Tak Cinta Tapi Menikah

Tak Cinta Tapi Menikah
Rania lagi


__ADS_3

Matahari sudah mulai meninggi, memaksa cahayanya yang terang menerobos masuk melalui celah gorden kamar tidur Arsha yang masih tertutup rapat.


"Astaga...", Arsha tersentak bangun dari tidurnya, keringatnya mengalir dari sela-sela rambut hitamnya. Nafasnya memburu, dan pandangan nya mengedar menatap ke seluruh penjuru sudut kamarnya.


'Huuhh... ternyata hanya mimpi.', batinnya lega.


Jantungnya masih berdetak kencang, Arsha memegang dadanya berharap detak jantung nya bisa normal kembali.


'Mimpi apa itu? Kenapa ada Rania di mimpi ku.. ? Jelas sekali itu Rania.'. Begitu jelas dalam mimpinya saat Rania berdiri dibawah air terjun seperti sedang menunggu kedatangannya.


Arsha menggeleng-gelengkan kepalanya cepat, mencoba mengusir ingatannya dari mimpi yang barusan dia alami. Kemudian melirik jam diatas nakas, ternyata sudah jam 08.47. Semalam dia terjaga karena mimpi buruknya yang selalu datang dan selama lima tahun ini menghantuinya. Dan baru bisa terlelap lagi setelah hampir waktu subuh tiba.


Arsha bergegas turun dari tempat tidurnya, tenggorokannya terasa haus dan tubuhnya terasa kelelahan seperti saat berjalan di padang ilalang dimimpi nya tadi. Dia berjalan gontai keluar dari kamar, menuju ke lantai satu rumah mamanya.


Begitu sampai diruang makan, Arsha langsung mengambil gelas dan mengisinya dengan air dingin dari dispenser yang ada diruang makan. Dan dalam satu tenggakan, air dingin dalam gelas itu langsung habis. Arsha menghela nafasnya, mencoba meredam debar jantungnya yang masih berdetak kencang tak beraturan.


"Kalo minum sambil duduk dong, Sha".


Arsha memutar tubuhnya menghadap mamanya yang sudah berdiri dibelakangnya. Matanya langsung membulat melihat penampilan mamanya pagi ini yang sudah rapi dan terlihat sangat cantik dan anggun seperti biasanya.


"Kenapa? Nggak cocok ya?", tanya mama Hanum saat melihat kekagetan anaknya dengan penampilan nya.


"Mommy mau kemana berpakaian seperti itu?", tanya Arsha penasaran.


"Mau pengajian lah, masa mau ke pasar pake gaun kayak gini?!", jawab mama Hanum singkat.


Arsha masih menatap mama Hanum dari atas sampai bawah.


"Gimana Sha? Mama cocok nggak pake baju kayak gini? Ini baju pilihan nya Rania lho.".


'Rania lagi... ', batin Arsha dalam hati. Kenapa kini semuanya tentang Rania, dan seperti berputar terus dalam hidupnya. Bahkan mama nya sendiri sekarang sudah ada dilingkaran seputar Rania.


Mama Hanum memutar tubuhnya didepan Arsha, kemudian berkacak pinggang menunggu penilaian dari anaknya. Mama Hanum memakai gamis dengan potongan lebar dan kerudung panjang menutup dadanya. Sangat cantik dan terlihat anggun seperti biasanya.


"Mommy selalu cocok memakai baju apapun.", ucap Arsha mencoba menyenangkan mama Hanum.

__ADS_1


"Ah bisa aja kamu, tapi yang ini cocok kan kalo buat pengajian?".


"Mommy yakin mau ke pengajian?!", tanya Arsha dengan nada tak percaya.


Selama ini memang keluarga nya tidak terlalu peduli dengan ibadah dan segala hal yang berkaitan dengan Islam. Meskipun status mereka adalah keluarga muslim, namun tidak ada yang menjalani status keislamannya dengan benar.


Cerminan keluarga modern yang tidak peduli dengan hal akhirat nantinya. Bagi mereka yang terpenting adalah duniawi dengan segala isinya.


Mama Hanum menghela nafas pelan, "Kamu nggak percaya mama mau pengajian?".


Mama Hanum duduk di kursi tepat didepan Arsha, wajahnya tampak kecewa dengan respon anaknya yang tidak percaya padanya. Arsha menggeser kursi didepan mamanya, kemudian duduk berhadapan dengan mama Hanum.


"Emang mommy mau pengajian dimana?", tanya Arsha pelan, takut menyinggung mamanya lagi.


"Kita ada undangan dari panti, mama sudah lama nggak ke panti. Sejak papa mu meninggal, mama belum pernah ke sana lagi. Dulu waktu papa mu masih ada, mama selalu ikut ke panti nemenin papamu. Tapi sekarang mama nggak punya temen lagi kalo ke panti. ", ucap mama Hanum sedih, kepalanya menunduk dalam menahan tangisan yang akan segera pecah.


