
Tepuk tangan bergemuruh saat pertunjukan musikal berakhir dengan kemenangan dari para pahlawan yang bisa melawan musuhnya dalam pertempuran. Rania berdiri dengan bangga sambil terus mengusap airmatanya, tersenyum haru dengan perasaan yang hancur didalam hatinya. Andra langsung berlari turun dari atas panggung menghampiri Rania yang masih berdiri menantikan Andra.
" Bunda...!!! ", serunya senang sambil tersenyum lebar karena sangat bahagia sudah berhasil tampil keren diatas panggung.
" Anak Bunda... ", sambut Rania langsung merengkuh tubuh anaknya kedalam pelukannya, meneruskan tangisannya diatas bahu kecil Andra yang kini tampak kebingungan. Ini seperti dejavu, lagi-lagi Rania merasakan hal yang sama tetapi dengan perasaan yang berbeda setelah menyaksikan pertunjukan Andra.
" Kenapa bunda nangis?. Daddy nggak jadi datang yah??. ", tanya Andra kecewa sambil melirik bangku kosong disebelah Rania.
" Daddy kan sibuk sayang, yang penting sekarang kan ada Bunda disini. ", ujar Rania sambil mengusap lembut kepala Andra.
" Tapi kan daddy udah janji mau datang liat Andra pake baju tentara... ", Andra langsung menekuk wajahnya sedih, kemudian memainkan pistol mainan yang terselip disela celananya.
" Mungkin daddy ada janji juga dengan orang lain, jadi nggak bisa datang kesini. Kan masih banyak kesempatan lagi buat liat Andra tampil dipanggung nantinya. ", Rania terus menenangkan Andra dari kesedihannya.
" Nggak papa yah, Andra nggak boleh sedih lagi. Pas drama tadi, Andra hebat banget tampilnya, Bunda bangga banget liat Andra tadi bisa mengalahkan semua musuh. Andra benar-benar udah bisa jadi tentara pelindung Bunda sekarang, Bunda jadi lebih tenang kalo pergi sama Andra. ", Andra akhirnya tersenyum mendengar pujian dari bundanya. Kemudian tangannya terulur mengusap pipi Bundanya yang basah karena air mata.
" Tapi kenapa Bunda malah nangis?. ".
Rania langsung menggelengkan kepala sambil mengusap kasar airmatanya, " Ini karena Bunda bahagia sayang, sangat bahagia liat Andra jadi anak yang hebat seperti ini... ", ujarnya tersenyum lebar. Tapi nyatanya air matanya masih saja tidak bisa ditahan saat ini, hatinya benar-benar tidak bisa dibohongi, Rania hampir tak bisa menahan kesakitannya didepan anaknya sendiri.
" Oya, Andra nanti pulang sama pak Joko dulu yah. Bunda ada keperluan sebentar, setelah selesai Bunda janji langsung pulang ke rumah. Oke. ".
Andra hanya menganggukkan kepalanya patuh, seolah mengerti dengan keadaan Bunda nya yg sedang tidak baik-baik saja tanpa protes sedikitpun, kemudian mengikuti langkah Bunda nya yang menggandeng erat tangannya keluar dari aula sekolah.
Kini Rania tengah dalam perjalanan ke suatu tempat diantar oleh taksi online setelah sebelumnya memastikan Andra sudah pulang lebih dulu dengan pak Joko. Pak Joko juga tadi sempat sedikit memaksanya supaya mau diantar ke tempat tujuannya, tapi Rania menolak dengan alasan arah tujuannya berlawanan dan kasihan dengan Andra yang sudah terlihat kecapean setelah tampil tadi.
Rania duduk diam dijok belakang sambil sesekali melirik layar HP nya, masih berharap ada balasan dari Arsha yang akan membuatnya berubah pikiran saat ini juga. Tapi ternyata harapannya harus pupus menyisakan rasa kecewa yang sangat besar, karena sampai detik inipun belum ada balasan dari pesan yang dikirimnya pada Arsha sekitar dua jam yang lalu. Entah apa yang sedang terjadi pada suaminya sekarang, sebegitu pentingkah sampai harus memutuskan untuk tidak jadi datang ke sekolah Andra dan mengabaikan janjinya sendiri yang mengatakan akan datang menonton pertunjukan Andra.
