
Langit Jakarta masih dibayangi awan mendung dan menyisakan gerimis kecil setelah semalaman diguyur hujan. Jalanan masih basah dan tergenang dimana-mana, membuat banyak orang enggan untuk berjalan kaki mengambah trotoar.
Rania mengendarai motornya dengan pelan, lengkap dengan memakai jaket, helm, kacamata dan masker sebagai pelindung. Matanya awas melihat jalanan didepannya, karena suasana jalan saat ini yang sedikit kacau dan macet di mana-mana.
"Alhamdulillah.", ucapnya begitu sampai digedung parkir yang terletak di lantai paling bawah. Kemudian melangkah menuju lift yang akan mengantarkan nya ke lantai sebelas.
"Rania!! Tunggu!".
Rania memutar tubuhnya, mencari suara yang memanggilnya, "Bu Sarah.".
Sarah berjalan tergesa setelah sebelumnya mengunci pintu mobil pribadinya, kemudian mendekati Rania yang hampir masuk kedalam lift.
"Selamat pagi, bu Sarah".
"Pagi Rania, yuk ke atas bareng.". Keduanya memasuki lift yang sedari tadi sudah terbuka pintunya.
"Kamu tau nggak, hari ini akan ada perang yang sangat besar.".
"Perang?", tanya Rania penasaran.
Sarah menganggukan kepalanya, "Pokoknya nanti kamu harus ikut denganku. ".
"Ikut kemana bu Sarah?".
"Ikut keruang rapat.".
Rania mengingat kembali agenda Arsha hari ini, lalu menyadari maksud Sarah yang barusan mengatakan akan ada perang. Rania langsung menutup bibir nya, menahan agar suara tawanya tak keluar.
"Kamu ketawa Rania?!".
"Maaf Bu, saya ngga bermaksud seperti itu. ", Rania melipat bibir nya dan menarik nafasnya dalam-dalam mencoba menahan tawanya.
"Aku sudah siapin senjata buat melawan musuh ku itu, biar dia kapok dan ngga main-main lagi denganku.", ucap sarah sambil mengepalkan tangan kanannya dengan erat.
"Memang bu Sarah mau pake senjata apa?",
Sarah membisikkan sesuatu ke telinga Rania, Rania langsung melotot kaget mendengar bisikan dari Sarah
"Gimana, mantap kan senjataku??".
Rania masih melongo tak percaya dengan apa yang tadi dibisikkan Sarah padanya.
'Ting', pintu lift terbuka saat sampai dilantai 7, tempat kantor Sarah berada.
"Oke, Rania, aku duluan ya. Sampai ketemu nanti di tempat perang. Semangat Rania...", ucap Sarah sambil melambaikan tangannya.
"Sampai ketemu Bu Sarah. ", Rania tersenyum sambil menganggukkan kepalanya sebagai tanda hormat.
*
Medan perang yang dimaksud Sarah merupakan pertemuan penting dalam rangka penandatanganan kontrak untuk proyek apartemen terbaru dengan PT Karya perkasa selaku kolega bisnis yang akan memfasilitasi bahan bangunan yang dibutuhkan oleh PT Wiguna.
Musuh Sarah siapa lagi kalau bukan miss Luna, CEO PT karya perkasa, yang akan datang langsung ke kantor untuk menandatangani kontrak bersama Arsha.
Rania tampak sibuk dengan persiapan pertemuan yang akan diadakan diruang rapat direksi.
"Assalamu'alaikum, Rania. ".
"Waalaikumsalam.." , sahutnya tanpa menoleh.
Dani datang membawa berkas yang akan ditandatangani, kemudian meletakkannya dimeja yang akan ditempati Arsha dan Luna.
__ADS_1
Dani mengamati Rania yang sedang sibuk menata makanan kecil dan minuman untuk para tamu undangan, "Kenapa wanita kalau sedang sibuk mengurusi makanan jadi semakin bertambah kecantikannya?".
Rania langsung menghentikan aktivitas nya dan menoleh menatap Dani yang sedang sibuk mengamatinya. "Kang Gombal, mohon maaf ya... Ini masih pagi. Daripada sibuk ngegombal mending buat sholat Dhuha aja, biar apa yang dicita-citakan cepat dikabulkan oleh Alloh,aamiin...".
