
Pov Arsha
Malam ini aku terpaksa mandi air susu hangat karena kecerobohan ku sendiri, niat mau membantu malah jadi kena batunya sendiri. Huuhh... sial sekali.
Akhirnya aku menuruti perkataan Rania dan Andra untuk membilas tubuhku yang sudah lengket oleh air susu. Meskipun tadi Rania sempat terlihat ragu saat menyuruhku memakai kamar mandi di dalam kamar pribadinya. Aku tau, kamar pribadi sifatnya sangat privacy, terutama untuk para perempuan seperti Rania.
Andra menarikku masuk kedalam kamar. Kamar berukuran kecil yang hanya sebesar kamar mandi apartemenku, hanya berisi tempat tidur berukuran 160x200, lemari pakaian dan satu buah meja kecil disamping tempat tidur.
Andra langsung menuntunku kekamar mandi, dan akhirnya aku memutuskan untuk sekalian mandi saja karena tubuhku sudah terasa bertambah lengket oleh air susu tadi. Kamar mandinya pun sangat kecil, hanya ada shower dan toilet duduk didalamnya.
Aku mandi dibawah guyuran air shower, segar rasanya, setelah seharian menemani Andra jalan-jalan, atau lebih tepatnya Andra dan Rania lah yang menemaniku jalan-jalan. Karena sebenarnya aku lah yang memegang kendali, Andra dan Rania hanya mengikuti saja semua kemauanku, meskipun tadi Rania sempat tidak setuju saat aku membelikan banyak mainan dan baju untuk Andra. Jadi ingat saat Rania cemberut karena selalu kalah berdebat denganku, ternyata orang seperti Rania juga bisa marah dan cemberut seperti itu. Aku malah jadi ketagihan menggoda Rania karena penasaran dengan ekspresi wajahnya yang biasa terlihat tenang dikantor, kini malah terlihat seperti anak perempuan kecil yang sedang ngambek minta dibelikan permen. Sangat lucu dan...
Aahhh, apa yang aku pikirkan, kenapa jadi memikirkan ekspresi wajah Rania?
Aku meraih sabun cair dirak yang terpasang didinding kamar mandi, tercium aroma sabun perempuan yang lembut dan wangi, ini pasti punya Rania. Terserahlah, yang penting tubuhku bebas dari rasa lengket air susu. Lalu meraih shampo yang ada, segera ingin menyelesaikan mandi ku, karena pikiran ku malah jadi travelling karena bau sabun dan shampo Rania.
Aku langsung memakai celana panjang ku lagi, meskipun ada sedikit cipratan susu dibagian paha, terpaksa aku pakai lagi daripada tidak memakai celana di rumah Rania, dan tentu saja terpaksa bertelanjang dada karena kaos ku basah dan sangat lengket.
Andra sudah duduk manis diatas tempat tidur, sedang memainkan lego dinosaurus yang aku belikan tadi, ahh bahagia sekali melihat Andra suka dengan mainan yang aku belikan untuknya.
Andra memanggilku dan menyuruhku naik ketempat tidur, sebenarnya aku ragu tapi Andra memaksa ku untuk duduk bersamanya dan meneruskan menyusun lego.
Aku melirik bingkai foto yang ada diatas meja, foto seorang laki-laki dewasa, memakai kaca mata dan berkulit putih bersih, wajahnya terlihat tenang dengan senyum yang sepertinya sangat tulus. Andra memberitahu kalau itu adalah ayahnya. Ini mungkin salah satu cara Rania supaya Andra bisa mengenal sosok ayahnya yang belum pernah dilihatnya secara nyata sejak dia lahir. Pintar juga cara Rania mengenalkan ayahnya Andra pada anaknya.
Sudah hampir jam sepuluh malam, Andra sudah mulai mengantuk, aku menyuruhnya untuk segera berbaring. Aku kaget saat Andra meminta ku untuk mengusap punggungnya, katanya biasanya kalau mau tidur dia selalu diusap-usap oleh bundanya. Akhirnya aku ikut rebahan dikasur sambil terus mengusap punggung Andra, benar saja, tidak lama kemudian Andra langsung tertidur pulas.
Kupandangi wajah mungil, lucu, putih bersih dan tak berdosa didepanku, aku tersenyum bahagia, rasanya seperti sedang memandang anakku sendiri. Seandainya saja...
Huuhh... sudahlah, aku harus melupakan peristiwa itu, sekarang yang ada didepan ku adalah Andra, penyemangat ku saat ini, obat untuk luka ku dimasa lalu. Aku harus bangkit sekarang, dan mengubur dalam-dalam trauma dan sakit hatiku. Tanpa terasa aku malah ikut tertidur disamping Andra dengan tangan yang masih menempel dipunggung Andra.
*
Rania terbangun saat adzan subuh berkumandang dari masjid disebelah perumahan yang dia tinggali. Lalu bergegas kekamar mandi didekat dapur untuk buang air kecil dan wudhu. Saat melewati pintu kamarnya, Rania mendekatkan telinganya ke daun pintu, sepi dan tak ada suara dari dalam kamar, pasti Andra dan Bos nya masih tertidur pulas. Rania berjalan lagi menuju kamar sebelah, membentangkan sajadah dilantai dan memakai mukena yang ada dilemari, kemudian segera menunaikan ibadah sholat subuh.
Rania membuka aplikasi bacaan Al-Quran diponsel nya, lalu mulai membaca dan melantunkan surat Al Mulk dengan suara yang lirih.
__ADS_1
Setelah selesai sholat, Rania berjalan ke dapur menghampiri bik Inah yang sudah sibuk dengan persiapan memasak untuk sarapan pagi.
"Mau masak apa bude?".
"Ini mbak, bude mau masak sop ayam sama goreng tempe."
