
Angin berhembus sejuk menggeser matahari yang mulai merendah di ufuk barat. Suasana taman belakang rumah mama Hanum sudah berubah dengan dekorasi sederhana namun cantik hasil kreasi wedding organizer yang ditunjuk mama Hanum sendiri, untuk menyulap taman belakang menjadi tempat yang akan digunakan anaknya yang akan mengikrarkan janji akad nikahnya dengan Rania. Harum bunga mawar putih yang tersebar di sepanjang taman manambah segar suasana taman yang sudah dipenuhi oleh sekitar lima puluh kursi tamu undangan baik dari keluarga mama Hanum dan keluarga Bapak Ibunya Rania, maupun kerabat dekat yang sengaja diundang untuk ikut menyaksikan akad nikah sore ini.
Selepas waktu Ashar tamu undangan sudah mulai berdatangan dan memenuhi kursi tamu, terlihat beberapa keluarga dari Jogja juga turut hadir untuk menyaksikan prosesi akad nikah. Rania sendiri sudah sejak pagi tadi dipaksa mama Hanum harus datang ke rumah untuk menjalani serangkaian perawatan dan persiapan untuk acara sore ini.
Sebelum mulai di rias oleh tim make up, Rania meminta ijin untuk sholat Ashar lebih awal supaya hati nya lebih tenang. Rencananya akad nikah akan dilaksanakan pada pukul empat sore ini, dan akan dinikahkan langsung oleh Bapak seperti dulu saat Rania menikah dengan Andre.
Rania terduduk diam setelah selesai melaksanakan sholat nya, airmatanya tiba-tiba mengalir jatuh membasahi mukena putih yang dibawanya dari rumah. Semuanya akan segera berubah, entah siapa yang akan berubah dan siapa yang akan merubah. Rania hanya berdoa, semoga pernikahan ini akan merubahnya menjadi pribadi yang lebih baik, dan akan membawa kebahagiaan untuk Andra dan keluarga nya. Meskipun dia sadar, pernikahan ini bukanlah pernikahan seperti pada umumnya yang menyatukan dua insan yang saling mencintai. Pernikahan ini tak lebih dari sebuah kesepakatan bersama karena sebuah kesalahpahaman semata. Dan semua akan selesai pada saatnya nanti, karena dia dan Arsha sendiri sudah menyepakati untuk berpisah satu tahun lagi.
'Mas Andre, Rania akan selalu mengenangmu sampai kapanpun', Rania terisak pelan dalam do'anya, masa lalu hanyalah masa lalu, sekarang dan esok adalah masa depan yang harus dihadapinya. Inilah kenyataan yang harus dihadapinya saat ini, pernikahan mendadak dengan Bos nya sendiri yang tak pernah terbayangkan sedikitpun dipikirannya.
Rania bukanlah orang munafik yang tidak membutuhkan pendamping hidup setelah kepergian Andre, hanya saja dia sama sekali belum siap untuk menikah lagi, karena alasan ingin fokus memberikan kasih sayang untuk anaknya dulu.
"Rania, kamu sudah ditunggu sayang. ", panggil mama Hanum dengan lembut yang langsung membuyarkan lamunannya. Rania mengusap air matanya, kemudian menoleh kebelakang menatap mama Hanum yang memanggilnya.
"Iya, Ma. Rania sudah selesai. ", Rania sudah mulai terbiasa memanggil mama Hanum dengan sebutan 'mama' seperti permintaan mama Hanum saat di butik baju pengantin kemarin. Rania bergegas melipat mukena nya lalu dengan patuh langsung duduk dikursi yang menghadap ke arah cermin besar. Tiga orang yang sudah menunggunya langsung sibuk dengan tugasnya masing-masing, karena memang waktu yang sudah sangat dekat dengan acara. Rania hanya pasrah, diam menurut tanpa banyak meminta ini dan itu untuk urusan make up dan semua aksesoris yang akan dipasangkan diseluruh tubuhnya.
*
"Saya terima nikah dan kawinnya, Rania Putri Ramadhani binti Setyo Nugroho, dengan mas kawin emas seberat 100gram dan seperangkat alat sholat, dibayar TUNAI! ", ucap Arsha dengan suara yang tegas dan lantang. Tangan kanannya menggenggam erat tangan Bapak dan menatap penuh keyakinan pada Bapak yang duduk didepannya.
"Bagaimana para saksi?", tanya penghulu yang duduk disamping Bapak.
"Sah!", seru para saksi yang sudah mengelilingi Arsha dan Bapak di tempat yang sudah disiapkan oleh WO untuk acara akad nikah. Termasuk juga Dani yang hanya mengucapkan dengan nada yang pelan dan tak bersemangat.
