
Setelahnya seluruh rombongang kembali ke arena pesta dengan wajah yang lebih segar setelah membasuh wajah dengan air dalam rangkaian wudhu.
Ternyata drama tak berhenti sampai di sini. Dan kini sang pengantin wanita yang menjadi sasaran Nizam.
Wanita itu enggan berwudhu dengan alasan sayang dengan make up dan pakaian yang penuh kerempongan.
"Emang gak boleh yah ijin sholat dulu?" Tanyanya pada Nizam yang turut mendudukkan diri di sisi ranjang.
"Emang kamu lagi halangan? Eggak kan?" Tebakan Nizam memang benar, wanita itu hanya malas saja.
"Ya cuma sekari doang kok. Lagian ini kan nikahan aku!" Ucap Laela memberenggut. Baginya Nizam lebih kejam dari pada ayahnya. Padahal hanya disuruh shalat saja.
"Gimana nanti make up ku?"
"Ya didandani ulang kan bisa."
Ck, Nizam terlalu enteng menanggapi masalah ini. Pria itu tak tahu saja, harus menunggu beberapa lama saat wajah dipoles ini-itu.
Dengan terpaksa kembali memanggil orang yang tadi subuh telah mendandani pengantin wanita itu. Sekalian ganti baju dengan model warna lain, agar ada alasan untuk para tamu yang bertanya kemana pengantinnya.
"Wudhunya di jaga biar asharnya gak bingung lagi!"
"Hemmmmmmmmm," Berdehem dengan sangat panjang, menandakan kesal menyambangi diri.
"Gak usah salaman sama tamu pria!" NIzam lagi.
Ck, posesif sekali.
Dalam hati Laela tersenyum. Posesifnya Nizam menandakan cinta kan?
Meski kenyataan tidak seperti itu. Seperti yang Nizam katakan sebelumnya pada Laela untuk menjaga wudhu.
Keluarga yang lain hanya bisa diam, tak lagi melayangkan protes meski sangat ingin.
Hingga waktu berganti malam, menyisakan rasa lelah pada semua mereka.
Pun dengan pasangan pengantin baru itu.
Tak ada yang spesial di malam yang harusnya spesial bagi mereka. Datar, meski jantung sama berpacu dengan tak beraturan.
Bingung dengan apa yang harus mereka lakukan selanjutnya.
Laela masuk ke kamar terlebih dahulu mengistirahatkan tubuh.
Sementara Nizam, masuk di kamar yang sama setelah sebelumnya turut bergabung dengan para pria dari keluarga ini guna perkenalan dan mengakrabkan diri.
__ADS_1
"La," Ucapnya sambil menggungcang pelan pundak Laela. "Shalat dulu yuk!"
"Kan tadi udah?"
Laela bingung sendiri, belum sehari bersama Nizam, dirinya telah beberapa kali disuruh shalat.
"Dua rakaat jamaah sama aku!"
"Shalat sunnah pengantin."
Dengan terpaksa, Laela berdiri. Menyampingkan tubuh yang terasa sudah sangat payah.
Berdiri di belakang Nizam, entah mengapa rasanya ada kedamaian tersendiri yang hadir dalam sanubari. Rasa kagum semakin bertambah meski tadi telah dibuat kesal karena menganggap pria itu terlalu kaku.
Bahkan rasanya ingin menangis saja.
Terlebih saat Nizam berbalik mengulurkan tangan tepat di hadapannya. Dengan khidmat, Laela menyambut, mencium punggung tangan sang suami.
Dan kali ini ia tak lagi mampu menahan titik air bening yang melaju melalui sudut matanya saat Nizam memajukan wajah, mengecup keningnya dengan pelan namun terasa begitu dalam.
Mata memejam hendak meresapi. Hatinya berkata, jika Nizam mulai mencintai dirinya.
"Udah!" Nizam sambil tersenyum padanya.
"Menghayati banget! Emang tangan aku wangi banget yah?"
Heh, menyesal tadi ia terharu.
Akhirnya kedua pasangan pengantin baru itu menutup malam dengan tidur saling memunggungi.
Ke esokan harinya Laela di giring menuju ke rumah Nizam guna melaksanakan pesta sederhana untuk keluarga dan tetangga pria itu.
