Tak Cinta Tapi Menikah

Tak Cinta Tapi Menikah
Pintu Rahasia


__ADS_3

Tangan kecil Andra menarik paksa tangan Bunda nya karena sudah tak sabar ingin menunjukkan kamar barunya.


" Ayo Bunda... ".


" Iya sayang... Pelan dong jalannya. ".


" Ini dia kamar baru Andra... ", Andra tersenyum lebar sambil terus menarik tangan Bunda nya supaya ikut masuk kedalam kamar itu.


" Wahh... Kamarnya bagus banget Ndra... ", decak kagum Rania saat melihat kamar baru yang dipamerkan Andra padanya. Kamar yang cukup luas untuk seorang anak kecil seperti Andra dan terlihat sudah lengkap dengan semua perabotan didalamnya, bernuansa biru terang khas seorang anak laki-laki pada umumnya. Tempat tidur ukuran queen size berada tepat ditengah ruangan, disekeliling kamar sudah terpajang rapi semua koleksi lego Andra yang telah selesai disusunnya dan berbagai mainan baru yang pasti dibelikan oleh mama Hanum dan juga daddy barunya.


" Iya Bunda, kata Gemma ini hadiah buat Andra karena Andra sekarang sudah jadi cucunya Gemma. Terus kata Gemma Andra harus berani tidur sendiri dikamar Andra. ".


" Emang Andra berani tidur sendirian? ", tanya Rania ragu. Selama ini Andra selalu tidur bersamanya setiap malam.


" Andra udah berani kok Bunda, Andra kan udah besar. Andra juga udah pernah satu kali tidur sendirian disini. Lagian kamar Gemma juga dekat sama kamar Andra, jadi Andra nggak takut lagi Bunda. ".


" Masya Alloh... Wah hebat banget anak Bunda. ", Rania mencubit gemas pipi Andra. Rasanya bahagia bercampur sedih mengetahui hal itu, sebenarnya dia belum rela untuk menyapih Andra tidur sendirian.


" Ayo kesini Bunda, Andra mau kasih tau pintu rahasianya. ".


" Pintu rahasia? ", Rania mengikuti Andra yang menggandeng tangannya dan berhenti tepat didepan dinding berwarna putih kotak seperti pintu.


" Ini pintu rahasia Andra sama Gemma, Andra bisa masuk kekamar Gemma dari pintu ini Bunda. ", bisik Andra seperti sedang memberikan informasi rahasia pada Bunda nya.


Rania melotot kaget dengan ucapan Andra, " Tapi emang boleh Andra masuk kekamar Gemma lewat pintu ini?. ".


" Boleh Bunda, caranya gini Bunda, Andra harus pencet ini dulu, lalu Andra ngomong ' Gemma, Andra boleh kekamar Gemma? ', kalo Gemma jawab boleh, Andra baru masuk lewat pintu ini. ".


Rania menatap kotak kecil didinding sebelah pintu, seperti speaker kecil yang bisa menyala lampunya saat dipencet tombolnya. Rania tersenyum haru menatap Andra yang terlihat sangat bahagia dengan kamar barunya, sekarang anaknya benar-benar tidak kekurangan apapun. Menerima begitu banyak kasih sayang dari orang yang notabene baru saja dikenalnya, dan langsung bisa begitu akrabnya dengan keluarga Arsha.


" Andra, apa boleh malam ini Bunda tidur disini sama Andra?. ".


" No! Bunda nggak boleh tidur sama Andra lagi. ", tolak Andra dengan cepat yang membuat Rania langsung kecewa mendengarnya.


" Kenapa?. Kan Bunda sudah lama nggak tidur sama Andra. Bunda kangen sama Andra. ", bujuk Rania dengan muka memelas.

__ADS_1


" Kata Gemma, Andra sekarang udah besar, malu kalo tidur sama Bunda nya. ".


" Terus nanti yang bacain dongeng siapa?. Yang usap-usap punggung Andra siapa dong? ", rayu Rania pantang menyerah.


" Bunda boleh bacain dongeng sama usap-usap Andra, tapi kalo Andra udah tidur Bunda harus tinggalin Andra sendirian. Gemma kemarin juga begitu. ".


Rania menganggukkan kepala mencoba mengerti, meski masih belum rela tapi harus diakuinya kalau cara mama Hanum mendidik Andra untuk mandiri tidur sendiri sudah sangat baik. Dia sudah sering membaca beberapa artikel dan buku tentang perkembangan anak dari sejak baru lahir hingga dewasa nanti, banyak psikolog yang mengatakan kemandirian anak memang harus dilatih sejak dini, bahkan ada yang mengatakan sejak bayi itu lahir harus sudah dilatih untuk tidur sendiri.


" Oke, malam ini Bunda yang akan menemani Andra sebelum tidur. ", ucap Rania sambil mengusap sayang kepala Andra.


*


Plakk!!