Dani langsung melangkah mendekati Rania, "Oiya... kamu benar juga Rania, aku harus sholat dan berdoa supaya Allah segera mengabulkan doaku secepatnya, agar kamu bisa segera membuka hati dan menerima ku menjadi ayahnya Andra dan kita bisa segera menikah secepatnya, aamiin...".
Rania menggedikan bahunya, "Iihh.. udah ah mas Dani, kalau nggak ada kerjaan disini mending pergi aja kesana. Aku jadi nggak konsen kalau kaya gini.".
"Waahhh, apa aku yang bikin ngga konsen Rania? Alhamdulillah... Akhirnya kamu sudah mulai memikirkan ku.".
Rania menatap Dani dengan tatapan malas, sementara Dani melempar senyum meledek.
"Mas Dani kayaknya tadi pagi salah makan ya?!"
"Tadi pagi aku belum sarapan, tapi sekarang setelah melihat mu rasanya sudah langsung kenyang dengan cinta.".
Rania langsung melempar lap yang baru saja dipakainya untuk membersihkan meja.
"Eitsss... Kiriman cintanya langsung tertangkap.".
"Hiihhhh... Lama-lama aku pusing dengernya mas, udah ahh... ".
Rania berlalu meninggalkan ruang rapat, meninggalkan Dani yang masih tersenyum meledek.
"Rania, tega banget kamu ninggalin aku... ", Dani berjalan menyusul Rania, tapi langkahnya terhenti saat melihat Arsha yang baru saja keluar dari lift.
"Pagi Bos. ", sapa Dani pada Arsha.
"Hem!".
"Selamat pagi pak Arsha. ", sapa Rania sambil menganggukkan kepalanya.
Arsha duduk di kursi kerjanya, tangannya langsung membuka map berisi laporan yang ada didepannya, mengacuhkan Rania yang sudah berdiri tegap dihadapannya.
'Pak Bos sepertinya sedang tidak mood hari ini', batin Rania sedikit ketakutan melihat wajah Arsha yang tampak serius dan dingin tanpa ekspresi.
"Maaf Pak Arsha, saya ijin bacakan agenda kegiatan hari ini."
"Hem.. ", sahut Arsha dengan acuh.
Rania menatap Arsha yang masih menunduk, seperti tak mempedulikannya. Rania menarik nafas dalam berusaha tenang dan bersikap seperti biasanya.
"Hari ini ada penandatanganan kontrak dengan PT Karya Perkasa, Bu Luna akan datang ke kantor pada pukul sepuluh. Selanjutnya nanti pukul dua siang, ada pertemuan kembali dengan Angkasa group di hotel princess.".
Rania terdiam menunggu respon dari Arsha yang masih acuh tanpa menoleh kearah nya sedikitpun.
"Oke, bilang Dani, nanti siang dia yang temani aku ke Angkasa group. Kamu tidak usah ikut kesana.", ucap Arsha masih tetap menundukkan kepalanya.
Rania masih diam ditempat, merasa ada yang salah dengan sikap Arsha hari ini.
"Pergilah, siapkan pertemuannya.".
Rania mengangguk pelan, "Baik Pak, saya permisi dulu, Pak", ucapnya pelan, kemudian segera berlalu dari hadapan Arsha dengan berbagai pertanyaan yang masih berputar di benaknya.
Arsha langsung meluruhkan tubuhnya ke sandaran kursi yang diduduki nya. Menatap punggung Rania yang menjauh dari hadapannya.
'Kenapa jadi canggung begini?', Arsha teringat kembali mimpi itu, karena mimpi itulah Arsha merasa harus menjaga jarak dari Rania mulai dari sekarang. Entah apa maksud dari mimpi itu, kenapa tiba-tiba sampai muncul Rania dalam mimpinya? Kenapa harus Rania? Wanita yang sangat jauh dari pikiran nya tapi malah bisa masuk kedalam mimpinya.
