Tak Cinta Tapi Menikah

Tak Cinta Tapi Menikah
Awal Masalah


__ADS_3

Flashback on


Arsha sengaja mengebut semua pekerjaannya dan meminta Dani untuk mengambil alih beberapa rapat yang akan ditinggalkannya karena ingin datang tepat waktu ke sekolah Andra. Ada kebahagiaan tersendiri saat anak itu memintanya secara khusus untuk datang dan menyaksikannya pertunjukannya sebagai seorang tentara seperti impiannya selama ini.


Tepat jam sembilan pagi, Arsha bergegas turun dan langsung mengendarai mobil pribadinya dengan hati yang berbunga-bunga, dia tidak ingin terlambat ke sekolah Andra dan membuat kecewa anak itu. Ingin segera bertemu dengan anaknya dan tentu saja dengan Bunda nya yang membuat nya bahagia sejak tadi malam. Seulas senyum mengembang dibibirnya, membayangkan wajah Rania yang begitu bahagia tadi malam, saat dia akhirnya bisa menceritakan semuanya pada istrinya itu dan mengungkapkan perasaan yang sesungguhnya untuk Rania dan juga Celine. Sangat lega rasanya mendengar Rania bisa berbesar hati menerima sedikit cerita kelamnya bersama Celine. Kini sudah tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan, sebentar lagi setelah Celine tenang dan bisa menerima kenyataan tentang pernikahannya dengan Rania, dia pasti akan segera bebas dari masalah ini selamanya.


Arsha bersiul kecil mengikuti alunan nada musik slow rock yang sedang diputarnya, kemudian melirik ke layar HP nya yang berkedip tanpa henti karena ada panggilan masuk. ' Bobby ', ternyata wanita jadi-jadian itu yang sedang menghubunginya saat ini. Arsha mengabaikan panggilan itu, dia sama sekali tidak ingin diganggu saat ini dengan masalah Celine atau apapun itu, dia ingin meluangkan waktunya untuk Rania dan juga Andra dengan sepenuh hatinya. Rencananya setelah pertunjukan selesai, dia akan mengajak mereka berdua jalan-jalan di mall dan ingin berpuas-puas menghabiskan sebagian uangnya untuk memanjakan istri dan anak kesayangannya itu.


Arsha kembali melirik ke layar HP nya yang terus menerus berkedip, sudah tujuh kali panggilan dari Bobby untuknya, dan kali ini Arsha dibuat penasaran, ada apa Bobby sampai menelponnya berkali-kali?. Dengan ragu Arsha akhirnya menggeser tombol terima dan menekan loudspeaker supaya tidak mengganggu saat dirinya masih sibuk menyetir.


" Ada apa Bob?. ", tanyanya langsung tanpa basa basi.


" Maaf Bos, tolong kesini sekarang. Nona Celine kolaps Bos, dia udah dua kali pingsan. Dan aku bingung sekarang Bos... ", sahut suara Bobby di seberang sana.


" Panggil ambulans aja Bob, bawa Celine ke rumah sakit. ", perintah Arsha kesal, kenapa juga harus menelponnya untuk hal seperti itu.


" Nona Celine nggak mau Bos, dia mogok nggak mau kemana-mana, dan udah dua hari ini dia mogok nggak mau makan, nggak mau minum, sampe badannya lemes nggak ada tenaganya sama sekali, terus asam lambung nya juga naik, tiap bangun terus muntah sampe habis isi perutnya. Aku takut Bos liat kondisinya, Bos bisa kan ke sini sekarang??. ".


Arsha mendesah kesal, kenapa harus disaat seperti ini sih?, rutuknya dalam hati. " Aku telpon Edo suruh ke apartement sekarang. Kamu tunggu aja disitu, jangan tinggalin Celine sendirian. ", perintah Arsha pada Bobby, kemudian langsung menghubungi Edo sambil menepikan mobilnya ke sisi jalanan yang kosong.


" Halo Sha, ada apa?. ", sahut suara Edo dari seberang telponnya.


