Tak Cinta Tapi Menikah

Tak Cinta Tapi Menikah
Seperti seorang kakak


__ADS_3

Hari sabtu-minggu merupakan hari yang selalu di nantikan oleh seorang karyawan seperti Rania. Hari dimana dia bisa mencurahkan perhatiannya penuh untuk anak tersayangnya, Andra.


Seperti hari minggu ini, dia dengan bahagia menemani Andra yang sedang menonton serial Nusa-Rara kesukaannya.


"Assalamu'alaikum... ", terdengar suara salam dari balik pintu depan rumah Rania, sepertinya suara seorang laki-laki.


"Waalaikumsalam... Sebentar!", seru Rania dari dalam rumah. Rania buru-buru mengambil kerudung di dalam kamarnya.


"Siapa yang datang, Bunda?", tanya Andra yang sedang asik menonton serial Nusa Rara.


"Bunda belum tau siapa, Bunda ke depan sebentar ya.. ".


Rania membuka pintu rumahnya, "Mas Dani.".


"Assalamu'alaikum, Rania. ", sapanya sambil melempar senyumnya yang lebar.


"Waalaikumsalam.. ".


"Om Dani.. !!", seru Andra sambil berlari menghampiri Dani.


"Halo jagoan... ".


"Mana pistol kayunya, Om?", tanya Andra tanpa basa-basi.


"Andra, dipersilahkan masuk dulu dong Om Dani nya. ", ucap Rania mengingatkan Andra yang sudah tidak sabar menagih janji pistol kayu.


"Oiya Bunda, maaf. Om Dani silahkan masuk.".


"Terimakasih, Andra. ".


"Ayo Om, kita main disana... ", tangan Andra sudah sibuk menarik tangan Dani supaya mengikutinya masuk kedalam ruang keluarga.


"Astaghfirullah, Andra... Maaf ya mas Dani.".


"Nggak papa Rania, namanya juga anak-anak. Ini aku bawa kue muffin kesukaan Andra. Ayo Andra, kita buat pistol kayunya.".


Dani memberikan plastik berisi dus kotak makanan yang bertuliskan 'Choco Muffin', kue kesukaan Andra pada Rania.


'Pantas saja kemarin mas Dani tanya Andra suka makan apa?', batin Rania sambil menerima kue dari tangan Dani.


"Ayo Om, Andra mau buat juga.", Andra menarik tangan Dani, membawa nya ke ruang tengah.


Rania tersenyum, melihat Andra yang begitu bahagia, kemudian melangkah ke dapur kecilnya untuk membuat minuman dan mengambil camilan untuk Andra dan Dani.


Hari ini bude Inah ijin mau berkunjung ke tempat kos anak bungsu nya yang bekerja di Jakarta.


"Kenapa pakai karet gelang Om?", tanya Andra melihat begitu banyak karet gelang yang dibawa oleh Dani. Dani masih sibuk mengeluarkan semua peralatan yang dibawanya dari dalam tasnya.


"Karena Om Dani mau ganti peluru lidi nya dengan karet gelang, biar lebih aman di mainkan sama Andra. ".


"Emang bisa pake karet gelang Om?".


"Bisa dong, nih nanti karetnya di kaitkan disini, trs pelatuknya di tekan, lalu, wuusss... meluncur deh peluru karetnya. ", Dani mengeluarkan pistol kayu yang sudah dibelinya dari toko on-line. Karena Dani sendiri sudah lupa bagaimana cara membuat rangka pistol kayu nya.


"Wah, pistolnya udah jadi Om... Kereeennn!!", seru Andra kegirangan melihat pistol kayu mainan yang dibawa Dani.

__ADS_1


"Coba sini Andra pasang sendiri karetnya, Om Dani ajarin caranya yaa... Tapi ingat, tidak boleh dipakai untuk menyakiti orang lain.".


"Terus buat nembak apa Om, pistolnya?".


"Eemmmm... apa yaa... Rumah Andra ada cicaknya nggak?".


"Ada Om, rumah Andra ada cicaknya, tapi sedikit. Biasanya ada didepan rumah.".


