
Rania hanya diam saja mendengar diskusi antara Arsha, Dani dan bu Winda yang sekarang sedang berkumpul di ruang kerja Arsha membahas tentang perekrutan sekretaris baru untuk Arsha. Ingin pergi saja rasanya dari ruangan itu, karena Rania merasa seperti orang yang tidak tahu sendiri tentang perekrutan ini. Ternyata Arsha sudah sebulan ini mencari orang yang bisa menggantikan posisinya.
" Rania, apa ada syarat khusus yang kamu minta untuk pengganti mu?. ", tanya Arsha yang langsung menyadarkan dari lamunannya. Rania hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum malas.
" Maaf saya ijin ingin ke kamar kecil dulu, silahkan diteruskan diskusinya. ", Rania dengan cepat meninggalkan ruangan Arsha dengan rasa kecewa yang sangat besar. Kenapa tidak pernah mengatakan atau menanyakan dulu sebelumnya padanya?. Kalau seperti ini seolah kehadiran nya sama sekali tidak ada gunanya dikantor ini.
Sudah beberapa kali Arsha selalu saja membuat rencana tanpa meminta pendapat dari Rania terlebih dahulu. Rencana saat akan berkunjung ke rumah Bapak di Jogja, masalah pemeriksaan pra kehamilan dan yang terakhir tentang perekrutan calon sekretaris pengganti dirinya. Apa begini cara komunikasi yang benar dalam berumahtangga?. Sepertinya Rania sama sekali tidak setuju kalau dalam rumahtangga tidak terjalin komunikasi dua arah yang sama-sama mencari solusi terbaik.
Tanpa dia sadari langkah kakinya terhenti dikantin kantor yang masih tampak sepi, entah kenapa setelah mengetahui tentang perekrutan itu Rania sekarang merasa sangat kehausan, sepertinya emosinya saat ini ingin segera diredam dengan segelas air es jeruk nipis buatan bu Sri langganannya dikantin ini.
" Ehh... Mba-... Maksudnya bu Rania... ", sapa bu Sri ramah.
" Panggil mba aja nggak papa kok bu. ".
" Nggak enak lah bu, sekarang kan sudah beda. ".
" Nggak ada bedanya kok bu Sri, saya tetap Rania yang suka es jeruk nipis nya bu Sri. ", Rania mengambil kursi dan duduk didepan meja penjual tepat didepan bu Sri.
" Bu Rania mau es jeruk nipis?. "
Rania mengangguk sambil tersenyum ramah, "Iya bu, seperti biasa ya gulanya jangan kebanyakan. ".
" Ditunggu sebentar ya bu, bu Rania sehat-sehat aja kan bu?. Keliatan agak pucat wajahnya hari ini. ".
" Alhamdulillah sehat bu, cuma agak lemes aja badannya bu, nanti habis minum es jeruk juga seger lagi. ".
" Kecapean mungkin bu, kerja sampai malem sama pak Arsha, terus sering lembur sekarang ya bu. Kayaknya kantor lagi sibuk banget akhir-akhir ini.".
" Iya bu, kerjaan lagi banyak banget. ", dua minggu ini memang banyak sekali kesibukan yang dilakukan oleh semua orang diperusahaan ini. Ada sekitar tiga proyek besar mulai di kerjakan hampir bersamaan. Tak jarang dia sendiri harus lembur mengerjakan laporan yang menumpuk karena Dani juga tak banyak membantu. Dani saat ini harus turun langsung ke lapangan mengecek semua kelancaran pembangunan proyek.
Rania merogoh saku rok nya saat merasakan ponselnya bergetar. Ternyata Siska yang tengah menelponnya, entah kenapa Siska selalu bisa hadir disaat dirinya merasakan kegelisahan.
" Raniaaaa... !!!. ", teriak Siska dari seberang sana.
__ADS_1
" Siska... Kamu tuh kayak Andra, suka banget teriak kayak tarzan. Salam dulu yang bener dong Sis... ".
" Iya maaf Rania sayang... Assalamu'alaikum... Aku kangen banget sama kamu Ra... ".
" Waalaikumsalam... Aku juga kangen sama kamu Sis... ", ucap Rania sedih. Rasanya ingin sekali bertemu dengan Siska dan melupakan semua kegelisahan yang sedang dirasakannya.
" Ehh... Tunggu dulu, kamu kenapa kayak lemes gitu suaranya?. Kamu nggak lagi sakit kan?. ".
" Alhamdulillah aku sehat Sis, aku cuma lagi lemes aja. ".
" Jangan-jangan kamu hamil lagi Ra?!. Aku ingat dulu kamu juga lemes-lemesan gitu terus ternyata kamu positif hamil kan?!. "
Rania terdiam, apa mungkin hamil lagi?. Haid terakhirnya saja baru selesai dua minggu yang lalu, sepertinya masih terlalu dini kalau harus menduga kehamilan. " Nggak Sis, kantor lagi sibuk-sibuknya ngurus banyak proyek, jadinya aku sering lembur pulang malem. ".
" Ya ampuun... Kecapean kamu Ra. Ingat Ra, kamu harus tetap nyempatin makan biar nggak drop badannya. Nggak usah mikirin kerjaan banget lah Ra, biarin aja Bos kulkas mu itu suruh lembur sendiri. ".
Rania terkekeh mendengar ceramah Siska tentang suaminya, " Iya neng bawel... ", ucapnya senang karena sekarang rasa sedihnya sedikit terobati mendengar suara cempreng sahabatnya itu.
" Eh Ra, suami oppa bule mu apa kabarnya?. Duhhh... Aku kalo inget suami mu kok bawaannya pengen juga punya suami kayak kamu Ra. Dia punya adik cowok nggak Ra?. ".
