
"Rania, dimana bajuku?".
Bapak Ibu langsung melotot menatap laki-laki bertelanjang dada, dengan postur tubuh yang tinggi dan atletis, dan hanya memakai celana jeans panjang sebatas bawah pusar, hingga begitu jelas memperlihatkan otot perutnya, yang kini tengah berdiri diambang pintu kamar Rania. Tangan kanannya sibuk mengucek matanya yang masih setengah tertutup karena baru bangun tidur.
"Astaghfirullah... ", Ibu langsung menundukan pandangannya kebawah, sambil memegang dadanya yang hampir meledak saking kagetnya.
Sementara Bapak masih menatap lekat penuh amarah pada laki-laki didepannya, sampai akhirnya laki-laki itu tersadar dan berulang kali mengerjapkan matanya untuk melihat Bapak Ibu yang sedang duduk disofa.
Bapak langsung berdiri dengan nafas memburu.
"Pak... ", panggil Rania dengan suara yang parau karena menangis, sambil memegang tangan kanan Bapak.
"Siapa kamu?!".
*
Arsha terbangun dari tidurnya karena mendengar suara seperti orang yang sedang menangis dari luar kamar, matanya masih menyipit menatap pintu yang masih tertutup rapat. Rasa penasaran membuatnya melangkah dengan gontai menuju pintu kamar, ingin segera tau apa yang sebenarnya terjadi diluar sana. Arsha membuka pintu dengan lebar, mencoba menajamkan pandangan matanya dengan mengucek pelan mata kanannya. Tanpa pikir panjang dia langsung berkata,
"Rania, dimana baju ku?"
Arsha kembali mengerjapkan matanya supaya pandangan matanya lebih jelas. Seketika nafasnya tercekat dileher, menatap dua orang yang sedang duduk disofa, laki-laki paruh baya dan wanita dengan kerudung lebarnya, yang sedang menatapnya tajam. Arsha menoleh kebawah, melihat Rania yang duduk bersimpuh memegang lutut wanita itu yang duduk didepannya. Bahunya tampak berguncang, seperti sedang menangis, sahut menyahut suara tangisnya dengan wanita yang duduk didepannya.
"Siapa kamu?!", tanya Bapak dengan suara keras.
Arsha menatap bingung, pandangan matanya bergantian menatap ketiga orang didepannya.
'Siapa mereka? Apa mereka orang tua Rania?',
Bapak langsung menepis tangan Rania yang sedang memegangi tangannya, kemudian melangkah maju mau menghampiri Arsha.
"Pak... ", Rania langsung berdiri menghalangi Bapak, berdiri tepat didepan Bapak dan memegang lengannya.
"Tolong dengarkan Rania bicara dulu, Rania akan jelasin semuanya, Bapak jangan salah paham dulu.".
"Apa yang mau kamu jelasin, Ra? Kamu sudah buat kecewa Bapak! Bapak malu dengan kelakuan mu, baru lima bulan kamu tinggal di sini, tapi kamu sudah seperti ini, Ra! Apa ini yang dimaksud kamu dengan pindah dari rumah dan ingin mandiri?", Bapak menunjuk-nunjuk bahu Rania dengan jari telunjuknya, marah dan kecewa dengan kenyataan yang dilihatnya pada putri semata wayangnya.
Arsha menatap laki-laki yang sedang memarahi Rania, 'ternyata benar, mereka orang tua Rania'.
"Maaf, Pak, saya... ".
"Pak Arsha, tolong masuk dulu ke kamar. Biar saya saja yang menjelaskan pada orang tua saya.", Rania memotong perkataan Arsha cepat, tanpa menoleh kearah Arsha.
Arsha terdiam, 'bagaimana ini?', sepertinya Rania akan dimarahi habis-habisan oleh orang tuanya.
"Rania, biar Bapak yang menyelesaikan masalah ini!", ucap Bapak masih dengan suara kerasnya.
