Tak Cinta Tapi Menikah

Tak Cinta Tapi Menikah
Lego dan pistol kayu


__ADS_3

Matahari sudah mulai turun kearah barat, awan mendung disertai hujan yang sudah turun ke bumi sejak satu jam an yang lalu.


Rania dan Andra sedang dalam perjalanan pulang ke rumah dengan menumpang mobil Dani. Dani tadi sedikit memaksa untuk mengantarkan mereka, dengan alasan sudah sore dan mulai turun hujan.


Saat mau pulang drama per dinosaurus an masih tetap berlanjut. Andra meminta di belikan lego dinosaurus leher panjang alias Brontosaurus saat melewati toko khusus mainan.


Mobil Dani terparkir persis didepan rumah Rania yang tampak sepi.


"Assalamu'alaikum... ", ucap Rania begitu sampai didepan pintu rumahnya.


"Waalaikumsalam... ", Suara bik Inah terdengar menyahut dari dalam rumah, lalu tak lama kemudian pintu terbuka dari dalam.


"Bude, Andra punya lego dinosaurus!", teriak Andra begitu bik inah muncul dari balik pintu.


"Waahh... lego baru lagi... ", ucap ik inah sambil melirik orang dibelakang Andra.


"Ini teman kantorku, Bude. Namanya Dani. Ini bude Inah, yang mengasuh Andra dirumah.".


"Salam kenal, bude. Saya Dani teman Rania.".


"Oiya, mas, salam kenal juga. Ayo silahkan masuk dulu.", Bik Inah bergegas masuk kedalam rumah.


Dani melihat sekeliling ruang tamu rumah Rania, penataan yang pas untuk ruang tamu yang kecil, hanya ada satu sofa berukuran sedang dan kursi bundar kecil, disertai meja kecil didepannya. Pemilihan warnanya juga sangat tepat, tidak membuat orang bosan jika harus duduk lama di ruang ini.


"Silahkan duduk dulu, mas. Maaf rumahnya kecil.".


"Bunda, ayo kita pasang lego nya.", rengek Andra sambil menarik ujung baju Rania.


"Sebentar ya sayang, Bunda mau sholat Ashar dulu yaa.", Andra langsung memasang muka cemberut mendengar jawaban bundanya.


"Pasang lego bareng om Dani aja yuk.", ajak Dani pada Andra. Andra langsung menatap Rania seperti sedang meminta persetujuan Bunda nya.


"Ngga papa Rania, aku temani Andra sebentar, sampai kamu selesai sholatnya.".


"Andra yang nurut sama om Dani yaa.".


"Iya, Bunda", jawab Andra dengan semangat.


"Ayok om Dani, kita main lego nya disana.", Andra menarik tangan Dani masuk ke dalam ruang keluarga, ruangan yang hanya di isi dengan sofa panjang dan meja televisi didepannya, dibawah sofa terhampar karpet bulu yang halus.


Andra langsung duduk diatas karpet, tangan kecilnya sibuk, dan terlihat kesusahan membuka dus lego.


"Sini Om bantu buka.", Dani menyusul ikut duduk disamping Andra diatas karpet bulu itu.


"Sebentar Om, kata Bunda sebelum mulai bermain harus baca Bismillah dulu... ".


Dani mengikuti Andra yang menengadahkan kedua tangannya didada lalu mengucap, "Bismillahirrahmanirrahim..., ayo Om kita mulai, lego nya kata bunda harus di taruh disini dulu, supaya tidak ada yang hilang.".


Dani menatap takjub pada anak yang belum genap berusia lima tahun didepannya. Begitu hebat orang tuanya mendidik anak ini, sehingga jadi anak seperti Andra yang patuh dan pintar.


"Ayo kita mulai... !", seru Andra begitu bersemangat. Tangan kecilnya sudah mulai sibuk memasang lego, matanya kesana kemari mencari dan mencocokkan dengan gambar panduan yang sudah tersedia.

__ADS_1


"Kalo yang ini buat kaki nya Om, kaki Brontosaurus.", terang Andra saat melihat Dani salah memasang lego.


"Oiya, pantas bentuk nya aneh yaa... ", Dani terkekeh, malu sendiri pada Andra yang terlihat sudah sangat pintar memasang lego.


"Om Dani, ngga pernah main lego yaa?".


'Boro-boro dulu pas kecil bisa bermain lego, beli mobil tamiya yang harganya 10 ribu pun dia tidak mampu', batin Dani dalam hati. Dani lahir dari keluarga yang sangat sederhana, bahkan sering kekurangan untuk kebutuhan sehari-hari. Bapak dan ibu Dani hanya sepasang suami-istri yang berjualan sayuran dilapak pinggir jalan dipasar. Dani anak bungsu dari tiga bersaudara, dan dia termasuk anak yang paling menonjol dalam hal prestasi disekolah. Dari SD hingga kuliah, Dani selalu mendapatkan beasiswa karena prestasi belajarnya yang luar biasa.


Dani lah yang mengangkat derajat hidup keluarga nya selama hampir 8 tahun ini, dialah yang selalu membantu perekonomian keluarganya.


Uang hasil tabungannya di belikan kios kecil yang dijadikan toko sembako dan juga sayuran untuk Bapak ibunya. Dani juga membeli sebuah perumahan kecil untuk keluarga nya, yang sekarang ditempati oleh kedua orang tuanya dan kakak perempuan tertuanya yang sudah menikah. Sedangkan kakak laki-laki keduanya sudah menikah dan pindah ke Batam bersama istrinya, kakaknya bekerja di pabrik elektronik disana.


