Tak Cinta Tapi Menikah

Tak Cinta Tapi Menikah
Pesona Hari Jum'at


__ADS_3

Hari jumat sering dikatakan sebagai hari pendek dibanding hari-hari yang lainnya. Tapi tidak bagi Rania, hari jumat ini terasa sangat panjang dan lama, bahkan untuk melewati waktu satu jam saja.


Saat ini dia dan Arsha sedang menemui kolega perusahaan dari PT Karya Perkasa. Rania sudah merasakan ketidaknyamanannya dengan pertemuan hari ini sejak awal.


Arsha tampak duduk tenang membaca berkas yang dibawa oleh Luna, CEO PT karya perkasa yang duduk menempel disebelahnya.


"Gimana Arsha? Semuanya sudah oke kan.. ?", ucap Luna dengan suara yang dibuat manja dan mendayu.


Pakaian super mini dan super ketat, melekat erat ditubuh wanita yang sekarang duduk dengan menyilangkan kakinya.


"Kamu lihat deh, dibagian ini, semua rencana dan anggarannya benar-benar bagus dan detail kan..", ujarnya sambil menunjuk pada berkas yang dipegang Arsha. Tubuhnya sedikit condong ke Arsha dan menempel di lengan Arsha. Kakinya yang menyilang, memamerkan paha putih mulus yang terbuka. Jika Arsha melirik ke sampingnya, sudah pasti akan terlihat dengan jelas belahan dada Luna yang seperti sengaja diperlihatkan padanya.


Namun Arsha tetap acuh, tak mengindahkan Luna yang seperti ulat keket di sampingnya.


Rania menundukkan pandangannya, 'Astaghfirullahalazim... jauhkan hamba dari hal-hal yang tidak baik pada pandangan hamba ya Allah'. Bagaimana mungkin tubuh wanita yang indah, yang sudah diberikan sang Pencipta untuk di lindungi dari pandangan kaum lelaki, dan hanya bisa dinikmati oleh laki-laki yang sudah mahram nya, malah di umbar seperti itu.


"Kamu kenapa, Rania?", bisik Hendra asisten Luna, yang duduk disamping Rania.


"Nggak papa, pak Hendra", jawab Rania dengan suara berbisik. Arsha melirik kearah Rania yang terlihat sudah tidak nyaman dengan pertemuan ini.


"Oke, aku akan membacanya dan mempelajarinya lagi dikantor, ini Rania.", Arsha tiba-tiba saja memajukan tubuhnya kedepan, dan menyodorkan berkas yang dipegangnya ke arah Rania, membuat Luna sedikit terdorong kebelakang.


Rania menerima berkas itu, kemudian langsung menyimpannya ditas kerja milik Arsha.


"Kenapa tidak diselesaikan disini saja sekalian, kamu masih banyak waktu kan?", ucap Luna sedikit kecewa karena Arsha terlihat terburu-buru mau menyudahi pertemuannya.


"Maaf Luna, urusan ku masih banyak di kantor hari ini. Aku sudah ada janji meeting di kantor, iyakan Rania?", Arsha menatap Rania dengan tatapan yang penuh isyarat pada Rania.


"Iya Pak, setelah ini masih ada meeting dikantor.", jawab Rania yang paham dengan maksud tatapan Arsha. Luna langsung melirik tak senang pada Rania. Arsha bangkit dari sofa yang didudukinya, diikuti Rania dan juga Hendra. Luna langsung mengikuti berdiri, tangannya bergelayut manja di lengan Arsha.


"Arsha,bnanti malam kamu ada waktu kan? Aku ada party spesial di rumah, kamu bisa kan datang ke rumah?".


"Nanti malam aku sudah ada janji dengan mama, dia minta ditemani karena ada acara keluarga dirumah, maaf Luna, aku tidak bisa datang.". Luna merengut kecewa mendengar jawaban Arsha.


"Aku permisi dulu, Ayo Rania", Arsha melangkah meninggalkan Luna disampingnya.