"Pak Arsha, saya mohon masuklah kekamar dulu.", Rania memohon dengan suara menahan tangis, tidak mungkin membiarkan Arsha bicara dengan Bapak hanya bertelanjang dada seperti itu.
Arsha langsung masuk kedalam kamar, berjalan mondar-mandir didalam kamar. 'Ada apa ini? Kenapa orang tua Rania bisa marah seperti itu?'.
__ADS_1
Rania kembali menarik tangan Bapak untuk duduk disamping Ibu yang masih menangis sesenggukan. Rania menarik nafasnya dalam-dalam, mencoba menenangkan diri sebelum memulai bicara pada orang tuanya.
"Bapak.. Ibu.. Rania mohon maaf sudah membuat Bapak Ibu kecewa, sungguh ini tidak seperti yang Bapak Ibu pikirkan, ini salah paham, Rania harus meluruskannya.".
Bapak terlihat menghela nafasnya, memalingkan wajahnya menatap pintu kamar yang kini sudah tertutup lagi.
"Jadi siapa dia, Ra?", tanya Bapak yang mulai menekan suaranya.
"Dia... ", Rania berhenti sejenak, menarik nafasnya kembali sebelum melanjutkan kata-katanya.
"Dia Pak Arsha, pimpinan Rania dikantor."
Bapak langsung menatap Rania kembali dengan tatapan tajam, "Apa!! Pimpinan mu dikantor??".
"I.iya Pak, namanya Pak Arsha. "
"Terus kenapa sampai bisa masuk ke rumah, bahkan...", Bapak menghela nafas, seolah tak mampu meneruskan kata-katanya.
"Bapak Ibu tolong dengarkan Rania dulu, Bapak jangan salah paham seperti ini."
"Bagaimana Bapak tidak marah, Ra!! Ada laki-laki masuk ke rumah, tidur dikamar mu, dan telanjang seperti itu!", Bapak kembali menaikan suaranya.
Rania tertunduk lesu, bingung harus darimana menjelaskannya pada orang tuanya.
"Cepat panggil dia, Ra! Bapak mau ngomong sama dia!".
"Pak, biar Rania dulu yang jelasin. "
Rania menatap Bapak yang mukanya sudah memerah karena marah, yah ini adalah kesalahannya, wajar saja Bapak Ibu sangat kecewa dengannya. Rania tertunduk lesu, bingung harus bagaimana lagi menjelaskannya, mungkin nanti Bos nya bisa membantunya menjelaskan kesalahpahaman ini.
"Iya Pak, sebentar Rania panggil kan. ".
Rania terdiam sejenak, kemudian melangkah menuju dapur menemui bik Inah yang sedari tadi mendengarkan perdebatan mereka dari belakang dengan perasaan sedih.
"Bude, baju pak Arsha dimana?".
"Ya Allah mbak, yang sabar ya mbak, InsyaAllah Bapak Ibu nantinya akan mengerti. Bude kepengin mbantu, tapi bingung.", ucap bik Inah dengan suara menahan tangis.
"Iya bude, nggak papa. Baju pak Arsha dimana bude?", Rania mengulangi pertanyaannya pada bik Inah.
"Bajunya masih basah mbak, soalnya bahan kaosnya agak tebel jadi lama keringnya."
"Kenapa, Inah?", tanya Ibu yang menyusul Rania ke dapur. Bik Inah langsung menghampiri Ibu dan mengajak bersalaman.
"Bu, mbak Rania nggak salah apa-apa, Bu. Demi Allah, Mbak Rania tidak berbuat yang aneh-aneh, saya berani bersumpah, Bu.", bik Inah berusaha membantu Rania, meyakinkan Ibu agar tidak salah paham.
"Iya, Nah. Biar nanti Bapak yang menyelesaikan masalah ini. Rania, kamu sudah ditunggu Bapak.", Rania mengangguk pelan.
Bik Inah bergegas mengambil kaos dari dalam kamarnya yang sengaja diletakkan didekat kipas angin kamarnya dengan tujuan biar cepat kering, tapi ternyata masih lembab dan basah karena memang bahan kaosnya agak tebal.