Rania meraih pisau dimeja dapur, membantu bik Inah memotong sayuran yang sudah dikeluarkan dari kulkas. Rania memang terbiasa dengan menu sederhana seperti ini, selain untuk berhemat, hal ini juga untuk mengajarkan Andra untuk makan sayuran. Terserah kalau dibilang pelit sama Bos nya, yang penting Andra mau makan sayur.
"Assalamu'alaikum... ", Rania langsung menghentikan tangannya yang sedang mengupas wortel.
"Waalaikumsalam... ", sahut nya agak keras, 'siapa pagi-pagi begini datang ke rumah?'.
"Siapa mbak?", tanya bik Inah ikut penasaran, karena tumben sekali ada tamu saat waktu subuh.
"Nggak tau bude, biar Rania saja yang buka.", Rania langsung bergegas menuju pintu depan, memutar kuncinya dan membukanya pelan. Wajahnya langsung pucat melihat siapa yang kini sedang berdiri didepan pintu rumahnya.
"Itu mobil siapa, Ra?".
"Ba-pak, I-bu... !".
"Ehh kok malah kaget gitu sih mukanya, kayak liat hantu aja, iya ini Bapak sama Ibu.", ucap Bapak yang melihat wajah anaknya menjadi pucat pasi.
"Iya ihh, kok malah bengong sih, Ra. Itu mobil siapa Ra?", tanya Ibu masih penasaran dengan mobil yang terparkir didepan rumah.
"I-itu.... ", Rania tergagap, tak bisa melanjutkan kata-katanya.
"Ihh.. ini anak, udah ah, kelamaan. Ibu mau liat Andra, ibu udah kangen sama cucu ibu. ", Ibu langsung masuk melewati Rania yang masih berdiri kaku diambang pintu.
Rania segera tersadar dengan setengah berlari menyusul Ibunya yang kini sudah memegang gagang pintu kamar Rania yang masih tertutup rapat.
"Ibu jangan.. !", seru Rania dengan suara keras. Tapi terlambat, karena sekarang Ibu yang gantian berdiri kaku diambang pintu kamar Rania yang sudah dibukanya. Matanya melotot melihat orang yang masih tertidur pulas diatas ranjang Rania.
"Astaghfirullah... !!", seru ibu sambil memegang dadanya.
Rania langsung menutup pintu kamar nya lagi
__ADS_1
"Ibu... ", ucap Rania dengan wajah pucat pasi dan ketakutan.
"Pak... Bapak... !", teriak Ibu dengan wajah panik.
"Ada apa lagi sih Bu? Pagi-pagi udah mulai ribut lagi. ".
" I-itu...", Ibu mengacungkan jari telunjuknya yang bergetar kearah pintu kamar Rania yang kini sudah dihalangi Rania dengan kedua tangannya yang membentang menutup jalan didepan pintu kamar.
Bapak semakin penasaran melihat Rania dan Ibu yang sama-sama pucat pasi.
"Buka, Ra. Bapak mau liat Andra.", ucap Bapak yang kini sudah berdiri disamping Ibu.
Rania menggelengkan kepalanya, wajahnya sudah sangat pucat dan terlihat akan menangis.
Bapak langsung memegang gagang pintu kamar
"Pak, jangan dibuka. Rania mohon, nanti Rania akan jelasin semuanya, tolong ya Pak... ", ucap Rania dengan suara bergetar.
Bapak semakin penasaran dengan apa yang terjadi didalam kamar, dengan satu sentakan pintu kamar terbuka. Meski terhalang oleh tubuh Rania yang berdiri didepan pintu, tapi bapak masih bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi didalam kamar, karena lampu kamar yang masih menyala terang.
Andra terlihat masih tertidur nyenyak memeluk lengan seorang laki-laki yang masih tertidur juga disebelah Andra, seorang laki-laki yang bertelanjang dada dan hanya memakai celana jeans yang menampakkan perutnya.
"Astaghfirullahalazim...", Bapak langsung menatap Rania dengan tatapan amarah.
Rania segera menutup kembali pintu kamarnya, kemudian memegang tangan Bapak dengan erat.
"Pak, Bapak jangan salah paham dulu ya, biar Rania jelasin dulu ya.. Rania mohon Pak, Bapak jangan marah dulu ya.. ", Rania mulai menangis ketakutan melihat Bapak yang sudah dilanda amarah, nafasnya naik turun dengan cepat dan tangannya mengepal keras. Sedangkan Ibu masih berdiri terpaku menatap Rania tak percaya.
Rania segera manarik tangan bapak Ibu untuk duduk disofa diruang tengah. Ibu menatap papper bag yang masih berjejer dan tergeletak dilantai, kemudian menatap Rania lagi yang kini sudah duduk dibawah sambil memegang kedua lutut nya.
"Ibu... ", ucap Rania pelan.
"Bapak... ", seketika tangis Ibu langsung pecah, Bapak langsung menepuk bahu Ibu yang kini sedang bersandar padanya.
"Siapa dia, Ra?", tanya Bapak dengan raut wajah mengeras. Seumur hidupnya, Rania baru kali ini melihat Bapak semarah ini. Memang keluarga nya sangat menjaga dan taat pada aturan agama Islam, Bapak selalu mengingatkan tentang dosa besar jika berhubungan dengan laki-laki yang bukan muhrimnya. Itu sudah diajarkan oleh Bapak sejak Rania masih SD, saat usianya baru akan beranjak remaja.
__ADS_1
"Pak, dia itu...".
"Rania, dimana baju ku?", Rania tercekat mendengar suara laki-laki dari arah belakangnya, badannya seketika kaku dan enggan menoleh kebelakang dimana Bapak dan Ibu sedang mengarahkan tatapan tajam mereka ke orang itu.