aroma ketenangan yang bisa membiusnya dan membuatnya lupa dengan semua masalah yang sedang dihadapinya saat ini.
__ADS_1