__ADS_1
"Bude tolong berikan kaosnya ke Pak Arsha. "
Ibu menatap kaos yang dibawa bik Inah yang masih tergantung di hanger, lalu memegangnya sedikit.
"Bajunya masih basah, biar nanti pake baju Bapak dulu, kasihan nanti malah masuk angin."
Itulah Ibu, se marah dan se kecewa apapun, tetap saja hatinya lembut dan perhatian sekali dengan orang lain. Rania tersenyum menatap Ibu yang masih memasang muka datar dan seperti enggan menatapnya. 'Astaghfirullahalazim... ampuni hamba ya Allah... '.
*
Arsha duduk diam di kursi kecil yang tadi diambil dari ruang tamu, menghadap tepat didepan Bapak yang masih menatapnya lekat dengan muka serius dan alisnya yang berkerut. Memakai baju koko berwarna putih punya Bapak yang terlihat kekecilan dibagian bahu dan lengannya, tapi terpaksa dipakai juga karena Bapak memaksa untuk bicara sekarang juga. Sementara Rania duduk dibawah kaki Ibu, diatas karpet sambil memegang satu kaki ibunya, dengan wajah tertunduk lesu. Matanya terlihat sembab karena habis menangis.
Andra masih tertidur lelap didalam kamar, tidak terusik oleh keributan yang terjadi saat ini.
Bapak menghela nafasnya panjang, sebelum memulai bicara, mencoba meredam amarah yang sudah mendesak ingin keluar dari dalam dadanya.
"Jadi siapa namamu?".
"Saya Arsha, Pak. Saya pimpinan Rania dikantor.", ucap Arsha dengan pelan dan hati-hati.
"Berapa usiamu sekarang?", Arsha melirik Rania yang masih terdiam dengan wajah yang tertunduk dalam.
"35 tahun, Pak", jawab Arsha singkat, bingung dengan maksud pertanyaan Bapak.
"Kamu belum menikah?".
Arsha terdiam, hanya bisa menatap Bapak dengan penuh tanda tanya.
"Kamu muslim kan?".
Arsha menjawab dengan menganggukan kepalanya pelan, menatap bingung pada Bapak.
"Iya Pak, saya muslim."
"Saya ingin bertemu orang tuamu."
Wajah Arsha mengkerut, bertambah bingung dengan ucapan Bapak. "Maaf, Pak. Kenapa Bapak ingin bertemu dengan orang tua saya?".
"Pak, Rania mohon, Bapak dengar dulu penjelasan Rania. Pak Arsha cuma pimpinan Rania dikantor Pak... dan.. "
"Dan apa?!", potong Bapak cepat, menatap Rania dengan tajam, Rania langsung terdiam, takut Bapak bertambah marah.
"Pak, Bapak jangan salah paham dulu, saya dan Rania benar-benar tidak ada hubungan apa-apa. Kami hanya sebatas rekan kerja dikantor. ", ucap Arsha mencoba menjelaskan.
"Tidak ada hubungan tapi sudah berani menginap dan tidur dikamar anak saya! Begitu maksudnya?! Pergaulan dikota besar apa memang seperti ini?! bebas bergaul dengan lawan jenis tanpa batasan, dan melupakan aturan agama?! Terus kalian bebas begitu saja keluar masuk rumah orang yang belum muhrimnya!", Bapak menggelengkan kepalanya yang terasa mulai berdenyut.
"Tapi saya tidak melakukan hal-hal negatif dirumah ini, Pak. "
"Tidak melakukan hal negatif disini? Kamu telanjang dirumah anak saya. Apa itu bukan hal negatif namanya?".
__ADS_1
"Itu karena.. ", Arsha terdiam, bingung harus berkata apa lagi pada Bapak yang terlihat masih diselimuti amarah. Bapak menarik nafasnya dalam-dalam, kemudian memejamkan matanya erat, seperti sedang berpikir keras untuk dapat menyelesaikan masalah ini.
"Hari ini, kalian harus menikah!".