"Oke, nanti kita tembak cicaknya pake ini yaa.".


"Waahhh, sudah jadi pistol kayunya yaa, bagus sekali.", Rania berjalan mendekati Andra dan Dani dengan nampan ditangannya yang berisi minuman, camilan dan kue muffin yang tadi dibawa Dani.


"Mas Dani, diminum dulu mas teh nya.".


"Iya Rania, makasih.".


"Bunda, kata Om Dani, pistolnya bisa buat nembak cicak didepan.".


"Wah iya juga ya, rumah Andra nanti jadi bebas cicak.".


"Nah, udah jadi nih pistolnya.", ucap Dani sambil menyodorkan pistol kayu ke depan Andra.


"Coba sekarang Andra tembakan ke dinding itu.".


Andra langsung menarik pelatuknya dengan takut-takut, matanya menyipit dan bibirnya mengatup kuat.


'Ctaakkk... !!'


"Om Dani, peluru karetnya meluncur, yeeaayy Andra punya pistol.", Andra melompat-lompat ditempat dengan riang gembira.


"Terimakasih Om Dani. ", ucap Andra senang sambil memeluk leher Dani.


"Sama-sama Andra. ", Dani melirik Rania yang sedang tersenyum menatap anaknya, cantik, seulas senyum mengembang dibibir Dani.


"Bunda, Andra mau cari cicak didepan, bolehkan?".


"Boleh, tapi tidak boleh main dijalan ya.".


"Baik bunda. ," Andra langsung berlari keluar rumah sambil membawa pistol mainannya.


"Maaf mas Dani, kita pindah didepan saja ya, aku takut Andra lari-lari dijalan. ".


Dani mengangguk, kemudian mengikuti Rania berjalan ke teras depan rumah.


Teras rumah yang hanya berukuran kecil, dilengkapi meja dan dua kursi. Halaman rumah sudah tertutup paving dan diatas nya tertata pot tanaman hijau dan beberapa bunga yang dibeli Rania.


Rania dan Dani duduk di teras sambil mengawasi Andra yang sedang berlarian kesana kemari mencari mangsa yang akan ditembak. Dua cangkir teh dan camilan beserta kue muffin tersaji dimeja.


"Makasih ya mas Dani. Maaf, mas Dani harus mengorbankan hari libur nya untuk menemani Andra main disini.".


"Aku malah senang bisa main sama Andra, kalau kamu mau... ehheemm, aku juga mau mengorbankan waktu seumur hidupku untuk menemani mu dan juga Andra.".


Rania menatap Dani, kemudian tergelak tertawa kecil, "Bisa aja kang gombal. ".


"Aku serius, Rania... ", Dani menggeser kursinya agar bisa lurus menghadap Rania.

__ADS_1


Rania langsung terdiam, menatap Dani yang kini sedang menatap nya dengan tatapan serius.


"Rania, beri aku kesempatan untuk menjadi ayah dari Andra. Aku serius ingin melamar mu.".


Rania menatap Dani tak percaya, selama ini dia hanya tau kalau Dani memang sering menggodanya, dan dia hanya menganggap itu sebagai sekedar gurauan semata.


"Maaf mas Dani, aku belum berpikir sampai sejauh itu. Aku hanya ingin fokus mendampingi Andra sampai tumbuh besar nanti. Untuk sekarang ini, aku sama sekali belum memikirkan hal yang lainnya.".


Dani menghela nafasnya panjang, memejamkan matanya dengan erat mendengar penolakan halus dari Rania. "Baik Rania, aku akan menunggu mu sampai kamu siap, dan aku akan terus berusaha agar kamu mau menerima ku nanti nya.".


Rania tersenyum tulus menatap Dani, "Selama ini mas Dani begitu baik padaku, aku sudah menganggap mas Dani seperti kakakku sendiri, seperti yang mas Dani bilang padaku waktu itu.".


Dani menunduk, menyesal dulu pernah bilang pada Rania untuk menganggap nya sebagai seorang kakak. Kemudian menghela nafas mencoba menata hati yang sedikit kecewa karena penolakan Rania. Tapi dia juga sadar, mungkin ini memang terlalu cepat dan membuat Rania kaget dengan niatnya melamar Rania.


