Tak Seindah Mimpi Nur Laela

Tak Seindah Mimpi Nur Laela
Semestinya Cinta


__ADS_3

"Sudah sembuh?"


Nizam Baru saja pulang kerja mendapati Laela duduk di depan TV dengan segelas teh hangat dan sepiring pisang goreng. Tak lupa telapak tangan kembali di letakkan di kening sang istri demi meyakinkan kondisi Laela baik-baik saja.


"Baru pulang Zam?" Ibu yang baru saja muncul dari dapur.


"Iya bu, tadi langsung ngurus ayam. Aku mandi dulu ya!" Beralih pada Laela, setelah menjawab pertanyaan ibunya, seolah ia kini telah minta izin kepada istrinya.


Hanya selang beberapa menit saja, dia telah kembali dengan tubuh yang lebih segar.


Di meja telah bertambah segelas teh hangat, dan itu pasti untuknya.


" Udah baikan?" Tanyanya lagi pada Laela. "Nggak pusing lagi?"


Laela tersenyum mengangguk. Haruskah Iya bersyukur? Karena setelah melarikan diri dari rumah semalam hubungannya dengan Nizam semakin dekat. Dan Nizam semakin perhatian padanya, meski mungkin itu karena alasan sakitnya.


Kembali menjadi malam dengan tidur bersanding di atas tempat tidur yang sama. Namun ada yang berbeda dari malam-malam sebelumnya. Nizam seolah tak ingin beranjak kabur dari sana.


Jantung berdetak lebih kencang dari biasanya.


Otak berputar demi memikirkan apa lagi yang akan mereka kerjakan setelah ini?


Andaikan malam terlewati begitu saja tanpa menganggu perasaan dan kerja jantung, mungkin itu akan lebih baik.


Nizam masih memunggungi Laela, meski rasa penasaran membuatnya ingin berbalik dan menatap apa yang dilakukan istrinya saat ini. Ya pasti tidurlah, apa lagi?


Mungkin bukan itu yang menjadi alasannya.


Rasanya semakin tak nyaman hingga tak lagi mampu menahan diri untuk tak berbalik demi memandang sang istri.


Nyatanya, Laela terus menatapnya sedari tadi meski hanya punggung saja.


"Kamu belum tidur?" Nizam mencoba berbasa-basi yang sangat basi.


Meski dalam cahaya redup dari lampu luar, ia masih bisa melihat pancaran mata Laela yang turut menatapnya.


"Kenapa? Pusing lagi?" Tanyanya lagi. Kembali meletakkan tapak tangan demi mengecek suhu tubuh Laela.


Laela hanya tersenyum, suaminya itu terlalu kaku.


Dan lagi mampu membuat kerja jantung semakin keras tak karuan.


"Kakak kenapa belum tidur?" Tanya balik.


"Gak bisa tidur, belum ngantuk. Kamu?"


"Sama, gak bisa tidur juga. Sebenarnya ngantuk tapi masih pusing." Jawaban Laela membuatnya kembali meletakkan tangan di kening sang istri.


"Ngak panas kok? Masih sakit?" Nizam.


"Pusing pikirin kakak, hihihihi."


Nizam ikut tersenyum, meski belum tahu kesan lucunya dari mana. "Kenapa mikirin aku?"


"Memang setiap malam aku mikirin kakak, gak boleh?" Laela mencoba jujur.


Tangan Nizam kembali terangkat, bukan untuk mengecek tubuh namun demi merapikan anak rambut yang menutupi wajah Laela.


Lembutnya perlakuan Nizam pada Laela nyatanya membuat detuman keras semakin terasa di bagian dada.


"Kenapa kamu mau menikah dengan pria sepertiku?" NIzam.


Laela beringsut maju, mencoba masuk ke dalam pelukan sang suami meski ia tak tahu setelah ini reaksi Nizam akan seperti apa. APakah pria itu masih berusaha menghindarinya atau tidak.


Nyatanya Nizam menerima pelukan Laela guys. Turut meletakkan tangan di atas pundak sang istri. Usapan lebut ia berikan di rambut Laela, tak lupa kecupan singkat pada pucuk kepala sang istri.


Laela mencoba mengartikan segala perlakuan Nizam padanya, anggap saja pria itu telah membuka hati untuknya.


Di dalam dekapan itu, Laela tersenyum, senyum bahagia yang teramat sangat.


"Ribut banget! Hihihihi." Laela mendongak.


"Apa?"


"Dada kakak, ribut banget!" Kembali masuk ke pelukan sebelum Nizam menjauhinya.

__ADS_1


Ck.


