Tak Seindah Mimpi Nur Laela

Tak Seindah Mimpi Nur Laela
Tentang Masa Depan


__ADS_3

"Huaaa,… Kamu Jahat. Kamu pasti berdoa sama Tuhan biar aku nggak lulus jurusan ekonomi kan?"


Nizam melongok mendengarkan tuduhan Laela padanya, tangannya yang tengah memegang secangkir Kopi terhenti di udara.


Laela baru saja meletakkan Tab di atas meja, Tab pemberian dari ayahnya memang khusus digunakan untuk  segala keperluan tentang pembelajarannya.


Putus asa saat mengetahui jika dirinya tidak lulus dalam ujian SNMPTN.


"Kamu kenapa?"


Masih pagi-pagi begini, istrinya itu sudah rusuh sendiri bahkan menyebut-nyebut namanya seperti mengajak perang. Padahal ia tak tahu apa-apa, Laela belum cerita tentang masalahnya padanya.


Miyah yang tengah berlibur ke rumah menjadi penonton di antara pasang suami istri ini, memandang bergantian antara Nizam dan Laela.


"Aku nggak lulus! Huaaaa,…"


"Itu pasti karena kamu, huaaaa,…"


"Kok aku? Karena aku kenapa? Aku nggak tahu apa-apa."Nizam mencoba membela diri, hubungan mereka baru saja baik, sementara pendaftaran itu telah dilakukan jauh-jauh hari.


"Kamu kan maunya aku lanjut di keguruan, huaaa,…" Laela.


"Aku memang maunya kamu jadi guru, tapi aku nggak memaksa kamu untuk mengikuti mauku."


"Tapi kamu tiap malam bangun, pasti berdoa agar aku beneran jadi guru kan?" Laela.


" Astagfirullah, Ya nggak gitu juga. Heeeeh," Selanjutnya Nizam Hanya berdiam diri, memandang Laela yang masih setia dengan tangisnya. Mau dibujuk juga, istrinya itu tetap saja menyalahkan dirinya.


Membiarkan istrinya menumpahkan segala kesedihannya lewat tangis, bentar berhenti juga pikirnya.


"Kan masih bisa daftar lagi?" Nizam mulai berkata saat tangis Laela mulai mereda. Gadis itu masih sesekali terlihat menyusut ingusnya.


"Iya, tapi nggak yakin bisa lulus."Laela.


"Kenapa?"


"Saingannya banyak."


Sebenarnya itu yang menjadi alasannya, bukan karena Nizam yang berdoa agar dia tidak tulus jurusan ekonomi.


" Coba aja dulu, Ya sambil berdoa juga." Nizam.


"Tapi doamu lebih kuat!" Laela.


Pernyataan itu mampu membuat tawa Nizam pecah seketika.


"Hahahahaha, Apa hubungannya?" Tanyanya.


"Lagian, kamu tau dari mana kalau doaku lebih kuat?"

__ADS_1


" Ya berhubungan lah, erat malah." Laela masih berang. "Kamu kan suami aku, aku harus ngikuti semua mau kamu."


" Astagfirullah, bukan seperti itu juga sayanggggg." Nizam harus menekan emosinya, mencoba memberi pengertian pada Laela secara pelan-pelan.


" Kamu memang istriku, kamu wajib mengikuti semua perkataan suamimu. Se-la-gi, tak mengorbankan agama, dan aqidahmu. Mengenai masa depanmu, kamu berhak menentukan sendiri, aku nggak akan pernah maksa, tapi ketika kamu tanya maunya aku bagaimana, ya aku lebih memilih kamu menjadi guru daripada yang lainnya."


"Tapi itu terserah kamu, aku nggak akan pernah maksa kok. Sekalipun aku maksa, hasilnya akan beda dengan keinginanmu sendiri. Mungkin kamu akan setengah-setengah dalam belajar, lulusnya bisa lebih lama karena kamu tidak menyukai apa yang kamu jalani."


Laela hanya tertunduk saat mendengarkan Nizam yang berbicara panjang lebar.


"Masih bisa daftar kan?"


Laela mengangguk meski masih menunduk.


" Ya udah daftar aja. masalahnya di mana?"


"Jurusan apa?" Sejujurnya Gadis itu masih meragu dengan kemampuannya sendiri. Ia bukan siswa yang bodoh-bodoh amat di sekolah dulu, tapi persaingan yang begitu ketat menjadi pemikirannya saat ini.