" Do, kamu bisa kan ke apartement ku sekarang. Celine katanya pingsan di apartement. ".


" Aku nggak bisa Sha, aku lagi maju ujian praktek residen ku sekarang. Kalo aku nggak ikut, namaku bakalan dicoret selamanya. ".


" Ya suruh aja temenmu atau siapapun yang bisa gantiin kamu ke apartement sekarang, bisa kan Do?. ", pinta Arsha.


" Sorry Sha, aku matiin dulu, giliran ku maju sekarang. ", sahut Edo dengan suara berbisik.


Arsha mengusap wajahnya kasar, harus minta tolong siapa lagi sekarang?. Dani mana mungkin bisa menolongnya, dia pasti sedang sibuk-sibuknya dikantor setelah tadi ditugasi begitu banyak PR yang harus segera diselesaikan hari ini. Arsha melirik jam ditangannya, sekarang sudah jam sembilan lewat limabelas menit, kalau dihitung hitung perjalanan ke apartement hanya sekitar seperempat jam saja dari tempat dia berhenti saat ini. Yah, dia akan berpacu dengan waktu supaya bisa mengejar dan segera sampai disekolah Andra tepat jam sepuluh nanti atau bisa lebih dari waktu yang dijanjikan, setelah menyelesaikan urusan Celine di apartement.


Arsha dengan cepat langsung memacu mobilnya, setelah sampai di apartement dia langsung mencari Celine dan berusaha membujuknya untuk kerumah sakit.


" Dimana Celine Bob?. ", tanyanya langsung saat masuk ke dalam apartement dan hanya menemukan Bobby yang sedang asyik minum kopi sambil nonton TV diruang keluarga.


" Ada dikamar Bos, dia nggak mau turun sama sekali karena... ", omongan Bobby terhenti saat melihat Arsha pergi begitu saja dan langsung naik ke lantai atas. " Hhiihh... Dasar Bos spaneng, nggak ada santai-santai nya... ", sungut Bobby sebal.


Arsha langsung masuk ke dalam kamar dan mendapati Celine yang terkulai lemah diatas ranjang dengan wajah yang sangat pucat. Dengan pelan Arsha mencoba membangunkan Celine yang tengah menutup matanya, entah sedang tertidur atau hanya sekedar tiduran saja.


" Celine... ", panggilnya dengan suara lirih takut mengagetkan Celine.


Mata Celine mengerjap dan langsung menatap Arsha yang sudah duduk disisi ranjang. " Sha... Kamu akhirnya kesini juga Sha... ", isak tangis Celine langsung pecah saat itu juga.


" Kenapa nggak mau makan hhmm??. ", tanya Arsha sambil mengusap rambut Celine yang tampak berantakan. Setelah tahu kondisi Celine yang sangat lemah, Arsha merasa tidak tega kalau harus langsung membujuk Celine ke rumah sakit.


" Kamu kenapa nggak mau angkat telpon ku Sha?. Kamu bahkan sama sekali nggak pernah kesini nengokin aku... Hikhik... Aku masih butuh kamu disini Sha... ", Celine semakin terisak.


" Maafkan aku Celine, aku benar-benar lagi sibuk dikantor. Sekarang kita ke rumah sakit dulu yah, kamu pucet banget kayak gitu... ", bujuk Arsha pada akhirnya.


Celine langsung menggelengkan kepalanya dengan lemah, " Nggak mau!. ", tolaknya langsung.


" Kamu butuh cairan Celine. Tubuh mu lemah banget kayak gini. ", bujuk Arsha lagi.

__ADS_1


" Aku nggak mau Sha!. Aku nggak mau diperlakukan seperti orang gila lagi seperti waktu itu. Aku takut Sha... ", Celine kembali terisak menangis.


" Terus gimana caranya kamu bisa sehat lagi kalo kamu nggak dapat penanganan dari tim medis Celine. ".


" Kamu cukup disini aja nemenin aku Sha, aku mau makan kalo kamu mau nungguin aku sekarang. ".