" Aku mencintai kakak sejak pandangan pertama." Ucapnya masih dalam dekapan, tenggelam di dada milik sang suami. Menarik napas sedalam-dalamnya, menghirup wangi parfum yang masih tertinggal di tubuh. Wangi ini ia suka, sangat suka.


Mendengar pengakuan Laela, Nizam justru mencibir.


"Memang ada cinta pada pandangan pertama? Aku nggak percaya. yang ada adalah nafsu. Itu sebabnya kita diwajibkan menundukkan pandangan saat melihat sesuatu yang menyilaukan mata."


Laela mendengus. Tadi ia sudah mencoba menepis rasa malu hanya untuk menyatakan cinta pada suaminya, bukan dijawab Nizam justru menceramahi.


Gak romantis banget, ussshhh!


Laela mengangkat kepala demi memberikan tatapan kesal pada Nizam. Namun yang ada Nizam justru mengetuk-ngetuk keningnya sambil melanjutkan ceramah.


"Cinta yang semestinya adalah, cinta pada pasangan yang halal. Suami pada istri dan istri pada suaminya, bahkan Itu diwajibkan agar rumah tangga tetap langgeng dan terjaga. Juga agar keduanya terjaga dari perilaku-perilaku yang menyimpang."


Diperlakukan seperti itu, gadis itu bukannya marah malah tersenyum. Sepertinya ia mendapas sebuah cela demi mendapatakan cinta sang suami.


"Berarti kakak juga harus mencintai aku dong. Kan aku istri kak."


Nizam terdiam, mata mengerjap beberapa kali. Sepertinya pria itu tengah berpikir untuk membalikkan perkataan Laela. Tapi tak bisa, memang sudah seharusnya ia belajar menerima Laela sebagai istrinya.


Terlebih wajah gadis itu begitu dekat dengannya. Hanya perlu satu pergerakan saja, wajah mereka akan bertemu.


"Setidaknya kakak harus belajar mencintai aku kan!?"


Entah ini sebuah kata perintah atau kata tanya, namun dari nadanya gadis itu terdengar begitu penuh pengharapan.


Nizam mengangguk, terlebih saat melihat sorot mata yang terlihat sendu itu. Mungkin gadis itu sedikit putus asa dengan permintaannya yang tak mendapat tanggapan dari Nizam.


"Sekarang cium aku!"


Nizam kembali mengerjapkan mata saat mendengarkan permintaan itu.


Bukan tak mau, tapi dia tak yakin bisa mengendalikan diri lagi setelah mencium Laela nanti. Ia adalah pria dewasa yang normal yang memiliki gelora sama seperti yang lain.


Ia hanya menahan diri untuk tak menyentuh Laela.


Nyatanya rasa tak percaya diri itu masihlah tinggi. Mungkin ia bisa menerima Laela sebagai istrinya, namun rasanya gadis seperti Laela bisa mendapatkan yang lebih dari dirinya. Minimal seorang pegawai Negeri yang bekerja di kantor-kantor seperti Mansyur dan ayah mertuanya.


"Kenapa kamu mencintai aku?" Nizam.


Wajah merajuk gadis itu justru sangat cantik dan lucu membuat pria dewasa ini tak lagi mampu mengendalikan diri untuk tetap menjaga jarak wajah.


Nizam menundukkan membuat bibir keduanya telah bertemu untuk ke dua kalinya meski hanya sekilas membuat gadis itu membolakan mata tak percaya.


Sayangnya, adegan tadi terlalu singkat membuatnya berpikir apakah ini benar atau hanya ilusinya semata.


Laela mengerjapkan mata beberapa kali membuat kesan lucu semakin terlihat, dan itu tepat di depan Nizam.


Nizam kembali mendekatkan wajah, kali ini lebih lambat agar Laela mengerti jika semua ini bukan khayalan.


Mata saling memandang satu sama lain saat bibir masih bertemu.


Menjauh sebentar demi melihat reaski Laela yang justru terdiam.


Tak tahukah pria itu jika jantung semakin bergemuruh saja.


Kembali Nizam mempertemukan wajah, kali ini dengan sangat pelan.


Nizam mulai menutup mata, itupun dilakukan dengan sangat pelan membuat Laela turut menutup mata. Selanjutnya biarkan mereka bergerak sesuka hati. Mewujudkan semua mimpi yang terhalang hanya karena rasa rendah diri yang tak semestinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Promo Novel.


Sambil menunggu Laela Up, aku mau ajak kalian ke sebelah.


Judulnya, "Tolong Ubah Takdirku!"


Di sebuah Restorant room private.