"Mari bu Luna, pak Hendra.", pamit Rania pada Luna dan Hendra, yang hanya dijawab dengan tatapan tajam tak suka dari Luna.


"Sampai ketemu lagi, Rania.", ucap Hendra pada Rania. Rania tersenyum ramah pada Hendra.


'Alhamdulillah... akhirnya pertemuan nya cepat selesai', Rania menghela nafas lega, melangkah dengan tergesa, menyusul Arsha yang sudah mendahuluinya.


"Kenapa kamu jalannya lambat sekali, Rania?".


Rania hanya terdiam sambil merengut sebal, 'Bukan jalan ku yang lambat, tapi memang kaki mu yang kepanjangan dan kaki ku jauh lebih pendek'. Rania menatap kaki nya sendiri yang memang terlihat pendek jika disandingkan dengan kaki Bos nya yang sangat panjang itu.


Arsha tertawa pelan menatap Rania yang sedang berusaha menyamakan langkah kakinya yang pendek.


"Saya tidak lambat jalannya, Pak. Kaki Bapak yang terlalu panjang.", balas Rania sebal.

__ADS_1


Arsha terdiam mendengar jawaban Rania, 'Ternyata dia bisa juga membalas ledekan', Arsha terkekeh pelan.


"Kaki mu kayak kaki kurcaci, kecil dan pendek.", ledek Arsha lagi sambil menyeringai menatap Rania yang sepertinya bertambah kesal.


Rania semakin kesal dengan ledekan Arsha, dia mempercepat jalannya hingga menyalip langkah Arsha. Arsha tertawa geli melihat Rania yang pantang menyerah berjalan mendahului nya.


*


"Hai Rania!", sapa Dani yang baru saja muncul dari dalam lift.


"Assalamu'alaikum... Itu jauh lebih baik dari pada sekedar kata 'hai'. Salam itu memberikan doa, dan yang mengucapkan akan dibalas dengan pahala yang berlimpah dari Allah.".


"Iya iya bu ustazah... Gimana tadi pertemuan dengan miss Luna?".


"Pak Bos bilang mau membacanya lagi dikantor, tadi sudah aku simpan ditas nya.", jawab Rania tak bersemangat. Dia langsung teringat bu Luna yang.., Rania langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat, seolah ingin mengusir bayangan miss Luna yang sangat seksi itu.


'Astaghfirullah... Ampuni hamba ya Allah.. '.


"Kamu sudah ketemu langsung kan sama miss Luna? Gimana kesan dan pesan nya, Rania?".


Rania langsung merengut sebal sambil menyenderkan punggungnya dikursi.


"Kenapa? Kaget ya ketemu miss Luna.", Dani terkekeh melihat Rania yang langsung terlihat lemas.


"Besok-besok mas Dani aja yang ikut kalo ada pertemuan sama miss Luna. Mas Dani pasti senang kan?".


Dani langsung tertawa keras mendengar ucapan Rania.


"Sorry Rania, biar kamu tambah ilmu dan pengalaman saja.".


Rania merengut kesal, "Itu ilmu sesat namanya Mas!".


Dani masih tertawa sambil memegang perutnya yang mulai terasa kaku.


"Mas Dani, Miss Luna sepertinya suka sama pak Arsha.".


"Itu emang sudah lama, sejak miss Luna belum menikah.".


"Oohhh.. pantas saja... ".


"Tenang saja Rania, Bos kita sudah di kasih vaksin booster ke lima biar kebal sama janda gatel itu.".


"Hahh.. Miss Luna seorang janda?", tanya Rania kaget.


"Yoi, menikah hanya tiga bulan, terus cerai dengan kasus perselingkuhan".


Rania melongo tak percaya,"Astaghfirullahalazim. "


"Suaminya dulu hobby main cewe, dan miss Luna... ".

