Tak Cinta Tapi Menikah

Tak Cinta Tapi Menikah
Seperti ayah dan anak


__ADS_3

Andra masih tertidur lelap setelah satu jam lebih operasi pemasangan gipsnya selesai. Tadi seorang perawat pria datang untuk memeriksa keadaan Andra yang masih tertidur, dan perawat itu mengatakan kalau hal itu sering terjadi karena efek anestesi yang belum sepenuhnya hilang.


Rania melirik jam dinding diatas layar monitor televisi, jam 16.30, Rania merasa tidak tenang karena belum menunaikan ibadah sholat Ashar. Bik Inah tadi baru saja pulang kerumah diantar Pak Joko, untuk mengambil baju ganti untuk Andra dan dirinya. Kini hanya ada dirinya, Andra dan Arsha yang masih ada diruang rawat VVIP itu. Rania juga merasa heran dengan Arsha yang tetap bersikeras menunggu Andra sampai sekarang, padahal dia tau, masih banyak pekerjaan dikantor yang belum selesai.


Rania menelisik mencari mukena, barangkali rumah sakit menyediakan fasilitas mukena. Tapi sayang, sepertinya pencariannya nihil dan tidak membuahkan hasil. Rania semakin kebingungan.


Sementara itu Arsha sedang duduk selonjoran kaki disofa, dasi dan jasnya sudah dilepas dan dibiarkan tergeletak begitu saja dibawah kakinya. Tangannya sibuk memainkan ponselnya, melihat file yang dikirimkan Dani. Entah kenapa Arsha belum mau beranjak dari rumah sakit sebelum melihat Andra sadar dari efek biusnya.


'Apa aku titip Andra ke pak Bos ya?', batin Rania gelisah. Rania akhirnya memutuskan untuk menghampiri Arsha.


"Maaf Pak Arsha, Saya mau minta tolong. Saya titip Andra sebentar, saya mau sholat dulu di mushola bawah. Apa... bapak berkenan?".


Arsha langsung menurunkan kakinya, duduk dan kemudian menatap Rania yang sudah ada di dekatnya. "Pergilah, biar Andra aku yang jaga.".


"Terimakasih Pak, saya akan cepat kembali ke sini. Assalamu'alaikum... ", Rania segera berlalu tanpa menunggu jawaban salam dari Arsha.


Sepeninggal Rania, Arsha berjalan mendekati tempat tidur Andra, lalu duduk di kursi yang ada di sebelah tempat tidur, yang tadi diduduki Rania.


Matanya lekat menatap Andra yang masih tertidur lelap. Tangannya terulur menyentuh pipi putih nan lembut itu, mengusapnya dengan punggung jari telunjuknya.


'Seandainya anakku masih hidup, dia pasti sudah sebesar ini', batinnya sedih mengingat kejadian lima tahun yang lalu.


Arsha tersenyum menatap Andra yang masih terlelap. Hatinya benar-benar menghangat saat berdekatan dengan Andra, membuatnya terlupa dengan luka lamanya.


Andra menggerakkan kepalanya, terusik dengan sentuhan Arsha.


"Bundaaaa... ", panggilnya dengan suara yang serak.


Arsha menarik tangannya cepat, takut membangunkan Andra dari tidurnya disaat Rania tidak ada disisinya. Tapi terlambat, Andra sudah terlanjur terbangun dari tidurnya. Mata kecilnya mengerjap menatap seseorang yang sedang duduk disampingnya.


"Ayaaahhh.... ", ucapnya lirih.


Arsha terkesiap mendengar Andra memanggil ayahnya. Desiran dalam dadanya kembali datang.


"Andra... ", panggil Arsha dengan suara yang lembut.


Andra mengerjapkan matanya lagi, menatap Arsha dengan mata menyipit.


"Om... Bunda dimana?".


"Iya Andra, ini Om Arsha. Ra.. maksudnya Bunda sedang sholat dulu di mushola bawah. ".


Andra mengalihkan pandangannya ke penjuru kamar, "Andra kepengin pipis, Om. ".


Arsha terdiam sesaat, 'apa yang tadi Andra katakan? Dia ingin pipis?'.


Arsha menoleh ke kanan dan ke kiri kebingungan, seumur hidupnya belum pernah dia merawat, bermain atau apapun itu yang berhubungan dengan anak kecil.


"Om Arsha, Andra udah kebelet pipis. Andra nggak mau pipis di celana, Andra malu sama Bunda.", ucap Andra dengan suara parau seperti akan menangis.

__ADS_1


"Ah iya, Om bantu ke kamar mandi ya..", sahut Arsha cepat, takut kalau sampai Andra menangis.


Andra mengangguk patuh, kemudian mengacungkan tangan kanannya meminta Arsha untuk menggendongnya. Arsha langsung memeluk Andra, mengangkat tubuh mungilnya dengan tangan kirinya dengan hati-hati, takut akan menyakiti tangan kiri Andra yang baru di gips, sedangkan tangan kanannya mendorong tiang infus beroda kekamar mandi.


Beruntung Andra masih memakai baju piyama rumah sakit tanpa memakai pakaiandalam, sehingga Arsha dengan mudah dan cepat membersihkan Andra setelah selesai buang air kecil.


Arsha kembali menggendong Andra keluar dari kamar mandi.


"Om, Andra mau duduk disitu. ", tunjuk Andra pada sofa yang tadi Arsha duduki.


"Oh disitu. Oke. ", ucapnya masih dengan nada yang kaku. Arsha mendudukkan Andra dengan pelan, kemudian ikut duduk disebelahnya.


"Andra mau apa lagi?", tanyanya dengan suara yang lembut.


"Andra mau minum, Om. Andra haus. ".


"Minum, Om ambil sebentar ya. ".