Arsha langsung menarik mamanya kedalam pelukannya.


"Mama kangen sama papa mu, Sha... ", tangis mama Hanum langsung pecah dalam pelukan Arsha.


"Papa pasti sudah tenang disana, mom. ", ucap Arsha pelan sambil mengusap punggung mamanya berharap bisa meredakan tangisan mamanya.


Arsha menghela nafasnya pelan, "Maaf, mom. Aku belum pernah kesana sebelumnya.".


"Makanya kamu kesana sekarang sama mama, kamu kan sama sekali belum pernah datang ke panti, Sha? Papa mu pasti senang kalau kamu mau meneruskan mengurus panti itu.".


Arsha menatap mamanya yang sedang menatapnya penuh harap. Selama ini memang dia sama sekali belum pernah melihat dan mendatangi panti itu. Panti yang sudah didirikan oleh papa nya sejak dia masih SMA. Papa Indra Wiguna mendirikan panti sosial untuk menampung anak yatim piatu yang diberi nama 'Panti Tali Kasih'. Panti yang bisa menampung anak yatim piatu sebanyak 100 anak, dan sudah berhasil mengentaskan sebagian besar dari mereka penghuni panti, untuk terjun dan keluar dari panti dengan status mandiri.


Sepeninggal Indra Wiguna, panti masih terus berjalan seperti sebelumnya, dan bahkan semakin berkembang dengan banyaknya donatur yang memberikan donasi pada panti, hingga sekarang berkembang menjadi panti modern. Tentunya Arsha juga masih memberikan anggaran tahunan dari perusahaan untuk panti tersebut.


"Mama mohon sama kamu, Sha, teruskan kebaikan papa mu. Sudah waktunya kamu berpikir tentang orang-orang disekeliling mu, Sha. Mama yakin, kamu anak yang baik seperti papa mu.".


Arsha memejamkan matanya erat, menghirup nafas dalam-dalam hingga oksigen memenuhi rongga dadanya.


"Baiklah, mommy tunggu sebentar ya. Aku mandi dan ganti baju dulu sebentar.".

__ADS_1


Senyum lebar langsung mengembang dari bibir mama Hanum, matanya berkaca-kaca menatap anak laki-laki nya. Begitu bahagia melihat Arsha sedikit demi sedikit berubah menjadi orang yang lebih baik.


"Nah gitu dong... Kalau mommy tersenyum jadi jauh lebih cantik daripada menangis seperti tadi.", rayu Arsha mencoba menghibur mamanya.


"Makanya jangan buat mama menangis lagi dong, buat mama tersenyum terus seperti ini.".


Arsha tersenyum menatap mama Hanum, "Arsha selalu ingin membuat mommy tersenyum. Apapun yang mommy minta, asal itu membuat mommy bahagia, pasti akan Arsha lakukan demi mommy.".


"Benarkah?", tanya mama Hanum dengan bahagia.


Arsha menganggukan kepalanya yakin.


"Kalo begitu mama cuma minta kamu segera menikah, Sha. ".


Senyum Arsha langsung menghilang dari wajahnya saat mendengar permintaan mama Hanum.


"Mommy.... Kenapa hal itu lagi yang diminta?!".


"Mama cuma minta itu saja, Sha. Emang salah mama minta kamu menikah?".


Arsha menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Arsha akan menikah kalau sudah waktunya nanti, mom.", sahut Arsha mulai lemas mendengar permintaan mamanya.


"Kapan?", tanya mama Hanum terus mendesak Arsha.


"Mom... ".


"Apa perlu mama menangis lagi? Mama sudah semakin tua, Sha. Mau sampai kapan lagi mama menunggu?".


"Mommy.... ", Arsha menggenggam tangan mama Hanum dengan kedua tangannya, "Arsha pasti akan menikah, tapi belum untuk saat ini. Arsha janji akan segera mencari pasangan yang sesuai dengan pilihan Arsha.".


" Mama tunggu janji mu, Sha. Mama berharap dan berdoa semoga kamu segera menemukan jodoh yang tepat untuk mu. ".


" Iya mom, do'akan Arsha supaya cepat menemukan jodoh sesuai impian mommy.".

__ADS_1


Mama Hanum tersenyum bahagia mendengar janji anaknya. Harapannya sedikit demi sedikit telah terkabul. Arsha sudah mulai banyak berubah. Kini anak laki-laki nya ini sudah kembali menjadi anak yang peduli dengan orang lain, terutama pada mamanya.


Mama Hanum yakin, Arsha pasti akan segera menemukan jodohnya yang bisa mengobati luka masa lalunya.


__ADS_2