
Sore harinya setelah selesei mengurusi Celine yang harus dirawat di apartement oleh Edo, Arsha akhirnya bisa pulang ke rumah mama Hanum dengan perasaan yang sangat carut marut dan sangat kacau. Gelisah menyesali perbuatannya yang sudah membuat istrinya sendiri menyaksikan kesalahpahaman yang terjadi antara dia dan Celine tadi siang.
Dengan sentakan keras dan terburu-buru, Arsha membuka lebar pintu kamarnya. Pandangan matanya langsung memindai setiap sudut ruangan yang ternyata tampak kosong tak berpenghuni. Arsha dengan cepat mencari keberadaan Rania dikamar mandi dan ruang walk in closet dikamarnya itu, tapi ternyata dia sama sekali tidak menemukan sosok yang sedang dicarinya saat ini. Kemudian kembali melangkah ke lantai satu menuju kamar Andra berada, mungkin dia sedang bersama Andra sekarang, tapi ternyata hasilnya pun tetap sama, dia sama sekali tak melihat sosok Rania dan juga Andra dikamar itu. Arsha mendesah resah, pandangannya tiba-tiba terpaku pada etalase pajangan yang biasa digunakan untuk memajang lego hasil karya Andra dikamarnya. Dan kini etalase itu tampak kosong, hanya menyisakan beberapa lego kecil saja di atasnya.
Deg!
Jantungnya serasa berhenti saat menatap kamar Andra yang kosong dan terasa begitu sunyi, tiba-tiba pikirannya dipenuhi prasangka buruk tentang istrinya dan anaknya, dengan keras Arsha menggelengkan kepalanya berusaha menyingkirkan pikiran buruknya dari kepalanya. Kemudian Arsha kembali melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya untuk memastikan sesuatu yang terlintas dipikirannya saat ini. Dan sesampainya didepan lemari besar diruang walk in closet kamarnya, Arsha langsung membuka lemari baju yang biasa digunakan Rania untuk menyimpan baju-bajunya dan terduduk lemas didepan lemari besar itu saat mendapati lemari itu kini sebagian besar sudah kosong dan isinya tidak lagi memenuhi lemari itu. Hanya tinggal beberapa helai baju saja yang masih tertinggal disana.
" Rania... ", ucapnya menyesal.
Dengan tangan yang masih bergetar, Arsha merogoh ponselnya disaku celananya, kemudian melakukan panggilan pada Rania sambil berbisik gelisah seperti sedang memohon, " Kumohon Rania, angkat telponnya sayang... ", ucapnya seperti membaca mantra supaya panggilannya dijawab secepatnya oleh Rania. Setelah tiga kali bunyi nada tunggu telpon terhubung, tiba-tiba panggilannya ditolak oleh Rania, pantang menyerah Arsha kembali menekan tombol panggilannya, tapi justru kini nomor ponselnya terblokir dan sama sekali tidak bisa lagi menghubungi istrinya itu.
Arsha langsung tertunduk lesu, pandangannya kosong menatap lantai kamarnya yang terasa dingin dibawah kakinya. Untuk beberapa saat Arsha benar-benar tidak bisa berpikir harus bagaimana menghadapi Rania yang sekarang pasti sedang sangat kecewa dan benci padanya. Sungguh tak mengira akan menjadi seperti ini jadinya, dia sama sekali tidak ada maksud untuk membuat Rania sakit hati dengan kelakuannya yang kata Rania memuakkan saat tadi memergokinya sedang bersama Celine di apartement nya. Apa jadinya kalau sekarang Rania memang sudah benar-benar membencinya?. Apa memang dia sudah keterlaluan pada Rania hingga membuatnya kecewa seperti itu?. Arsha meremas rambutnya dengan kuat, marah dengan dirinya sendiri yang sudah membuat Rania pergi dari sisinya. Sungguh dia ingin segera bertemu dengan istrinya dan menjelaskan semuanya agar Rania tahu yang sesungguhnya terjadi waktu itu.