Rania kembali membuka foto yang dikirim oleh Sarah untuknya, foto yang menampakkan sosok Arsha yang sedang melepas hem putihnya diruang walk in closet apartemennya dan menampakkan sebelah bahu kekarnya yang terbuka. Satu foto yang berhasil membuka lagi lukanya yang belum sepenuhnya mengering, padahal baru semalam dia merasakan kebahagiaan setelah mendengar perkataan suaminya yang begitu memujanya selayaknya seorang ratu.
" Maaf mbak, sudah sampai ditempat tujuan. ", Rania tersadar dengan ucapan driver taksi online yang mengantarnya. Matanya menatap lurus ke arah gedung tinggi didepannya dengan pandangan nanar dan jantung yang semakin berdebar kencang. " Makasih Pak. ", ucap Rania saat akan beranjak turun dari taksi.
Dengan langkah ragu, Rania memasuki gedung itu, lalu langsung menaiki lift kosong yang kebetulan sudah ada dilantai basement gedung itu. Kedua tangannya saling meremas seolah ingin menguatkan dirinya sendiri saat nanti menghadapi kenyataan yang sebenarnya. Berulang kali mengucapkan istighfar untuk menenangkan hatinya yang semakin gelisah tak karuan. Hingga tanpa sadar akhirnya langkah kakinya terhenti tepat didepan pintu sebuah apartement digedung itu. Pintu yang sudah beberapa minggu ini tidak pernah dia masuki lagi karena merasa kurang nyaman saat mengetahui sejarah dari apartement ini. Sesaat Rania memejamkan matanya dengan erat, berdoa dalam hati dan bertekad untuk tidak menangisi masalah ini lagi. Dengan tangan gemetaran Rania memberanikan diri menekan bel disebelah pintu itu, dan setelah dua kali menekan bel, samar terdengar sahutan suara laki-laki dari dalam ruangan yang membuat tubuhnya semakin bergetar hebat. Pandangan matanya tiba-tiba langsung berkabut, kabur oleh genangan air mata yang siap tumpah saat itu juga, nyatanya dia memang bukan wanita sekuat itu menghadapi masalah rumah tangganya yang pelik saat ini. Dengan buru-buru Rania langsung mengusap air matanya dan langsung bersiap dengan kenyataan yang akan ditemuinya.
__ADS_1
Rania hanya terpaku diam didepan pintu yang dengan pelan terbuka dan langsung menampakkan sosok laki-laki yang sangat dikenalinya sedang memakai kaos oversize berwarna biru langit favoritnya dan hanya bercelana kolor rumahan saja.
" Rania...??!!. ", ucap laki-laki itu dengan mata terbelalak lebar bahkan hampir melotot karena saking kagetnya dengan kedatangannya.
" Assalamu'alaikum, mas... ", ucap Rania dengan suara bergetar hebat dan kemudian dengan susah payah menarik bibir nya untuk bisa tersenyum didepan orang yang dari tadi membuatnya gelisah dan penasaran.
" Rania... Aku... Tolong jangan salah paham Rania... ", Rania spontan mundur saat Arsha berjalan menghampirinya dengan wajah panik dan sangat ketakutan.
" Aku boleh masuk kedalam kan mas?. ", tanya Rania kemudian dengan nada datar.
" Rania pleaseee... ".
Rania masih gentar menghindari suaminya yang ingin segera meraih bahunya, telapak tangannya menghadap ke arah Arsha sebagai isyarat dia sedang tidak ingin disentuh oleh suaminya saat ini. Dagunya sedikit terangkat keatas seolah sedang menantang menatap suaminya, tanpa ekspresi masih dengan senyuman terpaksanya, begitu ingin terlihat tegar dan kuat didepan Arsha. Arsha tampak semakin dibuat gusar dengan tingkah Rania, dengan kasar mengusap wajahnya yang terlihat sangat frustasi, " Aku mohon Rania, tolong dengarkan dulu penjelasan ku. ", ucapnya memohon.