"Oke, ngga masalah jadi kakak terlebih dulu, siapa tau nanti bisa naik pangkat jadi suami mu, iya kan Rania?", ucap Dani dengan mimik meledek pada Rania.


"Walahu'alam bishawab, hanya Allah yang maha mengetahui kebenarannya. Allah yang maha membolak-balikan hati manusia. ", jawab Rania pelan.


"Semoga saja Allah segera membalikkan hati mu untukku. Aku akan menunggu mu Rania.",


ucap Dani dengan sungguh-sungguh.


*


Arsha berjalan pelan menyusuri padang rumput ilalang yang sangat rimbun dan tinggi. Tangannya sibuk menyibak rerumputan yang menghalangi pandangannya. Nafasnya terengah kelelahan, ditengah panas terik matahari yang terasa panas di atas kepalanya.


Buliran keringat tak berhenti menetes di dahinya, dia sudah mulai merasa kehausan dan kelelahan setelah berjalan di padang rumput yang sangat luas dan seolah tak berujung itu.


'Dimana aku, kenapa tidak ada jalan keluar dari sini... ?'.


Arsha menyibak lagi rerumputan yang ada didepan nya, kali ini dengan sekuat tenaganya, berharap dia bisa cepat keluar dari tempat itu.


Secercah cahaya muncul di sela-sela rerumputan itu, Arsha semakin mempercepat jalannya, tangannya mulai menyibak kasar rerumputan disekitarnya. Dia sudah terlalu lelah dan ingin segera sampai ke cahaya di depannya, walaupun dia tidak tau cahaya apa itu.


Perlahan cahaya itu tampak semakin dekat dengannya, Arsha semakin bersemangat. Dengan langkah lebar dan tangannya yang panjang menyibak rerumputan yang terakhir menghalangi pandangannya.


Arsha tercekat, nafasnya memburu dan jantungnya berdetak keras tak karuan. Sungguh ironis, kini didepannya sudah terhampar padang rumput hijau , dengan aliran air sungai yang sangat jernih, mengalir di sampingnya, dan air terjun yang jatuh dari atas lereng perbukitan yang hijau. Udara sejuk langsung menerpa tubuh Arsha, mengusir rasa panas yang tadi menderanya saat di padang ilalang.


'Apa ini?... '.


Arsha menatap cahaya yang memancar terang didepannya. Cahaya itu semakin jelas terlihat, tepat dibawah pinggiran air terjun. Arsha memicingkan matanya, mencoba menajamkan penglihatannya supaya bisa melihat dengan jelas sumber cahaya itu.


Arsha kemudian melangkah perlahan, menyusuri padang rumput hijau didepannya. Rasa lelah nya seketika lenyap, tergantikan dengan rasa penasaran yang datang. Perlahan mulai tampak jelas, sesosok berpakaian putih bersih muncul dari balik cahaya itu.


Arsha terus berjalan mendekat, matanya tak pernah lepas dari sosok dibalik cahaya itu.


Tiba-tiba langkah nya terhenti, saat sosok cahaya itu berbalik lurus menghadap kearahnya. Arsha terdiam ditempatnya. Nafas tercekat, dan mulut nya terkunci rapat.


Arsha menatap lekat sosok didepannya, meskipun belum begitu jelas terlihat, karena pendaran cahaya disekitarnya. Sosok perempuan dengan kerudung dan baju gamis putih bersih itu kini terlihat merentangkan kedua tangannya, seolah sedang memanggil dan menantikan kedatangan Arsha dibawah air terjun dibelakangnya.


Tanpa disadari, kakinya mulai melangkah mendekat. Matanya masih lekat menatap perempuan didepannya yang kini semakin jelas terlihat, perempuan yang sedang tersenyum menatapnya dengan kedua tangan masih terbuka lebar seolah ingin segera memeluk dirinya.


Perempuan yang sangat dikenalnya selama ini, dan dia...


'Rania...?'

__ADS_1


__ADS_2