
Plak!!
" Awww... Mom... ", pekik Arsha sambil memegangi bahunya yang dipukul keras oleh mama Hanum.
" Dasar anak nggak tau diri kamu Sha!. Mama benar-benar kecewa sama kamu!. ", sungut mama Hanum menyambut kepulangan Arsha pagi ini.
" Mom... Please jangan men justice aku dulu, aku punya alasan kenapa aku melakukan semua ini...", ujar Arsha membela diri.
" Apapun alasannya itu tetap salah Sha!. Nggak ada benarnya semua yang kamu lakukan itu!. ".
" Mom... Aku bingung harus gimana lagi?!. Aku terpaksa Mom... ".
" Kamu kan bisa pake cara lain selain membawa Celine ke apartement!. Apa kamu nggak mikirin gimana perasaan Rania kalo dia tau hal ini?!. ".
Arsha menatap mama Hanum, tak heran kalau sekarang mamanya sudah tahu semuanya, ada sang drona yang selalu siap sedia memberi informasi kapan saja. Semalam memang Dani lah yang membantu menyelesaikan administrasi perawatan Celine dirumah sakit dan ikut mengantar sampai ke apartement, " Mom, please jangan kasih tau Rania... Aku benar-benar terpaksa melakukan itu mom... ".
" Tanpa mama kasih tau pun dia mungkin udah tau Sha!. Wanita itu jelas-jelas memamerkan setiap kemesraan kalian di IG nya!. Semua orang juga pasti akan tau tanpa kamu mengatakannya!.", bentak mama Hanum geram. Semenjak kabar kedatangan Celine, mama Hanum memang lebih giat lagi memantau sosial media yang dipakai Celine. Dari dulu Celine memang sangat gemar mengumbar kemesraannya dengan Arsha.
" Aku nggak pernah bermesraan dengan Celine mom... Arsha berani bersumpah!. ", sanggah Arsha keras.
" Nggak ada gunanya sumpah mu itu Sha!. Kamu pikir mama sama Rania itu anak kecil yang bisa dibohongi gitu aja?!. ".
" Arsha nggak lagi bohong sama sekali, ini terpaksa aku lakukan biar masalahnya cepat selesai mom... Please percayalah sama Arsha, aku benar-benar udah nggak ada rasa lagi sama dia mom... ".
" Terus mau sampai kapan kamu meladeni sifat kekanak-kanakan nya itu Sha?!. Sampai Rania tau kalo kamu sekarang tinggal serumah lagi dengan wanita itu?!. ".
" Please mom... Jangan ngomong kayak gitu... Arsha benar-benar terpaksa mom... Arsha nggak tinggal sama dia lagi. Dia terus mengancam menyakiti dirinya sendiri kalo nggak diturutin. Arsha bingung mom... ", bela Arsha.
" Nggak seharusnya kamu malah menuruti semua permintaannya, kamu harus lebih pintar lagi menghadapi ancaman palsu seperti itu Sha!. Dia cuma mau ngetes kamu aja, dan ternyata dia sekarang berhasil membuatmu mengalah. Harusnya kamu berpikir sampai kesitu Sha, jangan asal main terima tipu daya nya aja!. ".
" Mom... Dia udah mencoba mengiris tangannya didepan mata Arsha, dan ternyata selama ini dia juga jadi pecandu narkoba setelah kejadian dulu. Kejiwaan nya terganggu dan harus minum obat penenang selama hampir lima tahun ini. Ternyata dia sama terpukulnya dengan Arsha saat itu, dan Arsha nggak bisa membiarkan dia semakin tersiksa lagi mom, Arsha sedang mencoba mencari jalan biar dia bisa menerima kenyataan tentang pernikahan ku dengan Rania. ".
" Terus sementara ini kamu mau balikan lagi sama dia sampai dia tenang dengan alasan kamu kasihan, gitu maksud kamu Sha?!. ".
" Enggak mom... Arsha nggak mungkin balik lagi sama dia, Arsha cuman minta waktu sebentar sampai dia tenang dan Arsha bisa mengajaknya bicara dengan terbuka. ".
" Mama nggak mau tau Sha!. Kalau kamu tetap gagal dengan cara mu itu, jangan salahkan mama mengambil tindakan seperti dulu lagi!. ", ancam mama Hanum.
__ADS_1
" Please mom... Biar Arsha selesaikan sendiri yah, ini masalah pribadi ku dan sekarang Arsha juga udah dewasa. Mommy nggak perlu ikut campur lagi... Arsha cuman minta waktu sebentar aja mom, aku mohon percayalah sama Arsha. ", pinta Arsha pada mama Hanum.
Arsha menjatuhkan tubuhnya yang terasa lelah diatas ranjang kamarnya setelah berdebat panjang dengan mama Hanum, kemudian menatap kosong ruangan yang kini terasa sangat sepi tanpa Rania, entah dimana Rania sekarang?. Seharusnya dia sudah kembali ke rumah setelah mengantarkan Andra, tapi sepertinya dia tidak langsung pulang lagi seperti kemarin.
