
Arsha masih terjaga disamping Rania yang tertidur lelap, kini dia menjadi gila dan gelisah sendiri karena perbuatan nya yang sudah mencuri ciuman dari istrinya sendiri. Sedikit merasa bersalah sudah mencium tanpa permisi terlebih dulu. Kemudian melirik Rania yang tertidur miring menghadap ke arahnya, 'Ternyata seperti ini Rania wajahnya tanpa kerudung, benar-benar cantik... ', batinnya kagum melihat istrinya sendiri. Dengan pelan memiringkan tubuhnya supaya bisa berhadapan dengan wajah Rania. Jantung nya benar-benar sudah tidak aman sekarang.
Pelan tangannya mulai terulur menyentuh pipi putih mulus Rania, membelai dengan punggung jari telunjuk nya dengan sangat pelan. Sungguh pernikahan yang tak terduga. Semua seolah terjadi diluar kendali nya. Tiba-tiba harus menikah dengan orang yang sama sekali tidak pernah terpikirkan sedikitpun olehnya sebelumnya. Entah kenapa magnet Andra juga seperti menariknya begitu saja.
Mungkin benar inilah jawaban dari mimpinya selama ini, seolah Tuhan memberikan petunjuk sebelumnya lewat mimpi itu. Haruskah dia mempertahankan pernikahan ini atau harus berpisah setelah satu tahun seperti yang Rania katakan waktu itu. Entahlah... , sekarang yang menjadi PR nya adalah bagaimana cara menghadapi sikap penolakan Rania kedepannya. Entah kenapa, sekarang hatinya sedikit terusik oleh wanita yang sedang tertidur lelap didepannya.
"Sekarang harus bagaimana aku terhadap mu, Rania...?", bisiknya pelan.
*
Rania merasakan kebas di bagian pinggangnya, seperti ada sesuatu yang berat dan lama menimpa tubuhnya. Kemudian menggeliat pelan, berusaha menyingkirkan sesuatu yang menimpa tubuhnya. Tapi bukannya terlepas tapi malah semakin kencang seperti terikat. Bahkan kini sepertinya tubuhnya sudah terjerat disebuah papan yang keras dibelakangnya.
Rania sudah mulai merasa sesak, 'apa ini?', matanya mulai mengerjap pelan, mencoba menajamkan pandangan matanya. 'Dimana aku?', Rania mencoba untuk bangun, tapi tidak bisa karena ada sebuah tangan yang memeluknya erat dari belakang. Lalu segera tersadar, 'Astaghfirullah... ', Rania menoleh kebelakang, tepat didepan wajah Arsha yang masih tertidur lelap. Spontan Rania langsung menutup bibirnya yang terbuka karena saking kagetnya. Bagaimana bisa dia tidur dikamar bersama Arsha?, padahal seingatnya semalam dia tertidur disofa ruang keluarga. Dan dimana handuk kecil itu? Rania memejamkan matanya erat, rasanya ingin sekali lari sejauh mungkin dari hadapan Arsha.
Pelan Rania mulai mengendorkan pelukan Arsha di perutnya, tapi usahanya malah membuat pelukan Arsha semakin erat dan kencang. 'Ibuuuu.....', Rania ingin sekali menangis saat ini juga. Sekarang hanya bisa pasrah, menunggu Arsha dengan sendirinya melepas pelukannya. Rania menggigit ujung jarinya, tidak tau harus bagaimana lagi. Tubuhnya meringkuk dengan punggung yang menempel didada Arsha.
"Rania... ", Rania terdiam kaku mendengar suara serak Arsha yang terdengar persis di telinganya, merasakan hembusan nafas Arsha yang seketika membuat bulu halus nya merinding geli. Matanya langsung menutup lagi, pura-pura masih tertidur.
"Kamu sudah bangun?", Rania memejamkan matanya semakin erat, saat merasakan bibir Arsha menyapu ceruk leher belakangnya.
"Rania, aku ingin.. "
"Pak Arsha!", dengan cepat Rania membalik tubuhnya menghadap Arsha, tangannya mendorong tepat didada Arsha sebagai pembatas supaya dadanya tidak saling menempel.
Arsha menatap Rania yang tiba-tiba saja berteriak, tangannya masih memeluk pinggang Rania yang kini sudah terbangun.
"Ma.maaf, tolong lepaskan saya. Saya ingin kebelakang.", ucap Rania dengan terbata.