Dani sendiri memilih membeli sebuah apartement sederhana yang tidak jauh dari kantornya.


"Kalo Om Dani dulu mainannya bukan lego.", ucap Dani mencoba membela diri karena merasa malu.


"Om Dani dulu main apa?", tanya Andra penasaran.


"Om Dani dulu suka main tembak-tembakan.", Andra langsung menegakkan badannya, mulai antusias mendengarkan Dani.


"Om Dani punya pistol-pistolan??".


"Bukan, Om Dani dulu buat sendiri pistol nya.".


"Om Dani bisa bikin pistol nya? Andra mau juga Om dibikinin pistol-pistolan kayak Om Dani.".


Dani langsung terdiam, nah kan memang harus hati-hati kalau ngomong sama anak kecil yang pintarnya kaya Andra.


"Sekarang belum bisa bikin pistolnya, Om Dani belum punya bahannya".


"Memang bikinnya pake apa om?".


"Dulu om Dani bikin pistolnya pake kayu, terus dikasih karet gelang dan pelurunya pake lidi.".


"Andra juga mau bikin pistol kayu kaya Om Dani."


Dani menatap mata Andra yang bening dan tampak berkilauan terkena cahaya lampu, 'anak yang sangat tampan.. '


"Kapan-kapan Om Dani main kesini lagi bawa bahannya buat bikin pistol sama Andra ya... ".


"Iya Om Dani, Andra mau.".


Dani mengacak rambut Andra dengan gemas, "Ayo diterusin dulu pasang lego nya".


Andra langsung mengangguk patuh.


"Biasanya Andra kalo main lego sama siapa?", tanya Dani penasaran.


"Biasanya sama Bunda, kalo Bunda belum pulang sama Bude Inah, tapi kalo sama bude Inah banyak yang salah masangnya soalnya bude Inah nggak bisa main lego.",ucap Andra sambil merengut lucu.


"Bude kan udah tua, jadi nggak pintar main lego. Susah mainnya, kecil-kecil begitu.", sahut bik Inah yang datang membawa nampan berisi dua cangkir teh dan stoples berisi camilan ringan.

__ADS_1


"Mas Dani, monggo disambi minuman nya.", bik Inah menawarkan minuman yang sudah diletakkan di meja kecil dekat sofa.


"Oh ya, terimakasih bude, jadi merepotkan.", ucap Dani basa-basi.


Bik Inah kembali kedapur untuk melanjutkan memasak untuk makan malam.


"Emang ayah Andra ngga bantuin Andra main lego nya?", tanya Dani penasaran.


Andra langsung tergelak tertawa kecil, "Ayah Andre kan nggak bisa main sama Andra. "


"Kenapa emangnya nggak bisa main sama Andra?", tanya Dani lagi semakin penasaran.


" Soalnya ayah Andre kan sekarang sudah disurga, dirumah Allah.., jadi nggak bisa main sama Andra... ", tangan Dani langsung berhenti memainkan lego yang ada ditangannya. Matanya menatap Andra yang masih sibuk bermain lego. Dadanya tiba-tiba terasa sesak dan bergetar hebat.


"Ayah Andra.... ", ucap Dani tak bisa meneruskan kata-katanya. Andra mendongakkan kepalanya menatap Dani yang sedang menatap nya.


"Om Dani kenapa?", tanya Andra dengan polosnya.


Dani langsung menggelengkan kepalanya, tidak seharusnya dia bertanya lebih dalam pada Andra yang masih kecil. Nanti saja dia akan meminta kejelasannya dari Rania langsung.


"Tidak apa-apa, Om Dani tidak papa. Ayo dilanjutin.", ucap Dani mengalihkan pandangannya pada lego yang ada ditangannya. Rasanya sudah tak sabar ingin mendengar penjelasan langsung dari Rania tentang status Rania yang sebenarnya.


Pintu kamar terbuka, Rania keluar menghampiri Andra dan Dani yang sedang asyik bermain lego diruang tengah.


"Wah asyik banget main lego nya.".


"Bunda, kata Om Dani besok Andra mau dibikinin pistol mainan dari kayu.".


Rania menoleh ke Dani yang sedang menatap nya dengan tatapan yang sulit dimengerti oleh Rania.


"Wah benarkah?".


"Iya Bunda, pistolnya dari kayu sama karet, pelurunya dari lidi. Iya kan Om? ", ucap Andra dengan antusias.


" Iya Andra. ", jawab Dani sambil mengusap kepala Andra.


"Andra harus bilang apa sama Om Dani kalo gitu.".


Andra langsung menoleh ke Dani, "Terimakasih Om Dani.. ".


Dani tersenyum menatap Andra, entah mengapa perasaan nya jadi tidak menentu setelah tau Andra, anak sekecil ini sudah tidak memiliki ayah.


"Sama-sama, Andra.", Dani membelai lembut kepala Andra pelan.


"Makasih ya mas, sudah mau nemenin Andra main. Maaf ya, kalo Andra malah jadi merepotkan mas Dani.".


Dani mengalihkan pandangannya lagi ke Rania


"Rania, aku ingin bicara tentang masalah almarhum Suamimu... ?" ucap Dani dengan suara yang lirih.


Rania terdiam, sepertinya Dani sudah mengetahui yang sebenarnya saat tadi dia sholat didalam kamar. Terlihat dari tatapan Dani yang sangat berbeda padanya, tatapan yang sedih bercampur dengan penasaran.

__ADS_1


Rania tersenyum, kepalanya mengangguk pelan, sebagai isyarat jawabannya untuk Dani.


__ADS_2