Arsha menghembuskan nafasnya yang terasa berat, kemudian memejamkan matanya yang masih lelah, mencoba merilekskan tubuhnya karena semalaman harus mengurus kepulangan Celine dan akhirnya meneruskan tidurnya disofa apartement. Celine memaksa nya untuk tetap tinggal di apartement dengan alasan masih butuh teman. Sementara itu Bobby pergi begitu saja begitu mereka sampai di apartement nya. Setidaknya pengorbanannya kini sedikit membuahkan hasil.
Flashback on
" Ngapain sih pake masukin pisau ke dalam kamar segala?. Kamu kan tau Celine masih belum stabil emosinya!. ", sungut Arsha saat menghampiri Bobby yang sedang duduk santai memainkan HP nya di sofa ruang keluarga apartement miliknya.
" Iya Bos, maap... Tadi tuh nona Celine minta makan apel, Bos tau sendiri kan kalo nona Celine nggak bisa makan apel yang masih ada kulitnya, jadinya aku pinjem pisau deh ke perawat jaga. ", alasan Bobby.
" Tapi kamu kan bisa ngupas apelnya di luar kamar!. Kenapa mesti di dalam kamar segala?!. ".
" Ishhh... Si Bos mah bawaan nya emosian terus. Nggak asik banget jadi orang... ".
" Kamu udah ngabarin orang tua Celine atau keluarga lainnya?. Kenapa belum ada yang datang satupun kesini?. ".
" Nggak boleh sama nona Celine. ", sahut Bobby singkat.
" Ya nggak boleh ngabarin mereka sama nona Celine. ".
" Terus kamu turutin gitu aja?!. ", tanya Arsha tak percaya.
" Bos, nona Celine ngancem mau loncat dari jendela kalo sampe ada yang datang ke Jakarta. Dia nggak mau keluarga nya tau tentang kondisinya yang berantakan disini. Dia takut dikurung lagi sama Papa nya di Inggris. ".
" Dan kamu percaya sama ancamannya itu?!. ".
" Ehh Bos, tolong yah... Aku tuh orangnya masih punya perasaan ngliat nona Celine kondisinya yang menyedihkan kayak gitu. Dia udah pernah nyoba bunuh diri didepan Bos kan?. Ya mana berani aku ambil resiko dia lakuin hal itu lagi. Bos aja takut kan sama ancamannya, buktinya sekarang Bos mau nurutin permintaan nona Celine. Udah ah Bos, capek aku ngomong sama Bos yang nggak peka sama perasaan cewek, sekarang aku mau pergi aja. ".
" Hey...!. Mau kemana kamu?!. ".
" Mau ketemu jodohnya orang, pokoknya malam ini aku nggak mau diganggu, titik!. Bye Bos, nitip nona Celine dulu yah, jangan sampe ditinggal sendirian kalo nggak mau nyesel besok pagi. ", ancam Bobby sambil berjalan gemulai meninggalkan Arsha yang masih kebingungan. Akhirnya Arsha terpaksa mengalah menemani Celine malam ini di apartement, ada rasa khawatir kalau harus meninggalkan Celine yang masih belum stabil emosinya. Kemudian merebahkan tubuhnya yang lelah disofa itu, sambil membayangkan Rania yang tadi ditinggalkan nya saat masih tertidur. Apa Rania akan marah dengan apa yang telah dilakukannya sekarang?. Apakah ini benar-benar keputusan yang benar untuk menyelesaikan masalah ini?. Atau malah sebaliknya?. Arsha mengusap wajahnya dengan kasar, kepalanya rasanya mau pecah memikirkan masalah pelik ini.
Pagi harinya setelah setelah melaksanakan sholat subuh nya yang terlambat, Arsha kembali duduk disofa menunggu Celine bangun. Sudah hampir jam enam pagi tapi Celine belum juga keluar dari kamar. Rania pasti sudah berangkat mengantarkan Andra ke sekolah dan tidak ada kesempatan bertemu lagi pagi ini karena dia juga harus ke kantor, pikirnya resah.
Arsha berdiam diri diruang tengah, dia sama sekali tidak ada keinginan untuk menghampiri Celine dikamar, dia sudah ingin membatasi diri dengan hal yang diluar aturan agama. Akhirnya dia beranjak ke dapur menyiapkan sarapan untuk Celine, bagaimanapun juga dia masih punya rasa belaskasihan saat melihat Celine yang masih belum pulih kondisi kesehatannya.
__ADS_1
Sepotong sosis berukuran sedang, telor mata sapi setengah matang, beberapa potong kentang oven dan segelas susu putih sudah siap disajikan di meja makan. Dia hanya menyiapkan satu piring sarapan untuk Celine, dan sama sekali tidak ada niat untuk ikut sarapan berdua dengan Celine.