Arsha mendesah pelan, kemudian melirik jam ditangan kanannya, sudah jam sepuluh lebih sekarang. Kalau dia berangkat ke sekolah Andra sekarang pun sepertinya sudah terlambat, jadi akhirnya dia memutuskan mengalah menemani Celine sampai kondisinya benar-benar pulih kembali. Nanti dia akan meminta maaf pada Andra karena sudah melanggar janjinya untuk datang melihat pertunjukan Andra hari ini. Arsha meraba saku celananya mencari ponselnya, lalu menepuk dahinya karena lupa membawa ponselnya yang dia letakkan di mobilnya saat tadi menelpon Edo.


" Kenapa Sha?. ", tanya Celine keheranan dengan tingkah Arsha yang gelisah.


" Nggak papa Celine, sekarang ayo makan dulu yah... Aku masih harus balik lagi ke kantor siang ini. ".


Celine mengangguk senang, akhirnya Arsha mau menemaninya makan di sini. Dengan perlahan dia berusaha bangkit dari tidurnya, tapi tenaganya benar-benar menghilang sekarang, belum lagi rasa mual terus menyerangnya saat dia menggerakkan kepalanya. Rasanya pusing seperti menaiki rollercoaster dengan kecepatan tinggi.


" Kenapa Celine?. ", tanya Arsha khawatir saat melihat Celine ambruk lagi dan terlihat semakin pucat pasi.


" Aku pusing banget Sha, setiap bangun kepalaku rasanya seperti muter kenceng banget. ", keluhnya sambil memegangi kepalanya.


Arsha akhirnya meraup tubuh Celine dan menggendongnya menuju ke ruang makan dilantai bawah.


" Makasih Sha... ", Celine tersenyum bahagia menatap Arsha yang tampak acuh tetap berjalan menuju ke tempat tujuan. Saat menuruni anak tangga, tiba-tiba saja Celine muntah tepat didada Arsha yang tengah menggendongnya. Baju keduanya saat itu juga langsung basah terkena muntahan berwarna kekuningan.


" Maaf Sha... Aku mual banget. ", sesal Celine saat melihat baju hem Arsha terkena muntahannya.


" Nggak papa Celine. ", ucapnya pelan sambil berbalik berjalan ke kamar lagi.


Keduanya turun ke ruang makan setelah selesai berganti baju karena risih dengan muntahan yang membasahi baju. Arsha dengan telaten membujuk Celine supaya mau makan sedikit demi sedikit, walaupun masih dengan selingan Celine yang kembali memuntahkan makanannya dan akhirnya bisa menghabiskan separuh porsi bubur yang telah disiapkan Bobby dalam waktu hampir dua jam. Setelah berhasil menelan makanannya, Celine meminta siffon cheesecake kesukaannya ditoko seberang apartement, Bobby langsung pergi membeli kue itu meninggalkan Arsha dan Celine yang masih duduk diruang keluarga sambil menghabiskan teh hangat yang tadi dibuatkan Bobby untuk mereka berdua.


" Apa sekarang udah lebih enakan?. ", tanya Arsha pada Celine yang tampak lebih segar saat ini.


" Syukurlah, setelah Bobby kembali aku mau balik lagi ke kantor. ".


" Kenapa buru-buru Sha?. Aku masih ingin ditemani kamu disini. ", Celine memohon dengan muka memelas.


" Maaf Celine, aku masih banyak kesibukan lainnya saat ini. Aku nggak bisa terus menerus disini sementara pekerjaan ku banyak yang terbengkalai. Aku mohon mengertilah. ".


Tiba-tiba saja ada seseorang yang menekan bel apartement yang membuat mereka sama-sama menoleh kearah pintu, " Ngapain sih pake mencet bel segala!. Bukannya Bobby udah tau pasword sini. ", sungut Arsha kesal dan segera berlalu menuju pintu depan apartement.


" Rania...??!!. ", tenggorokannya seakan tercekat menatap orang yang sedang berdiri tepat didepannya.