Arsha mendesah lelah, pergi kemana istrinya itu?. Dan sejak kapan Rania pergi dari rumah ini?. Tiba-tiba Arsha teringat mama Hanum, mungkin mamanya tahu kemana Rania pergi. Arsha beranjak cepat menemui mama Hanum yang sedang berada dikamarnya. Tanpa mengetuk pintu lebih dulu, Arsha langsung masuk dan mendapati mama Hanum yang sedang tertidur miring diranjang dan sedang terisak menangis sedih.
" Mom... ", sapanya dengan suara yang pelan. Mama Hanum langsung membalikkan tubuhnya membelakangi Arsha.
" Kenapa mommy nangis?. ", tanya Arsha hati-hati. Dia menahan diri sejenak untuk tidak langsung menanyakan Rania setelah melihat keadaan mama Hanum yang sedang menangis seperti itu.
" Kamu yang buat mama nangis kayak gini Sha!. ", seru mama Hanum dengan suara serak menahan tangisannya.
" Maafkan Arsha mom... Arsha memang bodoh..", ucapnya seperti mengerti maksud perkataan mamanya.
Mama Hanum spontan langsung duduk menghadap lurus menatap anaknya yang sedang tertunduk sedih, " Yah benar sekali!! Kamu memang bodoh Sha!!. ", bentak mama Hanum dengan keras.
" Dimana Rania sekarang mom...?. ", tanya Arsha masih menundukkan kepalanya.
" Mana mama tau?!. Kamu harusnya yang lebih tau daripada mama Sha!. ", sentak mama Hanum kesal.
" Mommy sembunyikan dimana Rania mom...?. ", tanyanya lagi dengan nada putus asa.
Mama Hanum terkekeh pelan, " Hahh... Lucu sekali kamu Sha. Baru kali ini mama liat kamu sebodoh ini. Mama udah pernah mengatakan padamu untuk menjaga perasaan istrimu sendiri, tapi sekarang apa yang udah kamu lakukan padanya hingga dia bisa nekat pergi tanpa pamit seperti ini Sha?!. Sekarang kamu baru menyesal kan Sha?!. ".
__ADS_1
Arsha mendongak menatap mama Hanum dengan kesedihan yang mendalam, " Iya mom... Arsha sangat menyesal sekarang. Jadi tolong kasih tau Arsha dimana Rania sekarang mom?. ".
" Mama nggak tau!. ", jawab mama Hanum tegas.
" Mom... ".
" Dengar ya Sha, tadi mama juga baru pulang dari rumah Cantika. Dan mama juga sama kagetnya seperti kamu sekarang, saat tau Rania sama Andra udah nggak ada lagi di rumah ini. Perasaan mama hancur Sha... ", mama Hanum kembali terisak sedih.
Arsha langsung tertunduk lesu mendengar perkataan mama Hanum, apa benar Rania meninggalkan rumah ini tanpa pamit pada siapapun?. Rasanya masih tak percaya kalau Rania bisa meninggalkannya tanpa ada satu pesan pun untuknya.
" Apa nggak ada yang tau kemana Rania pergi mom?. Apa orang-orang di rumah ini nggak ada yang dipamitin sama Rania?. ".
" Mama udah tanya sama semua penghuni rumah ini Sha, mereka bilang Rania pergi dengan koper besarnya bersama Andra dan bik Inah. Saat ditanya mau kemana, dia cuma bilang katanya dia harus pergi ke suatu tempat karena ada urusan penting. Itu aja kata mereka Sha...!. ".
Arsha menjambak rambutnya dengan kasar, "Terus kemana Rania mom...?. Hari udah hampir malam, apa mungkin Rania pulang ke Jogja?. ", tanya Arsha lagi putus asa.
" Kamu pikir Rania anak kecil yang kalo ada masalah terus pulang ke rumah orangtuanya dan langsung mengadu, begitu maksudmu?!. ".
