
" Bang, Mashitah mengajakku mendaftar pegawai."Laela dengan ponsel yang berada di tangan.
Ruang tamu menjadi tempat favorit mereka saat ini, berkumpul bersama keluarga sambil menikmati tayangan televisi.
"Daftar aja!" Nizam ikut menengok benda pipih yang berada di tangan Laela.
"Pilih di mana Bang?"
Mereka berdua diam dengan mata yang masih fokus ke arah layar ponsel Laela.
"Sebenarnya ini bagus." Telunjuknya menunjuk sebuah nama Sekolah Dasar yang berada satu daerah dengan tempat kerjanya.
"Jauh Bang." Laela menoleh menatap Nizam dengan intens. Meski tiap hari Nizam ke sana tiap hari pulang pergi, tapi bagi Laela itu cukup jauh untuk dituju setiap harinya.
"Iya, kita bisa sekalian berangkat sama-sama."
"Atau, kita bisa ambil kost di sana."
Jarak yang lumayan jauh, pasti lelah untuk seorang ibu rumah tangga seperti Laela. Belum lagi sepulang kerja, Laela masih harus menghadapi anak lelaki yang sedang aktif-aktifnya.
"Kost?" Kening Laela berkerut, ada tak percaya saat mendengarkan Nizam berkata.
Pria itu justru mengangguk mantap.
Laela mungkin takkan sekuat dirinya yang tak biasa bekerja keras.
"Terus ibu?"
"Ibu nggak akan kemana-mana, kita bisa ke sini setiap hari libur." Nizam bisa menebak kegundahan Laela.
"Di sebelah kan juga ada Kak Nisa, yang tiap hari ke sini."
Ibu mengangguk dengan senyum yang tercetak di wajahnya. Ada rasa tersentuh saat menantu wanitanya ini sempat mengkhawatirkan dirinya.
"Ibu kan kuat!" Ucap wanita paruh baya itu, tangan terangkat mengepal, seolah tengah memamerkan otot-ototnya. Meski yang ada, hanya kulit lengan yang terjuntai.
"Hehehehe, nenek pe0t." Kata bocah pria yang ada di antara mereka, sambil beringsut menuju ke sang nenek memberikan pijatan-pijatan pada lengan itu. Dengan tawa di bibirnya yang mampu menular pada orang dewasa yang ada di sana.
"Terus sekolah Izzar?" Ternyata masih banyak yang dipikirkan wanita itu.
"Waktu kamu mulai mendaftar dan hasil kelulusan sangat jauh.Izzar mungkin sudah masuk SD. kamu memasukkannya di sekolah yang sama."
"Izzar ikut kita?"Laela masih tak percaya.
lagi-lagi Nizam mengganggu mantap. " Banyak kok ibu guru yang turut membawa anaknya ke sekolah sementara ia harus mengajar."
Laela mengangguk paham, sedikit melegakan pemikirannya.
__ADS_1
" Ayo kita tidur!" Ibu langsung mengangkat Izzar yang masih memainkan lengannya masuk ke kamar. Membiarkan sepasang suami istri itu melanjutkan pembicaraan mereka. Mungkin masih banyak yang harus mereka bahas, sementara waktu semakin menanjak menggiring malam.
"Bang sini Bang!" Laela semakin merapatkan tubuh pada suami.
"Hemmm, kenapa?" Penasaran mungkin masih ada yang ingin dibahas mengenai pendaftaran tadi.
"Kita joget!"
Sontak mampu membuat mata Nizam membulat penuh tak percaya.
Layar ponsel telah menunjukkan sebuah aplikasi joget-jogetan.
Laela menaruh ponselnya di atas meja dengan layar kamera menghadap pada mereka.
Ih abang jahat,
Aku kan cinta berat,
Sini dong dekat-dekat,
Ku pegang erat-erat.
Laela mulai berjoget sedemikian rupa, dengan beringsut dan terus saja mendekat pada sang suami. Beberapa kali sengaja mendekat lalu menarik-narik Nizam sesuai lirik lagu.
Hingga di akhir lagu, kecupan mendarat di pipi Nizam, membuat pria itu tersenyum. Apalagi saat Laela memainkan mata, berkedip-kedip manja dengan bibir yang beberapa kali dia monyongkan sebagai simbol kecupan.
