Tak Cinta Tapi Menikah

Tak Cinta Tapi Menikah
Ibu Cantik dan Anggun


__ADS_3

Masih dihari Jumat dengan sejuta ceritanya.


"Alhamdulillah... ", ucap Rania setelah selesai menyantap makan siangnya yang tadi di pesannya dari kantin kantornya.


Suasana kantor masih terasa lengang, karena sebagian karyawannya, terutama karyawan laki-laki sedang berada di masjid yang dekat dengan kantor ini, untuk menunaikan ibadah sholat jum'at. Rania melirik jam ditangannya, sekarang sholat jum'at sepertinya sudah selesai, sebentar lagi pasti mereka sudah kembali ke kantor.


Rania bergegas membersihkan meja kecil yang berada di ruang belakang, kemudian merapikan kerudung dan bajunya yang tadi agak dilonggarkan sedikit supaya lebih nyaman saat makan.


'Ting... ', terdengar suara lift yang berhenti dilantai sebelas. Rania melongok keluar, untuk melihat siapa yang datang ke lantai sebelas. Kemudian menganggukkan kepalanya saat tau yang datang adalah Arsha.


Arsha terlihat berjalan ke ruangannya, dia hanya memakai hem mahal berwarna putih bersih yang lengannya sudah tergulung rapi sampai bawah sikunya. Rambutnya terlihat rapi dan sedikit basah. Arsha tadi ikut menunaikan sholat jum'at setelah sekian lama tidak pernah melakukan nya. Dia sengaja sholat dibarisan paling belakang, dan baru masuk ke masjid saat sholat akan dimulai. Arsha masih ingat terakhir dia sholat jum'at, saat dia masih sekolah di SMA. Itupun karena peraturan sekolah nya yang mewajibkan semua siswa laki-laki untuk sholat berjamaah.


Kata-kata Rania tadi yang membuatnya merasa dihantam benda keras dari dalam hatinya. Perasaan malu dengan kata-kata Rania tadi, hanya cewe saja yang tidak sholat jum'at, yang akhirnya mendorongnya berjalan ke masjid. Tadi dia sempat ragu saat akan masuk ke dalam masjid, ada rasa malu karena selama ini dia sudah meninggalkan sholat dan ibadah lainnya.


Entahlah, Arsha hanya mengikuti kata hatinya saja saat ini, dia tidak tau kapan hatinya akan terketuk untuk kembali sadar akan kewajibannya sebagai umat muslim.


Suara lift kembali terdengar, Rania bergegas menuju kedepan meja kerjanya. Menatap wanita anggun yang cantik, yang waktu itu datang menemui Bosnya. Bu Hanum, ya wanita cantik itu datang lagi. Ibu dari Arsha, Bos nya. Waktu itu Rania langsung bertanya pada Dani tentang siapa itu bu Hanum.


Kali ini bu Hanum memakai pakaian casual sederhana berwarna cream, sangat menyenangkan melihat style nya yang sederhana namun terlihat elegant.


"Selamat siang bu Hanum..".


"Selamat siang Rania. ", bu Hanum berjalan menghampiri Rania.


Rania tersenyum ramah, 'ternyata masih ingat namaku'.


"Apa Arsha ada di dalam?".


"Pak Arsha ada diruangan nya, Bu. Silahkan masuk saja Bu.".


"Kamu mau menemaniku masuk ke kantor Arsha, Rania?".


Rania langsung terdiam, tak mengerti apa maksud bu Hanum mengajaknya masuk kedalam kantor anaknya.


"Ayo, temani aku masuk menemui Arsha. Karena ada hal yang ingin aku sampaikan pada Arsha, dan itu berkaitan juga dengan kamu.".


Rania semakin tak mengerti dengan perkataan bu Hanum. Bu Hanum langsung menggandeng tangan Rania. Tanpa mengetuk pintu, bu Hanum langsung membuka pintu ruang kerja anaknya.


"Mom... ", Arsha langsung berdiri saat tau yang datang adalah mama nya, dan matanya melotot kaget saat tau mama nya masuk sambil menggandeng tangan Rania.


"Arsha, apa mama mengganggu waktu mu?".


Arsha masih keheranan dengan apa yang terjadi, "Tidak mom. ", Arsha menghampiri mama nya, dan matanya menatap tangan mama nya yang masih menggandeng tangan Rania.

__ADS_1


"Ayo duduk dulu, mom.".


Bu Hanum masih terus menggandeng Rania, dan mendudukkan Rania di sampingnya.


Rania menatap takut pada Arsha, yang kini juga sedang menatap nya penuh tanda tanya.


"Ada apa mom?", tanya Arsha penasaran.


"Mama mau minta ijin, mama mau ajak Rania ke suatu tempat. ".


Arsha masih tak mengerti dengan maksud mama nya, "Emang Mommy mau kemana?", tanya Arsha semakin penasaran.


"Mama mau ada perlu dengan Rania. Bolehkan?",


Arsha menatap Rania yang juga kebingungan seperti dirinya, "Kalau Rania mau, silahkan saja mom.".


Bu Hanum menatap Rania, "Kamu mau kan, Rania?".


Rania tersenyum dengan paksa dan dengan ragu menganggukkan kepalanya. Entah kenapa, seperti ada perintah dari dalam otaknya untuk tidak menolak permintaan bu Hanum saat ini.