" Nggak usah minder gitu lah Ra, kamu juga cewek tipe spek bidadari banget. Udah cantik, putih bersih, soleha dan baiknya juga kebangetan. Pokoknya Rania itu still number one lah... ".
Rania lagi-lagi terkekeh mendengar Siska yang seperti tau kalau dia sekarang sedang butuh hiburan. Allah SWT memang Maha Baik untuk umatNya yang tetap ikhlas menjalani segala persoalan di hidupnya, tanpa diminta pun sahabatnya tiba-tiba datang untuk menghapus segala kegundahan yang sedang melandanya.
*
Waktu sudah menunjukkan hampir jam empat sore, sepertinya sudah waktunya untuk pulang karena semua pekerjaan di hari Jum'at ini sudah selesai dikerjakannya. Rania melangkah menuju ruang dibelakang untuk mengambil tas dan barang pribadinya.
" Sayang... ".
" Astaghfirullah... Mas Arsha. ", Rania terlonjak kaget karena Arsha tiba-tiba sudah memeluknya dengan erat dari belakang.
" Kaget ya... Hehe maaf... ", ucap Arsha sambil menyesap aroma rambut Rania yang tembus lewat kerudung lebarnya.
__ADS_1
" Lain kali salam dulu dong mas, biar aku nggak jantungan kayak gini. ", protes Rania sambil mengemasi barang pribadinya dan dimasukan kedalam tasnya bersiap untuk pulang.
" Iya maaf... Habis aku kangen sama kamu Ra. Sudah lama kita nggak ngabisin waktu berduaan karena aku yang terlalu sibuk, maaf yaa... ", sesal Arsha yang merasa akhir-akhir ini sangat jarang ngobrol sama Rania secara intim. Rania hanya diam saja tak menanggapi, rasanya masih ada rasa kecewa pada suaminya karena beberapa alasan.
" Kok diam aja, kamu lagi marah sama aku Ra?. ", Arsha membalikkan tubuh Rania hingga menghadap langsung kearahnya. Dengan penuh menyelidik menatap Rania yang hanya tertunduk diam. " Rania, apa aku melakukan kesalahan?. ".
" Maaf mas, kenapa mas Arsha tidak memberitahu ku dulu tentang perekrutan sekretaris baru?. Apa aku sudah nggak kompeten lagi jadi sekretaris mu?. Makanya mas harus buru-buru mencari pengganti ku. ", Rania memberanikan diri untuk mengungkapkan kekecewaannya, daripada harus memendamnya sendiri dan tak akan dapat penjelasan, lebih baik mencari jawaban saja dari suaminya sendiri.
" Ohh... Jadi karena perekrutan sekretaris baru. Waktu itu kan aku udah pernah bilang sama kamu, kalo aku kepengen kamu fokus dirumah saja untuk merawat Andra. ".
" Tapi saat itu aku juga belum menyetujuinya kan mas?!. Aku masih ingin kerja, aku bingung kalau harus diam saja dirumah. ".
" Rania, maksud ku melakukan itu biar kamu nggak capek kerja seperti sekarang ini. Aku nggak tega kamu kecapean sampai ikut lembur pulang malam. Kan Andra juga kasihan ingin bersama Bunda nya tapi harus menunggu sampai ketiduran dan hanya bertemu sebentar paginya. ".
Rania tertunduk dalam, memang benar yang dikatakan Arsha, waktu kebersamaan dengan Andra memang akhir-akhir ini sangat sedikit karena kesibukannya.
" Rania, maaf kalau aku nggak bilang dulu tentang perekrutan itu, tapi tujuan ku cuma buat kebaikan kamu, Andra dan juga kita berdua, supaya lebih banyak lagi quality time bareng keluarga. Sekarang kamu mengerti kan kenapa aku melakukan hal ini?. ".
Rania mengangguk mengerti, mencoba menerima alasan Arsha walaupun masih terselip rasa kecewa dalam hatinya.
" Hai... Udah dong ngambeknya... Malam ini aku ingin mengajak mu makan malam diluar. Mumpung kita bisa pulang lebih awal jadi kita bisa menghabiskan waktu berdua sepuasnya. Gimana?. Kamu mau kan?. ".
Rania mendesah malas, " Aku ingin pulang saja mas, sudah lama nggak ngobrol sama Andra. ".
" Jadi kamu nggak mau nih berduaan sama aku?!.", Arsha langsung cemberut mendengar jawaban Rania.
" Tadi kan mas sendiri yang bilang kalau sekarang Andra jarang ketemu sama kita. Quality time untuk keluarga, itu kan yang penting. ".
" Ohh... Jadi kamu mau balas dendam nih cerita nya. Oke, kita juga harus quality time berdua sebelum ketemu Andra besok pagi. ", Arsha langsung menarik tangan Rania dengan paksa.
" Mas, aku mau pulang ke rumah aja. ", tolak Rania.
" Kamu beneran mau menolak ajakan suami mu sendiri?!. ", Arsha tersenyum menang, sebenarnya tak tega juga kalau harus mengancam Rania dengan jurus pamungkas tentang hukum menolak ajakan suami.
__ADS_1
Dan ternyata memang langsung terbukti dengan diamnya Rania, pasti Rania tidak akan berani dengan laknatullah kalau menolak ajakan suaminya. Dengan muka kesal Rania langsung melewati Arsha begitu saja, menuju ke tempat parkir dimana mobil suaminya berada. Arsha tersenyum lebar kemudian mengekori langkah Rania dengan siulan kegembiraan.