" Ya siapa tau dia memang pulang ke Jogja kan mom... ", ucap Arsha tak bersemangat.
" Mom... Tadi dia pingsan lagi mom... ".
" Ya udah, mama kan bilang, silahkan kamu urusin Celine aja!. Kamu kan yang sekarang paham betul tentang Celine, nggak usah lagi nyari Rania kalo kamu masih berhubungan terus sama wanita itu Sha!. "
" Mom... ".
" Udah lah Sha, mama capek sama kamu!. Keluar dari kamar mama, mama mau istirahat, pikiran mama capek dari tadi mikirin Rania sama Andra. ", mama Hanum langsung merebahkan tubuhnya lagi membelakangi Arsha yang masih gelisah.
Arsha akhirnya pergi meninggalkan mama Hanum dikamarnya, pikirannya benar-benar kacau saat ini, harus kemana mencari Rania, padahal sebentar lagi waktu maghrib segera tiba. Apa mungkin sekarang dia kembali ke rumahnya?, pikir Arsha tiba-tiba.
Arsha langsung bergegas menuju ke halaman depan dimana mobilnya masih terparkir disana, kemudian langsung menginjak gas menuju ke rumah Rania. Dengan kecepatan penuh, Arsha membelah jalanan yang masih padat dengan orang-orang yang sepertinya sedang dalam perjalanan pulang ke rumah masing-masing setelah bekerja seharian. Arsha seolah sedang berpacu dengan pembalap lainnya di sirkuit balapan dengan konsentrasi dan kecepatan penuh diatas rata-rata kendaraan yang lainnya. Sesampainya dirumah Rania, Arsha dengan keras langsung menggedor pintu yang tertutup rapat itu sambil memanggil nama istrinya itu.
" Rania...!! Rania...!!. Buka pintunya...!!. ", teriaknya keras. Sudah hampir lima menit dia berdiri sambil terus menggedor pintu, tapi sama sekali tidak ada sahutan dari dalam sekalipun. Arsha masih pantang menyerah, dengan sekuat tenaga dia mulai mendobrak pintu itu. Hingga empat kali sentakan kaki kanannya, akhirnya pintu itu terbuka paksa dengan kondisi kunci yang rusak. Arsha langsung menghambur masuk ke dalam rumah dan mencari keberadaan Rania diseluruh sudut ruangan rumah kecil istrinya itu, sambil terus memanggil nama Rania dan juga Andra dengan suara keras yang terasa menggema dirumah kosong itu. Arsha terduduk lemas diatas ranjang kamar tidur istrinya itu, " Rania... Dimana kamu sayang... ", ucapnya frustasi saat tak juga menemukan Rania dirumahnya.
__ADS_1
Arsha buru-buru merogoh saku celananya dan langsung menelpon Siska, mungkin Siska tahu karena dia sahabat istrinya, tapi ternyata jawaban yang dia dapat dari Siska juga tidak sesuai dengan harapannya. Siksa sama sekali tidak tahu keberadaan Rania saat ini. Apa iya dia harus menanyakan pada Dani sialan itu?. Ahh... Menyebalkan sekali rasanya kalau harus melibatkan si drona itu disetiap masalahnya, pasti nantinya semua informasi akan langsung ditransfer pada mama Hanum dengan sangat cepat, batin Arsha sebal.
Tapi mau tidak mau dia juga pada akhirnya memang masih sangat membutuhkan bantuan si durhaka itu dalam menyelesaikan semua masalahnya, termasuk masalah pintu rumah Rania yang saat ini rusak karena didobrak paksa olehnya tadi. Dengan kesal akhirnya Arsha menelpon Dani, dan sesaat kemudian Dani sudah berada dirumah Rania membawa serta tukang kunci yang akan memperbaiki pintu itu.
" Kenapa sih pake ndobrak pintu segala?!. Kayak preman aja nggak punya etika!. ", sungut Dani kesal melihat Bosnya yang sedang terduduk lesu di sofa kecil ruang tamu rumah Rania.
