
Rania terkejut mendengar penjelasan dokter yang ada dihadapannya.
"Operasi??".
"Iya bu, sebenarnya hanya operasi kecil, operasi pemasangan gips pada lengan anak ibu. Dan untuk lebih jelasnya, nanti dokter orthopaedi yang akan menjelaskan lebih lanjut.".
"Segera panggil dokternya, saya minta secepatnya dilakukan tindakan yang terbaik!", sahut Arsha mulai tak sabar dengan penjelasan dokter jaga IGD itu.
Rania menatap Arsha tak mengerti, kenapa Bos nya jadi ikut andil dalam mengambil keputusan untuk anaknya. Dokter itu menatap Arsha dengan sedikit takut, melihat penampilan Arsha sudah bisa dipastikan kalau Arsha adalah orang berpengaruh dan berkuasa.
"Baik Pak, akan saya hubungi segera.".
Arsha dan Rania masih duduk menunggu diruang jaga dokter.
"Saya sudah berhasil menghubungi dr. Ridwan spesialis orthopaedi. Sebentar lagi beliau akan datang kesini memeriksa anak bapak.".
"Pak Arsha bukan.. ".
"Baik, saya tunggu disini sampai dr Ridwan datang.", ucapnya memotong kata-kata Rania.
Rania terdiam, sepertinya dokter didepannya sudah salah paham menganggap Arsha adalah bapak dari anaknya. Bagaimana Rania meluruskannya? Ah sudahlah, yang penting sekarang bagaimana Andra supaya bisa cepat ditangani.
Rania berjalan menuju keruangan Andra kembali, diikuti Arsha yang berjalan tepat di belakangnya.
"Maaf Pak Arsha, kalau Pak Arsha mau kembali ke kantor silahkan saja Pak. Saya ijin hari ini tidak kembali lagi ke kantor. Terimakasih sudah mengantarkan saya ke rumah sakit.".
"Kamu mau mengusir ku?".
Rania menatap Arsha dengan takut, "Bu-bukan seperti itu maksud saya, Pak. Untuk urusan Andra biar saya saja yang menangani disini.".
"Aku akan menunggu sampai anakmu selesai ditangani, sudah ada Dani dikantor. Kamu sendiri kenapa tidak langsung mengabari suamimu?".
Rania menatap Arsha dengan terkejut, "Oh itu... nanti pasti akan saya kabari, Pak. ".
"Nanti??", tanya Arsha tak percaya mendengar jawaban dari Rania.
"Iya Pak, pasti saya kabari secepatnya.".
Arsha menatap curiga pada Rania yang terlihat begitu santai tidak langsung menghubungi suaminya disaat anaknya sendiri mengalami kecelakaan sampai tangannya patah. Rania hanya melempar senyum terpaksa tanpa berani menatapnya.
*
__ADS_1
Rania dan Arsha kini sedang duduk diruang jaga dokter dan perawat IGD, mendengarkan penjelasan tentang prosedur tindakan operasi yang akan dijalani oleh Andra, setelah sebelumnya tadi dr Ridwan sudah memeriksa Andra dan menyarankan untuk segera dilakukan tindakan operasi pemasangan gips.
"Mohon maaf, tadi anak Andra terakhir makan dan minum jam berapa ya Bu?", tanya seorang perawat perempuan didepannya.
"Andra baru minum sekitar satu jam yang lalu, Sus. ", jawab Rania cepat.
"Baik, kami akan segera menyiapkan jadwal operasi anak Andra tiga jam lagi.".
"Kenapa tidak sekarang saja operasinya?!", ucap Arsha tak sabaran.
Rania dan perawat didepannya beralih menatap Arsha yang sedang memasang muka tegasnya.
"Maaf Pak, karena anak Andra baru saja minum, jadi operasi baru akan dilaksanakan tiga jam lagi. Itu prosedur untuk persiapan tindakan anestesi nya, kalau anak-anak diharuskan untuk puasa minimal empat jam sebelum pembiusan dilakukan.".
Arsha terdiam mendengarkan penjelasan perawat perempuan didepannya yang terlihat sudah banyak berpengalaman.
'Kenapa dengan Pak Bos? Kenapa jadi dia yang tidak sabaran?', batin Rania heran melihat wajah Arsha yang terlihat tegang. Rania sendiri sekarang sudah terlihat tenang setelah mengetahui keadaan Andra, bayangan trauma masa lalunya menghilang saat ini. Bagaimanapun juga, Rania harus menghadapinya dengan tegar dan kuat, supaya orang-orang disekelilingnya yakin kalau dia sudah benar-benar pulih dari trauma masa lalunya.
"Kemudian setelah operasi, anak Andra bisa langsung pindah ke ruang rawat inap. Ini daftar ruang rawat inap beserta tarifnya. Apa Bapak ibu punya asuransi kesehatan yang bisa digunakan dirumah sakit kami?", tanya perawat itu lagi sambil menyodorkan sebuah kertas yang berisi daftar tarif rawat inap sesuai kelas beserta tindakannya. Rania membaca tarifnya, 'Mahal sekali.. ', batinnya mulai gelisah. Selama lima bulan ini Rania hanya bisa menyisihkan uang gajinya sekitar tiga juta rupiah setiap bulannya untuk ditabung, selebihnya dia gunakan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, membayar sekolah Andra dan menggaji bik Inah. Setelah melihat tarif rumah sakit, sepertinya uangnya hanya cukup untuk membayar sesuai tarif kelas tiga. Sementara itu asuransi dari perusahaan Arsha bisa menjamin untuk perawatan kelas dua. Jadi pilihan asuransi adalah hal yang sangat tepat sekarang ini.