*
Rania duduk termenung di kursi kerjanya, entah kenapa setelah tadi menghadap Arsha, dia seperti kehilangan semangat kerjanya.
__ADS_1
'Apa Pak Bos marah padaku? Apa aku sudah salah bicara?', pertanyaan itu yang selalu singgah di benaknya. Rania menghela nafasnya, mencoba menenangkan diri.
"Bismillahirrahmanirrahim... Semangat Rania. ", ucapnya pada diri sendiri, berusaha menyemangati diri dan mengingat kembali tujuan nya selama ini.
*
Acara penandatanganan kontrak berlangsung cepat, karena memang semua isi kontrak sudah deal dan disepakati oleh kedua belah pihak. Arsha tampak duduk tenang, sementara itu Luna duduk dengan menyilangkan kaki putih mulusnya disebelah Arsha.
Sarah yang duduk di depannya, memperhatikan gerak-gerik Luna yang seperti cacing kepanasan.
"Oke, terimakasih Luna, atas kerjasamanya. ", ucap Arsha, kemudian berdiri memajukan tangan kanannya kedepan Luna.
Luna langsung menyambut tangan Arsha dengan cepat, ibu jarinya dengan sengaja membelai punggung tangan Arsha dan melemparkan senyuman menggoda.
"Senang bekerjasama dengan mu, Arsha. ", senyum lebar mengembang dari bibir yang penuh dengan polesan lipstik berwarna merah maroon matte itu.
Sarah memutar bola matanya melihat senyuman menggoda yang dilancarkan Luna pada Arsha.
"Oke, silahkan menikmati hidangan yang sudah disediakan. ", Arsha melepas jabatan tangannya, kemudian mempersilahkan tamunya untuk mengambil makanan yang tersedia.
Luna langsung meraih teh yang sudah dipersiapkan di cangkir porselen, saat akan meminumnya tiba-tiba Sarah lewat di depannya dan dengan sengaja menaikan siku tangannya.
"Aaahhh... ", pekiknya keras.
'Prang'
"Oh maaf Bu Luna, aku tidak sengaja menyenggol nya. ", ucap Sarah sambil mengipasi dada Luna yang terbuka, dan baru saja tersiram air teh yang lumayan panas.
Luna menatap Sarah dengan marah.
"Rania, tolong tisunya. ", ucap Sarah berlagak panik meminta tisu yang ada didekat Rania. Rania dengan cepat mengambil tisu, kemudian mendekati Sarah.
"Biar aku sendiri!", ucap Luna sambil merebut tisu dari tangan Rania, lalu berlalu meninggalkan ruangan.
Arsha hanya diam saja melihat tingkah Sarah yang dengan sengaja menumpahkan teh pada Luna. Sarah melirik kearah Arsha sambil tersenyum penuh kemenangan.
"Astaghfirullahalazim... ", Rania mengucap istighfar pelan, mengelus dada nya sendiri setelah menyaksikan kejadian tadi.
*
"Kenapa kamu melakukannya?".
"Aku kan nggak sengaja, Sha. ", ucap Sarah dengan memasang mimik muka tak berdosanya.
Arsha menggelengkan kepalanya, kemudian menghempaskan tubuhnya keatas sofa ruang kerjanya. Sarah mengikuti duduk disamping Arsha.
"Emang kamu nggak risih sama janda gatel itu?".
"Sarah, ini kan urusan kontrak. Tidak ada hubungannya sama Luna. ".
"Siapa bilang tidak ada hubungannya! Jelas-jelas dia selalu datang dan mencoba menggodamu. ".
"Sarah, stop bermain-mainnya. Kamu bukan anak kecil lagi. Dan ini masalah pekerjaan, bukan untuk bahan jokes kekanakan seperti itu!".
Sarah mendengus kesal karena Arsha malah membela Luna.
"Kalau sampai Luna membatalkan kontrak ini, coba kamu hitung berapa kerugian kita?".
"Iya maaf, aku mengaku salah. Kamu mau kan maafin aku, sha?".
Arsha menghela nafasnya dengan pelan, berusaha sabar meladeni sikap Sarah yang masih saja kekanakan.
__ADS_1