" Terserah kamu."


"Nggak usah nangis lagi, suami mau pergi cari duit buat istrinya daftar kuliah."


Gadis itu mencibir, tersenyum kembali melirik Nizam. Ia turut bangkit saat pria itu mengulurkan tangan untuk takzim.


Nizam tak berharap Laela mengantarnya ke depan, biarlah Laela menenangkan diri dulu pikirnya. Namun gadis itu ternyata turut mengikuti langkahnya keluar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kapan bisa daftar lagi?"


Sekarang mereka telah berkumpul di depan TV, ada ibu dan juga Miyah. Minus bapak karena sudah masuk kamar.


Jangan tanyakan tentang perputaran waktu pada bapak. dunianya Mungkin sedikit berbeda dari yang lainnya. harus cepat tidur, karena besoknya juga beliau harus cepat-cepat bangun untuk memanen sayur-sayuran di kebun.


Saat semua orang justru tenggelam dalam buayan mimpi indah, Bapak telah lebih dulu memulai harinya.


"Tadi udah buka, tapi aku belum daftar."Laela.


"Kenapa?"


"Takut nggak lulus." Laela.


" Kenapa ragu?"Nizam. "Belum dicobain juga."


" Makanya kamu jangan doain aku yang nggak-nggak." Laela berbalik, melayangkan pukulan pada suaminya. Masih berpikir jika pria itu sengaja mendoakannya agar tak lulus di jurusan ekonomi.


"stttt, Jangan ribut nanti bapak bangun."


Nizam menangkap tangan Laela, mengaitkan genggaman satu sama lain, jari-jari  saling terpaut. Hanya agar wanita itu tak kembali gaduh.

__ADS_1


Sementara sang wanita telah tersipu saja demi mendapatkan perlakuan manja seperti itu.


"Daftar aja! Aku mau liat!" Nizam melirik tab yang tergeletak di atas meja.


Sementara ibu dan Miyah hanya menjadi penonton di antara mereka.


"Gak ah, besok aja."


Wajah itu kembali memberenggut, padahal ia hanya merasa malu jika harus memperlihatkan pada Nizam tentang pendaftarannya.


"Jadi gak nangis lagi kan?" Nizam.


"Ya makanya kamu doain yang baik-baik untuk aku." Laela.


"Kamu kan bisa berdoa sendiri, ngapain minta doa sama aku?" Nizam tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Kepalanya turut berpikir bagaimana sebenarnya jalan pikiran istrinya ini?


"Makanya bangunin!" Dengan mulut mengerucut dan mata sesekali melirik Nizam.


"Hahahahaha, kamu minta dibangunin? Hahahaha,..." Tawa pria itu langsung pecah seketika.


"Zam, bapak udah tidur!" Teguran dari ibu langsung menahan tawanya, tinggal pundak saja yang terlihat berguncang. Pria itu masih menahan tawa agar tak terlalu keras. Matanya bahkan sampai berkaca-kaca sebab menahan tawa.


"Dia minta dibangunin malam bu. Subuh aja, susahnya minta ampun. Kadang pake air baru bisa bangun." Pria itu mencoba menurunkan volume suara saat berbicara dengan ibu, telunjuk mengarah pada gadis di sampingnya sambil sesekali merilik.


Setelah itu ia kembali menunduk sebab menahan tawa.


PLAK.


Kesalnya Laela kembali melayangkan pukulan di lengan sang suami. "Kamu kenapa sih?" Matanya ikut berkaca-kaca, bukan karena menahan tawa, tapi tersinggung juga karena ditertawakan oleh suami sendiri.


"Eh, cup-cup-cup, maaf-maaf." Membelai pelan kepala sang istri, tangan satu masih terpaut dengan tangan sang istri.


"Udah jangan nangis lagi, nanti kalo libur, aku ajak ke pasar malam."


"Beneran?"


Nizam mengangguk sambil tersenyum.


Binar di wajah Laela langsung terlihat. Diotaknya telah terbayang hal-hal romantis mereka nanti.


Berboncengan di malam hari dengan dirinya yang memeluk erat dari belakang.


Naik bianglala berdua, makan permen kapas, ah masih banyak lagi.


"Aku ikut!"


Suara itu mampu menolehkan kepala mereka secara bersamaan. Miyah dengan wajah yang berbinar dan penuh pengharapan tak kalah dari Laela.


To Be Continued!

__ADS_1


__ADS_2