Bergidik ngeri, saat menerima kegenitan istrinya.
"Sinting!" Ucapnya beranjak dari sana.
Laela berdiri mengikuti sang suami. Memeluk dari belakang dengan terus saja mempersembahkan kecup kecup menggoda.
Jengahnya Nizam saat mendapati istrinya seperti ini. Memilih mengangkat tubuh wanita itu menempel di tubuhnya.
Kaki Laela langsung melingkar di pinggang Nizam dengan tangan yang melingkar di leher sang suami, Sambil tertawa.
"Hahaha."
"Stttt, ribut banget. Udah malam ini." Sedikit hentakan demi menyadarkan Laela sekaligus memperbaiki posisi sang istri agar tak merosot ke bawah.
Nizam memilih merapatkan wajah Laela, mempertemukan bibir dengan bibir manis sang istri. Menyalurkan rasa yang timbul akibat perlakuan genit dan menggoda dar sang istri.
Masih dengan membawa Laela dalam pelukannya, Nizam terus melangkah masuk ke kamar dan merebahkan tubuh Laela di atas ranjang dengan perlahan.
Kembali menyambar bibir Laela yang baru saja terlepas dari bibirnya.
Katakanlah malam ini Laela berhasil menggoda sang suami hingga kembali mendapatkan sentuhan indah nan syahdu. Bersama melewati malam dengan panas tubuh yang saling berbagi satu-sama lain.
__ADS_1
...----------------...
Hari terus berganti, membawa mereka pada bahagianya hidup berumah tangga.
Malam ini angin bertiup dengan sedikit kencang dan dingin, pertanda sebentar lagi akan turun hujan.
Masing-masing mereka telah masuk ke dalam bilik, bersembunyi di bawah selimut demi menghangatkan tubuh.
Benar saja, hanya menunggu beberapa waktu, hujan turun dengan sangat lebatnya.
"Masuk yuk, dingin!" Ajak Laela pada Izzar, Putra mereka.
Menggunakan kamar yang pernah ditempati Miyah, anak lelaki itu telah berani tidur seorang diri. Hanya perlu ditemani saja sebelum benar-benar masuk ke alam mimpi.
Dari tepukan-tepukan pelan di bokong berganti sapuan-sapuan lembut di punggung hingga membawa anak pria itu ke dalam alam mimpi. Izzar telah terlelap dalam dekapan sang ibu.
Laela pun melepaskan rengkuhannya, beranjak dari sana pun dengan perlahan berusaha tak menimbulkan bunyi yang dapat mengganggu dan membangunkan Sang putra.
Kini gilirannya untuk mencari kehangatan dari sang suami.
Laela mulai naik ke atas pembaringan, di sana telah ada Nizam yang meringkuk sambil memeluk guling. Laela menyingkirkan guling itu, menggantikan dengan tubuhnya.
Laela mengeratkan pelukannya pada Nizam, menciptakan kehangatan tersendiri
Sesekali tubuhnya tersentak saat petir yang menyambar saling bersahut-sahutan.
Tok tok tok.
"Ayah, ibu, buka pintunya! Aku takut yah!"
Nizam segera beranjak dan membuka pintu. Izzar berdiri sambil mengucek matanya. Segera ini saya merengkuh dalam gendongannya demi menenangkan Sang putra yang memang terlihat ketakutan.
"Gak pa-pa! Gak pa-pa!"
Sambil mengusap pelan punggung sang anak, menenangkan. Membaringkan perlahan di samping Laela yang turut mengulurkan kedua tangannya menyambut tubuh mungil itu.
Dan malam ini, Nizam memeluk dua orang tersayang dalam kehidupannya sekaligus.
Hujan Belumlah reda hingga pagi menjelang, menimbulkan genangan pada beberapa titik.
Membuat mereka sedikit malas untuk memulai hari. Namun kewajiban telah menanti di depan mata. Memaksa mereka bergerak melakukan aktivitas masing-masing.
Pagi ini, sepasang suami istri itu meninggalkan rumah dengan mantel yang terpasang di tubuh masing-masing.
Sang nenek memilih untuk tak membangunkan Izzar pagi ini.
Bocah lelaki yang baru saja duduk di bangku sekolah dasar itu, tak ke sekolah dengan alasan hujan.
__ADS_1