" Assalamu'alaikum mas... ", ucap Rania dengan suara bergetar dan senyuman itu, Arsha bagai tersambar petir saat menatap senyuman Rania yang seolah menggambarkan bagaimana kecewanya dan sakitnya istrinya saat itu. Apa benar Rania sudah sangat sakit dengan apa yang sudah dilakukannya sekarang?. Dan apakah Rania masih mau memaafkan kesalahannya kali ini?. Arsha tersadar betapa dalam sakit yang Rania rasakan saat ini, saat dia sedang berusaha membangunkan Celine yang tiba-tiba jatuh pingsan, Rania tampak tersenyum sinis penuh kebencian padanya dan berlalu pergi begitu saja tanpa sepatah katapun yang terucap.


Flashback off


*


" Auww... Bisa nggak sih, pelan-pelan ngolesin nya...?!. ", Dani merengut kesal pada Siska yang seolah sengaja menekan luka memarnya dengan salep yang baru saja dibeli di apotik depan perumahan.


" Berantem aja berani, masa dioles gitu aja mengaduh... Mana keberanian kalian tadi pas berantem sampe babak belur begini??. ", sindir Siska kesal.


" Udah sini, biar aku oles sendiri!. Kalo kamu yang ngolesin bukannya tambah kempes, malah jadi bengkak semua muka ku nanti. ", Dani langsung merebut salep yang sedang dipegang Siska. Kemudian mengoleskan pelan pada semua mukanya yang hampir semuanya lebam.


" Suka heran deh sama laki-laki yang cuman nyari solusi dengan berantem seperti kalian, emang dapat apa setelah kalian berantem sampe kayak gini??. Masalah ilang enggak, yang ada bonyok iya... ".

__ADS_1


" Sstt... Udah jangan berisik, sana kamu kasih aja salep yang satunya sama Bos kepala batu itu. ", perintah Dani berusaha menghentikan ocehan Siska yang tidak ada hentinya mencemooh perbuatannya.


" Cieee... Yang merasa bersalah karena habis nonjokin Bos nya sendiri... ", Siska terkekeh meledek Dani yang langsung mendelik.


" Siapa yang merasa bersalah?!. Kalo aja nggak datang tuh security, udah habis si kepala batu itu ku hajar!. ".


" Halaah... Kayaknya yang bakalan habis pak Dani deh, bukannya si Bos. Keliatan dari lukanya, banyakan pak Dani bonyoknya ketimbang si Bos. ", cibir Siska tak percaya. Lalu segera beranjak sambil membawa salep tanpa menunggu omelan dari Dani yang kesal dengan omongannya.


Setelah memberikan salep itu, Siska kembali ke ruang tengah mendekati Dani yang sedang membaringkan tubuhnya diatas karpet bulu.


" Si Bos nggak mau makan pak, tadi aku tawarin malah marah. ", ucapnya sebal.


" Ya udah, biarin aja dia mati lemas kelaparan. ", sahut Dani asal.


" Astaghfirullah... Pak Dani nggak boleh ngomong kasar kayak gitu... ", nasehat Siska yang kaget dengan umpatan Dani untuk Bos nya.


" Iya maaf... Lagian ngapain nyiksa diri seperti itu. Orang dia yang salah sama Rania, malah milih nyiksa diri sendiri ketimbang usaha nyari dimana istrinya sekarang. ".


" Ya tapi kan pak Bos juga udah usaha nyari dari tadi. Ehh pak Dani, emang ada masalah apa lagi sama mereka berdua?. Apa karena masalah wanita itu lagi?. ", bisik Siska penasaran.


Dani hanya menggedikkan bahunya, malas untuk menjawab pertanyaan Siska. " Aku nggak tau, dan nggak mau tau lagi masalah Bos gedeg itu. Yang jelas, Rania pasti sangat kecewa sama si Bos, sampai nekat pergi tanpa pamit seperti ini. ".


" Iya juga sih, aku aja sampe di block sama Rania. Pasti dia lagi sakit banget sekarang, hikhik... ".