"Alhamdulillah... ".
Arsha langsung mengajak tos pada Andra yang ikut menyaksikan dan duduk diam disebelahnya. Andra dengan semangat menyambut tangan Arsha yang sudah diangkat didepannya.
"Tos, Daddy!", seru Andra bahagia yang disambut tawa oleh para saksi.
Dani tertunduk lesu setelah melihat dan menyaksikan pemandangan yang menyakitkan hatinya.
Sementara itu, Rania yang masih duduk didalam rumah kembali menitikan airmata setelah mendengar akad nikah yang diucapkan Arsha barusan, Ibu langsung memeluk nya dengan erat.
"Selamat ya, Ra. Semoga kamu tetap menjadi wanita sholehah bagi suamimu dan juga Andra.", ucap Ibu dengan mata berkaca-kaca.
"InsyaAllah, Bu.", Rania tersenyum menatap Ibu nya.
"Rania, ayo keluar. ", panggil mama Hanum yang baru saja datang dari taman, Rania mengangguk patuh.
__ADS_1
"Ayo, temui suamimu. "
'Deg!, jantung Rania berdegup keras saat mendengar kata suami dari mulut Ibu nya, 'Benarkah aku sekarang sudah menikah... lagi... ?', Rania memejamkan matanya erat sebelum melangkah keluar untuk menemui Arsha di taman, kemudian berjalan perlahan bersama mama Hanum dan Ibu yang mengapitnya disamping kanan kirinya.
'Bismillahirrahmanirrahim... ', ucap Rania dalam hati dan memantapkan langkah menuju tempat suaminya berada.
Arsha berdiri sambil menggenggam erat tangan kanan yang mungil milik Andra. Berkali-kali menoleh menatap Andra dengan senyum bahagia yang tak pernah lepas dari wajahnya. Inilah tujuan utama yang sesungguhnya, menggenggam tangan Andra untuk selamanya, sebagai anaknya sendiri, obat dari trauma masa lalu nya yang kelam.
Arsha terpaku diam saat melihat wanita yang sedang berjalan pelan menuju kearahnya, diapit oleh mama Hanum dan Ibunya Rania.
Kini matanya hanya fokus menatap Rania tanpa berkedip didepannya, menelan ludahnya sendiri untuk membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba terasa kering. 'Benarkah itu Rania? ', batinnya takjub dengan pemandangan yang dilihatnya didepannya. Benar-benar berbeda dengan Rania yang biasa dilihat nya dikantor selama ini.
Rania memakai gaun brokat panjang berwarna broken white, dengan kerudung yang tetap menutupi bagian dadanya, dihiasi bando bertahta batu permata bening dan berkilauan diatasnya, dan dilapisi kerudung panjang yang menjuntai sampai menyentuh lantai. Sangat cantik, itulah gambaran yang sekarang terlihat saat Arsha menatap Rania didepannya.
"Ehhemm... !", deheman keras Bapak yang berdiri disampingnya, menyadarkan Arsha dari kekagumannya pada Rania. Arsha langsung salah tingkah dan tersenyum canggung karena terpegok sedang menatap istrinya sendiri.
"Bunda cantik. ", ucap Andra dengan polosnya, Arsha langsung menoleh menatap Andra.
"Sangat cantik.", bisiknya pelan pada Andra.
Kemudian tanpa sengaja melirik kearah Dani yang juga ikut berdiri disebelah Andra dan sedang menatap Rania dengan mulut terbuka.
"Skakmat!", bisik Arsha lagi pada Dani. 'Dasar Bos Gedeg!!', batin Dani kesal, sempat-sempatnya meledeknya diacara sakral seperti ini. Dani mengacuhkan Arsha, dan kembali menatap Rania yang semakin dekat menghampiri Arsha, sangat kagum dengan kecantikan Rania yang biasanya sudah terlihat cantik tanpa polesan make up, sekarang semakin terlihat cantik dengan gaun pengantin putih panjang yang dipakainya.
Rania terus tersenyum berjalan pelan dengan tetap menundukkan kepalanya, tak berani menatap Arsha yang semakin dekat dengannya, lalu langkahnya terhenti tepat didepan Arsha.
"Rania, ayo lihat suami mu. ", bisik Ibu pelan ditelinga Rania. Jantung Rania semakin berdegup kencang, 'Suami... ?', Rania menggenggam erat buket bunga mawar putih kecil yang ada di kedua telapak tangannya, mencoba mengumpulkan semua keberaniannya untuk menatap Arsha yang sudah berdiri didepannya.
'Bismillahirrahmanirrahim... ', Rania memejamkan matanya erat, kemudian mendongakkan kepalanya menatap Arsha yang sedang menatapnya lekat dengan pandangan dan senyuman yang sulit diartikan oleh Rania.