Arsha masih menatap lekat wajah Rania yang tampak bercahaya terkena lampu tidur dikamar Arsha, 'sangat cantik', tak henti Arsha memuji istrinya sendiri yang belum sepenuhnya bisa dimiliki. Tadi dia sengaja ingin meledek Rania, dan ternyata benar-benar berhasil. Reaksi Rania benar-benar lucu, seperti ketakutan melihat dirinya.
"Pak... ", panggil Rania pelan, mencoba menyadarkan Arsha.
Arsha langsung mengendorkan pelukannya, dan secepat kilat dimanfaatkan Rania untuk segera berlalu dari sisinya. Arsha tersenyum miring, menatap istrinya yang sedang berjalan dengan tergesa-gesa kekamar mandi, 'lucu sekali dia... '.
*
"Mau kemana?", langkah Rania terhenti saat akan keluar dari kamar, 'ternyata ketahuan', padahal tadi dia sudah mengintip ke arah ranjang dan Arsha tampak masih memejamkan matanya.
Arsha duduk ditengah tempat tidur, menatap Rania yang mengendap-endap seperti pencuri sedang tertangkap basah mau melarikan diri.
"Eehh itu, mau minum dulu dibawah.", jawab Rania asal, karena sebenarnya dia ingin meneruskan tidurnya disofa ruang keluarga dan tentunya ingin melarikan diri dari kamar ini.
"Nanti aku menyusul, aku juga ingin makan, aku lapar."
Rania mengangkat alisnya, kaget dengan perkataan Arsha, 'jam segini, lapar?', sekarang masih jam satu pagi, dan Arsha kelaparan.
"Kenapa kaget gitu? Aku tadi malam hanya makan sedikit, jadinya aku lapar sekarang."
"Oohh... Ma.mau makan apa?", tanya Rania ragu-ragu.
__ADS_1
"Kamu mau masak buatku?".
"Kalau saya bisa, saya akan memasaknya."
"Terserah kamu mau masak apa. Aku mau kekamar mandi dulu.", ucap Arsha bergegas ke kamar mandi meninggalkan Rania yang masih terdiam.
Rania bergegas turun menuju dapur, membuka kulkas jumbo didepannya, 'waahhh... mama benar-benar menyiapkan semuanya', Rania melihat isi kulkas yang sudah penuh dengan berbagai jenis bahan makanan dan minuman. Tangannya mulai sibuk memilih bahan untuk dimasak malam ini. 'Mau masak apa malam-malam begini?', Rania bingung, tidak tau sama sekali soal makanan kesukaan Arsha. 'Kalo sepagi ini enaknya makan yang berkuah dan hangat diperut. ', batinnya bermonolog.
Kemudian Rania mencoba meraih daging ayam beku yang ada di freezer dibagian paling atas, 'kenapa tinggi sekali?', batin Rania kesal dan mencoba berjinjit untuk menggapainya.
"Aahhh!!", pekiknya keras saat tiba-tiba merasakan tubuhnya melayang keatas.
"Kamu ini kerdil, mana mungkin bisa mengambilnya.", Rania meremas kedua lengan Arsha yang sedang memeluk dan mengangkat tubuhnya dari belakang.
"To.tolong turunkan saya.".
"Ayo cepat ambil!", perintah Arsha kemudian.
Rania segera meraih daging ayam beku yang ada di freezer.
"Sudah, Pak. Cepat turunkan saya."
Arsha menurunkan Rania tanpa melepas pelukannya.
"Tolong lepaskan saya, Pak." ucap Rania saat kakinya sudah menyentuh lantai. Arsha tetap memeluk Rania dengan erat dari belakang.
"Kamu benar-benar sangat pendek ternyata.", Arsha meletakkan dagunya diatas kepala Rania yang tertutup handuk kecil.
"Kenapa pakai handuk lagi?", tanya Arsha sambil membalikkan tubuh Rania supaya menghadap kearahnya.
"A.anu... itu karena.. ", Rania tergagap, bingung harus beralasan apa, karena sebenarnya Rania masih merasa canggung bertemu dengan Arsha tanpa kerudung.
"Kenapa hemm.. ?", Arsha menarik tubuh Rania hingga daging beku yang masih ada ditangan Rania menempel pada dadanya. Spontan mata Rania langsung membulat kaget.
"Ka-Karena...nanti saat masak takut rambutnya jatuh dan masuk kedalam masakannya.".
"Alasan!", bantah Arsha tak percaya dengan alasan Rania, lalu menarik paksa handuk kecil dikepala Rania dan membuangnya ke sembarang tempat.