"Hai kakak ipar!" Seorang gadis muda berhijab yang menyapanya. "Kenalin aku adiknya bang Nizam."
Laela turut mengulurkan tangan menyambut gadis itu. "Nama kamu siapa?"
"Namaku banyak kak. Kalo di rumah biasa di panggil Miyah, tapi kalo di sekolah dipanggil Salsa."
"Memang nama lengkap kamu siapa?" Laela.
"Namaku Salsabila Islamiyah kak,"
Laela menganggukkan kepala, "Cantik."
Wajar, kakaknya saja setampan itu.
__ADS_1
Salsabila Islamiyah, namanya juga cantik dan panjang. Suaminya juga punya nama yang bagus dan juga panjang, Fahrezi Nizam. Mertuanya pandai memberikan nama untuk anak-anaknya.
Tak seperti ayahnya yang irit dalam memberikan nama. Singkat dan menurutnya sebentar lagi akan jatuh tempo.
Namanya hanya memiliki sepenggal suku kata saja, Nur Laela. Kalaupun ingin dipanjangkan hanya bisa menggunakan nama ayah di belakangnya, H. Muhammad Anas.
Kakaknyapun sama, Mansyur. Sudah itu saja.
Pesta telah usai.
Rumah telah dibersihkan dari segala jenis perhiasana. Tak ada lagi tenda dengan tirai menjuntai dengan bunga-bunga imitasi yang menghiasi. Semua keluarga telah pulang ke tempat asal.
Semua telah kembali pada tempat nya, kecuali Nurlaela.
Semenjak pesta di rumah Nizam, Ia baru aja sekali pulang ke rumah hanya untuk mengambil pakaiannya saja. Entah mengapa ia terlihat bersemangat sekali untuk tinggal di rumah Nizam.
Padahal di rumah sendiri ia menjadi seorang putri, yang hampir semua keinginannya dipenuhi oleh ayah. Tak pernah terjun ke dapur, sebab ayah mempekerjakan tetangga untuk membantu keperluan harian keluarga itu.
Masih subuh, Nizam tengah menikmati sarapannya setelah pulang dari masjid. Dan setelahnya pemuda itu kembali pada kebiasaan-kebiasaan sebelumnya, memberi pakan pada ayam-ayamnya. Sempat menitipkan ayam pada Ridho, tetangga kandang ayamnya selama pernikahan.
"Laela sudah bangun?" Tanya ibu saat baru saja menyendokkan nasi putih yang masih mengepul asapnya ke piring.
"Masih tidur." Nizam.
"Kenapa gak dibangunin?"
"Udah tadi, tapi susah." Nizam telah menyendokkan nasi ke dalam mulut.
"Kamu bangunkan lagi! Belum shalat kan dia."
"Ck, kelamaan bu. Bentar juga bangun sendiri!" Mungkin telah rindu dengan ayam-ayamnya. Memang sempat berpikir bagaimana keadaan ayamnya di sana? Berapa telur yang telah dihasilkan setelah tiga hari tidak menyambangi.
"Dia sudah jadi istrimu, sudah jadi tanggunganmu. Kamu akan dimintai pertanggung jawaban kelak atas semua yang dilakukan oleh istrimu."
"Heh," Menghembuskan napas sambil mencuci tangan pada mangkuk kecil. "Ngotot mau nikah, tapi ngurus diri sendiri aja gak becus apalagi ngurus suami." Ucapnya sambil berlalu, kembali ke dalam kamar.
"Heh, bangun!" Ucapnya sambil mengguncang bahu Laela. Jangan berharap lembut, karena itu tak kan membangunkan gadis itu. Sepertinya Laela telah menampakkan sifat aslinya sedikit demi sedikit.
"Mau bangun gak?" Masih mengguncang bahu sang istri.
"Heh, mau bangun sendiri atau,....?" Kali menarik tangan menempatkan di kedua pinggangnya.
Ck, berdecak sebelum meraih tubuh Laela dalam gendongannya. Berjalan sambil membawa tubuh Laela yang baru saja melenguh, mengalungkan tangan pada leher Nizam saat merasa tubuh terangkat.
Melewati ibu begitu saja yang hanya mampu menggelengkan kepala, entah untuk alasan yang mana.
__ADS_1
BUK.
"Bangun!"