
NIzam kembali melangkahkan kaki menuju ke masjid. Membunuh waktu dengan membaca lafaz Allah.
Seminggu berlalu dengan kegiatan yang hampir sama.
Hingga hari ini tiba, ia telah duduk manis di dalam mobil Pak RT.
Mobil lain yang mengiringi diisikan dengan tetua kampung dan kakak yang tinggal di sebelah rumah.
Mereka bahkan disambut di depan pagar rumah.
" Silakan masuk! Silakan masuk!" Itu Ayah Laela, menyambut dengan mengulurkan tangan mempersilahkan para tamu untuk masuk ke rumah.
Sebagian mereka turut mengiringi, sama mempersilahkan masuk pada rombongan mereka.
Bukan sedikit, bagi Nizam ini terlalu berlebihan.
Pancaran wajah semua orang terlihat bahagia. dengan senyum di wajah yang hampir tak pernah lepas.
Sebagian pria memakai Safari dan sebagian lagi menggunakan kemeja berpadu dengan sarung dan peci hitam hanya demi menyambut mereka.
" Assalamualaikum!" Pak RT berada pada barisan paling depan.
Bukan tak menghargai bapak yang menjadi wali Nizam, namun pria paruh baya itu lebih pendiam dan kaku. Terlebih jika diharuskan berbicara di depan orang banyak, Bapak tak bisa. Mempercayakan semua pada Pak RT.
Ruang tamu terlihat lapang, dengan karpet terbentang menutupi seluruh lapisan lantai. Sofa yang biasa menjadi tempat menyambut tamu telah dikeluarkan, berjejer rapi di teras.
Semuanya telah duduk, saling berhadapan. di tengah-tengah meja lesehan yang telah dibungkus taplak meja.
Telah tertata aneka jenis hidangan baik yang berat maupun ringan.
Cangkir-cangkir masih terbalik di atas tatanan belum di isi, takut dingin sebelum waktunya. Beberapa teko berwarna emas berbaris di ujung meja.
Kata sambutan pun mulai terdengar, yang jelas itu dari Pak RT.
Nizam hanya menunduk, sesekali menggosok hidung demi meminimalisir degug jantung yang tak menentu.
Biar bagaimanapun, semua ini tentang masa depannya.
Dan ia sadar diri, jika ibu-ibu yang di sana terus membicarakannya sejak ia masih berada di luar. Wajar, karena saat ini ia tengah menjadi pemeran utama.
Tak ada kata yang terucap dari pria muda itu.
Mungkin memang dirinya tak diberi kesempatan untuk bicara.
Di sana, Laela baru saja keluar dan ikut bergabung dengan mereka.
__ADS_1
Wajah yang telah dipolesi dengan make up sederhana. Cantik memang, namun tak mampu menggetarkan hatinya.
Ibu perlahan beringsut maju, diikuti Kak Nisa yang membawa kotak bening dengan berhias bunga dan pita. Di dalamnya telah bertahta cincin emas yang yang telah Dipilihkan oleh sang ibu.
Dan saat Ibu tengah menyematkan cincin di jari manis Laela, Nizam kembali menunduk dalam. Mungkin memang gadis asing itu adalah jodohnya.
Malam-malam selanjutnya setelah makan malam, Ia kembali menyambangi masjid.
Selama kabul belum terucap, masih ada Kesempatan baginya untuk memohon yang terbaik.
Berharap adanya jodoh pengganti di antara mereka nanti.
Waktu bergulir begitu cepatnya, bagi Nizam yang justru ingin memperlambat waktu meski hanya sebentar.
Semua persiapan telah matang.
Mahar, seserahan, tenda beserta baju pengantin, bahkan sajian untuk para tamu.
Senda gurau di dapur semakin riuh dengan alat-alat dapur yang saling bersenggolan.
Kehebohan di luar tak kalah dari kehebohan di dalam.
Senda gurau para pria yang telah bekerja membangun tenda di halaman rumah. Disuguhkan teh dan kopi beserta kue-kue manis semakin menghangatkan suasana.
Izin kerja baru didapatkan hari ini, Ia pun baru mengakhiri istiqarahnya tadi malam. Pasrah dengan semua takdir yang ia hadapi.
Mungkin pernikahan ini tak seperti pernikahan impian seperti orang lain. Pernikahan ini tidak terjadi dengan pondasi cinta yang tercipta dari kedua mempelai.
Tak ada cinta, atau perjodohan dari dua keluarga. Tapi pernikahan ini terjadi karena, entahlah,....
Namun bagaimanapun, pernikahan adalah sesuatu yang sakral dan ibadah terlama, dan berharap hanya sekali untuk seumur hidup.
Tetap ingin memberikan sesuatu yang terbaik, meski itu bukan cinta.
Waktu akan membiasakan dan mengubah semuanya, termasuk hati dan perasaan.
Keesokan harinya, Ia kembali duduk manis di dalam mobil Pak RT. Diapit kedua orang tua duduk saling berdesakan.
Gendang bertabuh mengiringi sang pengantin.
Segala macam bentuk kebutuhan Laela telah dipersiapkan ibu dan Kak Nisa. Mencoba memberikan yang terbaik untuk calon keluarga baru mereka. Diletakkan dalam sebuah kotak kaca berhias bunga dan pita. Seserahan untuk calon mempelai wanita.
Semua orang terlihat cantik dan tampan dengan pakaian terbaik yang di milik
Ramai dan meriah, apalagi untuk seorang Nizam. Semua orang mendampingi Imam Muda itu. Mengikutkan diri di hari bahagia ini.
__ADS_1
"Sudah hafal?"
Nizam mengangguk, mengiyakan pertanyaan dari bapak.
"Gugup?"
Lagi Nizam mengangguk,
Beberapa tarikan nafas berupaya meredam rasa itu, namun kembali hadir setelah menit selanjutnya.
"Minum dulu!" Ibu dengan menyodorkan air botol mineral padanya.
"Jangan banyak-banyak, nanti kamu mau pipis lagi. Sudah Ijab Kabul langsung pesta Kayaknya, sampai malam lagi."
Sesuai kesepakatan kedua keluarga, pesta akan diadakan masing-masing.
Kata pak Dusun, ia ingin mengundang banyak tamu, takut jika tamu dari pihak pria justru tenggelam karena kalah jumlah. Pernikahan ini adalah pernikahan anak bungsunya, harus semeriah mungkin.
Entah kapan lagi akan melangsungkan pesta.
"Beneran sampai malam bu?" Nizam seolah tak percaya.
Kali ini ibu yang mengangguk, "kita juga besok!"
PUK, tepukan ringan mendarat di pundak, " Nggak usah tegang gitu! istirahat tetap ada."
" Nih minum lagi!" Kembali menyerahkan botol pada Nizam.
"Tadi bilangnya jangan minum banyak-banyak nanti kebelet, ini kok malah suruh minum lagi?" Nizam.
"Eh Iya Ibu lupa." Sambil meringis menarik kembali tangannya menjauh.
Gendang kembali ditabung mengiringi langkah rombongan pengantin pria memasuki pekarangan calon mempelai wanita.
Gugup semakin merajalela, menjadi sorotan mata dan perbincangan semua orang.
Ganteng, tampan, gagah.
Segala pujian terdengar samar-samar di telinga.
Padahal dalam hati kini justru merasa kecil diantara orang-orang.
Nizam berjalan perlahan masih diapit oleh kedua orang tua. Sesekali menunduk memandang ke bawah, kembali mengangkat pandangan ke arah pintu rumah.
Di depan sana adalah masa depannya.
__ADS_1