"Apa kamu tidak ingin menyapa suami mu, Ra.", ucap Bapak menyadarkan Rania dari lamunannya.
Rania langsung meraih tangan kanan Arsha kemudian menciumnya.
"Assalamu'alaikum... ", ucap Rania pelan, hampir tak terdengar oleh Arsha.
"Waalaikumsalam... ", sahut Arsha dengan terbata karena masih kaget dengan sentuhan tangan Rania, ini adalah pertama kali nya dia bersentuhan langsung dengan Rania, karena memang Rania selama ini sangat menjaga untuk tidak bersentuhan dengan laki-laki yang bukan muhrimnya. Arsha tersenyum canggung menatap Rania yang kembali tertunduk, merasakan desiran halus yang masih menggerayangi tubuhnya karena sentuhan tangan Rania.
*
__ADS_1
Sarah berdiri dibelakang taman, menatap Rania dan Arsha dari kejauhan, yang kini sedang sibuk menyalami para tamu undangan. Sesekali Sarah mengusap matanya yang basah karena air mata, kemudian membenahi kacamata hitam yang sengaja dipakainya untuk menutupi mata sembabnya, kemudian melangkah mendekati Arsha dan Rania yang sudah selesai menyalami tamu dan sekarang sedang berdiri didekat meja prasmanan untuk mengambil minuman.
"Bu... Sarah... ", ucap Rania terbata, kaget menatap Sarah yang sudah berdiri didepannya. Arsha langsung berbalik saat Rania menyebut nama Sarah.
"Sarah... ".
Sarah berdiri angkuh dengan sedikit mengangkat dagunya, bergantian menatap Arsha dan Rania didepannya.
"Rania, apa yang kamu rasakan sekarang?".
Rania terdiam mendengar pertanyaan Sarah, itu adalah sindiran halus padanya yang tiba-tiba saja menikah dengan orang yang sangat dicintai Sarah. Rania tertunduk dalam, mencoba menahan tangisnya karena rasa bersalah pada Sarah yang selama ini sangat baik padanya. 'Apa aku sama saja seperti pelakor?', selama ini Sarah sangat percaya pada Rania, dan menjadikan Rania sebagai tempat curahan hatinya. Tapi kini...
"Sarah, aku sudah bilang, Rania tidak bersalah."
"Aku cuma menanyakan bagaimana perasaannya, apa aku salah menanyakan hal itu?".
"Maafkan saya, Bu Sarah. Saya sudah melakukan kesalahan yang besar pada Bu Sarah, tolong maafkan saya, Bu.", ucap Rania sambil menunduk, tidak berani menatap Sarah karena merasa sangat malu dan bersalah.
Sarah tergelak dengan tawa kecilnya, kemudian menghela nafasnya dengan berat.
"Sudahlah, aku tidak ingin mengacaukan acara pernikahan kalian yang indah ini, kalian berdua memang cocok untuk menikah. Rania, kamu harus jaga suamimu ini, dia itu laki-laki yang sangat berbahaya, jadi kamu harus selalu waspada dan berhati-hati dengannya. Jangan sampai kamu menjadi korbannya, seperti aku ini, tak pernah terbalaskan cintanya karena dia sudah cinta mati dengan.. "
"Sarah!", potong Arsha dengan cepat.
"Ups, maaf. Hampir saja keceplosan. Rania kalau kamu ingin tau lebih banyak tentang suamimu ini, kamu bisa menanyakannya lagi padaku, aku punya banyak rahasia besar tentang suamimu ini."
"Cukup Sarah!", ucap Arsha dengan suara yang sedikit ditekan supaya tidak terdengar oleh tamu lainnya.
"Kenapa? Kamu takut rahasia mu terbongkar, Sha? Kamu takut Rania tau masa lalumu?".
"Sarah, berhenti sekarang juga, atau aku... "
"Sarah?! Ya Tuhan, ternyata benar kamu Sarah."
"Cantika?!" Sarah menatap Cantika yang tadi menepuk bahunya dari belakang.
"Iya lah, aku Cantika, masa pangling sih sama aku?".
"Itu... ", tunjuk tangan Sarah pada perut Cantika yang membesar.
__ADS_1
"Hehehe... lucu kan... Sudah hampir enam bulan. Ayo ikut aku, aku kangen sama kamu.", Cantika menarik tangan Sarah, kemudian melirik kearah Arsha dengan mengedipkan satu matanya. Arsha tersenyum mengerti, ternyata Cantika bermaksud membantu kakaknya supaya tidak diganggu oleh Sarah, 'Pintar juga adikku'.