" Hei... Kenapa malah jadi kamu yang nangis??!. ", tanya Dani keheranan saat melihat Siska menangis sedih.


" Rania itu sahabat baik ku, kalo sampe Rania pergi tanpa memberitahu ku, pasti dia lagi nggak baik-baik aja sekarang... ", isak Siska membayangkan sahabatnya yang sedang dalam masalah besar saat ini.


Dani terdiam menatap Siska yang menangis tersedu didepannya, bingung harus bagaimana caranya menenangkan seorang wanita yang sedang bersedih seperti ini. Dari dulu dia sama sekali tidak punya pengalaman dalam hal wanita, dia hanya pernah merasakan perasaan jatuh cinta pada teman SMP nya dan terakhir dengan Rania yang baru dikenalnya beberapa bulan yang lalu, dan sekarang sudah menjadi istri Bos nya sendiri. Dulu kesehariannya hanya diisi dengan belajar dan terus belajar untuk meraih beasiswa dan melanjutkan ke Perguruan Tinggi dengan gratis tentunya, mengingat ekonomi keluarganya yang sangat kurang hingga membuatnya semakin terpacu untuk bisa lulus tanpa biaya yang membenani kedua orangtuanya sendiri waktu itu. Kini dia sudah bisa menikmati sendiri kerja kerasnya selama ini, tapi sayangnya dia harus dipertemukan dengan Bos yang membuatnya selalu naik darah setiap meladeni kemauannya yang diluar nalar. Hingga akhirnya urusan asmaranya harus di nomor sekian kan karena terlalu sibuk dengan urusan pekerjaannya dan juga urusan pribadi Bos nya itu.


" Pak Dani, Kok malah bengong gitu sih?!. ", protes Siska pada Dani yang hanya diam menatapnya saja.


" Oh iya, kamu... Eh Hem... Kamu harus tenang Siska, Rania itu wanita yang sangat kuat dan hebat yang selalu bisa mengatasi masalahnya. Kamu nggak usah khawatir sama Rania. Dia sekarang pasti baik-baik aja. ", ucap Dani kaku.


" Pak Dani sebenarnya tau kan dimana Rania sekarang??!. ", tanya Siska curiga.


Dani langsung salah tingkah, " Enggak... Aku nggak tau. ", ucapnya kemudian sambil mengambil bungkusan makanan yang dibeli Siska, " Ayo makan, aku lapar sekarang. ", elaknya saat tau Siska masih menatap curiga padanya.


" Pak Dani, aku akan dengan senang hati mengunci rapat mulutku sendiri tanpa bocor sedikitpun pada pak Bos. Aku berani janji Pak. ", Siska masih berusaha membuat Dani mau memberitahu rahasianya.


" Sstt... Bisa pelan nggak ngomongnya?!. ", bisik Dani sebal, bisa gawat kalau sampai Bos nya mendengar pembicaraan ini.


" Berarti bener kan pak Dani tau sekarang Rania ada dimana?. Apa jangan-jangan pak Dani yang sengaja ngumpetin Rania?!. ".


" Siska...!. Bisa diam nggak!. Nanti pak Bos dengar, bisa mati aku Siska!. ".


" Alhamdulillah, terimakasih pak Dani... Besok-besok aku pasti lebih setia sama pak Dani ketimbang sama pak Bos yang kejam itu. Karena aku yakin pak Dani pasti orang baik yang bisa menjaga Rania. ".


" Udah ayo makan dulu, jangan sampai aku tutup bibir mu pake paha ayam ini. ", ancam Dani sambil mengacungkan paha ayam persis kedepan wajah Siska. Diam-diam tersipu malu dengan pujian Siska padanya.


" Iya iya... Aku diam sekarang. Tapi janji ya Pak, nanti kasih tau aku dimana Rania sekarang?. ".


" Siska...!!!. ", geram Dani pada Siska.

__ADS_1


" Iya Pak, yuk mari makan dulu aja, hihihi... ", Siska terkekeh geli melihat wajah Dani yang tambah bengkak karena geram padanya.


__ADS_2