"Ingat! Kamu itu istriku!", Arsha menunjuk-nunjuk pelan dahi Rania dengan jari telunjuknya. Rania masih menunduk, takut untuk menatap Arsha yang sangat dekat dengan tubuhnya.
'Cup' kecupan ringan mendarat didahi Rania, dan lagi-lagi berhasil membuatnya membulatkan mata dengan lebar.
"Cepat masak! Aku sudah lapar.", Arsha melepaskan pelukannya yang sudah mengunci tubuh Rania, kemudian duduk di kursi minibar yang menghadap ke arah dapur.
Rania segera menutup kulkas dua pintu dibelakangnya, lalu berjalan kedapur untuk memasak makanan untuk Arsha dengan jantung yang berlomba berdetak.
*
"Apa ini?", tanya Arsha menatap mangkok berisi jagung dengan suwiran daging ayam dan telor yang berserabut disekitarnya.
__ADS_1
"Itu soup cream jagung.", jawab Rania singkat.
" Kenapa kamu tidak ikut makan? ", tanya Arsha yang melihat Rania hanya menyanding teh hangat didepannya.
" Saya masih kenyang pak. ".
Arsha menyendok soup dimangkok yang masih panas kemudian meniupnya dengan pelan.
"Jangan ditiup.", Arsha berhenti meniup soup di sendoknya, kemudian menatap Rania bingung.
"Kenapa?".
"Karena dalam islam tidak boleh meniup makanan, itu sunah Rosul. Sebaiknya memakai kipas atau diayunkan sendoknya supaya cepat dingin makanannya."
Arsha meletakkan kembali sendoknya, kemudian mendorong mangkok didepannya sampai berhenti tepat didepan Rania.
"Kalo begitu kamu saja yang kipasin soupnya. Ayo cepat, aku sudah lapar."
'Kenapa jadi seperti Andra yang minta disuapin kalo makan soup jagung', Rania mengambil sedikit soup dengan sendok, kemudian mengayunkan pelan keatas dan kebawah.
"Aaakk... ", Arsha memajukan kepalanya, mulutnya terbuka seperti minta disuapi. Rania hanya menatap bingung bibir Arsha yang terbuka lebar didepannya, 'benar-benar mirip Andra'.
"Rania! aku benar-benar sudah lapar.", protes Arsha karena Rania malah bengong menatapnya.
"Ah iya.", Rania langsung menyuapi Arsha dengan tangan bergetar.
"Wow... enak sekali! Apa namanya tadi?".
"Soup cream jagung. Ini makanan kesukaan Andra.".
"Oohh... kalo begitu mulai sekarang, ini juga makanan kesukaanku.", Arsha tersenyum menatap Rania, seketika langsung membuat Rania tertunduk malu.
" Kenapa tidak mau menatap ku? ", tanyanya kesal, karena setiap kali berbicara hanya disuguhi puncak kepalanya saja.
" Ma-maaf Pak, saya masih malu. ", jawab Rania pelan.
" Mulai sekarang buang rasa malu dan canggung mu, kita ini sudah resmi menikah, sudah sah menjadi suami istri. ", Rania hanya menganggukan kepalanya sambil terus mengayunkan sendok berisi soup jagung di tangannya.
Setelah selesai dengan drama persuapan yang sangat panjang dan melelahkan pada Arsha, Rania segera mencuci semua peralatan yang sudah dipakainya malam ini. Arsha menghampiri Rania dan langsung memeluknya dari belakang. Tangan Rania yang sedang membilas mangkok langsung terhenti saat itu juga karena kaget dengan kelakuan Arsha.
"Besok saja diberesin nya.", bisik Arsha ditelinga Rania.
"I-iya, sudah hampir selesai.", Rania mempercepat bilasan nya, kemudian memegang tangan Arsha yang sedang memeluk pinggangnya dengan erat.
"To-tolong lepaskan Pak, saya mau... ".
"Kamu mau kemana lagi hemm.. ?", potong Arsha dengan suara serak, dan semakin mengeratkan pelukannya.
Rania semakin kalut dan bingung dengan serangan Arsha yang sangat mendadak padanya, 'Bagaimana ini... ', kenapa Bos nya jadi begini? Dimana Bos yang selama ini kaku, dingin dan selalu mengacuhkan nya saat dikantor. Kenapa sekarang jadi seperti ini?.
__ADS_1
"Rania, bolehkah aku meminta hak ku malam ini?".