__ADS_1


"Cukup mas, cukup! Jangan diterusin lagi, jangan terjebak dengan ghibah.", potong Rania dengan cepat, tidak mau lagi terlibat gosip yang akan menjerumuskannya pada ghibah yang tidak bermanfaat.


Dani tersenyum, begitu mulia hati wanita didepannya ini, benar-benar wanita yang sangat bersih hatinya. "Maaf Rania.", ucap Dani merasa tak enak saat melihat Rania seperti tidak suka dengan omongan nya.


"Iya mas, nggak papa kok. Mas Dani sana siap-siap berangkat jum'atan, kalo ga jum'atan mending mas Dani ganti baju aja sekalian.".


"Ganti baju?".


"Iya, ganti celananya dengan rok, sekalian aja beli mukena. Kan cuma cewe yang ngga jum'atan.", sahut Rania enteng.


"Kamu bisa aja Rania, iya iya.. aku mau jum'atan dulu. Kamu nyuruhnya udah kaya.. ehheemm sama calon suami aja... ", Dani tersenyum meledek Rania.


"Hiihh... udah ah sana.", ucap Rania sambil menutup kedua telinganya.


"Hati-hati lho Rania, nanti lama-lama kamu jadi suka beneran lho sama aku... ".


Rania hanya terdiam, kemudian langsung berdiri ditempatnya.


"Tuh kan... Sekarang aja kamu udah terpesona sama aku... ", Dani masih saja meledek Rania yang masih terdiam membisu.


"Siapa yang terpesona?".


Dani langsung membalikkan badannya, "Eh Bos.. ", Dani menyeringai sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Rania yang sudah dari tadi melihat Arsha datang, tergelak tertawa pelan melihat Dani yang salah tingkah.


"Siapa yang terpesona?", tanya Arsha lagi.


Dani menoleh kearah Rania, yang sedang menutup bibirnya, menahan tawa.


"Itu Bos, tadi Rania bilang, dia terpesona sama laki-laki yang mau berangkat sholat jum'at. Katanya kalo ngga berangkat sholat jum'at, disuruh pake rok sama mukena sekalian sama Rania. Soalnya yang nggak jum'atan kan cuma cewe. ".


Rania langsung menghentikan tertawanya, kepalanya menggeleng dengan cepat sambil menatap Dani dengan sebal.


"Plak!!"


"Auuww... "


"Nih, kamu juga akan terpesona sama map ini. Pelajari laporan ini, besok aku tunggu hasil nya.", ucap Arsha setelah memukul Dani dengan map yang dibawanya, dan langsung meletakkan kedada Dani dengan agak keras.


Arsha langsung berlalu masuk kedalam lift.


Rania tertawa lagi melihat Dani yang masih shock dengan serangan beruntun dari Arsha yang tiba-tiba.


"Heemmm, puas kan ketawanya?! Laki-laki tampan dan gagah berani itu harus siap sedia melawan ketidakadilan".


"Kalo laki-laki tampan dan gagah berani itu harusnya melawan langsung Mas, bukan dibelakang baru berani ngomong nya.".


Dani tersenyum melihat Rania yang tertawa lepas, walaupun masih terlihat ditahan. Rania sekarang jauh lebih terbuka dibandingkan saat pertama masuk dulu. Sekarang Rania sudah bisa diajak bercanda, ngobrol santai dan yang lebih penting, Rania sekarang seolah sudah bisa digapai dengan tangannya.

__ADS_1


Setelah mengetahui status Rania yang sebenarnya, Dani memang terlihat terus melakukan pendekatan pada Rania. Seorang wanita yang sesuai dengan kriteria nya, dan wanita yang luar biasa hebatnya, karena sudah melewati banyak peristiwa yang pahit, namun masih bisa tegar berdiri dengan kakinya sendiri.


Dani sudah bertekad untuk mengejar Rania, sampai Rania mau menerimanya. Dani masih menunggu waktu yang tepat untuk mengungkapkan isi hatinya, menunggu saat Rania benar-benar siap menerimanya sebagai calon ayah dari Andra.


__ADS_2