" Aku udah mendengarnya dengan jelas tadi malam Mas, dan aku sekarang sedang ingin membuktikan kebenaran ucapan mas Arsha tadi malam. ", entah kekuatan darimana yang tiba-tiba datang kedalam diri Rania, hingga kini rasanya dia lebih siap menghadapi suaminya yang seperti masih shock saat melihatnya. Suaranya terdengar lebih tegas dengan senyuman sinis penuh kebencian dengan perbuatan suaminya sendiri.
" Rania... ".
" Siapa yang datang Sha?. ", terdengar suara seorang wanita dari dalam apartement.
Rania tersenyum getir, menatap lekat wanita yang sedang berdiri hanya memakai tanktop dan celana hotpants didepannya. Hatinya kali ini benar-benar sudah remuk, sampai rasa nyeri yang dari tadi ditahannya kini seperti kebas karena berkali-kali dihantam kenyataan yang begitu menyesakkan dada. Arsha menggeser tubuhnya menghalangi pandangan Rania, kemudian meremas lembut kedua bahu Rania. Dengan kesal Rania beralih menatap suaminya yang terlihat semakin pucat didepannya.
" Kenapa mas?. Ini yang disebut wanita itu sedang menenangkan diri untuk bisa menerima kenyataan yang ada?." , sindir Rania dengan senyuman miring.
" Rania, please dengarkan aku dulu yah... ".
" Sepertinya semuanya udah cukup jelas sekarang mas, tidak ada lagi yang perlu dijelaskan lagi kan. Silahkan mas Arsha lanjutkan seperti sebelumnya, aku tidak akan menggangu kalian lagi. ", potong Rania cepat.
" Rania!. ", Arsha mengguncang bahu Rania dengan sedikit keras, mencoba meredakan amarah istrinya.
" Dengan melihat kalian seperti ini saja aku sudah sangat malu mas... Aku kira mas Arsha bisa menjaga diri, tapi nyatanya justru seperti ini yang mas lakukan dibelakang ku. Sebelumnya aku sungguh sangat percaya dengan kesungguhan mas Arsha, tapi kini rasanya kepercayaan ku semakin tipis padamu mas. Kalau memang mas Arsha belum sepenuhnya bisa meninggalkan masa lalu, aku mohon jangan libatkan aku lagi dalam masa lalu kalian. Lepaskan aku aja mas, biar kalian bebas melakukan apapun. " .
" Rania!!. ", bentak Arsha dengan suara keras.
__ADS_1
Rania terkekeh pelan mendengar bentakan keras suaminya, ini pertama kalinya suaminya bersuara keras padanya.
" Dengarkan aku dulu sebentar... ", ucap Arsha sedikit menekan emosinya.
" Maaf mas, aku memang tidak pernah mengerti dengan pergaulan modern seperti ini mas, tapi bagiku dan agama ku, semua yang mas lakukan ini adalah sebuah kesalahan besar. Aku benar-benar sudah nggak bisa lagi menerima hal ini dengan alasan apapun. Daripada kalian terus menerus melakukan dosa besar seperti ini, lebih baik kalian putuskan saja untuk menghalalkan secara agama. Dan aku dengan ikhlas akan mundur dari kehidupan kalian selamanya. ".
Brukk
Rania dan Arsha berbarengan menoleh kearah suara dibelakangnya, " Celine...!. ", panggil Arsha dengan suara tertahan, lalu kembali menatap Rania dengan tatapan seperti sedang memohon pengertian dari istrinya, dan kemudian segera berlalu meninggalkan Rania yang masih berdiri mematung menatap Celine yang sekarang tergeletak tidak sadarkan diri dilantai apartement.