“Apakah kamu punya pacar?” Dihyan harus memastikan terlebih dahulu sebelum melangkah lebih jauh.


“Emmm, maaf pak,” Rima memandang bingung pada Dihyan.

__ADS_1


Buat apa seorang Dihyan mengetahui statusnya?


“Jawab saja!” Dihyan masih santai. Meskipun tak bisa dipungkiri ia merasa bingung sendiri tentang pertanyaan yang baru saja ia lontarkan.


Berikut, pertanyaan apalagi yang akan ia ajukan.


“Emmm, tidak ada pak.”


Ya, jawabannya tidak ada. Meskipun tatapan seseorang yang duduk di sebelah Dihyan tak bisa dipungkiri sangat mengganggunya.


Tapi dia harus jawab apa?


Bahkan Reno sendiri tak pernah mengucapkan kata cinta padanya, meskipun telah dihujani dengan banyak perhatian.


Ya saat ini mereka tengah duduk bertiga.


Atau mungkin saja, Dihyan ingin berperan sebagai makcomblang antara dirinya dan


Reno.


“Aku ingin mengajakmu menikah!” Dihyan to the point.


Salah!


Rima salah!


Dihyan tak ingin jadi penghubung antara Rima dan Reno. Tapi malah maju mencalonkan diri.


“Gila,” Satu kata keluar dari mulut Reno, sambil mencibir.


“Ku mohon menikahlah denganku!” Dihyan tak tau apakah ini langkah yang benar atau salah.


Yang ia tahu adalah mengikuti permintaan istrinya berharap agar keadaannya membaik.


“Pernikahan ini hanya sementara. Aku tak kan menyentuhmu dan setelah istriku membaik aku akan menceraikanmu!”


“Maksud kamu apa? Kamu minta Rima buat jadi istri keduamu?” Menghardik. Reno sudah tak mampu mengendalikan dirinya.


“Bukan aku yang mau Ren, tapi ini permintaan Nindy.”


“Kalau aku mah, aku gak mungkin jatuh cinta sama kamu! Kamu bukan tipeku. Pakaian kamu


itu gak banget! Dan juga kalau kamu tau keluarga besarku, kamu pasti akan minder sendiri.” Dihyan masih saja terus memojokkan Rima.


“Kamu menghinanya, tapi kamu minta dia jadi istri kamu? Dasar beg0!” Renopun mulai menyerang Dihyan.


“Maka dari itu, aku gak mungkin menyentuhmu karena aku gak mungkin tertarik sama kamu. Jadi kumohon menikahlah denganku. Dan tolong berikan perawatan yang terbaik pada istriku. Baru setelah itu aku melepaskanmu!”


Permintaan macam apa itu? Nasib pernikahan


yang bergantung pada kesehatan istri pertama. Dan aku huff! Hanya istri ke dua yang siap di ceraikan kapan saja. Dan setelah itu aku akan menjadi JANDA.


Coba saja kau tanyakan pada setiap


perempuan yang kau temui, apa mereka mau jadi janda?


Tentu saja tidak ada wanita yang akan menjadi janda. Dasar lelaki bodoh, egois.


“Maaf pak, saya tidak bisa!”


Bagus Rima, good job! Jangan karena dompetnya jauh lebih tebal dari dompetmu hingga semakin  ia bisa berbuat sesukamu.


Kamu bisa dapatkan lelaki kelas apapun suatu saat nanti. Tapi jika kamu sudah jadi janda meskipun belum tersentuh maka mereka akan menjauh darimu. Status sangat mempengaruhi jodoh.


“Saya tau kakakmu Romi, dan saya tau pak Herman ayah kamu!” Dihyan mulai melirik Rima dengan sinis.


“Sekarang semua keputusan ada ditangan kamu. Kamu mau keluarga kamu bangkit atau hancur? Aku bisa melakukannya dengan sangat mudah?”


“Maksud kamu apa?” Reno semakin berani pada bosnya, terbukti ia baru saja mendorong dada pria itu dengan sangat keras.


Atau mungkin saja ia sudah lupa jika pria itu adalah bosnya sendiri.


“Jadi untuk ini kamu menyuruhku mencari informasi tentang keluarganya? Aku gak nyangka kamu sekejam ini?” Reno.


“Apa? Jangan bilang Reno mendekatiku hanya demi mencari infromasi tentang keluargaku.”

__ADS_1


Sialnya Rima telah berani menumbuhkan bibit cinta pada Reno di hatinya yang selalu saja di sirami oleh perhatian dan kasih sayang.


“Aku kira itu cinta!”


__ADS_2