" Berisik kamu Dan!. Tutup mulutmu dan selesaikan itu secepatnya, bisa nggak!. ", hardik Arsha pada Dani.
" Pantas aja Rania nggak bakalan betah sama kelakuan Bos yang brutal seperti ini. ".
Arsha yang mendengar perkataan Dani langsung tersulut emosinya dan beranjak berdiri menghampiri Dani yang masih berdiri didepan pintu sambil mengamati tukang kunci.
" Hei Drona!!. Tau apa kamu tentang Rania hehh...??!!. Kamu pasti bersengkokol sama mama kan Dan?!!. Dimana Rania Dan??. Katakan dimana Rania sekarang?!!. ", teriak Arsha frustasi sambil mencengkeram kuat kerah baju Dani dan menarik paksa Dani supaya lebih menjauh ke halaman depan rumah Rania.
" Rania pergi kan Bos??. Rania akhirnya memutuskan pergi juga setelah beberapa kali dibuat sakit hati sama suaminya sendiri yang nggak tau diri seperti Bos ini!!. ", Dani terkekeh puas menatap Arsha yang semakin frustasi.
" Dimana Rania Dan??!!. Cepat katakan dimana dia sekarang?!!!. ", bentak Arsha keras tepat didepan wajah Dani.
" Kalaupun aku tau dimana Rania sekarang, aku juga nggak akan mengatakannya pada suami yang nggak bertanggung jawab seperti mu Bos!!. Aku akan dengan senang hati menjemput Rania dan akan menjauhkannya dari laki-laki brengsek seperti mu!! ", balas Dani geram.
" Kurang ajar kamu Dan!!!. ", Arsha mengepalkan tangan kanannya bersiap ingin meninju mulut Dani yang pedas itu.
" Ayo pukul aja Bos!. Perlihatkan bagaimana Bos yang sebenarnya, sekarang udah nggak ada saatnya lagi menutupi jati diri Bos yang brengsek seperti ini!. ", tantang Dani tak gentar dengan ancaman Bos nya.
Sementara itu, tukang kunci yang dari tadi melihat perdebatan keras dua orang laki-laki didepannya hanya diam ketakutan sambil mengawasi barang kali benar-benar terjadi baku hantam. Matanya tetap waspada mengamati dan bersiap berlari meminta bantuan kalau terjadi perkelahian, karena mengingat postur tubuhnya sendiri yang kecil tidak mungkin akan bisa melerai dua orang kekar didepannya itu.
Arsha menyentak keras tubuh Dani hingga Dani terhuyung kebelakang hampir terjatuh menimpa pot bunga milik Rania. " Jadi kamu juga nggak tau dimana Rania??. ", tanya Arsha dengan suara lebih tenang dan lesu.
" Rania orang yang cerdas, dia nggak akan ngasih tau siapapun kemana dia pergi. Apalagi dia tau bagaimana brengsek nya suaminya ini, yang dengan seenaknya sendiri memainkan perasaan wanita selembut Rania!!. ", gertak Dani lagi. Rasanya saat ini belum puas melampiaskan kekecewaan nya pada Arsha.
" Apa aku benar-benar se brengsek itu Dan??. ", tanya Arsha lagi dengan nada frustasi dan putus asa.
" Yah... Kamu adalah laki-laki brengsek yang nggak tau diri!!. Sudah beruntung mendapatkan berlian malah lebih memilih batu busuk yang sudah lapuk!!. ".
__ADS_1
Arsha langsung tertunduk malu, rasanya kali ini dia harus menerima julukan barunya dari Dani. Memang benar, kali ini dia memang benar-benar sudah menjadi laki-laki brengsek yang tidak tahu diuntung.
" Kemana aku harus mencari Rania Dan??. ", tanya Arsha dengan suara serak seperti menahan tangis. Dani hanya tersenyum miring mendengar pertanyaan Bos nya yang sekarang tampak tak berdaya didepannya.