*


Rania terpaku melihat deretan baju yang tergantung rapi di depannya. Sementara itu, puluhan majalah berisi model baju sudah berserakan diatas meja didepannya.


"Rania, aku minta tolong, bisakah kamu memilihkan baju dan kerudung yang pantas untuk ku?".


Rania menatap bu Hanum tak mengerti.


"Sebenarnya, aku ada undangan pengajian dari panti sosial yang dulu didirikan sama papa nya Arsha. Dulu, biasanya papanya Arsha yang selalu datang ke panti. Ini sudah hampir delapan tahun sejak papanya Arsha meninggal, tidak ada yang datang ke panti. Arsha juga tidak mau datang kesana, Dani yang biasanya datang kesana mewakili keluarga Wiguna. Kali ini aku ingin sekali kesana, ingin melihat suasana panti yang dulu sering di kunjungi papanya Arsha. Aku malu kalau datang tidak memakai kerudung, kan acaranya pengajian. Kamu mau kan membantu ku?".


Rania mengangguk sambil tersenyum, ternyata itu alasannya. "InsyaAllah, saya akan bantu memilihkan. Tapi maaf sebelumnya, saya takut kalau tidak sesuai dengan selera bu Hanum.".


Bu Hanum tersenyum bahagia, "Aku tau dari cara berpakaian mu, kamu pasti pintar memilih baju yang pas untukku.".


Lalu keduanya sudah terlihat sibuk dengan beberapa pilihan baju yang sudah dipilih Rania.


Bu Hanum merasa senang, ternyata dia tidak salah mengajak Rania untuk menemaninya membeli baju muslim. Sesekali bu Hanum menatap Rania yang sedang sibuk memilih baju untuknya, terlihat sekali bahwa Rania adalah wanita yang baik dan tulus. Seandainya saja Arsha bisa memiliki istri seperti Rania, pasti lukanya akan cepat sembuh. Sangat disayangkan, ternyata Rania sudah menikah dan sudah memiliki anak.


Akhirnya lima baju berhasil dipilih setelah bu Hanum mencoba nya dan terlihat cocok untuknya.


"Rania, aku mau minta tolong sekali lagi padamu ".


"Apa yang bisa saya bantu, Bu?".

__ADS_1


"Tolong kamu pilihkan satu baju untuk anakku, baju untuk acara resmi yang kalem tapi elegant. Dia postur badannya hampir sama denganmu. Kamu mau kan?".


Rania menganggukkan kepalanya, "Baik, Bu.", jawab Rania dengan patuh.


*


Setelah selesai dengan urusan perbajuan, bu Hanum mengajak Rania ke sebuah cafe yang terletak tidak jauh dari butik.


"Rania, apa Arsha suka menindas mu dikantor?".


"uhhuuuk... ", Rania tersedak kopi susu gula aren yang sedang disesapnya.


"Eh maaf...Rania.".


"Nggak papa, Bu.Maaf...", ucap Rania, kemudian langsung mengambil tisu didepannya.


"Alhamdulillah, pak Arsha baik sama saya, Bu. ".


"Oya... ! Apa dia tidak pernah marah-marah ke kamu?".


Rania menggelengkan kepalanya, "Tidak pernah, Bu.".


Bu Hanum mengangkat alisnya tak percaya, "Benarkah, Arsha sudah banyak berubah kalau begitu. Terimakasih Rania. ".


Rania tersenyum tak mengerti, "Terimakasih untuk apa ya, Bu?".


"Kamu pasti sudah tau dari Dani, Arsha dulu itu suka sekali marah-marah sama Dani dan sekretarisnya. Semua sebenarnya salahku dan papanya. Kami terlalu memanjakan dia, memberikan semua fasilitas yang berlebih sejak dia masih SMP. Dan akhirnya, Arsha semakin terjerumus dalam pergaulan yang sangat buruk.",


Bu Hanum menghela nafasnya sebelum meneruskan cerita nya.


"Tapi sejak lima tahun yang lalu, semuanya berubah, Arsha yang suka berfoya-foya, sekarang lebih memilih berdiam diri di apartement miliknya. Sikapnya menjadi dingin, arogan dan pemarah. Ada sedikit rasa senang karena Arsha tidak lagi terjerumus dalam pergaulan buruk itu, akan tetapi ada rasa sedih saat sikap Arsha berubah menjadi arogan, pemarah dan dingin seperti itu.",


Bu Hanum mengusap air matanya yang mengalir dikedua pipinya. Rania dengan cepat mengambil tisu, kemudian diberikan pada bu Hanum.


Bu Hanum tersenyum menerima tisu pemberian Rania, "Maaf Rania, aku malah jadi curhat sama kamu.".


Rania tersenyum dengan tulus, ikut merasakan kesedihan seorang ibu yang sangat menyayangi anaknya, karena sekarang dirinya juga seorang ibu.


"Tidak apa-apa Bu, saya yakin pak Arsha pasti akan berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Doa Ibu akan selalu didengar oleh Allah, InsyaAllah... Allah akan mengabulkan semua doa umatNya yang selalu bertawakal pada-Nya.".


Bu Hanum menatap Rania, senyumnya mengembang diwajah anggunnya, "Aku akan berdoa, semoga Arsha bisa mendapatkan istri yang seperti kamu, Rania.".


Rania langsung terdiam menatap bu Hanum yang begitu lekat menatap nya.

__ADS_1


__ADS_2