Arsha langsung bergegas menuju meja makan dan mengambil gelas kemudian mengisinya dengan air putih dari dispenser.


"Ini minumnya. ".


Andra menyesap air yang gelasnya masih dipegang oleh Arsha.


"Terimakasih, Om. ".


"Sama-sama, Andra. ".


"Om, kenapa liatin Andra terus?".


Arsha tersenyum, tangannya terulur membelai rambut Andra dengan lembut.


"Karena, Om Arsha sangat senang bisa ketemu Andra. ".


"Om Arsha kan teman Bunda dikantor, seperti Om Dani. Kenapa Om Arsha nggak pernah main kerumah Bunda seperti Om Dani?".


Arsha terdiam sesaat, 'Dani brengsek!!', batinnya dalam hati. Matanya masih lekat menatap Andra yang masih menunggu jawabannya.


"Karena Om Arsha kemarin masih sibuk. Kalau besok Om Arsha bolehkan main sama Andra?".


Andra langsung menganggukkan kepalanya dengan semangat.


"Boleh Om, nanti main lego dino tyrannosaurus yang baru. Kemarin main sama Om Dani tapi lego nya belum jadi, Om Dani nggak bisa main lego.", Andra memasang muka cemberut yang sangat lucu, membuat Arsha semakin gemas dengan anak didepannya.


"Waahhh, Om Arsha juga suka main lego. Om punya banyak lego dirumah.", ucapnya dengan semangat, senang sekali ternyata Andra punya hobby yang sama dengannya.


"Waahhh, berarti Om Arsha bisa main lego.".


"Bisa dong. Dari kecil Om Arsha juga suka main lego seperti Andra. Andra suka bentuk lego apa? Nanti Om Arsha beliin buat Andra. ".

__ADS_1


Andra tampak berpikir sejenak, "Kata Bunda, Andra nggak boleh minta mainan sama orang lain, harus minta sama Bunda dulu.".


'Pintar sekali cara Rania mendidik Andra', batin Arsha kagum dengan kepintaran Andra.


"Tapi kalau Om Arsha kasih buat hadiah, pasti boleh dong. ".


"Boleh Om, tapi Bunda harus tau dulu. ".


Arsha tersenyum menatap Andra, benar-benar anak yang patuh pada orang tuanya.


Tiba-tiba pintu kamar terbuka lebar, mengejutkan mereka berdua saat asik mengobrol.


"Andra.. !".


Arsha dan Andra yang sedang duduk disofa menatap Dani yang baru masuk dengan tergesa-gesa dan dengan nafasnya yang memburu seperti habis berlari.


"Andra... ", Dani langsung memeluk Andra dengan erat.


"Auww, sakit Om Dani... ", tangis Andra kembali pecah saat Dani tanpa sengaja menyenggol tangan kiri Andra. Arsha langsung mendorong Dani untuk menjauh, kemudian memeluk Andra dengan pelan.


"Hati-hati Dani!", ucap Arsha pelan namun tegas. Padahal sebenarnya dia ingin sekali memarahi Dani yang ceroboh, tapi nanti pasti akan membuat Andra takut padanya.


"Maaf sayang, Om Dani tidak sengaja..", Dani melirik ke Arsha dengan heran, kenapa Bos nya masih ada disini? Yang dia tau tadi memang Rania diantar ke rumah sakit oleh Bos nya, tapi kenapa sampai sekarang masih disini? Saat tadi Bosnya menghubungi nya hanya mengatakan kalau sedang ada urusan di luar, Dani tak mengira kalau urusan Andra yang dimaksud Bosnya.


Arsha membalas menatapnya dengan tajam dan penuh amarah.


"Om Arsha, Andra mau bobo lagi di sana.", ucap Andra sambil menunjuk tempat tidur penunggu pasien. Arsha langsung menggendong Andra menuju tempat tidur yang ditunjuk Andra.


Dani hanya melongo menyaksikan adegan didepannya yang mirip seperti hubungan ayah dan anak. 'Kenapa Andra cepat sekali akrab sama si kepala batu itu?!', batinnya cemburu.


"Andra, Om Dani tadi kan udah minta maaf, apa Andra mau memaafkan Om Dani?".


Andra hanya menoleh ke Dani dan mengangguk pelan diatas bahu Arsha yang sedang menggendongnya.


Arsha merebahkan tubuh Andra ketempat tidur dengan pelan, lalu duduk disamping Andra, Dani ikut menyusul berjongkok ditepi tempat tidur dekat dengan kepala Andra.


"Andra kenapa bisa sakit tangannya?", tanya Dani berusaha mendekati Andra supaya tidak marah lagi padanya.


"Tadi Andra mau liat ayam kecil warna warni, Om. Ayamnya lucu... Andra lari, terus ada motor, Andra nggak liat, Om. Andra ketabrak motor, tangan Andra sakit. ".


Dani menatap tangan kiri Andra yang sudah terbalut gips semen berwarna putih.


"Andra suka sama ayam warna warni? Besok Om Dani beliin ya. ".


Andra menggeleng pelan, "Kata Bunda nggak boleh beli ayam warna warni, karena ayamnya masih kecil, Bunda kasihan sama ayamnya. ".


"Assalamu'alaikum... ".


"Waalaikumsalam... Bunda... !", teriak Andra saat mendengar suara salam dari Rania.

__ADS_1


"Alhamdulillah... Andra sudah bangun. ", Rania segera masuk saat mendengar suara Andra dari dalam, langkahnya terhenti saat melihat Andra sudah dikelilingi oleh Arsha dan Dani. Terdiam sejenak, bingung harus bagaimana mendekati Andra. Dan kini ketiga orang laki-laki dihadapanya sedang menatapnya tanpa berkedip.


__ADS_2