Dengan senyuman getir, Rania menatap suaminya yang sedang panik berusaha membangunkan Celine dari pingsannya dengan cara memangku kepalanya dan menepuk lembut pipinya. Jelas sekali raut kepanikan dimata suaminya saat ini, sesekali menoleh kearah Rania yang masih diam mematung didepan pintu tanpa sedikitpun niat untuk membantu suaminya. Setelah dirasa cukup melihat adegan dramatis itu, Rania dengan cepat langsung membalikkan badannya meninggalkan apartement dengan perasaan penuh luka. Kini tekadnya sudah benar-benar bulat, tidak ada alasan lagi baginya untuk terus bertahan dengan kondisi suaminya yang seperti ini. Tangannya mengusap pelan perutnya yang masih rata, seolah sedang memberitahu anaknya kalau dia sekarang sedang baik-baik saja. Sudah tidak ada lagi yang perlu ditangisi, karena semuanya hanyalah sebuah cobaan kecil baginya, masih banyak cobaan lainnya yang siap menanti dimasa mendatang.
Sesampainya dirumah mama Hanum, Rania disambut dengan pelukan hangat dan tangisan penyesalan dari mama Hanum yang sudah menunggunya diruang tamu.
" Maafkan mama ya Ra... Mama malu dengan kelakuan Arsha yang seperti itu. Mama benar-benar nggak ngira kalo Arsha sampai tega membuatmu sedih seperti ini. Mama malu Ra... ".
Rania membalas pelukan mama Hanum dan mengusap lembut punggungnya, " Iya ma, Rania nggak papa kok. Rania sudah ikhlas menerima semua ini. ", ucapnya berusaha tegar. Walaupun hatinya begitu sakit, Rania kini sudah berjanji untuk tidak lagi menangisi semua ini karena ingin menjaga psikologi nya demi anak-anak yang sedang dikandungnya.
Mama Hanum langsung melepaskan pelukannya dan menatap Rania penuh kesedihan, " Apa mereka baik-baik saja Ra?. ", tanya mama Hanum sambil mengusap perut Rania.
Rania spontan langsung membelalakan matanya kaget, " Mama, udah tau kalau... ".
" Nggak ada yang nggak mama tau Rania, mama tau semuanya meskipun kamu merahasiakan ini dari mama. Hanya anak bodoh itu saja yang sama sekali nggak ngerti masalah ini kan?!. ".
" Apa boleh Rania minta tolong untuk jangan beritau mas Arsha tentang hal ini dulu Ma?. ".
Mama Hanum mengangguk sambil tersenyum haru, " Iya Rania, anak nakal itu memang harus diberi pelajaran karena udah tega denganmu dan calon anaknya. ".
Rania tampak ragu saat akan mengucapkan sesuatu, " Ma... emm ada satu hal lagi yang ingin Rania minta pada mama. Bolehkah Rania pindah dari rumah ini sekarang juga?. ", tanya Rania ragu.
Lagi-lagi mama Hanum mengangguk yakin, "Tentu Rania, kamu harus segera pindah dari rumah ini saat ini juga. ".
Rania tersenyum haru atas pengertian mertuanya itu, " Makasih Ma... Nanti Rania akan susulkan surat dari pengadilan agama untuk mas Arsha kalau...".
__ADS_1
" Ssttt... ", mama Hanum langsung menahan bibir Rania dengan jari telunjuknya, " Jangan terburu-buru memutuskan sesuatu Rania. Mama sangat tau bagaimana sifat Arsha yang sesungguhnya, dia nggak akan mungkin melakukan hal-hal yang diluar kehendaknya. Percayalah Rania, mama janji, mama sendiri yang akan membereskan masalah kalian. Sekarang cukup beri pelajaran pada anak bodoh itu supaya dia menyesal udah membuatmu seperti ini. Kamu nurut aja sama mama, mama udah siapin semuanya dan kamu tinggal ikuti aja skenario mama, Oke. ".
Rania terdiam dan masih tak mengerti dengan maksud mama Hanum. Dia hanya bisa mengangguk patuh saat mama Hanum memberikan instruksi yang sudah tersusun rapi untuk nya, meskipun tak mengerti dengan apa yang akan dilakukannya dimasa depan.