Tepat jam tujuh pagi akhirnya Celine turun kebawah menemui Arsha, seulas senyuman bahagia mengembang diwajahnya yang masih pucat, menatap penuh haru saat melihat menu sarapan yang sudah tersaji dimeja makan. Menu sarapan yang dulu biasa disiapkan khusus untuknya oleh Arsha.
" Kamu yang nyiapin ini semua Sha?. ".
" Makanlah. ", sahut Arsha dengan datar, tak menjawab pertanyaan Celine.
Celine tersenyum kemudian duduk di kursi makan tepat dihadapan Arsha. " Makasih Sha, ternyata kamu masih ingat menu sarapan favorit ku. Lama sekali aku nggak sarapan dengan menu seperti ini Sha. ", ujarnya sambil terus tersenyum bahagia.
" Hanya itu yang bisa aku masak, makanlah sebelum benar-benar dingin. ".
Celine menatap Arsha yang begitu dingin menanggapinya, " Baiklah, kenapa kamu nggak ikut makan?. ", tanya Celine saat menyadari hanya ada satu piring di meja itu.
" Aku belum ingin makan. Oh ya, aku harus segera pergi ke kantor, ada banyak pekerjaan penting hari ini. Tadi aku udah telpon Bobby supaya datang kesini menemanimu. Mungkin aku tidak bisa kesini sampai nanti malam. ".
Celine kembali tersenyum, " Iya Sha, aku mengerti. Aku akan menunggumu sampai nanti malam. ".
Arsha terkejut mendengar perkataan Celine yang masih saja berharap, " Celine, aku mohon mengertilah... Saat ini kita nggak lagi sama dengan dulu. Aku masih banyak urusan lain selain ini, kamu tau maksud ku kan?. ", ucap Arsha pelan.
Celine langsung tertunduk dalam, " Aku tau Sha, semalam aku juga mulai berpikir tentang semua yang udah kamu katakan waktu itu, aku ingat dan sangat mengerti sekarang. Tapi apa boleh aku minta waktu untuk bisa menyiapkan diriku sendiri menerima semua ini Sha?. Bolehkah untuk sementara ini aku tinggal disini sampai aku benar-benar siap dan menerima kenyataan ini?. Aku butuh waktu Sha... , aku nggak sekuat kamu yang benar-benar sudah bisa melupakan cinta kita. Dan aku janji kalau udah tenang pasti aku akan dengan sendirinya pergi menjauh dari hidupmu selamanya. Aku nggak akan menggangu mu lagi Sha... ".
Arsha menarik nafasnya dalam, ada perasaan lega mendengar Celine sudah bisa diajak bicara dengan serius seperti ini. " Baiklah... Silahkan kamu tinggal disini sampai kamu benar-benar tenang, aku harap kali ini kita bisa mengakhiri semua ini secara baik-baik dan nggak ada lagi rasa bersalah dalam hidup kita masing-masing. ".
" Itu juga yang aku harapkan Sha... Tolong jangan membenci ku lagi Sha, aku benar-benar udah menyesalinya. Dan sekarang aku udah menerima hukuman dari perbuatan ku sendiri. ", Celine menyeka airmatanya sambil terus menatap Arsha dengan sedih.
" Aku udah nggak ada rasa benci atau apapun itu sama kamu Celine, semuanya udah aku lupakan. Saatnya kita melanjutkan hidup kita masing-masing dengan tenang. Nggak ada lagi yang harus disesali, semua benar-benar udah berakhir. Aku udah menemukan jalanku sendiri sekarang. Aku harap kamu juga akan menemukan kebahagiaanmu sendiri kelak. Maafkan aku Celine, aku harap kamu mengerti keadaan ku saat ini. ".
Celine mendongak menatap Arsha dengan mata berkaca-kaca, " Aku yang seharusnya minta maaf sama kamu Sha... Akulah yang salah selama ini, dan aku yang membuat semuanya jadi berakhir seperti ini. ", sesal Celine terisak lirih.
" Sudahlah... Hilangkan rasa bersalah mu itu, kita nggak akan bisa lagi merubah masa lalu kita. Ini udah jadi takdir kita berdua, mungkin inilah yang terbaik untuk kita berdua. ", ucap Arsha teringat kata-kata Rania.
" Baiklah, aku akan mencoba melupakan masa lalu kita Sha. Sekarang bisakah kita berteman saja Sha... Setidaknya itu lebih baik daripada saling bermusuhan kan?. ", ujar Celine sambil tersenyum.
" Yah, itu lebih baik. ", Arsha membalas tersenyum, setuju dengan usul Celine yang membuat nya bisa bernafas lega kali ini. Akhirnya ada titik terang yang bisa ditemukan setelah begitu banyak drama yang terjadi beberapa hari ini. Semoga saja Celine bisa lebih cepat menemukan ketenangannya dan segera pergi dari kehidupan pernikahan nya dengan Rania, berharap tidak ada episode baru lagi yang harus melibatkan Celine dalam rumah tangganya.
*
__ADS_1