"Saya punya... ".
"Sediakan ruang VVIP untuk Andra.", potong Arsha cepat. Rania melotot menatap Arsha yang sedang duduk disamping nya, terkejut dengan ucapan Arsha barusan.
"Saya yang akan menanggung biayanya.", ucapnya tegas. Rania hanya terdiam, bingung dengan sikap Arsha yang seenaknya sendiri mengatur masalahnya.
"Baik Pak, sebelumnya saya minta tandatangan untuk persetujuan operasi dan perawatan anak Andra.", perawat itu langsung menyodorkan kertas dan pulpen kehadapan Arsha. Rania masih terdiam melihat Arsha sudah membubuhkan tanda tangannya pada surat persetujuan tindakan dan perawatan Andra.
*
Arsha duduk termenung sambil meletakkan siku tangannya pada kedua lututnya dan kedua jari tangannya saling bertautan menopang dagunya.
Saat ini Rania masih ada didalam ruang operasi setelah tadi Andra menangis memberontak ketakutan saat akan masuk kedalam ruang operasi, akhirnya tim kamar operasi memperbolehkan Rania berganti pakaian kamar operasi dan masuk kedalam untuk mendampingi Andra. Sementara Arsha duduk di kursi ruang tunggu diluar kamar operasi.
"Pak, silahkan minum dulu.".
Arsha mengangkat kepalanya, bik Inah terlihat sedang menyodorkan botol air mineral didepannya.
"Terimakasih, Bu.", Arsha menerima botol air mineral yang diberikan padanya.
"Sama-sama, Pak.", ucap bik Inah dengan ramah, kemudian ikut duduk disamping Arsha.
__ADS_1
"Apa Bapak satu kantor juga dengan mas Dani?".
'Dani?', tanya Arsha dalam hati, kaget dengan ucapan bik Inah yang sepertinya sangat mengenal Dani.
"Iya Bu, saya satu kantor dengan Dani. Ibu kenal dengan Dani?".
"Oohhh... ya kenal banget lah Pak, mas Dani itu kan sering main kerumah.".
Arsha menatap bik Inah tak percaya, "Dani?? sering main kerumah rania?!".
"Iya Pak, mas Dani itu baik banget sama Andra, sering bawa mainan dan makanan kesukaan buat Andra. Kalo main bisa sampe sore.".
'Dani? sering main kerumah Rania?? lalu suami Rania?', selama ini yang dia tau Rania orang yang sangat menjaga hubungannya dengan orang lain, terutama dengan laki-laki. Tapi kenapa...?.
"Apa suami Rania tidak pernah pulang kerumah, Bu?", tanyanya semakin penasaran dengan hubungan Rania, suaminya dan juga Dani. Sepertinya kali ini ada sesuatu yang tidak dia ketahui. Bik Inah tersenyum mendengarnya.
"Suami mbak Rania kan sudah meninggal lima tahun yang lalu.".
Arsha melotot menatap bik Inah yang duduk disampingnya dengan ekspresi kagetnya.
"Apa?!".
Bik Inah tampak bingung dengan ekspresi keterkejutan Arsha, "Apa Bapak belum tau?",
Arsha hanya menggelengkan kepalanya pelan. Bik Inah mendesah, kemudian menghela nafasnya panjang.
"Maaf, seharusnya saya tidak memberitahu dulu sebelum mbak Rania yang bilang sendiri pada Bapak.".
Arsha mengalihkan pandangan matanya pada lantai rumah sakit dibawahnya.
"Lima tahun yang lalu? Berarti Andra... ", Arsha seperti tak sanggup meneruskan kata-katanya sendiri.
"Mas Andra belum pernah melihat ayahnya sendiri, karena mas Andre meninggal dalam kecelakaan saat mbak Rania baru hamil satu bulan.".
Ingatannya seolah langsung berputar saat dirinya menanyakan tentang suami Rania pada waktu itu diruang kerjanya. 'Pantas saja jawabannya seperti itu', batin Arsha dalam hati.
Pintu kamar operasi terbuka, Andra terlihat masih tertidur karena efek bius dan terbaring lemas ditempat tidur rumah sakit. Rania berjalan di samping tempat tidur yang sedang didorong keluar kamar operasi oleh tim medis.
Arsha berdiri menatap Andra, dan beralih ke Rania yang masih memakai masker medis diwajahnya. Perasaannya semakin tak menentu menatap Rania dan Andra bergantian setelah mengetahui kenyataan yang sebenarnya.
*
__ADS_1
Rania mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru kamar VVIP tempat Andra dirawat. Kamar rumah sakit yang luasnya hampir sama dengan luas rumahnya sendiri. Fasilitasnya sudah seperti rumah pribadi, lengkap dengan dapur dan mini bar, meja makan, sofa keluarga dan tempat tidur untuk penunggu. Tarif yang sesuai untuk membayar fasilitas yang sudah disediakan oleh rumah sakit ini. Rania termenung sejenak memikirkan bagaimana caranya untuk membayar tagihan rumah sakit saat besok Andra sudah diperbolehkan pulang. Mungkin bisa dengan cara mencicilnya pada Arsha, atau mungkin dia akan bernegosiasi dengan pihak rumah sakit untuk membayar dengan cara tempo.
'Astaghfirullahalazim... ', Rania menarik nafasnya dalam, yang terpenting sekarang adalah kesembuhan anaknya dulu yang harus dipikirkan nya. Masalah biaya InsyaAllah, Allah akan memberikan jalan nantinya.