" Jahat kamu Sha!! ".


" Auww... Mom kenapa memukulku?! Arsha melakukan kejahatan apa emangnya mom?. ", Arsha mengusap bahunya yang barusan ditabok mama Hanum.


" Udah tau Rania itu kecil badannya, masih saja disiksa sampai pucet gitu mukanya. Mama sampai nggak tega liatnya Sha! ".


" Kalo dia baik- baik aja mukanya nggak mungkin sampai pucet gitu Sha, mama tau muka mana yang bahagia, muka mana yang habis disiksa habis-habisan seharian. "


" Ya maaf... Salah sendiri menggemaskan gitu orangnya. ", ucap Arsha asal sambil tersenyum miring.


Plakk!!


" Auww...! Mom... Kenapa lagi sii...?! ".


" Jangan keterlaluan kamu Sha, kalo sampe mama liat Rania begitu lagi, mama janji bakalan bawa Rania pergi jauh dari kamu! ", ancam mama Hanum yang geram dengan anak sulungnya itu.


" Hei... Jangan berani-berani membawa kabur Rania dariku mom... ".


" Liat aja nanti kalo kamu sampai membuat Rania tersiksa lagi, mama benar-benar akan membawa Rania menjauh dari manusia ganas seperti kamu.".


" Mommy kayak nggak pernah muda aja... Namanya juga pengantin baru mom, lagi semangat-semangatnya menabur benih biar cepet kasih mommy cucu lagi. Bukannya mommy sendiri yang sering meminta biar Arsha cepet menikah dan cepet kasih cucu buat mommy? ".

__ADS_1


" Tapi nggak gitu juga caranya Sha... ".


" Udah mommy tenang aja, Arsha janji nggak bakalan nyakitin Rania. Arsha akan buat istri Arsha bahagia selalu disisi Arsha. ".


Mama Hanum tersenyum haru menatap Arsha yang kini benar-benar sudah kembali hangat seperti dulu lagi, " Makasih ya Sha, mama senang kamu kembali ke mama. ", isak mama Hanum didada Arsha yang sedang memeluknya erat.


" Iya mom, maafkan Arsha yang udah buat mommy sedih selama ini. ".


" Janji ya jangan sampai sakiti Rania. Dia anak yang sangat baik, mama langsung suka sama anak menantu mama itu. Mama nggak rela kalo sampe kamu nyakitin Rania. ".


" Iya mom... Do'akan supaya Arsha bisa jadi suami yang baik buat menantu kesayangan mommy itu.".


" Eehhh... Ada peristiwa apa nih pake acara peluk-pelukan segala? ", Cantika yang baru masuk ke ruang makan langsung menghambur ikut memeluk mama Hanum.


" Udah sana nggak usah ikutan... ", Arsha langsung mendorong kepala Cantika dengan tangan kanannya.


" Ishh ka Arsha... Aku kan juga pengen meluk mommy... ", Cantika tetap mendusel disela tangan Arsha yang sedang memeluk mama Hanum. Lalu ikut menangis saat mendengar suara mama Hanum masih terisak didada Arsha.


" Ngapain malah ikutan nangis segala?!. ".


" Lha itu mommy nangis, aku kan jadi ikutan sedih... Huhuu... ", Cantika menangis keras sambil terus memeluk dua orang kesayangannya itu.


" Udah ahh... Cengeng banget jadi perempuan... ", Arsha tersenyum bahagia, kemana dia selama ini. Untung saja Rania hadir dihidupnya dan mengembalikan kehangatan kasih sayang keluarganya selama lima tahun ini.


" Ka Arsha kenapa ikutan nangis? " .


" Siapa yang nangis, mata ku kemasukan debu...".


" Bilang aja malu... ".


Arsha langsung mencubit gemas tangan Cantika yang selalu bawel padanya, " Auww... Mommy... Huhuu... Kak Arsha nyubit Caca... Huhuu... ".


" Kalian ini sudah dewasa tapi masih aja kayak anak kecil... ", ucap mama Hanum bahagia ditengah isak tangisannya.


Rania yang mengintip dari kejauhan hanya bisa tersenyum melihat kehangatan keluarga suaminya itu. Kemudian segera berlalu meninggalkan pemandangan yang menyejukkan ditengah ruang makan itu. Benarkah ucapan suaminya tadi, dia ingin membuat nya bahagia dan berjanji akan menjadi suami yang baik untuknya?. Kini hatinya sedikit terusik, apakah dia siap untuk membuka kembali pintu hatinya yang lama terkunci?. Atau tetap akan pergi dan menyerah dengan pernikahan yang terjadi karena keterpaksaan ini?. Entahlah... Dia sendiri tidak tahu takdir apa yang akan menantinya dimasa depan, yang terpenting sekarang keyakinan nya hanya ingin menjadi istri yang baik untuk suaminya.

__ADS_1


__ADS_2